Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 64 : Bukan Salahmu


__ADS_3

Devan meletakkan Ella ke ranjang dengan hati-hati lalu duduk di dekatnya dan menunggu Ella sadar. Devan menunduk sambil memegang tangan Ella. Rasa bersalah mulai menyelimutinya. Tak seharusnya ia emosi tadi, dan juga tak sangka Ella malah masuk untuk mencegahnya.


Devan seketika terkejut melihat warna keunguan di bagian alis mata kiri Ella. Bekas lebam akibat darinya mulai terlihat. Devan segera berdiri dan mencari kotak obat. Mungkin tadi begitu keras hingga membekas seperti itu. Devan duduk kembali dengan kotak obat di tangannya. Devan dengan hati-hati segera mengobatinya.


"Hm," lirih Ella perlahan mulai sadar merasakan tangan Devan menyentuh keningnya. Devan terkejut dan segera membantu Ella bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya.


"Hm, Tuan," desis Ella samar-samar belum jelas melihat Devan yang nampak begitu cemas di depannya.


"Bagaimana perasaanmu, Ella?" tanya Devan menyentuh rambut Ella. "Kau baik-baik saja, kan?" lanjut Devan bertanya lagi. Ella hanya menganggukkan kepala saja membuat Devan malah semakin cemas dan langsung memeluknya.


"Maaf, Ella. Aku tadi emosi, hingga tak sengaja memukulmu. Kau jangan diam saja, aku takut kau kenapa-napa." ucap Devan kini melihatnya. Ella tertawa sedikit lalu menyentuh kepalanya dan tersenyum merasa Devan begitu mencemaskannya.


"Aku cuma sedikit pusing dan untung saja otakku tidak terbalik hehe," cengir Ella menyentuh kepalanya lalu tersentak melihat Devan mencubit hidungnya.


"Kau bisa-bisanya bercanda dengan kondisimu begini," ucap Devan mendengkus sambil menggelengkan kepala.


"Aduh-" ringis Ella tiba-tiba menyentuh alis kirinya. Devan langsung meraih tangan Ella agar tidak menyentuh lukanya.


"Jangan disentuh,"


"Hm, kenapa tidak boleh disentuh?" tanya Ella heran.


"Itu-" Devan menunduk lalu mengepal tangan.


"Kening kirimu terluka, Ella. Ini gara-gara aku tak sengaja memukulmu. Tapi, kau tenang saja, aku sudah mengobatinya," ucap Devan kini melihatnya.


"Oh tidak apa-apa, ini sudah biasa. Luka kecil ini sudah biasa aku rasakan. Tuan tidak perlu merasa bersalah,"


"Sudah biasa? Maksudnya?" Devan terkejut mendengarnya.


"Itu-" Ella tak bisa menjawabnya dan hanya menunduk saja. Tentu ucapan Ella tertuju pada perlakuan Ibu tirinya yang sering memukulnya jika dirinya membangkang dulu. Devan kini mengerti dan segera memeluknya.

__ADS_1


"Aku benar-benar minta maaf, sudah melukaimu dan mengingatkanmu masa lalumu, Ella," ucap Devan mulai lagi merasa bersalah. Ella menggelengkan kepala dan melepaskan pelukan Devan.


"Tuan, anda tidak usah minta maaf. Lagian anda tidak sengaja memukulku. Aku yang salah, sudah ikut campur, hehe." Sekali lagi Ella cengengesan lalu terkejut melihat Devan mencium keningnya. Ella menunduk mulai tersipu.


"Aku harap ini bisa mengurangi sakitnya," ucap Devan tersenyum sedikit. Ella tertawa kecil lalu menganggukkan kepala. "Ini sudah cukup, Tuan." ucap Ella memperlihatkan dirinya baik-baik saja.


"Dejhi," panggil Maysha yang berdiri di dekat pintu. Devan dan Ella menoleh melihatnya. Maysha berjalan masuk lalu melihat Ella.


"Dejhi, Bun-nah kenapa?" tanya Maysha ingin naik ke ranjang tapi tubuhnya yang kecil tak bisa naik. Devan mengelus kepala Maysha lalu membantunya naik. Maysha kini duduk di dekat Ella lalu terkejut melihat kening Ella terluka.


"Tidak apa-apa, Maysha tidak usah cemas," kata Devan tersenyum.


"Hm, capi ada yang luka, Dejhi." Tunjuk Maysha pada kening Ella. Ella tertawa kecil lalu mengelus kepala Maysha. "Ini cuma luka kecil, nanti juga sembuh," ucap Ella tersenyum sambil menunjuk keningnya.


"Bun-nah, cadi kemana?" tanya Maysha lagi. Ella terkejut baru ingat jika tadi dirinya meninggalkan Maysha yang duduk di kursi.


"Ah, itu. Tadi, Bunda ke atas. Maaf ya, Bunda tinggalin Maysha tadi, hehehe," cengir Ella menggaruk kepalanya. Maysha tertawa kecil lalu mengangguk saja. Kini Maysha melihat Devan lalu berdiri dan kemudian duduk di dekatnya.


"Dejhi, Bibi Syasa nangis celus di kamal. Maysha sedih dengalnya dan kasihan," ucap Maysha dengan raut wajah sedih dan cemas pada Elisa.


"Ada apa, Ella?" tanya Devan. Meski tak bertanya, Devan sudah tahu jika Ella pasti akan menyuruhnya untuk minta maaf pada Elisa yang tadi sudah berlebihan ingin menamparnya.


"Tuan, lebih baik anda pergi saja."


"Apa maksdumu ini, Ella?" tanya Devan tak mengerti.


"Ini, adalah kesalahanku hingga kalian bertengkar. Lebih baik-"


"Cukup, Ella. Ini bukan salahmu!" ucap Devan langsung berdiri dan sedikit kesal mendengarnya. Ella ikut berdiri lalu sekali lagi meraih tangan Devan.


"Jika ini bukan salahku, terus siapa yang harus disalahkan? Aku sudah mendengar semua ucapan Nona Elisa dan ini semua adalah salahku, Tuan tidak usah marah padanya, ucapannya memang benar." Jelas Ella menunduk. Devan terkejut merasa tangan Ella bergetar. Devan pun segera melihatnya. Ternyata, Ella mulai diam-diam menangis.

__ADS_1


"Tidak, Ella. Ini bukan salahmu, ini salahku. Aku minta maaf padamu," lirih Devan memeluknya. Ella mendorong sedikit Devan lalu menggelengkan kepala.


"Tidak, jangan minta maaf padaku, tapi minta maaflah pada Nona Elisa, Tuan," kata Ella memohon, tahu jika Elisa lebih sakit darinya. Devan menghela nafas lalu melihat Maysha.


"Ku mohon, Tuan. Anda lebih baik pergilah melihat Elisa dan pergilah temani dia ke pestanya." Ella kembali memohon layaknya anak kecil saja. Melihatnya begini, Devan pun terpaksa mengiyakan.


"Baiklah. Aku akan pergi," kata Devan menyentuh kepala Ella. "Apa ini tidak masalah bagimu?" lanjut Devan ingin memastikannya.


"Tidak, ini malah lebih baik agar hubungan Tuan dan Nona Elisa baik-baik saja."


"Jika begitu, kau dan Maysha akan ikut juga."


"Tidak, aku tak bisa pergi. Kepalaku masih pusing, Tuan." Tolak Ella menyentuh kepalanya. Sengaja berkata seperti ini agar tak mengganggu Devan dan Elisa nantinya dan juga, jika dia pergi dirinya pasti hanya akan jadi penonton di pesta itu.


"Kalau begini, lebih baik aku tak usah pergi. Aku takut, kau kenapa-napa."


"Em, tidak usah kuatir. Aku akan baik-baik saja di sini." Sekali lagi Ella menolaknya halus.


"Maysha juga cidak mau pelgi. Maysha mau sama Bun-nah." Maysha ikut bicara sambil turun dari ranjang lalu memeluk Ella.


"Kalian yakin tidak mau ikut ke pesta juga?" Devan kembali bertanya untuk memastikannya.


Ella tentu tersenyum dan segera menggelengkan kepala. Devan pun ikut tersenyum lalu dengan terpaksa keluar dari kamar menuju ke kamar Elisa. Ella duduk kembali ke tepi ranjang dan mengelus kepala Maysha.


"Bun-nah," lirih Maysha memanggil Ella yang sekarang menunduk lagi dan melihat Ella yang diam-diam menangis lagi. Maysha naik ke ranjang, tapi berhenti ketika Ella tiba-tiba memeluknya lalu menangis dalam diamnya.


"Maysha, Bunda jahat kan?" ucap Ella merasa jika dirinya memanglah salah sudah hadir diantara Devan dan Elisa.


"Cidak, Bun-nah baik. Selalu baik sama Maysha," ucap Maysha begitu polos. Ella tahu, Maysha akan berkata seperti itu layaknya anak kecil pada umumnya. Ella mengusap pinggir matanya dan tersenyum kembali. Ella berdiri lalu meraih tangan Maysha.


"Kalau begitu, kita ke dapur lagi lanjut makan malam."

__ADS_1


"Baik, Bun-nah." Maysha hanya menurut lalu berjalan bersama Ella keluar dari kamar. Ella menoleh sebentar ke arah kamar Elisa lalu menunduk kembali dan berjalan menuruni tangga.


"Aku harap, hubungan mereka kembali baik lagi."


__ADS_2