
Sebelum Devan tiba di jembatan duluan. Terlihat Ella berdiri di dekat jembatan, menggenggam ponselnya kuat. Beberapa kali sudah menolak panggilan Devan. Isak dan tangis masih menyertai kesedihannya. Tapi kini Ella sadar, ia tak harusnya lemah begini. Ella mengusap kedua matanya dan ingusnya yang sudah meler dari tadi.
"Tidak, aku tidak boleh nangis lagi, tidak boleh cengeng lagi. Aku harus kuat, aku harus mandiri sekarang!"
Tapi air matanya masih mengalir. Belum tega harus pergi dari kehidupan Devan. Ella menghirup udara lalu mengatur nafasnya. Melihat ke atas, awan yang sudah mendung pertanda akan turun hujan. Ella menggelengkan kepala tak peduli lalu melihat aliran sungai yang deras.
"Aku benci, Tuan Biawak!"
"Tapi, aku juga mencintainya!"
"Tidak-tidak, aku lebih membencinya!"
"Jadi aku tak mau menangis lagi!"
"Aku akan bangkit melawan kesedihanku!"
Ella berteriak semakin keras, meluapkan emosinya pada air yang mengalir. Berharap kesedihannya pergi dibawa oleh arus sungai. Tapi lama-lama, kedua matanya berkaca-kaca mulai lagi menangis. Ella perlahan ingin lompat ke sungai, tapi dikejutkan dengan buaya yang muncul di sungai. Ella mengurungkan niatnya untuk terjun ke bawah.
"Aku-aku benci buaya, tapi aku lebih benci biawak!" pekik Ella pada buaya itu. Seketika buaya melirik ke atas lalu tenggelam kembali ke sungai.
(Buaya be like : Sungguh meresahkan satu manusia ini, kalau mau mati ya jangan nanggung-nanggung🙂tapi dosamu bukan buaya yang tanggung, mwehehe canda, jangan pernah lakukan hal bodoh)
"Huuuu ... aku memang cengeng." Isak Ella berjongkok di tepi jembatan seorang diri. Menyembunyikan air matanya yang menetes lagi. Ella melihat ponselnya lalu menjatuhkannya ke tanah. Ella berdiri lalu berjalan meninggalkan tempatnya tak mau mati konyol.
Tapi saat tepat dirinya pas dengan tepi sungi tiba-tiba saja Ella terpeleset hingga akhirnya kepalanya sedikit terbentur ke pinggir jembatan, begitu licin jalan yang mulai dibasahi gerimis hujan. Ella pun mencoba berdiri dan untungnya tak ada luka. Hanya saja, tubuhnya sakit semua, apalagi kakinya terkilir. Ella berjalan kembali tak sadar kalungnya jatuh ke bawah dan tersangkut ke semak-semak. Ella pergi meninggalkan jembatan dan tujuannya kini entah kemana lagi.
Ella semakin jauh, masuk ke kerumunan orang-orang di tepi jalan. Tapi sayangnya, saat mau menyeberang, dirinya hampir tertabrak mobil. Ella terkejut melihat sang pengendara mobil keluar. Kedua mata Ella melebar melihat wanita yang mengantarnya tadi pagi. Tapi ada sedikit beda, penampilan dan cara jalannya linglung bagaikan orang mabuk saja.
"Kau-kau cari mati, ya!" bentaknya pada Ella.
"Ma-maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." Ella menundukkan kepala.
"Cih, meresahkan!" decaknya tak ingat dengan Ella dan berbalik ingin masuk ke mobil.
"Tunggu dulu," ucap Ella menahannya dengan berdiri di depan wanita itu.
"Hm, kau mau apa, ha!" bentaknya menatap sinis ke Ella. Ella tertawa kecil, ternyata dugaannya benar. Wanita di depannya sedang habis mabuk-mabukkan.
"Kakak, tolong aku. Bisakah kau bawa aku pergi ke sebuah minimarket?" mohon Ella meraih tangan karyawan wanita itu.
"Ha? Kau siapa menyuruhku seenaknya!" tepisnya kasar menatap sinis ke Ella lagi.
__ADS_1
"Aku anak yatim, Kak. Apa kau tega padaku, aku hanya meminta tumpangan." Sekali lagi Ella memohon. Wanita itu terdiam lalu dengan mata sipit menatap Ella dari atas ke bawah. Sungguh terlihat menyedihkan.
"Baiklah, mumpung moodku bagus, kau ikut denganku, aku akan membawamu makan enak-enak." Wanita itu menarik Ella masuk ke dalam mobilnya. Belum sadar jika Ella gadis yang dia temui tadi di kantor. Ella duduk di kursi dekat Wanita itu yang akan mengemudi mobil dengan kesadaran setengah mabuk.
"Dia benar-benar tak mengenalku? Ini benar-benar luar biasa, mabuk bisa membuat orang kehilangan kesadarannya. Jika aku mabuk, apa aku juga akan kehilangan kesadaranku?" pikir Ella mulai menunduk berpikir bodoh lagi.
"Woi, cewek. Nama kau siapa?" tanya wanita itu mulai mengemudi sambil melirik Ella.
"Aku-aku," ucap Ella terbata-bata dengan wajah sedihnya. Takut mengatakan yang sebenarnya. Takut dirinya akan dilempar keluar mobil.
"Aku apa? Kau tak punya nama?"
"Aku punya, namaku Ara." Ella terpaksa memberikan nama panggilan kecilnya.
"Owh, Ara. Sepertinya dilihat-lihat kau mirip seseorang. Tapi siapa ya?" ucapnya berpikir sambil melihat ke depan lalu geleng-geleng kepala merasa pusing.
"Aku-aku rasa ini pertama kali kita bertemu, jadi lebih baik kakak turukan aku saja. Ini sudah cukup jauh bagiku." Ella memohon kembali.
Wanita itu melirik Ella dan sedikit terkejut wajah imut Ella benar-benar bagaikan anak bebek saja. Mobil pun berhenti di depan sebuah minimarket.
Ella berbalik, melihat minimarket yang dipenuhi cahaya yang silau. Ella merogoh saku celananya dan hanya menemukan selembar uang lumayan banyak nilainya yang hanya cukup beli satu saja. Ella masuk menyusuri setiap rak-rak barang minimarket di setiap sampingnya. akhirnya Ella berhasil menemukan yang dia cari-cari dari tadi. Ella pun berjalan ke kasir untuk membayarnya.
Bersamaan, seorang pemuda masuk ke minimarket dengan sedikit kekesal, Rafa berjalan ke kulkas lalu mengambil dua botol minuman kopi dan tak menyadari Ella lewat di belakangnya. Rafa menutup kulkas, sudah mendapatkan yang dia inginkan. Lelah rasanya sudah berpergiaan, dan akhirnya bisa bebas lagi di kotanya.
"Pas banget diminum malam-malam begini, aku bisa begadang sambil mengerjakan deskripsi tugas liburanku-" ucap Rafa berhenti melihat Ella keluar dari minimarket dengan sebuah botol misterius.
"Lho, dia-dia itu Ara, kan?" pikir Rafa terkejut langsung lari ke kasir, memberi tip, memasukkan dua botol kopinya ke dalam tas lalu cepat menyusul Ella dan mengikuti kemana gadis ini pergi. Apalagi Rafa penasaran untuk membuktikan dugaannya jika gadis di depannya adalah Ara, teman satu kelasnya yang suka absen dulu.
Ella berhenti, hawa dingin begitu menusuk kulitnya. Padahal sudah memakai jaket, tapi angin masih dirasakan. Sesekali berbalik melihat ke belakang, takut orang melihatnya ingin bunuh diri dengan meminum botol racun tikus di tangannya.
Ella tak peduli, tak ada siapa-pun di belakangnya. Kini Ella berada di tempat yang sepi lalu menunduk melihat botol di tangannya. Tangan Ella gemeteran, takut untuk mencobanya juga.
"Maaf, aku sudah capek, lelah dengan semua ini," lirih Ella mulai membuka tutup botol, begitu bau yang amat menyengat di hidungnya. Ella menelan ludah sudah yakin dengan niatnya. Tapi sayangnya, seseorang menendang botol di tangannya hingga terbang jauh lalu jatuh ke tanah. Pecah berhamburan disertai isinya. Ella berbalik dan semakin terkejut melihat seorang cowok berdiri di depannya.
"Kau-kau siapa?" Ella mundur, ketakutan akan macam-macam padanya.
"Ini gue, Ella. gue Rafa, teman satu kelas elu dulu!" Tepuk Rafa pada kedua bahu Ella. Benar-benar gadis ini adalah temannya dulu, apalagi begitu tak sangka melihat Ella amat menyedihkan hampir meminum botol racun itu.
"Ra-rafa? Itu kau?" Ella akhirnya mengenalnya. Berhenti terisak setelah melihat cowok tampan malam-malam begini.
__ADS_1
"Ya, dong. Gue emang Rafa, lu masih ingetkan? Lu gak amnesia, kan?" Rafa menyentuh dahi Ella, membuat Ella terperanjak kaget langsung menepisnya.
"Ups, sorry. Gue cuma pengen tahu kondisi lu, doang. Lu jangan ngadu atau teriak manggil orang. Yeee," ucap Rafa tersenyum.
Ella ingin tertawa mendengarnya, sikap akrab dan sok-sokan Rafa belum berubah. Ella hanya menunduk saja, tidak tahu mau kemana lagi. Apalagi sudah tak punya uang untuk beli racun lagi.
"Wei, lu kenapa? Lu lagi sedih ya?" Rafa kembali bertanya. Ella mengepal tangan lalu menatap Rafa dengan mata berkaca-kaca ingin menangis.
"Eh, buset. Lu jangan nangis, oii. Gue gak ngapain-ngapain lu loh. Nih, dari pada sedih terus lu minum isi botol tadi, mending lu minum kopi ini." Rafa memberikan satu botol kopinya.
"Ini buat aku?" Ella menunjuk dirinya masih dengan suara seraknya.
"Ya, iyalah, maimunah. Kan di sini cuma kita berdua. Kalau bukan lu, berarti gue harus kasih pocong yang lagi galau di sana?" Tunjuk Rafa pada pagar di dekatnya. Ella tersentak lalu mendekatkan dirinya pada Rafa. Sedikit takut mendengarnya.
"Pfft, ahaha. Gue cuma bercanda. Nih buat lu, diminum tuh. Sekarang gue cabut dulu, lu jangan mati ya. Ingat dosa!" kata Rafa tertawa kecil lalu mulai berjalan ingin pergi. Ella menunduk, tertawa sedikit mendengarnya lalu menoleh melihat punggung Rafa. Kini ia tak tahu harus kemana, apalagi tak tahu jalan untuk pulang. Ella pun terpaksa lari mengejar Rafa.
"Tunggu, Ra!" Tahan Ella berhasil meraih lengan jaket Rafa.
"Eh, kenapa? Apa lu ketinggalan sesuatu?" tanya Rafa melihatnya.
"Itu, aku-aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Kedua orang tuaku sudah pergi. Aku tak punya tempat tinggal, apa aku boleh tinggal sementara di tempatmu, tapi kau tidak usah kuatir, aku akan membantumu membersihkan tempat tinggalmu dan jika aku sudah punya pekerjaan, aku akan mencari kontrakan. Apa boleh?" ucap Ella memohon sedikit.
"Jadi karena itulah dia mau minum racun tadi?" pikir Rafa terkejut mengetahui kesedihan Ella. Rafa tersenyum sedikit kini mengizinkan Ella.
"Okay, come on baby." Rafa menarik tangan Ella. Menggenggam kuat tangan gadis ini dan menuntunnya ke mobilnya.
"Eh? Baby?" Ella kaget mendengar ucapan Rafa terhadapnya, apalagi tangan Rafa terasa dingin tapi menenangkan. Meski begitu, Ella tetap merindukan kehangatan dari suaminya.
...______...
...Kemana kah Rafa membawa Ella?...
...Apakah ke rumah orang tuanya?...
...~ Vote ya guys, biar author semangat ~...
...😍😍...
...Terima kasih sudah setia baca, moga terhibur...
...🔥🤗🔥...
__ADS_1