Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 24 : Memberi Kode


__ADS_3

...•|| Like dan Vote ||•...


Aradella, sosok gadis yang sebenarnya ceria. Tapi kelakuan dari Ibu tirinya membuat kepribadiannya terbilang sudah tertutup. Merasa begitu pendiam disaat bersama orang lain. Seperti sekarang, gadis ini hanya bisa diam dan duduk di samping Maysha yang lagi asik bermain gambar bongkar pasang.


Hansel terkadang melirik Ella. Maklum, kehadiran Ella di ruangannya sedikit membuatnya menyukai Ella. Bahkan dirinya lebih fokus memperhatikan kelakuan Ella dari pada laptop di depannya.


"Hiks ... hiks,"


Maysha tiba-tiba menangis, hal ini membuat Ella tersadar dari diamnya dan langsung bertanya pada Maysha. Begitupun Hansel berdiri dari kursinya mendekati Maysha.


"Maysha kenapa?" Ella bertanya sambil menyentuh rambutnya. Serta cemas melihat anak kecil ini yang tiba-tiba menangis.


"Mo ... mom ... my," kata Maysha menyebut Ibunya. Wajahnya sedih menginginkan Ibunya sekarang. Hansel langsung meraih Maysha dan menggendongnya. Mencoba menenangkan anak kecil ini. Ella berdiri dan ikut sedih memikirkan Ibu kandungnya juga.


"Kak Hansel," panggil Ella mendekatinya.


"Ya, ada apa?" sahut Hansel berbalik melihatnya dan masih menenangkan Maysha.


"Itu, aku mau tanya. Soal ... Maysha sebenarnya--" Ella terhenti setelah ponsel barunya bergetar.


"Sebaiknya, kamu angkat dulu panggilan itu." Hansel menunjuk ponsel Ella, dan sedikit tertawa melihat gantungan bebek Ella ikut bergetar merasakan ada panggilan masuk.


"Kalau begitu aku angkat dulu ya."


Ella kembali duduk di sofa, melihat siapa yang menghubunginya sekarang. Kedua matanya langsung tertuju pada nama kontak 'My President Handsome' . Ella memutar bola matanya setelah melihatnya, nama kontak itu pun berubah menjadi 'My President Lizard'. Ella tertawa lucu sudah puas memberi julukan yang cocok dengan Presdir jutek ini.


Hansel hanya senyum-senyum melihat Ella yang diam-diam tertawa melihat ponselnya. Hansel tau, jika ponsel itu pasti berasal dari Devan. Agar tidak mengganggu Ella, Hansel membawa Maysha keluar dari ruangannya.


Ting! Panggilan suara langsung terhubung.


"Halo Presdir, ada apa?" Ella mulai bicara. Tapi tidak dijawab oleh Devan. Ella mengerutkan dahinya sambil melihat ponselnya.


"Tuan Presdir, ada apa menghubungiku?" tanya Ella lagi. Namun tetap saja tak dijawab juga. Ella mulai kesal, ia sedang dipermainkan oleh Devan. Tentu sekarang Devan agak dag-dig-dug berbicara pada Ella. Perasaannya mulai tak dapat diartikan sendiri olehnya. Wajah Devan masih merona menatap ponselnya. Ingin rasanya, lelaki ini berteriak jika dirinya sedang dilanda rasa pada hatinya yang begitu rumit untuk dijelaskan.


Ella tersentak, panggilan itu dimatikan begitu saja. Tapi, selang beberapa detik saja, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel barunya yang berasal dari Devan.

__ADS_1


[Apa kau masih hidup?] Isi Pesan Devan membuat Ella terperanjak.


"Apakah ini tujuan dia menghubungiku? Kenapa dia malah bertanya soal ini? Apa dia sedang mengutukku?" pikir Ella mulai kesal.


[Tuan, aku tentu masih hidup. Kenapa anda tanyakan ini padaku?] Ella mengirim pesan kembali pada Devan.


Ting!


[Aku hanya kuatir, siapa tau kau mati mendadak setelah berciuman barusan denganku] Pesan Devan terkirim, Ella membola setelah membacanya. Ada rasa kecewa merasa Devan sedang mengutuknya. Ella dengan kesal langsung mengirimkan pesan balik.


[Mati mendadak? Sepertinya, ciuman Tuan tidak terlalu membuatku syok. Bahkan cara anda berciuman masih belum bisa memuaskan lawan jenismu] Pesan Ella terkirim disertai senyuman liciknya. Menunggu Devan kesal setelah membacanya.


Ting!


"Ini? Apa dia sedang menantangku?" gumam Devan menyipitkan matanya menerima pesan dari Ella.


"Tapi, apa ciumanku memang kurang hot?" Devan mulai merona merasa malu. Benar-benar tidak disangka pesan Ella membuatnya jadi tak berdaya.


[Kau--gadis bebek yang menyebalkan!] Devan mengirim pesan mewakili perasaannya. Devan mulai lagi meracau jika Ella gadis yang memang menyebalkan.


"Pfft, apa dia sedang marah?" pikir Ella ingin tertawa membaca pesan Devan. Ella melihat gantungan bebek ponselnya lalu tersenyum.


[Apa kau sudah makan siang?] Devan mengirim pesan lagi.


"Hm, apa dia sedang mau mengajakku makan siang?" pikir Ella lalu membalas pesan Devan.


[Belum, Presdir]


[Oooh-]


"Itu saja? Aku pikir dia mau mengajakku makan siang. Ternyata cuma itu saja," Ella menggigit bibir bawahnya merasa gemas. Terlihat bekas gigitan Devan masih terasa di bibirnya.


"Sudahlah, lebih baik aku cari Hansel dan Maysha." Ella berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Ella memasukkan ponselnya ke dalam tas mini yang dia pakai. Tapi alangkah terkejutnya, Ella dibuat terdiam di tempat setelah membuka pintu dan melihat Devan sudah ada di depannya.


"Eh, Presdir. Ada apa ke sini?" tanya Ella. Devan tidak menjawabnya, ia malah menarik tangan Ella menuju ke lift.

__ADS_1


"Tunggu, kemana kita akan pergi?" Ella berhenti masih agak takut menggunakan lift.


"Kau belum makan kan?" tanya Devan sinis.


"Eh iya, belum." jawab Ella sedikit cengengesan. Devan spontan menariknya masuk ke dalam lift.


"Jika begitu, sekarang kita pergi makan. Hansel dan Maysha sudah menunggu kita di bawah." ucap Devan berdiri santai di dalam lift. Ella hanya diam, ia gemeteran di dalam lift merasa dirinya bergerak ke bawah.


"Aish, apa kau memang tak pernah naik lift sebelumnya?" desis Devan mulai tidak tega. Ella hanya menggelengkan kepala masih ketakutan. Spontan, Devan meraih pinggang Ella dan mendekapnya dalam pelukannya.


"Tenangkan dirimu, tidak usah takut." kata Devan melihatnya. Ella mendongak sedikit, wajahnya kembali merona. Kedua mata mereka bertemu dan saling menatap begitu dekat. Tapi aksi tatapan itu terhenti ketika pintu lift tiba-tiba terbuka, Devan tahu jika sekarang waktu makan siang bagi karyawannya. Agar tidak dilihat dan dikenali oleh karyawan. Devan membelakangi mereka sebelum karyawan masuk serta memojokkan Ella ke sudut lift.


Ternyata benar, begitu banyak karyawan yang masuk saling berhimpitan. Untungnya mereka tidak begitu tertarik melirik Devan dan Ella. Tapi sayangnya, Ella kembali merona merasa ada sesuatu yang menumpul dibagian bawahnya.


"Pres--presdir, itu a-anu ...." Ella terbata-bata ingin meletus di dalam lift. Rasanya begitu aneh dengan benda tumpul itu.


"Diamlah, aku juga tak menginginkan ini. Tapi, kita sedang dihimpit, jadi kau tahan saja." kata Devan berbisik di telinga Ella.


Ella semakin merona, nafasnya mulai tidak ia kendalikan. Bahkan ada rasa panas merasa memalukan dengan benda tumpul Devan yang kadang saling bertubrukan dengan miliknya.


"Pre-presdir, aku sud-sudah--" Ella gelagapan. Devan melihat Ella dan sedikit terkejut gadis ini bagaikan sedang terangcan.


Ting!


Karyawan berhamburan keluar dari lift yang sudah sampai ke lantai bawah meninggalkan Devan dan Ella saja. Devan ingin keluar, tapi ditahan oleh Ella. Ella tidak sanggup, ia masih merasa ada yang aneh pada dirinya. Wajahnya masih merona.


"Hm, ada apa?" tanya Devan. Ella ingin berbicara, tapi ia sungguh malu. Malu merasa tadi dipermainkan oleh Devan.


Devan tersenyum smirk tahu ekspresi Ella yang memerah tersipu, Devan pun berbisik padanya.


"Jika kau mau, kau boleh datang ke kamarku nanti malam, Ella." Bisikan Devan langsung membuat Ella sadar. Merasa Devan sedang memberinya kode untuk bergelut di atas ranjang. Begitu malunya Ella mendengar itu. Ella tanpa pikir panjang langsung lari keluar dari lift meninggalkan Devan yang tertawa terbahak-bahak melihat Ella.


"Pfft ... ahahaa, sepertinya dia cocok jadi bebek kecilku." tawa Devan lalu berjalan ke arah Hansel dan Maysha serta tak lupa melihat Ella yang menunduk terus menahan malu.


...•||~VOTE~||•...

__ADS_1


...Merek hp baru Ella apa tuh guys?...


...😁😁😗...


__ADS_2