
Setelah membereskan kekacauan yang dibuat Ella. Devan kembali ke kamarnya, meninggalkan kue yang ada di atas meja yang belum jadi sedikitpun.
"Ternyata, dia ingin membuatkan aku kue?" Devan duduk di tepi ranjangnya.
"Ck, apa tidak ada yang lain?" Devan mendecak sedikit kesal. Tapi tawa Ella malah selalu menggema di telinganya.
"Sial, kenapa suara tawanya masih saja tak bisa berhenti di telingaku!" Devan berdiri mulai ingin mandi malam membersihkan tubuhnya yang terkena tepung. Devan membuka pakaiannya dan hanya bermodal handuk yang melilit bagian bawahnya saja. Ketika mau masuk ke kamar mandi, ponselnya malah berdering.
"Siapa yang menghubungiku malam-malam begini?" Devan melihat nama kontak. Alangkah terkejut yang menghubunginya adalah kekasihnya alias tunangannya.
"Baru saja aku memikirkannya tadi, dia sudah menghubungiku. Apa dia merindukanku?"
Devan tersenyum lalu mengangkat panggilan tersebut. Tapi jaringan terlalu buruk di dalam kamar hingga Devan harus keluar dari kamarnya menuju ke ruang tengah.
Klek!
Pintu kamar Ella terbuka. Ella kembali melirik ke arah luar melihat situasi aman terkendali. Ella menoleh ke ranjangnya melihat Maysha sudah tidur memeluk guling.
"Baiklah, aku lebih baik pergi mandi. Sepertinya Tuan Presdir tak datang kemari untuk memarahiku."
Ella menutup pintu kamarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Membuka satu persatu pakaian miliknya. Membuka shower. Merasakan air mulai membasahi tubuhnya. Sentuhan yang terasa dari air tersebut membuat Ella menikmatinya. Seakan tubuhnya sedang disentuh oleh seseorang.
Tapi kenikmatan itu sirna setelah air berhenti secara tiba-tiba. Padahal Ella masih belum selesai mandi. Ella mencoba menyalakan shower, tetap saja tak bisa.
"Duh, kok jadi gini sih."
Ella mendesis lalu meraih jubah mandinya. Mengintip ke kamarnya, melihat tak ada orang lain selain Maysha.
"Fiuh ... sepertinya aku harus pakai kamar mandi milik Maysha."
Ella keluar, mengintip sekali lagi tak ada siapa-siapa di luar kamarnya.
"Hm, sepertinya aman,"
"Lebih baik aku segera mandi di sana."
Ella mengendap-endap, takut jika Devan belum tidur. Ella menjinjit saat melewati kamar Devan. Tapi ternyata matanya membola melihat Devan sedang sibuk menelpon di depan kamar Maysha.
"Astaga, kenapa dia belum tidur juga? Dan dia bahkan cuma pakai handuk saja? Bagaimana jika handuknya jatuh lagi seperti tadi pagi?"
__ADS_1
Ella mundur, kini ia tak tahu mau mandi di mana. Ella mondar-mandir memikirkan sesuatu. Tapi, saat sibuk berpikir. Kedua matanya tertuju pada kamar Devan di sampingnya.
"Apa aku pakai kamar mandi dia?"
"Mumpung juga dia lagi nelpon sama orang, ini waktunya aku pakai cepat-cepat kamar mandinya," batin Ella mulai meraih gagang pintu. Namun malah terhenti setelah telinganya menangkap suara Devan yang memanggil seseorang dengan sebutan SAYANG. Ella mengepal tangan mulai tak karuan.
"Apa dia sedang diam-diam menghubungi kekasihnya?"
Pikiran Ella membuatnya gelisah. Gadis ini pun masuk ke dalam kamar Devan lalu menuju ke kamar mandi secepat mungkin membersihkan dirinya sebelum Devan masuk. Melupakan ucapan Devan yang tadi memanggil seseorang dengan sebutan mesra itu.
"Ish, ish, ish."
Ella mendesis di dalam kamar mandi, ia tak menikmati mandinya malam ini. Pikirannya masih saja tertuju pada Devan yang menelpon seseorang di belakangnya.
"Aish, perasaan apa ini. Kenapa aku sangat kesal mendengar dan melihat dirinya menghubungi seseorang."
Ella meremas rambutnya yang terdapat busa shampo. Meremas kesal dan sangat kesal. Inilah yang terjadi pada Ella, ia mulai cemburu. Cemburu mendengar suaminya menghubungi wanita lain di belakangnya.
.
🔞Warning!!
.
Devan masuk ke dalam kamar meletakkan ponselnya. Setelah itu ingin masuk ke dalam kamar mandi. Namun, setelah membuka pintu, alangkah terkejutnya ia melihat Ella sudah berdiri di depannya hanya bermodal jubah mandi nampak sudah selesai mandi. Kedua matanya dan terutama Ella membola kaget melihat situasi yang sangat mengejutkan.
"Aaaaaaaa, mesum!" pekik Ella mendorong Devan. Tapi dirinya malah jatuh bersama Devan ke lantai.
Gedubrak!
Kepala Devan sedikit terbentur. Tapi tak terlalu sakit. Kini kedua mata mereka saling bertatapan. Apalagi Ella kembali menindih Devan. Ini sudah ketiga kalinya kejadian ini terulang lagi.
Ella tersentak, ada sesuatu yang meremas buah dada kirinya. Devan juga merasa aneh, ada benda kenyal-kenyal yang dia remas sekarang.
"Eh, apa ini?" Devan meremasnya kembali membuat Ella mendesah. Suaranya begitu lembut dan syahdu.
"Aaaah,"
Devan tersentak mendengarnya, apalagi melihat Ella menahan malu dan merona luar biasa merasakan buah dadanya dimainkan oleh Devan. Bahkan keduanya masih saling tindih menindih.
__ADS_1
"Aaaah,"
Sekali lagi Ella mendesah, Devan mulai menyeringai tipis merasa keasyikan memainkan gunung kembar milik Ella.
"Menyingkirlah dariku!" Ella berdiri sudah tak tahan.
Kini ia menyembunyikan kedua buah dadanya dengan kekesalan luar biasa. Devan berdiri lalu tersenyum smirk.
"Ck, untuk apa kau tutupi? Aku sudah melihatnya apalagi sudah meremasnya tadi. Ternyata, setepos apa pun payudaramu ini, rupanya masih lumayan juga untuk dimainkan." Devan menyeringai tipis dan mulai mendekati Ella. Ella menelan ludah, kini dirinya was-was jika Devan akan menerkamnya malam ini.
"Kau datang ke sini untuk bergelut denganku kan, Ella?"
Ella tersentak membola mendengar bisikan Devan. Ella merona kembali lalu mendorong Devan memberinya ruang.
"Aku tak menginginkan itu, aku datang kemari untuk ...."
"Tidur denganku, kan?" tebak Devan langsung memegang dada kiri Ella lagi serta meremasnya lembut.
"Aaaah ... uh,"
Ella spontan mendesah mulai merasa geli, bahkan mulai terancang saat kepala Devan malah turun ke bagian tengkuknya. Mencium leher Ella dengan lembut, memberinya tanda merah.
"Ku ... jangan lakukan itu," rintih Ella mencoba mendorong Devan. Tapi Devan yang keasikan memainkan dada Ella malah memojokkannya ke dinding.
"Apa kau datang menyerahkan dirimu sebagai hadiah, Ella?" Devan kembali berbisik. Ella menggelengkan kepala sudah tak tahan. Apalagi kini ia mencoba mendorong perut Devan, tapi tangannya malah asik meraba-raba kotak-kotak milik Devan.
"Em, apa kau mau melakukannya sekarang?" Devan kembali berbisik serta menjilat pinggir telinga Ella. Keduanya begitu dekat membuat Ella ingin meletus dipojokkan ke dinding. Apalagi suara bisikan Devan begitu menggoda di telinganya.
"Tu-tuan, mohon lepaskan aku."
Devan melihat Ella lalu sedikit terkejut melihat gadis ini sangat merona, kedua pipinya begitu memerah ingin meletus. Devan menahan tawa lalu menarik dagu Ella mendekati wajahnya lalu mencium kembali bibir mungil gadis di depannya.
Ella membola merasakan Devan benar-benar mulai memainkan dirinya, mulutnya dillummat buas dan mengulum ke dalam mulut Ella. Ella memberontak sedikit tapi Devan memeluk pinggangnya dan masih dalam aksinya. Tidak akan memberi celah pada Ella untuk keluar dari kamarnya. Ella menutup matanya sudah tak tahan. Ini kali pertamanya ia dipermainkan oleh seseorang. Sungguh rasanya tak dapat dijelaskan.
Devan menghentikkan aksinya lalu menyentuh wajah Ella. Ella tak henti-hentinya merona dengan nafas memburu serta jantung yang berdebar-debar.
"Sekarang, buat aku puas malam ini." kata Devan membuat Ella melongo. Ia tahu arti dari kalimat ini.
"Tidak, aku tidak mau!" pekik Ella mendorong Devan lalu ingin keluar segera, tapi Devan menahannya lalu mengangkat Ella membuat gadis ini terkejut dirinya dijatuhkan ke atas ranjang.
__ADS_1
"Layani aku malam ini, istriku." ucap Devan menindih Ella dengan jarak yang begitu dekat, memulai ingin bermain dengan Ella malam ini. Ella langsung merinding mendengar permintaan suaminya.