
Hari esoknya, di luar negeri. Seorang remaja yang sedang sibuk mengurus deskripsi liburannya, nampak terkejut setelah melihat sebuah notif. Notif yang membuatnya langsung berdiri dari kursinya.
"lho, ini kan calon kakak ipar gue? Kenapa bisa masuk rumah sakit lagi? Bukannya sudah sembuh?"
Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri lalu buru-buru keluar dari kamar meninggalkan lembaran tugas deskripsinya. Ia bernama Rafandra, dan kerap dipanggil Rafa. Tuan muda kedua dari keluarga Welfin yang kini sudah berumur sembilan belas tahun. Adik kedua-Nya Presdir Devan.
Rafa menuruni tangga mencari Ibunya. Namun, Ibunya tak ada sama sekali. Rafa pun kembali melihat notif tersebut dari channel You-Tube yang terpercaya.
"Mami sepertinya belum kembali dari berbelanja. Jika begitu, sekarang gue harus bagaimana nih?" gumam Rafa kembali menaiki tangga. Tapi baru juga mau ke kamarnya. Suara cewek memanggilnya dari arah pintu mansionnya.
"Woi, bang!" panggilnya berteriak ke Rafa. Rafa berbalik dan melihat adik perempuannya. Modelnya yang tomboy membuat Rafa jadi menyipitkan mata saja. Sedikit jengkel pada kelakuan adiknya yang tak ada sama sekali seperti anak perempuan pada umumnya.
"Kenapa manggil gue?" tanya Rafa menuruni tangga menghampiri adiknya yang kini duduk di sofa. Bernama Zelisia Arelia. Yang kerap dipanggil Zeli. Berumur lima belas tahun.
"Itu loh bang, si calon kakak ipar kita masuk rumah sakit lagi."
"Oh, dah tau." Rafa duduk di sofa lain menatap adiknya yang kebingungan.
"Eh, tau dari mana lu bang?"
"Ya tau dari sini lah," jawab Rafa menunjuk ponselnya.
"Tapi ada yang aneh, kenapa dia masuk rumah sakit lagi? Kan sudah sembuh kata Mami." Rafa menyentuh dagunya, berpikir ada sesuatu yang lain sudah terjadi.
"Ah, kita positif tingking saja bang, mungkin kak Elisa kena sembelit. Ahahaha," tawa Zeli lepas sambil melihat ponselnya yang terdapat wawancara Ny. Chelsi. Rafa memutar bola mata jengah lalu berdiri dan mengambil buku di atas meja lalu menepuk kepala adiknya.
Tak!
"Aduh, sakit tau bang!" ringis Zeli kesal sambil mengelus kepalanya.
"Tidak boleh gitu, kau nih cewek. Biasakan bersikap lembut, jangan cuma pergi main terus!" Nasehat Rafa membuat Zeli hanya memajukan mulutnya. Cemberut sudah dinasehati.
__ADS_1
"Sekarang Bang mau ke atas. Kalau ada Mami, kasih tau Abang ya." Rafa meletakkan bukunya lalu pergi meninggalkan Zeli sendirian.
"Apaan sih, punya kakak terlalu serius amat. Padahal tadi cuma bercanda doang, tapi gue malah dipukul, emang kamvret lu, Bang!" ketus Zeli pergi keluar lagi sambil menghentakkan-hentakkan kakinya.
"Kenapa ya punya tiga kakak tapi bawaannya bikin kesal. Bang Devan orangnya cuek, bikin naik darah kalau ngomong sama dia. Kak Dean juga orangnya cuek, bahkan sangat cuek, bikin gue naik tanduk kalau ngomong sama dia. Apalagi sekarang sibuk ngurus masalah pribadinya. Sekali-kali jenguk Zeli kek gitu! Ah, malas banget jalani hidup kek gini!" ketus Zeli menendang batu.
Kesal dan Jengkel tak bisa melakukan apa-pun selain keluar jalan-jalan. Namun, baru juga sampai ke pagar, mobil taksi berhenti di depan mansionnya. Seorang wanita berumur 43 tahun, memiliki paras yang cantik seperti halnya Zeli.
"Wah, Mami!" panggil Zeli berlari ke arahnya. Wanita itu menoleh dan tersenyum melihat putri bungsunya yang menyambutnya pulang dari belanja. Ia bernama Mira Arelia, Nyonya besar sekaligus istri dari Tuan besar Raka Alendra. Ibu kandung Presdir Devan dan Dean, sekaligus Rafa dan Zeli.
"Heh, kamu pagi-pagi begini dari mana Zeli?" tanya Ny. Mira sambil memberi tip pada pak taksi lalu mendekati Zeli.
"Hehe, dari jalan-jalan pagi, Mih," cengir Zeli menggaruk kepalanya.
"Sini, Mih. Biar Zeli yang angkat." Lanjutnya mengambil belanjaan Ibunya. Ny. Mira hanya tertawa kecil lalu berjalan di dekat Zeli. Masuk untuk menyiapkan keperluan makan siang nanti untuk anak-anaknya dan suaminya.
"Oh ya, Mih," ucap Zeli meletakkan belanjaan Ibunya di atas meja dapur.
"Hm, kenapa sayang?" tanya Ny. Mira yang lagi mencuci tangan.
"Apa? Calon menantu Mami masuk RS lagi? Kok bisa?" kaget Ny. Mira segera melihat ponselnya. Mencari kabar tentang Elisa.
"Tadi Zeli buka ponsel, eh tau-taunya dikasih notif dari Channel XXX, Mih. Coba Mami lihat sendiri saja." Kata Zeli duduk kembali ke kursi.
Ny. Mira yang cemas pada Elisa kini semakin kuatir setelah mendengar pengakuan Ny. Chelsi jika Penyakit Elisa kambuh. Ny. Mira segera menghubungi sang Suami yang sedang menghadiri rapat di sebuah perusahaan.
Namun, ternyata panggilan Ny. Mira tak didengar oleh Tuan Raka yang lebih fokus pada rapatnya kali ini. Ny. Mira kesal dan langsung menghentikan niatnya.
"Ish, kenapa tidak diangkat sih!" desis Ny. Mira menggertakkan giginya.
"Kenapa, Mih?" tanya Zeli berdiri lalu berjalan lagi ke Ibunya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu sekarang bantu Mami. Setelah makan siang, kita akan pulang ke kota."
"Eh, kok cepat banget sih, Mih? Zeli kan masih mau jalan-jalan ke tempat lain." Zeli merengek.
"Tidak bisa sayang, calon mantu Mami lagi sakit sekarang. Kita akan pulang hari ini, kau pergi siap-siaplah saja. Setelah Papimu pulang, kita berangkat nanti." Ny. Mira mengelus kepala Zeli lalu mendekati belanjaannya mulai ingin masak.
Zeli hanya cemberut lalu pergi dari dapur, menaiki anak tangga dan kemudian pergi ke kamarnya untuk menyiapkan barang-barangnya. Tapi, saat melewati kamar Rafa. Zeli dikejutkan dengan Rafa yang keluar nampak terlihat kaget juga.
"Eh, lu kenapa bang?" tanya Zeli penasaran.
"Ini loh dek, coba lu lihat nih." Rafa memberikan ponselnya. Zeli kembali terkejut melihat sebuah foto di layar. Foto Devan bersama seorang gadis yang seusia dengan Rafa, yang tak lain adalah Ella.
"Wah, ini kan Bang Devan. Lu dapat dari mana nih foto, bang?" tanya Zeli menunjuk foto itu.
"Ini barusan dikirim sama teman gue, katanya tidak sengaja lihat jadi dia iseng foto. Eh tau-taunya, ternyata ini Bang Devan. Lu tau gak dek, ini siapa?" Rafa mengambil ponselnya kembali.
"Lah mana gue tau bang, gue kan ikan!" ucap Zeli malas. Malas karena sedikit kesal pada Ella. Berani-beraninya jalan bersama Devan.
"Eh, bawel. Sekalian lu pergi sono tenggelam ke laut saja!" ketus Rafa kesal lalu menutup pintunya rapat-rapat.
"Lah, marah? Cuma canda dikit doang responnya serius amat. Dasar kamvret banget lu, bang!" pekik Zeli ikutan kesal lalu pergi kembali ke kamarnya.
Rafa duduk kembali ke kursinya. Memperhatikan Ella lebih dekat lalu semakin menyipitkan mata.
"Sepertinya gue kenal nih cewek, tapi di mana ya?" pikir Rafa berisikeras mengingatnya.
"Astaga, ini kan Ara. Teman satu kelas gue pas SMP dulu. Kok bisa jalan sama abang gue?" Rafa kaget sudah mengenal Ella. Rafa kini mengotak-atik laptopnya lalu mencari biodata Ella dikomunitas murid sekolahnya dulu.
"Eh buset, dugaan gue benar. Nih cewek si Ara. Tapi kok bisa dekat sama Bang Devan? Apa hubungan mereka berdua?"
Rafa menutup laptopnya lalu buru-buru keluar dari kamar. Rafa menuruni tangga dan tak sengaja bertemu Ny. Mira.
__ADS_1
"Rafa, kau mau kemana?" tanya Ny. Mira heran.
"Keluar bentar dulu, Mih." Rafa pamit lalu keluar dengan switernya. Naik ke motor dan pergi begitu saja, ingin mencari tahu lebih lanjut soal Ella dan Devan dari temannya ke warnet terdekat. Ny. Mira hanya geleng-geleng kepala lalu melanjutkan pergi ke dapur kembali.