
Butiran bening berhasil jatuh dari mata Devan. Mulai tak tega melihat gadis polos ini tersakiti atas perbuatannya. Devan melihat wajah Ella dan dengan lembutnya mencium kening Ella dan sekali lagi memeluknya. Sungguh dirinya bodoh telah menyakiti gadis baik seperti Ella.
"Maafkan, aku."
Suara lirihan Devan terdengar tulus. Tetapi, entah dari lubuk hatinya. Devan melepaskan Ella lalu dengan hati-hati menyandarkan Ella kembali. Devan melihat kedua tangan Ella yang sedikit membekas atas cengkraman tangannya kemarin.
Devan meraih kedua tangan Ella lalu dengan lembutnya mencium bergantian pergelangan tangannya. Berharap ini bisa menyembuhkan sedikit rasa sakit perlakuan darinya. Devan menggelengkan kepala merasa ini tidak ada gunanya untuk menyembuhkan rasa sakit itu.
Devan memukul stir mobilnya. Kini kebimbangan hatinya kembali lagi membuatnya emosi. Bingung siapa yang harus dia pilih diantara dua wanita yang cocok untuk berada di sisinya nanti.
"Ya Tuhan, kenapa ini begitu sulit bagiku?"
Devan meremas rambutnya mulai pusing lalu melihat Ella. Sungguh rasanya perih melihat gadis ini pingsan tak berdaya di dekatnya. Devan menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya menuju ke suatu tempat.
Hanya beberapa saat saja, mobil Devan berhenti di sebuah pelabuhan. Devan melihat Ella yang masih pingsan lalu menyentuh kembali pipi halus Ella. Pipi yang pastinya selalu dibasahi oleh butiran air mata.
Devan pun keluar dari mobil lalu berjalan ke pinggir pelabuhan melihat air laut di depannya yang terlihat tenang. Berharap pikirannya juga ikut tenang. Devan menunduk dan mengepal tangannya dan mulai merenungi perbuatannya.
Memikirkan kebodohannya yang sudah melibatkan Ella dalam hubungan percintaannya dan juga sudah menyakiti perasaan dua wanita sekaligus. Kebimbangan ini sangat menyakitkan baginya untuk memilih salah satu dari mereka.
Devan menghela nafas lalu berbalik menuju ke mobilnya. Setelah membuka pintu mobil, alangkah terkejutnya ia tak melihat Ella di dalam mobil. Devan menoleh ke arah berlawanan dan melihat Ella berjalan ke arah jalan raya. Begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang.
"Astaga, Ella!" teriak Devan segera mengejarnya sebelum Ella tertindas mobil.
__ADS_1
Hanya selangkah saja, maka nyawa Ella melayang. Tapi untungnya Devan segera meraih pinggangnya hingga Ella jatuh ke pelukannya.
"Ella, sadarlah. Jangan lakukan ini lagi, jangan akhiri hidupmu." Devan berkali-kali mengguncang tubuh Ella. Tapi, tak ada satu katapun yang keluar dari mulut gadis ini. Hanya diam terus-menerus yang Ella lakukan sekarang. Bahkan pandangan Ella terlihat kosong.
"Lihat aku, Ella. Jangan diam, saja!" ujar Devan mencoba membuat Ella sadar dari diamnya.
Ella tetap diam, diam, diam terus menerus. Rasanya kedua kakinya hanya ingin berjalan lurus. Sekali lagi, Devan memeluknya.
"Ella, maafkan aku. Jangan diam saja, Ella. Aku cemas padamu." Lirihan Devan tetap percuma saja, Ella masih dalam sikap diamnya. Devan mencium kepala Ella berharap Ella dapat bersuara lagi.
"Ella, maafkan aku. Tolong, bicaralah."
Devan mengelus punggung Ella, sakit rasanya tak mendengar suara gadis ini lagi. Seketika itupun terdengar suara tangisnya. Ella mulai perlahan sadar.
"Ella, ini aku. Ini aku, Ella. Maafkan aku. Aku salah, jangan lagi coba-coba akhiri hidupmu." Mulut Devan bergetar tak sanggup melihat Ella amat menyedihkan.
"Aku-aku ingin pulang, aku ingin ketemu Ayah, bawa aku pergi."
Ella mulai menangis bukan karena sakit, tapi ketakutan. Bahkan suara Devan tak dapat didengar olehnya lagi. Dalam pikirannya, ia hanya ingin bertemu dengan Ayahnya yang sudah meninggal.
"Ya Tuhan, maafkan aku, Ella."
Devan berkali-kali minta maaf melihat Ella terpuruk. Devan segera melepaskan Ella dan menatap kedua mata Ella yang dipenuhi linangan air mata.
__ADS_1
"Ella, tatap aku. Ini aku, Ella. Bicaralah padaku," lirih Devan menguncang sedikit lengan Ella. Ella menatap kedua mata pria di depannya. Ella terkejut dan segera mundur, ia mulai sadar sepenuhnya.
"Tu-tuan, kenapa anda ada di sini?" Ella gemeteran dan berjongkok di tepi jalan. Ella ketakutan, ini bagaikan mimpi baginya. Beranggapan Devan akan membunuhnya sudah kabur dari Villa.
"Ku mohon, jangan bunuh aku, Tuan. Biarkan rumah Ayahku hancur asalkan jangan bunuh aku." Tangis Ella ketakutan.
Devan mengepal tangannya, ikut gemeteran. Begitu jahatnya dirinya telah mengubah Ella yang dulu ceria sekarang menjadi ketakutan seperti ini. Devan menarik Ella berdiri lalu memeluknya kembali. Memeluk erat, merasa sangat bersalah telah mengancam anak yatim seperti Ella.
"Maafkan aku, Ella. Aku sadar, aku salah. Tolong jangan lagi menangis, aku tak kuat melihatmu seperti ini." Kalimat ini langsung keluar dari mulut Devan. Butiran bening kembali menetes dari pelupuk mata Devan. Rasanya ia bagaikan orang jahat di mata istrinya.
"Ma-maaf?" ucap Ella terbata-bata diantara tangisnya.
"Ya, aku minta maaf. Jujur, aku mencintaimu. Ini semua salahku, aku tak seharusnya mengancammu. Aku memang bodoh, tak tahu cara mencintaimu dengan benar."
Mendengar kelimat Devan, Ella berhenti menangis. Kalimat itu terdengar tulus untuknya.
"Kau mencintaiku, Tuan?" tanya Ella mendongak melihat wajah Devan. Devan melihatnya lalu memeluknya erat.
"Benar, aku sudah lama mencintaimu. Hanya saja, aku tak tahu cara menyampaikannya padamu. Aku takut kehilanganmu, hingga akhirnya aku mencoba menahanmu seperti ini. Caraku memang salah, jadi tolong maafkan aku, Ella," lirih Devan merasa begitu menyesal lalu mencium kembali kepala Ella. Ella tersenyum sedikit mendengarnya.
"Katakan padaku, apa yang kau inginkan sekarang? Aku akan menuruti kemauanmu selain perceraian." Kata Devan melihat Ella lalu meraih kedua tangan gadis di depannya. Ella menunduk menahan kembali tangisnya lalu mengucapkan kalimat yang membuat Devan sungguh terkejut.
"Aku lapar, Tuan."
__ADS_1
...______...