
Mobil Devan akhirnya sampai juga ke panti asuhan dan seketika anak-anak panti yang lagi asik bermain di pekarangan rumah langsung teriak dan berlarian. Apalagi mereka senang melihat Maysha datang juga berkunjung kali ini.
"Kak Ella! Om Devan!" teriak mereka saling berlarian. Devan terkejut melihat mereka seakan ingin menggebukinya. Ella tersenyum melihat mereka antusias begitu riangnya dan melihat Bu Panti yang lagi menyapu di sekitar pekarangan rumah. Anak-anak seumuran Maysha juga tak lupa ikut lari ke arah Devan yang sedang mencoba hindari anak-anak panti. Tapi, kaki Devan malah kesandung batu lagi dan akhirnya jatuh ke tanah.
Anak-anak yang seumuran Maysha tertawa melihat Devan jatuh ke tanah. Devan kini membola melihat mereka begitu antusias bersama-sama ingin melompat ke arahnya. Ella dan Maysha tertawa melihat Devan dikepung bagaikan sedang menangkap buronan saja.
"Om Devan lucu!" pekik anak-anak panti mencubit kedua pipi Devan. Devan meringis sedikit saja lalu tertawa bersama mereka. Devan pun berdiri sambil mengelus pantatnya yang sedikit sakit.
"Maysha, sekarang lebih baik main sama teman-teman ya. Ajak mereka main ya, Sha. Pantat Dejhi sakit nih," ringis Devan memohon agar Maysha bisa mengajak mereka dan tak mengganggunya. Maysha mengerti lalu mengajak mereka bermain. Para anak-anak panti pun berhamburan bersama Maysha meninggalkan Ella dan Devan hanya berdua.
"Tuan, baik-baik saja?" tanya Ella masih menahan tawanya.
"Baik apanya? Pantatku sakit tau! Kalau begini aku tak bisa-" ucap Devan berhenti masih sedikit kesal.
"Hm, tak bisa apa?" tanya Ella penasaran atas kalimat Devan yang malah diputus begitu saja.
"Kalau begini aku tak bisa goyang bersamamu di atas kasur." Ella membola dibisikkan oleh Devan. Ella merona tersipu lalu mendorong Devan sedikit.
"Dasar mesum!" ketus Ella kesal lalu berjalan ke arah Bu panti meninggalkan Devan yang tertawa terbahak-bahak seorang diri.
"Ahahaha, apa dia mengerti maksudku?" tawa Devan segera menyusul Ella.
"Bu," ucap Ella memanggil Bu Panti.
"Ya, ada apa Ella?" tanya Bu panti sambil menyimpan sapunya.
"Em itu, kedatanganku ke sini mau berikan ini pada Ibu." Ella menyodorkan berkas ayahnya. Bu panti mengambilnya lalu membacanya. Kedua mata Bu Panti sedikit melebar setelah membacanya.
"Lho, ini kan punya kamu Ella. Kenapa berikan pada Ibu?" tanya Bu Panti sedikit bingung.
"Itu, rumah ayahku sudah menjadi milikku dan aku berniat ingin menjadikannya panti asuhan untuk anak-anak di sini. Aku harap Ibu mau menerima niat baikku ini. Ibu mau kan?" Ella gemeteran takut Bu panti malah menolaknya. Bu Panti tentu tak akan menolak, Bu panti malah terharu mendengarnya. Dengan cepat, Ella menerima pelukan dari Bu panti.
"Nak Ella, kau ... terima kasih, Nak. Kau selalu saja baik pada anak-anak di sini. Padahal mereka tak ada hubungan sedikitpun pada keluargamu. Terima kasih, Nak Ella."
Ella tersenyum mendengar lalu membalas pelukan Bu panti yang kini menangis. Ella mengelus punggung Bu panti mencoba menenangkannya.
"Tidak perlu berterima kasih, Bu. Mereka sudah aku anggap sebagai adikku. Jadi, mereka layak dapat tempat tinggal yang baru. Aku harap mereka mau bersedia pindah ke rumah baru mereka." Kata Ella melepaskan Bu panti. Bu panti mengusap pinggir matanya lalu meraih kedua tangan Ella.
__ADS_1
"Mereka akan bahagia jika mendengarnya ini. Terima kasih, Ibu sungguh tak sangka kau datang untuk memberiku kabar baik ini, Nak Ella." Isak Bu panti masih belum berhenti menangis.
Devan yang melihat keduanya hanya bisa tersenyum. Namun, saat ingin bicara, ponselnya malah berdering. Devan mengerutkan dahi menerima panggilan dari Hansel.
"Halo, ada apa Hansel?" tanya Devan berbicara sedikit jauh dari Ella.
"Presdir, gawat. Kondisi Nona Elisa semakin memburuk. Pihak rumah sakit baru saja mengatakan ini padaku. Anda lebih baik pergilah ke rumah sakit segera." Kata Hansel terdengar panik dalam panggilan ini. Hansel memang baru tahu soal Elisa saat rumah sakit menelpon ke perusahaan. Kedua mata Devan membola setelah mendengarnya.
"Baiklah, kalau begitu pergilah ke panti asuhan sekarang dan temani Ella dan Maysha di sini. Aku akan segera pergi ke sana langsung."
"Eh, untuk apa aku ke situ, Presdir?" tanya Hansel yang sedang sibuk di ruangannya sendiri.
"Tidak usah bertanya, kau ke sinilah dan bawa beberapa mobil."
"Baik, Presdir." Hansel hanya mengiyakan saja lalu mematikan panggilan dan mulai menghubungi anak buahnya. Sedangkan Devan mulai berjalan meninggalkan Ella yang sibuk bicara pada Bu panti, tapi berhenti setelah Maysha menghalanginya.
"Dejhi, mau kemana?" tanya Maysha mendongak.
"Dejhi punya urusan penting, Maysha di sini saja sama Bunda ya, nanti ada Om Hansel ke sini." Devan mengelus kepala Maysha lalu buru-buru berjalan ke arah mobilnya dan pergi tanpa pamit sedikitpun pada Ella. Maysha mengerutkan dahi penasaran apa yang sudah terjadi.
"Maysha," panggil Ella. Maysha berbalik lalu lari ke arah Ella.
"Lho, pergi kemana?" tanya Ella terkejut melihat mobil Devan tak ada lagi di tempatnya.
"Cidak cahu, Bun-nah." Maysha menggelengkan kepala.
"Pantas saja tadi aku tak melihatnya, ternyata dia malah pergi tak pamit padaku dan tak memberitahuku juga. Apa ada urusan lain yang begitu penting? Padahal, aku butuh bantuannya untuk membawa keperluan anak-anak panti untuk dipindahkan ke rumah ayahku. Lebih baik aku menunggu saja di sini," guman Ella sambil duduk di kursi.
"Maysha, kembali main saja ya, kita tunggu sebentar di sini." Lanjut Ella mengelus kepala Maysha. Anak kecil ini hanya mengangguk dan kembali kumpul bersama anak-anak panti.
"Eh, Nak Ella kemana suamimu?" tanya Bu panti dari dalam rumah sambil memegang nampan yang berisi tiga cangkir teh.
"Oh itu, lagi pergi sebentar Bu. Mungkin ada urusan, jadi kita tunggu saja sebentar," jawab Ella tersenyum pada Bu panti yang lagi meletakkan nampan ke atas meja lalu duduk di kursi lain.
"Kalau begitu, minum dulu gih tehnya. Mumpung masih panas, jadi bisa kurangi suhu dingin di sini." ucap Bu panti tersenyum.
"Hm, ya Bu." Ella mengangguk lalu mengambil secangkir teh sambil melihat Maysha yang tertawa diantara anak-anak. Terlihat mereka sedang asik bermain bersama.
__ADS_1
"Nak, Ella. Apa kau yakin hari ini akan membantu Ibu pindahkan barang anak-anak?" tanya Bu panti. Ella meletakkan tehnya lalu mengiyakan.
"Ya, Bu. Mumpung hari ini ada waktu, lebih cepat itu lebih baik."
"Ya sudah, kalau begitu Ibu masuk dulu siapkan semua barang-barang yang harus dipindahkan," ucap Bu panti berdiri.
"Itu, aku boleh kan bantu Ibu juga?" Ella ikut berdiri. Bu panti tersenyum lalu masuk ke dalam. Ella pun ikut masuk membantu Bu panti dari pada menunggu Devan.
Sudah dua jam memakan waktu, akhirnya Ella dan Bu panti sudah selesai menyiapkan keperluana anak-anak. Begitu banyak tumpukan kardus yang sudah tersusun rapi. Ella tertawa kecil melihat anak-anak panti masuk dengan tampang kebingungan, apalagi Maysha yang tak tahu menahu segera berdiri di dekat Ella.
"Bun-nah, ini mawu diapakan?" tanya Maysha menunjuk kardus yang menjulang tinggi yang lebih tinggi dari tubuhnya.
"Mau dipindahkan ke rumah baru," jawab Ella tersenyum sambil mengelus kepala Masyha.
"Wah, kita punya rumah baru ya, Bu?" tanya seorang anak nampak terkejut mendengarnya.
"Benar, kita hari ini tidak akan tinggal di sini. Jadi, siang ini kita akan pindah ke rumah lama Ella." Bu panti menjawab sambil menunjuk Ella.
"Ehehe, kakak harap kalian mau ikut pindah. Kalian mau kan?" Ella cengengesan sedikit. Para anak-anak langsung memeluk Ella. Ada yang menangis dan ada pula yang berteriak senang hingga Maysha saja ikut dipeluk oleh mereka. Bu panti hanya tertawa melihat respon dari anak-anak.
"Sudah, sudah. Sekarang kita makan siang dulu. Mumpung suami Ella belum datang." Ajak Bu panti mulai berjalan. Anak-anak segera menyusul. Sedangkan Ella melihat jam sudah pukul 11.26 siang. Raut wajah Ella mulai murung.
"Bun-nah, Maysha mawu makan juga." Maysha merengek manja. Ella pun mengerti lalu membawa Maysha masuk ke dapur karena anak kecil ini agak takut karena atap-atap dapur sudah rusak seakan ingin ambruk.
Sekarang, begitu berisik di ruang dapur. Canda tawa para anak-anak memenuhi ruang dapur kali ini. Apalagi Maysha juga tak kalah rewelnya bersama anak-anak seusianya.
Hanya beberapa saat, makan siang akhirnya selesai. Ella merapikan meja makan bersama Bu panti. Sedangkan anak-anak dan Maysha ada di ruang tamu menunggu Devan.
Ella yang sibuk di dapur akhirnya berhenti setelah mendengar suara klakson mobil yang cukup keras. Senyum Ella melabar merasa Devan sudah kembali, tapi ternyata setelah keluar melihatnya, yang datang bukanlah Devan melainkan Hansel dengan tiga mobil hitam. Ella menunduk mulai sedikit kecewa.
"Sepertinya, urusan Tuan lebih penting sekarang. Padahal, katanya hari ini ia akan menemaniku seharian, tapi tak apa-apa deh, untung saja Kak Hansel datang juga," batin Ella lalu berjalan ke arah Hansel.
"Maaf, Ella. Hari ini Presdir menyuruhku untuk ke sini dan membawa beberapa anak buah. Jadi, apa kau bisa katakan untuk apa ini?"
"Eh, Tuan Devan cuma menyuruh Kak Hansel dan tidak memberitahukan tujuannya?"
"Benar, dia terlalu buru-buru jadi tak sempat beritahu padaku." kata Hansel melihat ponselnya. Ella menghela nafas sedikit kecewa lagi. Ella pun memberitahukan jika hari ini, ia butuh bantuan untuk membawa barang anak-anak ke rumah lamanya. Hansel tersenyum mendengar niat baik Ella, lelaki ini pun menyuruh anak buahnya masuk membawa cepat barang mereka.
__ADS_1
Kini Ella masuk ke dalam mobil Hansel bersama Maysha dan Bu panti lalu duduk di kursi tengah. Sedangkan anak-anak duduk di mobil lainnya. Untung saja tiga mobil muat untuk membawa anak-anak panti. Sekarang begitu jelas suara mereka yang begitu riang saat mobil mulai melaju pergi meninggalkan panti asuhan. Tidak seperti Ella yang menunduk dengan raut wajah murungnya. Memikirkan sesuatu yang berkecamuk di dalam kepalanya.