
Perlahan-lahan, pelukan erat ini semakin terlepas. Devan menyentuh kedua wajah Ella dan melihat kedua mata gadis ini. Ada rasanya tak tega untuk mengatakan sesuatu pada Ella. Tapi, ia harus katakan ini.
"Ella," panggil Devan lirih.
Ella mendongak lalu mengusap kedua matanya dan masih sesugukan. Sungguh bodoh ia malah menangis di depan lelaki yang tak mencintainya. Entah, perasaannya malah semakin dalam tak ingin melepaskan Devan. Tapi, kini ia harus menerima apa yang akan dikatakan Devan padanya.
"Aku tidak tahu bagaimana memulainya. Dari awal memang aku tak mau menikahimu karena aku sudah bertunangan. Tapi, karena tragedi malam itu, aku merasa bersalah padamu. Jadi, setelah aku mengajak tunanganku jalan-jalan. Aku akan membawamu ke rumah sakit dan jika hasilnya memang negatif aku akan mengurus surat-surat percerain kita." Jelas Devan melihat Ella.
Ella menggelengkan kepala, ia ingin menolak. Ia tak ingin Devan pergi, tak ingin melihat Devan bersama dengan wanita lain. Rasa egoisnya mulai timbul, tak mau menerima ucapan Devan.
"Sekarang, letakkan saja berkas itu di atas mejaku. Aku harus mengajaknya makan siang hari ini." Devan menunjuk ke arah meja lalu berjalan mengabaikan Ella.
Ella menggenggam kuat berkas di tangannya, getaran di kedua tangannya semakin meningkat. Setetes air mata jatuh mengenai berkas itu. Ella menoleh segera lalu menahan Devan sebelum lelaki ini meraih gagang pintu.
"Tunggu, Tuan."
Ella sesugukan kembali dan berhasil meraih tangan Devan. Rasanya, ini waktunya ia meluapkan perasaannya yang sudah dari kemarin menyimpan rasa ini terhadap Devan. Devan berbalik lalu melihat Ella.
"Apa lagi?" tanya Devan. Ella tak menjawab melainkan dengan cepat memeluknya. Devan terdiam mendengar Ella kembali menangis.
"Tu-tuan, anda ... per-pernah bertanya padaku, apa-apa aku mencintaimu atau tidak, dan se-sekarang-" Mulut Ella bergetar mengucapkan satu demi satu kata yang akan mewakili perasaannya.
"Dan-dan sekarang, sa-saya akan men-menjawabnya." Ella mencoba mengontrol emosinya agar ungkapannya ini bisa didengar jelas oleh Devan. Tapi, Devan malah melepaskan Ella.
"Tidak perlu menjawabnya, aku sudah tahu saat itu kau tidak mencintaiku." Devan kembali membelakangi Ella lalu mengepal tangannya dan meraih gagang pintu. Tapi, sekali lagi Ella menahannya dan memeluknya dari depan.
__ADS_1
"Ku-ku mohon. Dengarkan penjelasanku, dulu." Ella terbata-bata masih dalam tangisnya. Ia tak mau harapan yang diimpikan sirna begitu saja. Apalagi hanya lelaki ini yang dapat memberikan rasa aman baginya. Sejak melihat Devan berbuat baik pada anak-anak panti, rasa cinta itu semakin dalam dan merasa Devan dapat memberinya kebahagiaan itu.
"Ku-ku mohon, dengarkan,"
"Aku-aku tidak ingin bercerai dengan anda. Meski aku tak hamil, biarkan aku tetap bersama anda dan aku ... mu-mulai mencintaimu, Tuan." Jelas Ella akhirnya mengungkapnya. Mendengarnya, Devan tentu terkejut. Ada sedikit pergerakan di sudut bibirnya, sedikit senyuman mendengarnya. Devan membalas pelukan Ella. Pelukan yang begitu menenangkan.
"Benarkah itu?" tanya Devan memastikan. Ella segera mengangguk, dia sudah tak bisa bersuara diantara isakan tangisnya. Devan pun ingin menyentuh kepala Ella, tapi ponselnya berdering. Tunangannya menghubungi Devan karena terlalu lama menunggu di ruangan Hansel.
Devan langsung menepis tangan Ella yang merangkulnya. Ella tersentak diperlakukan kasar. Ia tak tahu apa lagi salahnya sudah membuat Devan kini menatapnya sinis.
"Berhentilah menangis," ucap Devan kembali melewati Ella.
"Dan singkirkan cintamu itu, dariku." Lanjut Devan segera membuka pintu dan keluar meninggalkan Ella yang semakin menangis seorang diri di ruangannya.
"Ya, Tuhan. Kenapa dia marah padaku?"
Ella jatuh berlutut ke lantai, menyembunyikan wajahnya yang telah dibasahi air mata. Merasa begitu bodoh terlalu berharap jika Devan juga mencintainya. Tapi, ternyata cintanya tidak bisa dibandingkan dengan tunangannya yang sudah melekat di hati Devan.
"Apa aku terlalu polos, Tuhan?"
Isakan Ella semakin menjadi-jadi, kini ia cemas jika dirinya akan dibuang oleh lelaki yang sudah mempermainkannya kemarin malam. Ella mulai sadar jika kemarin ia ternyata hanyalah pelampiasan saja. Menemani kesendirian Devan yang merindukan tunangannya. Tapi, bagaimana dengan Ella? Apa dia harus terima begitu saja? Sedangkan dirinya juga butuh seseorang menemani kesendiriannya.
Bahkan dirinya saja tak ada apa-apanya dibandingkan Elisa yang berpenampilan glamor bagaikan anak pengusaha. Sangat cocok untuk dijadikan pasangan hidupnya Devan. Tidak sepertinya, yang hanyalah anak yatim yang bisa saja merepotkan Devan setiap saat.
Ella mengepal tangan, lalu mengusap kasar wajahnya. Merasa air mata ini tak ada gunanya sekarang. Dia terlalu bodoh untuk menangisinya. Dengan hati teramat pedih, Ella berdiri lalu keluar dari ruangan Devan dan berlari entah kemana dengan sedikit sisa air mata yang jatuh hilang bersama terpaan udara.
__ADS_1
"Aku bodoh, aku terlalu berharap padanya, aku harusnya sadar diri, jika ini hanyalah pernikahan yang diawali dengan kesalah pahaman."
Ella berjalan linglung, langkah kakinya mulai goyah. Bahkan rasanya ia ingin jatuh tenggelam saja ke dasar laut. Menyembunyikan dan ingin menghilang. Hatinya hampa tak ada lagi orang yang bisa memberinya pelukan hangat.
Ella yang sedari tadi menunduk, berhenti di depan sebuah lift. Hanya ia sendirian saja tak ada siapa-siapa di sekitarnya. Ella mengepal tangan lalu mulai terisak. Ia ingin pergi, sebelum terluka lagi. Ella memencet tombol dan mulai memasuki lift tanpa rasa takut. Ella menyandarkan tubuhnya ke dinding lalu perlahan melihat pintu lift mulai tertutup. Ella samar-samar melihat seseorang berlari ke arahnya. Seorang pria yang sangat dia kenal dan perlahan hilang bersamaan pintu lift tertutup dan mulai bergerak turun.
Ella menutup wajahnya kembali menahan tangisnya agar nanti tak ada yang menyadari dirinya habis menangis. Tapi ternyata, lift malah tiba-tiba berguncang membuat Ella terkejut. Lift nampaknya mulai macet. Rasa cemas dan panik mulai menyelimutinya.
"Aaakh! To-tolong!"
Ella berteriak setelah lift tiba-tiba berhenti bahkan lampu diatasnya malah mati mendadak. Ketakutan dan suasananya mulai mencekam, hanya dirinya seorang diri. Ella kembali menangis histeris.
"To-tolong, ada-ada gempa ...." lirih Ella duduk menekuk lututnya ketakutan dengan isakannya. Menangis seorang diri di dalam lift. Karena terlalu lama berada di dalam lift membuat nafasnya mulai sesak, apalagi kepalanya mulai terasa pusing. Ella mencoba berdiri tapi kedua kakinya sudah mati rasa akibat ketakutan hingga ia terjatuh ke lantai.
Seketika itu pun lift perlahan terbuka, kedua mata Ella samar-samar melihat kembali seseorang yang sedang berlari ke arahnya dengan raut wajah cemas yang tak lain adalah Devan yang mengkhuatirkannya. Ella tersenyum sedikit merasa dirinya sedang bermimpi melihat Devan berlari ke arahnya.
Tuhan ... apa aku sedang ... bermimpi?
Ella perlahan menutup kedua matanya lalu pingsan di dalam lift.
..._______...
...~ VOTE CERITA INI YUK UNTUK CARZY UP ~...
...🤗🤗🤗🤗...
__ADS_1