Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 35 : Dipeluk Devan


__ADS_3

"Hoaam ...." Ella pagi-pagi sudah bangun sambil menguap. Membuka sebelah matanya lalu melirik ke samping. Seketika itulah, kedua matanya melebar melihat Devan masih berada di kamarnya dan bahkan masih memeluknya. Apalagi Maysha juga terlelap di sampingnya.


"Apa semalam dia sungguh tidur di sini?" Ella tersenyum kembali merona, tersipu malu atas kejadian kemarin. Ini pertama kalinya Ella merasakan dirinya hampir berada di puncak nikmatnya bercinta itu.


Perlahan-lahan dengan hati-hati, Ella mencoba menyikirkan tangan Devan yang merangkul pinggangnya. Begitu deg-degan takut lelaki ini malah bangun.


"Fiuuh ... akhirnya bisa lepas juga." Ella menghela nafas merasa lega bisa terlepas dari rangkulan Devan. Ella melihat jam dinding yang sudah pukul 05.23 pagi.


"Astaga, aku harus siapkan kebutuhannya," Ella panik segera beranjak dari ranjang dengan hati-hati. Tapi, saat ingin turun dari ranjang, Ella malah meringis kesakitan pada seluruh tubuhnya hingga dia jatuh kembali ke ranjang menindih tubuh Devan. Mata Ella melebar dan segera berdiri menyingkirkan tubuhnya yang masih telan_jang hanya bermodal CD saja.


"Astaga, aku hampir membangunkannya." Ella menggigit bibir bawahnya. Untung, ia tak berteriak saat mau jatuh.


"Uuuh ... sakitnya," Ella mengeluh, merintih pada pinggangnya.


"Aduuh, benar-benar malu. Tak sangka, aku malah menikmati permainannya kemarin. Sekarang, aku tidak polos lagi. Kenapa aku sangat bodoh malah melayaninya kemarin?" gerutu Ella menepuk kedua pipinya. Ella segera berbalik masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, apalagi mahkotanya terasa masih becek.


"Iish ... uuuh," Ella mendesah di dalam kamar mandi. Menikmati air yang mengenai tubuhnya sambil memikirkan Devan yang hampir merebut keperawanannya. Ella menutup wajahnya, menahan malu yang sungguh luar biasa.

__ADS_1


Setelah mandi, Ella mengintip sebentar. Ella menghela nafas melihat Devan dan Maysha masih tidur. Ella dengan hati-hati keluar hanya bermodal handuk saja. Ella segera membuka lemari dan cepat-cepat memakai pakaian. Setelah siap-siap, kini ia mulai ingin menyiapkan kebutuhan Devan.


"Apa aku minta ijin dulu masuk ke kamarnya?" Ella berpikir dulu lalu mendekati Devan. Mendekatkan dirinya ke telinga Devan yang masih tertidur lelap.


"Tuan Presdir, aku mau ke kamar anda. Anda ijinkan aku masuk ya," bisik Ella lalu tersenyum melihat Devan. Sekali-kali jarinya mencolek-colek pipi Devan. Tapi sentuhan Ella tak dapat membangunkan Devan yang masih berada di alam mimpinya.


"Baiklah, aku sudah ijin padanya. Tinggal menyiapkan pakaian kantornya sebelum dia bangun." Ella kembali berjalan cepat menuju ke kamar Devan.


"Em, kemeja apa yang bagus untuknya?" Ella kini sedang berdiri sambil melihat-lihat kemeja yang cocok untuk Devan.


"Aduuh, kenapa begini sih. Kenapa aku tak bisa memilih kemeja yang bagus untuknya," gerutu Ella dalam hati. Merasa bodoh dan tak berguna tak tahu menyiapkan keperluan kantor Devan.


"Sudahlah, pilih ini saja deh." Ella meraih kemeja putih itu lalu meletakkannya ke tepi ranjang. Ella kembali mencari celana, dasi serta keperluan lainnya.


"Iish, kenapa lacinya kosong?" Ella kesal tak menemukan dasi di laci meja.


"Di mana dia menyimpan dasinya?" Ella mendesis sudah lelah mencari dasi untuk Devan.

__ADS_1


Ella berjongkok di depan lemari. Mencari dasi di bagian bawah lemari yang dipenuhi lipatan kemeja yang tidak terpakai. Tapi ternyata, Ella tetap tak bisa menemukan dasi.


"Apa kau mencari ini?" tanya seseorang yang sudah berdiri di belakang Ella. Ella tersentak, segera berdiri lalu berbalik melihatnya. Seketika Ella cengengesan melihat Devan sudah berdiri di depannya. Tapi, Ella merasa ada yang aneh. Karena Devan sudah memakai kemeja serta celana yang tadi dia siapkan, dan malah tersenyum padanya.


Memang Devan terbangun setelah Ella keluar dari kamar lalu Devan segera beranjak mandi dan setelah itu menuju ke kamarnya sendiri untuk melihat apa yang ingin dilakukan Ella pagi-pagi ini. Ternyata, Ella sedang mengobrak-abrik isi lemarinya sedang mencari dasi.


"Apa kau mencari ini?" tanya Devan sekali lagi.


Ella menunduk tersipu atas kemarin malam. Ella pun menjawab, "I-iya, maaf sudah masuk ke dalam kamar Tuan Presdir. Saya hanya ingin me-menyiapkan pakaian kan-kantor anda," jawab Ella terbata-bata takut dimarahi lagi.


"Karena anda sudah menemukannya, saya-saya permisi keluar untuk menyiapkan sarapan untuk anda." Ella menunduk lalu berjalan ingin keluar. Tapi Devan menahan tangannya lalu memeluknya pagi-pagi ini.


"Biarkan ... aku memelukmu sebentar." Devan berbisik ke telinga Ella.


Ella terhenyak, merasakan kepala Devan sedang bersandar padanya. Ella menunduk tersipu, melihat Devan tidak membentaknya lagi di pagi ini.


"Apa dia mulai lembut padaku?" pikir Ella mulai senyum-senyum sendiri dipeluk oleh Devan.

__ADS_1


__ADS_2