
...[Beri like dan vote]...
Sosok Presdir seperti Devan yang memiliki sifat sinis dan pemarah tentu membuat para karyawannya di kantor sedikit takut untuk menatapnya. Tapi tidak untuk karyawan wanita yang malah tergila-gila dengan sikap cueknya. Apalagi Devan salah satu Presdir yang tidak gila dengan percintaan liar di luar sana.
Tapi kini, para karyawan wanita hari ini sangat terkejut melihat Presdirnya datang bersama gadis muda asing yang sedang menggandeng tangan Maysha yang tidak lain gadis ini adalah Ella yang diajak sendiri oleh Devan untuk menjaga Maysha.
"Eh, siapa tuh cewek?" bisik karyawan wanita pada temannya.
"Entahlah, tapi ... penampilannya cupu banget. Tapi, gadis ini tak disangka bisa-bisanya berjalan dibelakang Tuan Presdir," sirik teman si karyawan merasa jengkel.
"Ck! Kita tak usah kuatir, Presdir mana mungkin mau meliriknya, apalagi Presdir sudah punya tunangan. Gadis ini pasti hanyalah Babysitter yang ditugaskan untuk menjaga anak kecil itu." bisik karyawan wanita melirik Ella yang berjalan terus di belakang Devan.
Kedua karyawan ini cemberut melihat Devan berjalan dengan gadis lain. Apalagi penampilan Ella yang biasa-biasa saja sangat membuat hati mereka bagaikan ingin menjambak Ella.
Devan seketika melirik mereka sinis. Tapi dua karyawan ini tidak ketakutan malah berbunga-bunga dilirik oleh Devan. Lirikan Devan bagaikan menusuk ke hatinya. Ella yang melihatnya terheran-heran, karena mereka malah senang diberikan lirikan mata yang amat mengerikan menurut Ella.
"Aiiya, mereka mungkin sudah stress dengan ekspresi begitu, jelas-jelas Tuan ini meliriknya sinis tapi mereka malah berbunga-bunga tidak takut sedikitpun," gumam Ella geleng-geleng kepala.
"Memangnya, apa bagusnya sih lelaki ini. Jutek iya, ganteng sih ya lumayan aja. Sikapnya itu malah bikin jengkel terus dan sangat menyembalkan!" umpat Ella dalam hati melirik punggung Devan dan memanyungkan mulutnya.
"Ihihi ... Bun-nah mulunya mau dicium ya?" tawa Maysha cekikikan membuat gadis ini tersentak. Devan yang sedang menggendong Maysha berhenti lalu berbalik melihat Ella. Ternyata benar, Devan tak sangka melihat Ella diam-diam sedang cemberut di belakangnya.
"Apa maksud dari mulutmu itu?" Tunjuk Devan membuat Ella sadar dan langsung berhenti lalu mendongak ke Devan.
"Eh, mulutku kenapa?" Ella malah bertanya.
"Ihihi ... mulu Bun-nah imuy." tawa Maysha cekikikan lagi. Ella menunduk, ada rasa aneh Maysha terus-menerus memanggilnya seperti itu.
"Apa kau tuli, ha!" ujar Devan kesal merasa diabaikan.
"Eh, memangnya tadi Tuan bilang apa?" Ella malah bertanya.
"Kamu ini, aku tadi tanya mulut kamu kenapa?" Devan mulai lagi sedikit melototinya.
"Eh, tadi mulutku kenapa?" Ella kembali bertanya membuat darah Devan mulai mendidih.
"Tau ah! Dasar tuli!" ketus Devan berbalik dan berjalan kembali.
"Ihihihi ... Bun-nah jangan mayah ya," tawa Maysha tahu jika Ella sekarang ingin mangamuk. Sangat jelas raut wajah Ella merah bukan karena merona tapi marah ingin menendang pantat lelaki sok jual mahal di depannya.
__ADS_1
"Ish, lama-kelamaan aku makin ingin mencakarnya!" gerutu Ella kembali berjalan mengikuti Devan dan cemberut lagi.
Sekarang Ella agak takut untuk memasuki lift di depannya. Ini pertama kalinya memasuki sebuah perusahaan besar apalagi lift itu pasti akan menuju ke lantai paling atas ruangan CEO.
Glug!
Ella hanya bisa berdiri di depan lift sambil meneguk ludahnya. Kakinya gemeteran takut menginjak lantai lift.
"Bun-nah, ayo masuk," ajak Maysha yang memegang tangannya.
"Eh, itu. Maysha panggil kakak saja, ya. Nama aku kan bukan Bunnah," kata Ella tersenyum.
"E-eng," Maysha menggelengkan kepala.
"Bun-nah, ayo masuk." lanjut Maysha menarik tangan Ella. Ella hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya dan tak bergerak sedikitpun.
Devan yang dari tadi berdiri mulai kesal. Ia pun langsung meraih dan menarik tangan Ella masuk ke dalam lift. "Apa kau beneran tuli hingga tidak mau masuk?" Ella terperanjak dikatain tuli, wajah Devan mulai ingin marah lagi.
"Ah, jangan bawa aku ke atas!" pekik Ella memejamkan mata.
"Eh, Bun-nah hakuh hinggi?" kata Maysha mendongak. Ella hanya menggelengkan kepala masih memejamkan mata takut merasakan lift mulai bergerak naik.
"Tolong, bawa aku ke bawah. Aku takut ketinggian." racau Ella gemeteran. Devan dan Maysha terkejut bersamaan dan tertawa kecil.
"Pfft, dasar culun. Ini di dalam lift, tapi kau malah takut seperti ini, bahkan kau lebih penakut dari Maysha," tawa Devan mengejek Ella yang masih berjongkok ketakutan. Tapi tawa Devan terhenti ketika Maysha berbicara.
"Dejhi, Bun-nah nangis," Maysha menunjuk Ella sedikit kasihan.
"Astaga, dia benar-benar menyusahkan."
Devan mengulurkan tangannya, "Pegang tanganku, dan jangan menangis di perusahaan ini!" kata Devan melihat Ella yang masih berjongkok. Devan kuatir jika karyawan yang melihatnya akan beranggapan dirinya sudah melakukan sesuatu pada Ella.
Tapi Ella tetap tak menerima uluran tangan Devan. Gadis ini masih saja menekuk lututnya ketakutan. Namun tiba-tiba saja lift malah bergetar membuat Ella menjerit.
"Aa, gempa! Tolong ada gempa!" racau Ella berdiri menyembunyikan wajahnya. Padahal getaran itu sudah terbiasa dirasakan di lift itu. Karena sudah kesal mendengar Ella meracau dan nampak kasihan, Devan pun langsung memeluk Ella jatuh kedekapannya.
"Tenanglah, tidak ada gempa. Yang ada kau yang berisik." kata Devan. Ella tiba-tiba terdiam, ia sangat kaget dipeluk oleh Devan langsung. Pelukan Devan bahkan terasa tulus untuknya dan begitu menenangkannya. Sekali lagi lift bergetar, sontak Ella memeluk erat Devan dan memejamkan mata. Ini lebih menakutkan dari pada yang lainnya. Devan sedikit risih, tapi ia juga tidak tega.
Maysha yang dari tadi dicuekin. Anak kecil ini mulai juga bertingkah.
__ADS_1
"Aaaaa, Dejhi. May-maysha juga," rengek Maysha berpura-pura takut dan memeluk kaki kiri Devan. Anak kecil ini tak mau juga diabaikan begitu saja.
"Aaastaga!" kesal Devan dalam hati dirinya bagaikan digebukin di dalam lift. Apalagi Ella yang ketakutan tak henti-hentinya memeluk erat tubuhnya. Devan pasrah dirinya dijadikan tiang buat Ella dan Maysha. Hanya tepukan tangan diwajah yang ia rasakan sekarang.
Ting!
Pintu lift akhirnya terbuka dan tiba dilantai ruangan CEO. Seorang lelaki berdiri untuk menyambutnya sedikit kaget melihat tampilan Devan yang berantakan, apalagi Devan juga kesal Ella belum melepaskannya.
"Apa kau sudah puas memelukku?"
Ella terperanjak lalu segera pergi ingin ke arah Hansel, tapi Devan menahan kerah leher bajunya.
"Eits, apa kau pikir kau bisa lolos hari ini setelah memelukku,"
"Sekarang,"
"Ikuti aku ke ruanganku!" Devan menarik Ella ke ruangannya dan meninggalkan Maysha yang manyun di dekat Hansel. Maysha mendongak ke Hansel.
"O-om, Maysha mau main. O-om hemani Maysha ya," mohon Maysha dengan wajah imutnya. Hansel tertawa kecil melihat tingkahnya, Hansel pun menggandeng Maysha ke ruangannya. Meski begitu, ia sedikit kuatir karena Ella baru saja sembuh dari sakitnya.
Brak!
Suara meja dipukul terdengar di ruangan Devan. Tentu lelaki ini sedang sedikit kesal pada Ella. Ella hanya terheran-heran masalah apalagi yang dia perbuat lagi. Tapi rasanya lega, Ella tidak lagi menaiki lift itu. Kini pikirannya tertuju pada harta peninggalan Ayahnya.
"Ambil ini, dan mulai sekarang jangan panggil aku, Tuan. Tapi panggil saja namaku atau Presdir." kata Devan memberi sebuah kotak berisi ponsel dan sebuah gantungan berbentuk anak bebek yang lucu.
Ella sedikit kaget, ternyata dugaannya salah. Ella pikir, Devan akan memarahinya, tapi ternyata malah memberinya ponsel dan juga gantungan bebek. Ella jadi malu sendiri sudah berburuk sangka. Namun tiba-tiba, pintu didorong keras dari luar, terlihat Viona masuk dengan raut wajanya yang lumayan memendam amarah.
...________...
#Pov Author
Terima kasih buat pembaca novel #Istri Kontrak Sang Presdir sudah menemani author hingga ke bab 22. Jujur, membaca komen kalian membuat saya sangat senang.
Tapi, saya ingin menyampaikan permintaan maaf saya, buat para readers semua. Karena, saya tidak bisa mengabulkan permintaan kalian. Karena menulis 1 bab butuh waktu paling sedikit 2 jam. Itu kalau lagi fokus. Tapi, kalau lagi down, bisa memakan waktu hingga 3 jam.
Dan saya sibuk kerja bulan ini. Jadi saya harus bisa membagi waktu antara dunia nyata dan menciptakan dunia halu.
Jadi, mohon maaf sekali lagi. Saya tidak bisa membalas komen kalian satu satu. Tapi, percayalah. Membaca komen kalian membuat hati saya berbunga dan menjadi penyemangat saya untuk terus berkarya.๐
__ADS_1
Terima kasih dari saya selaku Author ๐ maaf ya kalau visualnya kartun,๐ jangan lupa like, share, dan vote ya๐