Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 99 : Kita Keluarga


__ADS_3

Pukul 20.35 malam di rumah sakit.


Devan sekarang duduk di dekat Ella yang belum sadar dan juga ia cemas pada Elisa. Butiran air mata perlahan jatuh juga, mengenang hubuhangannya dulu. Devan meraih tangan Ella, untung saja debaynya tidak apa-apa kata Dokter. Devan pun mencium kening Ella lalu berdiri ingin ke toilet. Tapi tak jadi ketika merasa Ella menggenggam kuat tangannya.


“Sayang, akhirnya kau sadar juga. Aku sangat kuatir padamu.” Devan segera memeluknya yang mulai siuman. Ella balas memeluk Devan dan mulai lagi menangis soal Elisa yang ditikam oleh Viona.


“Elisa, dia … bagaimana dengannya?” tanya Ella sesugukan melihat Devan serta tak henti-hentinya memikirkan kakaknya.


“Sudah sayang, dia akan baik-baik saja. Dokter sekarang menanganinya. Kita berdoa saja, dia pasti akan baik-baik nanti,” kata Devan berusaha menenangkan Istrinya.


“Kenapa-kenapa kau tak datang lebih awal? Harusnya kau bisa melacakku dengan cepat.” Tangisnya mulai menjadi-jadi.


“Kami sibuk mencari pabriknya, Ella. Ada banyak pabrik yang kita masuki, tapi tak ada satu pun tanda-tanda kebaradaan kalian. Untungnya kami mendengar suara teriakan dari salah satu pabrik.” Jelas Devan mengusap air mata Istrinya.


“Elisa tak akan meninggal, kan?” isaknya takut akan hal itu.


“Hei, kamu tenang saja. Tak akan terjadi apa-apa pun padanya.” Devan kembali memeluknya, tak tega Ella ketakutan dengan kondisi Elisa.


Ella menggelengkan kepala lalu mendorong Devan, membuka jarum infusnya lagi lalu pergi keluar.


“Ella!” teriak Devan mengejarnya, berlari ke arah ruangan operasi dan mengikuti Ella yang lagi mencari ruangan Elisa.


“Mama!” panggil Ella berhasil melihat Ny. Chelsi dan Hansel yang berdiri mengkuatirkan Elisa yang masih ditangani Dokter.


“Ella, kenapa kamu ke sini? Harusnya kamu di ruanganmu.” Ny. Chelsi mengelus pipi Ella.


“Elisa gimana, Ma? Dia tidak akan pergi tinggalin kita kan?” tanya Ella diantara tangis dan isaknya. Ny. Chelsi hanya memeluk putri keduanya.


“Sudah, berhentilah menangis. Kita tunggu kabar Dokter.”


“Tidak! Aku mau masuk!” racau Ella ingin ke dalam ruangan operasi. Tapi ditahan oleh Hansel.


“Ella, tenanglah. Kau jangan seperti ini, kau lagi sakit dan hamil. Pikirkan dirimu juga. Elisa akan baik-baik saja di dalam sana.” Kata Hansel ikut menenangkannya. Ella hanya menangis, lalu meracau menyalahkan dirinya.


“Harusnya aku dari awal tak usah mengganggu kalian. Harusnya waktu itu aku dibeli oleh orang lain saja!” racaunya masih berlanjut.


Devan sudah sampai dan kaget menemukan Ella yang dipeluk oleh Hansel. Devan kini sedikit kesal mendengar Ella meracau aneh-aneh lalu segera menarik Ella dan menatapnya serius.


“Cukup, Ella! Hentikan tangismu, dia akan baik-baik saja. Jangan lagi tumpahkan air matamu. Tenanglah, aku tak kuat melihatmu seperti ini.” Devan dengan lembut memeluknya dan mengelus rambut Ella.


“Jika saja kau tak membeliku waktu itu, tak ada orang yang akan dendam padaku, dan melukai Elisa.” Rintihan tangisnya sangat jelas dalam pelukan Devan dan masih tetap menyalahkan dirinya.


“Tidak, ini sudah takdir. Kau jangan ungkit masa lalumu lagi. Sekarang kau cukup tenang, jaga debay kita. Aku tak mau kalian berdua kenapa-napa nanti.” Jelas Devan mengelus perut Ella. Ella menunduk, entah perasaannya kacau. Namun seketika hilang ketika Ny. Chelsi mengelus kepalanya.


“Sudah, maafkan Mama. Jangan pikirkan ucapan Mama dulu, sekarang kau cukup berdoa saja.” Kata Ny. Chelsi tersenyum. Ella mengalihkan pelukannya ke Ny. Chelsi. Menyembunyikan wajahnya di pelukan Ibunya.


Devan sedikit tersenyum melihat hubungan keduanya mulai membaik. Pandangan Devan kini berpindah ke Hansel yang diam melihat ke arah jendela yang ditutupi kain. Terlihat satu pria ini sangat kuatir dengan kondisi Elisa.


Beberapa jam telah berlalu, akhirnya pintu ruangan terbuka. Semuanya yang tadi duduk segera berdiri mendekati Dokter.


“Gimana kondisi anak saya, Dok? Lukanya tidak parah kan?” tanya Ny. Chelsi. Dokter menghela nafas sebentar lalu melihat bergantian Devan yang memeluk Ella, lalu Ny. Chlesi dan Hansel.


“Operasi berjalan lancar, hanya saja dia cukup kehilangan banyak darah. Apa di sini ada keluarga yang golongan darahnya sama dengannya?” tanya Dokter meminta seseorang melakukan tranfusi darah segera malam ini.


Ny. Chelsi menunduk sebab golongan darahnya tak sama dengan Elisa, melainka sama dengan mantan suaminya, Ayah kandung kedua putrinya.

__ADS_1


“Aku Dok, aku memiliki golongan yang sama.” Ella menawarkan dirinya membuat Hansel terkejut merasa kagum melihat Ella mau donor darah padahal dirinya lagi sakit


“Tidak, Ella. Kau lagi sakit, tidak bisa melakukan tranfusi darah.” Kata Devan tak setuju.


“Tapi, cuma aku yang punya golongan yang sama. Kalau kita tidak bantu Elisa. Dia akan-” ucap Ella berhenti dan menunduk kuatir dengan Elisa.


“Sudah,” ucap Devan mengelus wajah Istrinya.


“Kita bisa cari pendonor lain.” Lanjutnya menenangkan Ella.


“Tapi kemana? Ini sudah malam, tak ada siapa pun yang mau lakukan itu.” Ella melihat sekeliling sudah sepi. Ny. Chelsi hanya diam bersama Hansel. Devan pun meraih tangan Ella. Ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba suara perempuan membuyarkan suasana yang tegang ini.


“Aku, aku bisa donor darah. Golongan darahku sama dengan Ella.” Sahutnya membuat semuanya berbalik ke sumber suara.


“Aline?” ucap Ella kaget melihat adik tirinya berada di rumah sakit. Ella berjalan mendekati Aline yang seusia dengan Zeli.


“Kau, kenapa bisa ada di sini?” tanya Ella melihatnya seksama. Aline dengan cepat memeluk Ella dan mulai menangis.


“Maafkan aku, Kak. Ibu sudah lama meninggal di penjara. Dia dikeroyok oleh tahanan lain. Sekarang aku tak punya siapa-siapa lagi. Aku kabur dari rumah majikan yang membeliku. Aku takut tidak punya tempat tinggal lagi.” Aline menangis, dan mulai menyesali perbuatannya. Hati Ella tergerak dan membalas pelukan adik tirinya.


“Kau salah, aku masih ada untukmu. Kita saudara, kita akan selalu jadi saudara. Kau jangan sedih,” ucap Ella ikut menangis atas kepergian Bu Kalista.


“Apa kau tak membenciku?” tanya Aline mengusap matanya. Ella menggelengkan kepala lalu tersenyum.


“Mana mungkin, kau kan adikku.” Jawaban Ella membuat Aline menangis sejadi-jadinya. Meski dulu sudah menyakiti perasaan Ella, ia masih tetap menganggap dirinya saudara. Tentu, sejahat apa-pun kelakuan saudara kita. Pasti ada hikma dibalik semuanya. Devan dan Hansel hanya diam melihat kebaikan Ella. Tapi tidak untuk Ny. Chelsi yang diam entah apa maksut dari ekspresi wajahnya.


“Karena sudah ada pendonor darah. Silahkan masuk bersama saya, kami akan lakukan pemeriksaan terlebih dahulu.” Kata Dokter melihat Aline. Aline pun dengan gugup masuk ke dalam dan sedikit takut pada Ny. Chelsi. Donor darahpun mulai dilakukan.


“Ella, apa tak masalah kau mengakui Aline sebagai adikmu lagi?” tanya Devan pada Ella yang lagi melihat trafusi darah lewat jendela ruangan.


“Aku tidak apa-apa, dia kan anak dari Ayahku juga. Aku punya hubungan darah dengannya meski cuma saudara tiri, aku akan tetap menyayanginya walau dulu dia sering jahat padaku.” Jawab Ella yakin dengan keputusannya.


Setelah tranfusi darah berhasil. Ny. Chelsi masuk bersama Ella, tak lupa Hansel dan Devan juga. Kecuali Aline yang hanya berdiri di dekat pintu saja. Keempatnya merasa lega, Elisa berhasil melewati masa kritisnya.


“Kalau begitu saya pamit dulu, harap tidak mengganggu pasien. Permisi, Bu.” Pamit Dokter lalu pergi bersama perawat lainnya.


“Apa Elisa akan baik-baik saja? Kenapa dia belum sadar juga?” tanya Ella cemas melihat Elisa lalu Devan.


“Tidak usah kuatir, kakakmu baik-baik saja.” Ny. Chelsi mengelus rambut Elisa dengan lembut.


“Sekarang, ini waktunya kamu Istirahat, jadi kau harus kembali ke ruanganmu. Biarkan Hansel sendiri yang akan jaga-jaga di sini.” Usul Devan pada Ella.


“Aku, Presdir?” Tunjuk Hansel pada dirinya sendiri.


“Benar, malam ini kau lembur di rumah sakit bukan lagi di perusahaan.”


Ella tertawa kecil mendengarnya, begitupun Ny. Chelsi hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah mereka.


“Kalau begitu, aku ke ruanganku dulu ya, Ma.” Pamit Ella pada Ny. Chelsi. Wanita ini hanya tersenyum pada anak keduanya.


Tapi saat mau keluar, Ella melihat Aline ingin pergi. Ella segera menahannya.


“Kau mau kemana?” tanya Ella.


“Aku tidak tahu, aku tidak mau mengganggu kalian. Selamat, kau sudah punya keluarga baru.” Aline mengelurkan tangan tapi Ella malah memeluknya dan membuat Aline terkejut mendengarnya.

__ADS_1


“Kita tetap keluarga, Aline. Sekarang kemarilah.” Tarik Ella membawa Aline masuk ke dalam dan mendekati Ibunya.


“Aline, ini Mama kandungku dan Mama ini Aline, dia adik tiriku. Apa Mama mau angkat Aline jadi anak Mama juga?” mohon Ella ingin Aline tinggal bersama Ny. Chelsi dari pada jadi gelandangan di luar sana. Aline mundur sedikit, takut akan usulan Ella. Takut Ibu tirinya nanti akan menyakitinya seperti Ibunya dulu menyakiti Ella. Tapi dugaannya salah, Ny. Chelsi malah tersenyum lalu mengelus lembut kepala Aline.


“Mama tidak masalah, Mama akan menerimamu dengan senang hati.” Peluk Ny. Chelsi pada Aline lalu menarik Ella ikut memeluknya. Aline menangis kembali.


Semua rumor yang mengatakan Ibu tiri pasti jahat, hanyalah sebuah omong kosong. Itulah yang dirasakan Aline. Aline membalas memeluk Ny. Chelsi yang baik padanya.


“Maafkan Ibuku sudah menyakiti Ella, Tante.”


“Eh, panggil Mama saja. Tidak usah Tante. Besok, Mama akan masukkan nama kalian di kartu keluarga Mama.” Kata Ny. Chelsi tersenyum. Aline pun mengusap matanya lalu melihat Ella.


“Terima kasih, Kak.” Air matanya tetap turun membasahi wajahnya.


“Huft, sudah. Semua sudah berlalu, kita ambil hikmanya saja.” Kata Ella mendekati Devan lalu melihat Elisa. Pasangan ini pun pergi ke ruangan Ella. Sedangkan Ny. Chelsi kini sibuk untuk menghubungi seseorang ingin melakukan perubahan pada kartu keluarganya. Aline cuma diam mengusap matanya melihat Elisa belum sadar. Begitupun Hansel yang kini sibuk dengan ponselnya untuk memberi kabar jika dirinya akan menginap di rumah sakit.


Devan kini duduk di dekat Ella yang sudah berada di brankarnya sambil mengelus perut Istrinya.


“Apa perasaanmu baik-baik saja, sayang?”


“Hm, sudah baik. Semua berjalan lancar. Maaf tadi sudah membuatmu cemas,” ucap Ella meraih tangan Devan.


“Tidak apa-apa, aku sudah lega melihatmu malam ini. Kau benar-benar membuatku kagum. Kau sangat baik, Ella.” Kata Devan menyentuh pipi Istrinya.


“Em, terima kasih. Kau juga baik.”


“Ya sudah, kamu tidur sekarang. Harus banyak-banyak Istirahat!” pinta Devan serius.


“Iya, iya. Nih juga mau tidur.”


“Mau tidur atau mau makan?” tanya Devan melihat kotak nasi di atas meja.


“Kan barusan sudah, kamu juga butuh Istirahat. Jadi-” kaget Ella berhenti melihat Devan naik ke brankarnya.


“Kamu mau apa?” lanjut Ella bertanya.


“Kan tadi kamu suruh aku Istirahat jadi aku tidur di sini,” jawab Devan tersenyum. Ella tertawa sambil batuk-batuk.


“Dasar! Tuh kan ada tempat tidur lain!” cetus Ella cemberut. Devan melihat tempat tidur itu, tapi tak peduli dan langsung memeluk Ella dan menariknya tidur bersama.


“Auw, kamu pindah gih. Gak malu nanti dilihat suster!” Sekali lagi Ella mengusirnya.


“Kan sudah malam sayang, mana ada suster masuk ke sini. Tapi, kalau suster ngesot mungkin ada, ahahaha.” Tawa Devan membuat Ella menyembunyikan wajahnya ke dadanya lalu memukul manja lalu berkata, “Ini tidak lucu! Jangan nakutin aku deh!” cetus Ella mencubit pinggang Devan membuatnya berhenti tertawa. Tapi kedua matanya melihat bibir Istrinya lalu dengan cepat dan lembut segera mengecupnya.


“Tidurlah sayang. Kalau tidak tidur ku gigit nanti nih.” Rayu Devan mencolek pinggang Ella.


“Ih, tau ah! Nyebelin!” celetuk Ella menutup mata. Sekali lagi Devan tertawa geli mendengarnya. Devan pun perlahan tidur bersama Istrinya dan tak lupa mengelus debay yang ada di perut Ella.


"Selamat tidur, sayang."


..._____...


...~Like dan komen~...


...🌷Yuk berteman dengan author di...

__ADS_1


...🌷Instagram :@asti.amanda24...


...🌷Terima kasih atas dukungannya💞...


__ADS_2