
...🌷||Beri like dan Vote||🌷...
Devan kini telah sampai ke restoran yang dia pilih sendiri untuk makan siang bersama Ella, Maysha, serta juga Hansel. Ella agak gugup karena sekarang harus duduk bersama Devan. Sementara Maysha duduk di dekat Hansel. Ella masih tidak bisa berhenti menunduk, masih sangat jelas kelakuan Devan di dalam lift yang sengaja menghimpitnya membuat wajahnya merona menahan malu.
"Apa kau tak bisa berhenti menunduk?" Devan melirik sinis padanya.
Ella menatapnya, dan sekali lagi menunduk. Begitu gugup duduk bersama pria yang menurutnya mesum. Devan menyipitkan mata merasa jengkel dengan pikiran Ella yang terdengar menyebalkan.
"Ih, kenapa sih aku harus duduk dengannya!" gerutu Ella dalam hati. Devan yang mendengarnya, ia semakin mendekati Ella. Rasanya ingin membuat gadis ini kesal padanya lagi.
"Eh, kenapa dia malah mendekat kemari?"
Ella bergeser ke pinggir, tapi Devan semakin mendekat. Ella bergeser lagi, Devan ikut bergeser juga. Ella sudah kesal, mulutnya bahkan dimajunya sedikit ingin mengamuk. Melihat tingkah dua orang ini membuat Maysha ingin tertawa, tapi Maysha harus tahan demi kedekatan Devan dengan Ella.
"O-om, Dejhi sama Bun-nah kenapa begicu?" tanya Maysha berbisik ke Hansel. Hansel tersenyum dan berbisik juga.
"Ihihi ...." tawa Maysha tersenyum girang, entah apa yang dibisikkan Hansel pada Maysha.
"Ekhm, maaf Tuan," ucap seorang pelayan yang membawa pesanan Devan. Devan dan Ella langsung menatap pelayan itu. Tatapan keduanya yang tajam membuat pelayan jadi ngeri. Tentu karena Devan sudah kesal lama menunggu, sementara Ella tak suka jika ada seseorang yang menertawainya. Sangat jelas pelayan tadi ingin tertawa melihat kelakuan Devan mendekati terus-menerus Ella.
Pelayan pergi dengan cepat meninggalkan meja Devan. Kini suasana kembali hening dan canggung. Apalagi makanan di depan mereka belum ada satu pun yang disentuh.
"Kenapa diam saja, cepat makan!" suruh Devan pada Ella. Ella menelan ludah, rasa makanan di depannya begitu menggiurkan. Ella perlahan mengambilnya diikuti Maysha juga. Sementara Hansel tak henti-hentinya memperhatikan Ella.
"Ekhm, kemana arah matamu ini Hansel?" tanya Devan mendehem. Hansel sadar dan langsung cengingiran lalu ikut makan.
"Apa kau tak bisa mengambilnya lebih cepat lagi!" Devan mulai kesal kembali, ia merebut sendok dari tangan Ella lalu mengambil berbagai macam makanan dan menaruh ke piring Ella.
"Presdir, ini terlalu banyak." ucap Ella melihat piringnya dipenuhi banyak makanan dari Devan. Bahkan Maysha dan Hansel terkejut melihatnya.
__ADS_1
"Ini bagus untukmu! Biar lebih cepat gemuk! Tubuhmu yang kurus dan kurang seksi ini butuh makan yang banyak. Aku tidak mau terus-terusan berjalan dengan perempuan kurus sepertimu. Jadi habiskan makanan ini," ucap Devan berbisik ke telinga Ella.
"Apalagi kau ini kurang seksi dan hot untuk ditiduri." lanjut Devan membuat Ella menjadi merona kembali.
"Apa-apaan ini, emangnya aku ini kupu-kupu malam yang harus disesuikan dengan tipemu itu. Jika kau mau perempuan yang lebih seksi dan hot, kau pergi saja ke Club dan bermain dengan wanita di sana!" umpat Ella kesal menatapnya sinis.
"Hm, sepertinya idemu bagus juga. Jika dilihat-lihat, kau sangat beda jauh dengan wanita di sana. Kau begitu kurus, tidak ada bentuk pinggang sedikitpun. Apalagi yang ini kurang montok!" kata Devan menunjuk dada Ella dan semakin membuat Ella kesal dibanding-bandingkan dengan wanita lain.
Plak!
Ella tersentak merasakan pantatnya ditepuk oleh Devan. Ella meliriknya sinis dan semakin sinis.
"Hm, kau saja tak punya pantat yang montok. Benar-benar bukan tipe wanitaku." Devan berbisik sekali lagi.
Ella merona kembali ingin meletus bukan karena terhipnotis dengan kata-kata Devan, melainkan ingin menjambak rambut lelaki yang suka sekali berceloteh di dekatnya. Dengan kekesalan tak terima dibanding-bandingkan, Ella langsung makan semua yang ada di piringnya.
Devan tersenyum sedikit, ternyata ucapannya berhasil membuat Ella mau makan semua makanan yang dia pilihkan barusan. Ia pun ikut makan. Sementara Maysha dan Hansel saling bertatapan heran melihat Devan dan Ella tiba-tiba akur.
•
•
Ella di dalam mobil kembali menunduk, kali ini bukan karena gugup. Tapi memikirkan rumah peninggalan ayahnya.
"Bagaimana ini, kapan aku bisa mendapatkan rumahku kembali. Jika terus begini, aku ...."
"Tidak usah pikirkan, aku akan membantumu," ucap Devan memutuskan pikiran Ella. Ella langsung menatapnya.
"Kenapa dia selalu tahu apa yang aku pikirkan?" gumam Ella sedikit bergeser lebih dekat duduk di dekat pintu. Devan mendekatinya bahkan begitu dekat.
__ADS_1
"Kau harus tahu, aku ini bisa membaca pikiran orang lain. Jadi, aku tahu apa yang kau pikirkan sekarang." kata Devan menatap kedua mata Ella. Ella terperanjak sungguh kaget. Kini Ella harus hati-hati berada di dekat Devan.
"Pan-pantas saja, kau sering menebak sesuatu dengan benar." Ella gelagapan.
"Oh jelas, keahlianku ini aku gunakan untuk mengetahui rencana apa yang dipikirkan para pengusaha ketika dalam pertemuan. Tapi, kau jangan bocorkan pada orang lain. Jika tidak ... mulutmu ini akan aku cium sampai bengkak." Tatap Devan sinis dan menunjuk bibir Ella. Ella menutup mulutnya dan menggelengkan kepala tak akan membocorkannya.
"Presdir, tenang saja. Aku tidak akan mengkhianatimu." Ella tersenyum melihat Devan.
"Bagus, aku pegang kata-katamu. Kau tidak boleh mengkhianatiku." Devan mengulanginya.
"Baik, saya janji!" Ella mengangkat dua jarinya membentuk huruf (V).
"Dejhi, bicaya apa?" tanya Maysha muncul diantara mereka yang dari tadi dikacangin alias diabaikan. Bahkan Maysha bagaikan tidak terlihat di dalam mobil.
"Ahaha, kau ini masih kecil. Tidak baik mengetahui urusan orang lain." Devan tertawa melihat keponakannya cemberut. Devan mengelus kepala Maysha agar tidak ngambek lagi.
"Ih, Dejhi!" ketus Maysha semakin manyun. Ella menahan tawa melihat Devan yang begitu baik pada Maysha. Ella menunduk kembali. Rasanya ada sesuatu yang ia rasakan di dalam hatinya.
"Tidak, tidak. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Pernikahan ini terjadi karena saling menguntungkan dan tidak ada ikatan cinta. Aku harus melawan rasa ini, apalagi Presdir ... tidaklah cocok denganku. Aku tak pantas bersanding dan berdiri di sisinya terus menerus."
Ella sadar akan perasaannya yang mulai menyukai Devan. Padahal dari awal ingin membuat Devan jatuh cinta padanya, tapi sekarang malah dirinya yang duluan menimbulkan rasa itu.
Hansel masuk ke dalam mobil. "Presdir, kemana kita akan pergi sekarang? Apa kita kembali ke kantor?" tanya Hansel mulai menyalakan mesin mobil.
"Kita ke rumah Ella." jawab Devan membuat Ella langsung melihatnya.
"Ru-rumahku?" Ella gelagapan.
"Benar, kita ke rumahmu memberi pelajaran untuk mereka yang sudah menjual dirimu. Kita lihat bagaimana nasib mereka nanti setelah berurusan denganku." Ucapan Devan begitu serius.
__ADS_1
Ella termenung mendengarnya. Ia tersenyum manis pada Devan dan berkata, "Terima kasih, Presdir." Devan terdiam melihatnya, melihat senyuman yang begitu manis. Devan mendecak lalu mengabaikan Ella. Takut jika ia jatuh cinta beneran dengan Ella. Hansel tersenyum kecil saja melihat keduanya semakin akur, mobil pun melaju pergi meninggalkan restoran.
...🌷🌷____🌷____🌷🌷...