Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 37 : Menangislah


__ADS_3

"Sayang, siapa dia?" Tunjuk El pada Ella. Devan melihat Ella lalu melihat tunangannya.


"Dia-dia," Devan sedikit gugup untuk menjawabnya. Apalagi jika dia berkata jujur, pasti akan membuat tunangannya shock dan ini tidak baik bagi kesehatannya. Situasi ini sangat sulit baginya.


"Dia siapa?" tanya El sekali lagi sambil melepaskan pelukannya. Devan mengepal tangannya, ia mulai bimbang.


"Apa dia pembantu?" tebak El membuat Ella tersentak dikira pembantu. Ella menggenggan pergelangan tangan kanannya. Hatinya teriris dianggap rendah seperti itu, padahal dirinya adalah istri sah-nya Devan, tapi Devan sekarang malah diam tak bisa menjelaskan.


Ella memberanikan dirinya masuk masih menggenggam tangannya serta berkas yang dia pegang dari tadi. Ella ingin mengatakan langsung jika dirinya adalah Istri dari lelaki yang dipeluk dan dipanggil sayang olehnya.


"Aku Aradella," ucap Ella sedikit gemeteran menatap mata El dan melihat Devan yang hanya diam melihatnya.


"Aku ... adalah-" ucapan Ella dipotong langsung oleh Devan.


"Sayang," Satu kata ini langsung membuat Ella terguncang. Rasanya bagaikan menerima bom hirosima mendengar Devan memanggil mesra wanita lain di hadapannya. Bahkan Devan saja tak pernah memanggilnya semesra itu.


"Dia babysister Maysha." Lanjut Devan memeluk pinggang El dan melihat Ella yang terkejut mendengarnya. Kini Ella semakin terluka melihat Devan terang-terangan memeluk wanita lain di depan matanya dan menganggapnya hanyalah babysister. Ingin rasanya Ella meluapkan isi hatinya jika dirinya sekarang sedang cemburu.


El tersenyum pada Devan lalu mencium pinggir bibir Devan. Kedua mata Ella langsung melebar melihat wanita ini begitu mudahnya mencium Devan di depannya.


"Sayang, aku tak sangka kamu malah mempekerjakan babysister untuk Maysha. Bagaimana jika wanita ini diberhentikan saja, biarkan aku yang mengurus Maysha sekarang."

__ADS_1


Perkataan El langsung membuat Ella semakin terguncang. Bukan ini yang dia harapkan sekarang. Ella ingin berbicara, tapi mulutnya bagaikan dikunci rapat-rapat agar emosinya tidak meluap ke sana sini. Tapi apa dia pantas untuk mengamuk sekarang di depan Devan? Sedangkan dirinya hanyalah istri di atas kertas yang tidak sama sekali dicintai oleh Devan.


"Tidak El, aku tidak bisa. Maysha menyukainya, dan kamu baru saja datang dari luar negeri. Aku tak mau kamu kecapean dan kerepotan mengurus Maysha. Aku tak mau kamu sakit lagi, sayang."


Sekali lagi, Ella harus menahan perihnya kemesraan suaminya yang sekarang ini sedang mengelus rambut wanita lain di depan matanya. Ingin rasanya ia berkata, tapi mulutnya tak sanggup berucap.


El tersenyum manis menerima perlakuan lembut dari Devan. Ternyata selama lima bulan ini dia tinggal di LN, Devan masih tetap menunggu dan mencintainya. El pun berjalan ke arah Aradella dan mengulurkan tangan mengajak Ella bersalaman.


"Namaku Elisa Calisca. Aku tunangan Presdir Devan dan wanita yang sangat dia cintai." ucap Elisa tersenyum.


Ella melihat tangan El dan melihat Devan. Kini apa lagi yang harus dia lakukan sekarang, perasaannya mulai berkecamuk sungguh terkejut mengetahui wanita di depannya adalah tunangan Devan.


"Aku-aku Aradella-" Ella terbata-bata belum selesai bicara. Saat mau membalas uluran tangan El. El malah menarik tangannya kembali dan berjalan ke arah Devan mengabaikan Ella yang semakin gemeteran. Gemetar bukan karena takut melainkan sakit diperlakukan seperti ini.


"Tidak, kok. Kamu hari ini cantik sekali. Ini kejutan buat aku. Aku senang kau terlihat baik-baik saja. Tapi, kau sudah sembuh totalkan datang ke sini?" tanya Devan sekali lagi menyentuh dan mencubit hidung El. Perlakuan Devan sama sekali tidak pernah dirasakan oleh Ella.


"Ihihi, terima kasih pujiannya. Kamu tidak usah kuatir, aku sudah sembuh total. Aku sudah dapat ijin dari rumah sakit, dan ternyata sebelum aku ke sini, Mami dan Papi kamu kemarin jenguk aku. Mereka bilang, tinggal beberapa hari lagi mereka akan pulang dan akan melangsungkan pernikahan kita." Jelas El langsung membuat Devan berhenti mengelus rambut tunangannya ini. Sangat terkejut jika kedua orang tuanya akan segera pulang dan melangsung pernikahannya.


Begitupun Ella hanya bisa menunduk dan menahan air matanya yang masih sanggup tertahan di pelupuk matanya. Perasaannya mulai tak karuan. Perasaannya mulai terluka. Harapan dia yang bisa tinggal lama dengan Devan harus kandas gara-gara kehadiran tunangan suaminya ini.


"Ya, Tuhan. Meski pernikahanku diawali tanpa cinta. Tapi, aku belum sanggup berpisah dengannya. Apa aku boleh memberontak? Mempertahankan pernikahan ini? Apa Devan akan tetap menjadikan aku istrinya atau malah aku harus pergi dari sisinya?" Ella mulai bimbang soal pernikahannya.

__ADS_1


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya El melihat Devan yang dari tadi diam melihat Ella yang sedang menunduk. Devan mengepal tangannya lalu melihat El.


"Aku baik, kok. Sekarang, lebih baik kamu ke ruangan Hansel. Maysha ada di sana, dia pasti akan senang melihat kepulanganmu." ucap Devan tersenyum pada El.


"Hm, baiklah. Nanti setelah ini, kamu temani aku jalan-jalan ya." El bergelayut manja di lengan Devan. Devan menyentuh tangan El yang merangkulnya lalu mengganggukkan kepala saja.


Sekali lagi Ella harus melihat Devan dicium oleh wanita lain. Meski hanya di dekat bibir Devan, pemandangan ini semakin mengiris dinding hatinya.


"Aku ke ruangan Hansel ya." pamit El lalu berjalan ke arah Ella. El berhenti di dekat Ella lalu melirik sinis dan menyenggol bahu Ella hingga berkas yang ada di tangan Ella langsung jatuh berhamburan. El tertawa kecil lalu pergi dengan angkuhnya ke ruangan Hansel. Sikap menyebalkan El sama saja dengan sikap Aline.


Ella semakin gemeteran, ia pun perlahan berjongkok untuk mengambil berkas itu kembali. Tapi tak disangka sebuah tangan membantunya. Ella mendongak pada pemilik tangan. Ternyata Devan sedang ikut berjongkok untuk membantunya. Kedua mata yang sudah tak tahan untuk meneteskan air mata akhirnya dengan perlahan mulai turun membasahi kedua pipinya. Ella menunduk dan mengigit bibirnya agar isakan tangisnya tidak keluar.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Devan kini berdiri. Tanpa diberitahupun sudah pasti jika Ella sekarang diam-diam menangis atas kejadihan hari ini. Ella menjawab sambil berbalik membelakangi Devan.


"Ma-maaf, sudah mengganggu anda. Aku akan pergi-" Ella terhenti setelah tubuhnya dipeluk oleh Devan dari belakang. Ella berbalik melihat Devan yang sedang tersenyum padanya. Senyuman yang tidak tau apa itu tulus untuknya, atau sedang menghinanya. Ella menunduk ingin pergi lagi, tapi Devan kembali memeluknya, mendekap Ella dalam pelukannya. Tahu jika gadis ini sedang menahan tangisnya.


"Menangislah." Satu kata ini membuat Ella tersentak. Kini ia mendongak ke Devan dengan mata berkaca-kaca lalu menangis meluapkan kesedihannya. Devan entah kenapa, malah mengecup pinggir bibir Ella membuat gadis polos ini terkejut.


Ella tak tahu, apa maksud perlakuan Devan kali ini. Buaian air mata semakin berjatuhan, air mata yang jatuh sendiri akhirnya mengenai kedua pipinya. Ella membalas memeluk erat Devan. Memeluknya tak ingin melepaskan Devan dari hidupnya.


Apa aku boleh bersamamu hari ini dan seterusnya?

__ADS_1


..._______...


__ADS_2