
Perlahan-lahan mata Ella terbuka, samar-samar penglihatannya masih belum jelas di mana dirinya berada. Ella mencoba beranjak dari tempatnya dan seketika itupula seseorang membantunya.
"Tu-tuan," panggil Ella lirih melihat lelaki yang belum jelas di matanya.
"Nona Ella, anda baik-baik saja?" Suara cemas ini kini membuat Ella sadar sepenuhnya. Ternyata dia, Hansel yang sekarang membantu Ella dan menemani Ella selama pingsannya. Ella menggenggam sprai di dekatnya merasa bukan Devan yang dia lihat di dalam lift. Merasa dirinya benar-benar tidak penting di hatinya.
"Kak Hansel, apa yang terjadi? Kenapa aku ada di Villa?" tanya Ella menunduk masih menyembunyikan kesedihannya di depan Hansel. Suara paraunya sudah pasti sangat jelas ditelinga Hansel jika gadis ini habis menangis.
"Nona Ella. Anda pingsan di dalam lift. Tak seharusnya anda masuk ke dalam lift itu," Hansel mulai bicara sambil melihat Ella yang semakin menunduk. Merasa begitu sangatlah bodoh.
"Kenapa?" tanya Ella masih dengan suara parau.
"Lift itu, sudah lama rusak. Liftnya tidak dapat beroperasi dengan baik." Jawab Hansel melihat Ella kembali menunduk. Sungguh menyedihkan dirinya, sudah tertampar dengan adanya tunangan Devan, malah terjebak di dalam lift rusak.
Genggaman Ella semakin kuat, ia gemeteran dan mulai tertekan dengan perasaannya yang tak terbalaskan. Hansel mulai tak tega dan kasihan pada gadis di depannya yang sekarang duduk di atas kasur menekuk lututnya memendamkan kepalanya diantara dua lutut yang ditekuk. Ingin rasanya Hansel menyentuh kepala Ella, untuk menenangkan gadis yang menyedihkan ini. Saat tangannya ingin menyentuh kepala Ella, gadis ini langsung mengangkat sedikit kepalanya membuat Hansel mengurungkan niatnya.
"Kak Hansel, di mana dia?" lirih Ella bertanya masih dengan suara seraknya. Hansel tersenyum sedikit lalu menjawab Ella.
"Presdir, dia ... sedang keluar menemani Nona Elisa jalan-jalan. Anda ingin menghubunginya?" tawar Hansel.
Ella tak menjawab, melainkan menangis kembali menekuk lututnya. Sungguh perihnya, ia yang mulai memendam rasa malah dibalas seperti ini. Ella kini berpikir Devan sudah tak peduli padanya. Hansel sungguh terkejut melihat Ella menangis histeris menyembunyikan wajahnya yang di penuhi air mata.
"Apa-apa aku boleh mencintainya, Kak Hansel?" lirih Ella bertanya tanpa melihat Hansel dan masih menyembunyikan wajahnya. Hansel kembali terkejut, ternyata ini alasan mengapa Ella menangis. Ternyata gadis ini mulai mencintai Presdirnya.
"Nona," Hansel menunduk.
"Sepertinya kau harus mengubur perasaanmu ini. Tunangan Presdir Devan sudah kembali, dan tak lama lagi Presdir akan mengurus surat-surat perceraian untukmu. Tak seharusnya kau memendam rasa itu, Nona. Pernikahan ini hanyalah keterpaksaan. Lebih baik tenangkan dirimu, dan setelah ini bereskan barang-barang Nona. Saya akan membawa anda ke panti asuhan." Jelas Hansel langsung membuat Ella berhenti menangis.
Bukannya tenang, Ella malah menutup wajahnya lalu kembali menangis. Ella bingung untuk memilih keputusan, apalagi tubuhnya sudah dipermainkan oleh Devan. Apa dia harus terima begitu saja? Menerima luka yang ditimbulkan dari pelampiasan ini? Ella bukanlah perempuan yang kuat, tapi ia mencoba untuk bangkit dengan fisiknya yang lemah. Tentu ini sangat membekas dalam hatinya.
__ADS_1
"Nona," Hansel sekali lagi ingin menyentuh kepala Ella. Ucapannya barusan terasa sudah membuat Ella semakin sedih.
"Nona, tenanglah." Lanjut Hansel melihatnya kasihan. Ella mengangkat sedikit kepalanya memperlihatkan kedua matanya mulai kembali sembab. Dengan tubuh mulai menggigil karena ketakutan, Ella langsung memeluk Hansel.
Pluk!
Hansel yang duduk di tepi ranjang langsung terkejut menerima pelukan Ella. Tangis Ella pecah, merasa tubuhnya sungguh kotor dan tak mampu lagi untuk kembali ke panti asuhan.
"Aku-aku tak ingin pergi dari sini, aku-aku mencintainya. Ku-ku mohon, Kak Hansel bantu aku mendapatkannya." Mohon Ella sesugukan. Ingin rasanya menceritakan pada Hansel jika Devan telah mempermainkan dirinya kemarin, tapi Ella takut nanti Hansel akan jijik melihat dirinya.
Hansel tersenyum kecil lalu perlahan menyentuh kepala Ella. Mengelus rambut gadis polos ini yang tak tahu bagaimana menjalani sebuah hubungan.
"Hiks ...."
Ella memeluk erat Hansel, begitu erat untuk menumpahkan air matanya ke bahu lelaki yang memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Devan.
"Nona, aku tak bisa membantumu. Presdir Devan sangat mencintai, Nona Elisa. Sedangkan kepada Nona sama sekali tak punya perasaan sedikitpun. Lebih baik, Nona tenanglah dan tidak usah terlalu mengharapkan hal ini." Ucapan Hansel langsung membuat Ella melepaskan pelukannya. Ella menatap Hansel penuh dengan kekecewaan.
"Tidak, aku-aku yakin dia juga mencintaiku." Ella mulai meracau. Sungguh memalukan dirinya masih berharap pada Devan.
"Tidak, aku tidak mau pergi dari sini. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Cuma dia yang aku punya sekarang. Aku tak mau sendirian lagi." Ella semakin meracau. Pikirannya kacau masih terbayang-bayang tubuhnya dipermainkan kemarin begitu saja. Tak terima dirinya pergi dari sisi Devan.
Hansel semakin tak tega dan segera menepuk kedua lengan Ella dan menatapnya dengan serius.
"Ella!"
"Lihat aku, kamu tak sendirian. Ada aku di sini, aku adalah kakakmu, kamu tak sendirian Ella!"
Akhirnya, Hansel memanggil Ella dan mencoba menenangkan gadis polos ini. Ucapan Hansel sungguh membuat Ella ingin menjerit, sedih karena lelaki yang peduli padanya bukanlah Devan tetapi bawahan Devan. Melihat Ella sungguh menyedihkan, Hansel pun meraih lengan Ella dan menarik Ella jatuh ke pelukannya. Ella terdiam, entah kini ia tak berdaya lagi.
__ADS_1
"Tenanglah, Ella. Ada aku bersamamu." Ucap Hansel memeluk erat Ella. Pelukan yang begitu tulus untuk menenangkannya. Ella membalas pelukan Hansel dan menahan tangisnya di bahu Hansel mencoba menenangkan dirinya sendiri. Meski begitu, Ella merasa pelukan Devan lebih menenangkannya.
Krek!
Pintu kamar Ella terbuka perlahan. Hansel segera melepaskan Ella dan menormalkan dirinya. Perlahan kaki kecil mulai melangkah masuk yang tak lain ia adalah Maysha yang habis dari tidur siang dan tak ikut bersama Devan jalan-jalan.
"Maysha?" ucap Hansel berdiri. Maysha perlahan dengan kaki kecilnya berjalan ke arah Ella yang masih sesugukan.
"Bun-nah," panggil Maysha sekarang berada di tepi ranjang. Ella menoleh melihat Masyha. Anak kecil ini tak seharusnya melihatnya menangis.
"Bun-nah kenapa?" Maysha bertanya merasa kuatir.
"Bun-nah cidak apa-apa?" tanya Maysha lagi.
"Bun-nah kenapa nangis?" tanya Maysha kasihan.
"Bun-nah baik-baik saja?" Maysha naik ke kasur duduk di dekat Ella yang masih diam dalam isaknya.
"Bun-nah jangan nangis ... nanci Bun-nah sakic,"
"Kalau Bun-nah sakic, nanci cidak ada yang main sama Maysha." Ucapan Maysha membuat Ella tak bisa berkata-kata. Anak kecil ini terlalu mengkuatirkannya. Ella menangis lalu memeluk Maysha. Rasanya tak mau juga meninggalkan Maysha. Hansel tersenyum saja melihat Ella memeluk Maysha.
"Maafkan Bunda, Maysha."
..._______...
...~ YUK VOTE KAK, 1 VOTE \= 10 SEMANGAT BUAT ELLA ~...
...🤗🤗🤗...
__ADS_1