
"Aku lapar, Tuan."
Tiga kata itu sungguh membuat Devan terkejut, mengira Ella akan meminta, rumah, mobil, harta, tapi ternyata malah meminta hal sekecil itu. Devan tersenyum lalu memeluknya kembali. Sungguh di mata Ella harta tak berarti baginya lagi. Yang dia ingin sekarang adalah mengisi perutnya yang sudah lapar karena menangis dari kemarin. Apalagi tadi pagi Ella memang belum makan.
"Baiklah, sekarang kita ke Restoran."
Devan menyentuh kepala Ella mulai bersikap lembut, bahkan Ella dicium pipinya lagi. Entah kenapa, Devan lebih menyukai mencium Ella dari pada tunangannya.
Ella tersenyum, senyumnya kembali merekah. Tangan Ella digenggam kuat oleh Devan tak ingin melepaskan Istrinya lagi bahkan tak ingin kehilangan Ella yang baik hati. Meski begitu, Ella tetap menunduk masih menahan rasa sakit di hatinya.
Keduanya memasuki mobil, Devan mengacak-acak pelan rambut Ella sambil tersenyum lalu memasangkan sabuk pengaman untuk Ella. Ella menunduk mulai lagi tersipu.
Devan tertawa kecil melihatnya, lalu mengemudi mobil membawa Ella makan siang hari ini. Ella melirik kembali melihat Devan begitu serius melihat ke depan.
"Apa dia benar-benar mencintaiku?"
Ella mulai gelisah, memikirkan jika Devan hanyalah kasihan padanya. Kini ia mulai bimbang atas keputusan telah mengikuti Devan lagi. Takut, jika dirinya akan tersakiti lagi.
"Jika dia mencintaiku, apa dia akan meninggalkan tunangannya?"
Itu yang kini menyelimuti pikiran Ella, takut dilema melanda dirinya lagi, jika Devan suatu saat nanti akan mempermainkan dirinya. Tapi kini Ella mencoba untuk percaya jika Devan akan berubah seperti yang dia pikirkan.
Mobil Devan berhenti di restoran bintang lima. Restoran yang dikenal dengan masakan yang luar biasa enaknya. Ella menelan ludah, ini terlalu berlebihan untuknya. Ia hanya ingin mengisi perut kurusnya bukan untuk melihat restoran sebesar ini.
"Kemarilah, Ella."
Devan menarik Ella membawanya masuk ke dalam restoran. Ella menunduk dan takut dengan tatapan berbagai orang-orang yang terlihat memiliki jabatan yang sama halnya dengan Devan. Devan merangkul pinggang Ella membuat para tamu yang melihatnya terkejut, mengenali Devan memeluk gadis berpenampilan biasa-biasa saja. Meski Ella lumayan cantik, tapi penampilan Ella tak ada apa-apanya dengan wanita-wanita glamor di dalam restoran.
__ADS_1
Kini Devan berhenti di meja yang dia pilih. Devan menarik kursi lalu menyuruh Ella duduk. Sungguh perlakuan Devan membuatnya tersipu mulai diperlakukan baik olehnya. Ella duduk dan menunduk saja. Devan mengelus kepalanya lalu duduk di hadapan Ella.
Devan menepuk tangan memanggil pelayan. Pelayan segera datang mendekati Devan dan memberi daftar menu mekanan. Devan menunjuk beberapa makanan paling enak. Pelayan segera pergi menyiapkannya.
"Tu-tuan, ini terlalu berlebihan," Ella gelagapan saking gugupnya.
"Ella," ucap Devan meraih tangan Ella di atas meja. Ella terkejut dan melihat Devan.
"Jangan panggil aku, Tuan. Panggil namaku saja." lanjut Devan tersenyum.
"Hm, Tuan Devan?" tanya Ella.
"Bukan begitu, buang Tuan-Nya." Devan sekali lagi membenarkan.
"Eh, Tuan mau dibuang kemana?" tanya Ella gagal paham membuat Devan terkejut. Devan menepuk jidatnya melihat Ella terlalu polos atau mungkin memang bodoh.
"Terus, aku panggil, Presdir?" tanya Ella lagi.
"Aish, bukan, Ella. Tapi, D-E-V-A-N. Kamu panggil aku Devan," ucap Devan sekali lagi membenarkan. Ella hanya diam, gadis ini belum paham.
"Ya sudah, terserah kamu saja mau panggil aku apa." Devan memberi tip pada pelayan yang sudah menyiapkan pesanannya.
"Benarkah? Aku bisa panggil terserah?" tanya Ella lagi.
"Ya, kau boleh panggil aku apa saja. Sekarang, makanlah." Devan tersenyum lalu mulai makan juga.
"Aku boleh panggil, biawak?" ucap Ella bertanya membuat Devan tersedak hingga terbatuk-batuk.
__ADS_1
Uhuk ... uhuk
"Astaga, kenapa biawak?" kaget Devan berhenti makan.
"Karena lidah Tuan semanis lidah biawak," jawab Ella menunjuk ke patung biawak yang menjulurkan lidahnya yang ada di dekat pilar restoran. Devan menoleh melihatnya dan mulai jijik mendengarnya.
"Ya ampun, kenapa harus biawak sih, cari yang lain!" ujar Devan kembali makan.
"Tapi, biawak cocok sama Tuan. Biawak itu satu reptil dengan buaya. Sangat manis dalam berkata-kata tapi ujung-ujungnya menyakitkan." Ungkap Ella menyinggung Devan.
"Hm, aku sudah paham." Devan manyun dikatain biawak. Ada benarnya juga.
"Ehehe, maaf Tuan." Ella cengengesan merasa senang sudah mengejeknya. Kini hatinya sedikit perlahan membaik. Devan melirik Ella dan juga senang bisa makan berdua dengan Ella sekarang.
Setelah selesai makan, Devan buru-buru berdiri lalu pergi ke belakang Ella. Ella menengadah ke atas melihat Devan.
"Tuan, mau apa?" tanya Ella. Devan tak menjawab, melainkan memasang liontin Ella yang kemarin dilepaskan. Ella terkejut, ternyata Devan masih menyimpannya. Kedua pipinya mulai merona.
"Tuan, ini terlalu berlebihan."
Ella sedikit takut, takut jika dirinya menyusahkan Devan.
"Tidak, Ella. Ini bagiku tidaklah berlebihan. Ini sangat cocok untukmu, kau sangat cantik memakai kalung ini. Cantik seperti halnya hatimu yang baik. Aku tulus membelikannya untukmu. Jadi, ku mohon jangan lepaskan lagi kalung ini," ucap Devan mengecup kepala Ella. Ella menunduk bukan tersipu melainkan menangis mendengar pujian Devan yang begitu lembut di telinganya.
Ella berdiri lalu melihat Devan tersenyum manis padanya. Ella mengusap matanya yang berair. Devan menyentuh pipi Ella lalu mengusap lembut kulit halus wajah istrinya. Ella dipeluk kembali membuat gadis polos ini menunduk tersipu mendengar pujian Devan lagi untuknya.
"Kau sangat cantik, secantik hatimu, Ella."
__ADS_1
..._______...