
Cahaya matahari mulai masuk ke celah-celah jendela kamar. Ella perlahan membuka mata dan meringis sedikit pada luka di keningnya. Ella bangun membuka hansaplastnya lalu mengerutkan sedikit dahinya merasa hansaplastnya tidak sama seperti kemarin.
Ella kemudian melihat sekeliling kamar, terlihat jam dinding sudah pukul 06.34 pagi. Ella mendengkus merasa sudah kesiangan gara-gara kemarin tak bisa tidur karena masih menunggu Devan. Tapi ternyata, pukul 22.08 malam, Devan belum pulang juga dan akhirnya ketiduran. Ella menoleh dan langsung terkejut melihat Maysha yang tidur di samping kirinya.
"Eh, bukannya kemarin Maysha tidur di kamarnya?" Ella menggaruk kepalanya mulai bingung dengan Maysha. "Tidak mungkin kan Maysha tidur sambil jalan? Dan juga Maysha tidak bisa naik ke ranjang. Jika begitu, siapa yang bawa Maysha ke sini?" Ella menoleh kiri kanan dan tak melihat Devan sama sekali. Ella menunduk mulai sedih beranggapan Devan tidak pulang dan bermalam di rumah Elisa.
"Sepertinya, Maysha memang tidur sambil berjalan ke sini. Mana mungkin Tuan Devan yang membawanya." Ella mendekus lalu berdiri sambil menyelimuti Maysha. Namun, seketika Ella terkejut mendengar suara Devan dari belakangnya.
"Aku yang membawanya,"
Sontak Ella berbalik dan melihat Devan sedang berdiri di dekat pintu habis mandi dan hanya bermodal handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya.
"Tu-tuan?" Senyum Ella merekah melihat Devan berjalan ke arahnya.
"Hm, sepertinya tidurmu terlalu pulas hingga tak sadar aku tidur di dekatmu kemarin," kata Devan tersenyum melihatnya lalu melihat Maysha yang masih tidur. Ella sungguh tak percaya, ternyata kemarin malam Devan tidur di dekatnya. Ella kemudian mencubit pipi Devan.
"Eh, kamu kenapa?" tanya Devan terkejut.
"Itu, apa aku sedang bermimpi?" tanya Ella kembali mencubit pipi Devan. Devan tertawa kecil melihat Ella malah mencubit dirinya bukan pipinya sendiri.
"Kau ini tidak lagi bermimpi," kata Devan sambil mencubit kedua pipi Ella.
"Aku kemarin pulang jam 23.00 malam dan melihatmu tidur sendirian, jadi aku tidak membangunkanmu. Saat aku mau tidur, Maysha malah masuk dan mau tidur bersama. Jadi aku bantu dia naik ke ranjang dan aku tidur bersama kalian." Jelas Devan kini berhenti mencubit pipi Ella.
"Tapi, kenapa aku tidak merasakannya?" tanya Ella lalu menunduk mencoba berpikir dulu.
"Itu karena," ucap Devan mengangkat dagu Ella lalu tersenyum padanya.
"Karena apa?"
__ADS_1
"Karena kamu kemarin tidurnya pulas banget dan malah mendengkur di telingaku. Kau bahkan tak sadar sepanjang malam selalu memelukku. Terus," ucap Devan mulai berbisik ke telinga Ella yang sekarang malu sendiri setelah mendengarnya.
"Terus apa?" tanya Ella deg-degan.
"Terus ... kau minta itu." Ella membola mendengarnya, apalagi Devan menjilat telinganya. Ella merona dan langsung mendorong sedikit Devan.
"Pfft, ahaha. Aku cuma bercanda, kau tidak perlu malu begitu. Kemarin itu kau selalu menyebut namaku. Maaf sudah membuatmu gelisah," kata Devan tertawa dan langsung memeluk Ella.
"Hm, ada apa ... Tuan?" tanya Ella sedikit terkejut dipeluk tiba-tiba.
Devan sebenarnya ingin katakan, jika kemarin dirinya telat pulang karena habis bertengkar dengan Ayahnya Elisa gara-gara meminta pertunangannya dibatalkan saja dan akhirnya pertengkaran itu malah membuat Elisa shock dan pingsan lalu masuk rumah sakit karena tak menyangka Devan berani terus terang pada Ayahnya. Karena itulah, sekarang Devan tak mau beri tahu Ella agar tidak memikirkannya, jadi terpaksa Devan menyembunyikannya.
"Tidak apa-apa, sekarang hari ini aku akan lakukan apa pun yang kau minta. Jadi, hari ini kau mau apa?"
Ella terdiam sebentar merasa ada sesuatu yang sedang dipikirkan Devan. Ella tersenyum lalu meraih tangan Devan.
"Hm, baik. Semuanya baik-baik saja." Kata Devan pasti.
"Huft, jika begitu, hari ini bisakah Tuan membawaku ke panti asuhan?"
"Hm, untuk apa?"
"Aku mau menyerahkan surat wasiat ayahku pada Bu panti, aku mau menjadikan rumah ayahku sebagai pengganti tempat tinggal untuk anak-anak. Apakah Tuan mau menemaniku hari ini?" Ella menunduk sedikit. Devan sekali lagi tersenyum, ini yang disukai dari Ella karena terlalu polos dan baik, bahkan lebih peduli pada orang lain dari pada dirinya.
"Kau yakin?"
"Hm, iya. Anak-anak panti sudah aku anggap sebagai adikku. Aku ingin memberi hadiah untuk mereka. Rumah ayahku layak ditempati oleh mereka. Lagipula, aku sekarang tinggalnya di sini, jadi dengan kehadiran mereka di rumah ayahku bisa memberi mereka tempat tinggal yang nyaman." Jelas Ella sudah yakin dengan niatnya.
"Ya sudah, kau pergilah mandi. Aku akan siap-siap sekarang membawamu ke panti asuhan," ucap Devan mengelus rambut Ella lalu pergi ke arah lemari untuk memakai baju. Ella menoleh melihat punggung Devan.
__ADS_1
"Apa pertunangan dia dan Nona Elisa masih berlanjut? Apa aku tanyakan saja? Tapi, kalau aku tanyakan, takutnya dia malah marah padaku sudah lancang bertanya soal urusan pribadinya. Lebih baik, aku diam saja deh." pikir Ella lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk siap-siap sekarang.
Tak menunggu waktu lama keduanya sudah siap dan tak lupa mengajak Maysha. Tapi, sebelum pergi Ella malah berjalan ke arah kamar Elisa.
"Kau mau ke mana?" Tahan Devan meraih tangan Ella. Ella pun berhenti lalu berbalik melihat Devan.
"Aku mau ke kamar Nona Elisa, aku mau mengajaknya pergi dengan kita. Siapa tahu, Nona Elisa mau ikut juga," jawab Ella sambil menunjuk kamar Elisa.
"Elisa tak pulang bersamaku kemarin, dia-" ucap Devan berhenti sebentar, ingin katakan jika Elisa ada di rumah sakit. Tapi, sepertinya Devan sekali lagi menyembunyikan ini dari Ella.
"Dia kenapa?" tanya Ella mulai curiga.
"Dia tak mau tinggal di sini." Devan berbohong sambil tersenyum. Ella semakin curiga karena tak sesuai dengan kepribadian Elisa. Beranggapan, mana mungkin Elisa membiarkan Devan pulang.
"Apa sudah terjadi sesuatu pada Nona Elisa?" tanya Ella sedikit menebaknya.
"Tidak ada apa-apa, Ayahnya dan Ibunya merindukannya jadi Elisa menetap di rumahnya. Sekarang kita pergi ke panti asuhan saja, tidak perlu mengurusinya." Devan mulai berjalan ke arah luar rumah tak mau membahasnya. Ella mengerutkan dahi merasa ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
"Bun-nah, kica mawu kemana?" tanya Maysha yang dari tadi diam hanya mengikuti langkah kaki Ella.
"Mau ke panti asuhan, Maysha mau kan ikut?"
"Hm, mawu!" ucap Maysha bertingkah riang merasa senang. Ella tertawa kecil lalu berjalan sambil menggandeng tangan kecil Maysha. Sesekali mata Ella menoleh melihat jendela kamar Elisa.
Kini Elisa bingung pada dirinya sendiri yang selalu saja mencemaskan satu wanita ini. Ella sekarang duduk di dekat Devan disertai Maysha yang duduk di pangkuannya. Devan menghela nafas lalu melirik Ella. Sedikit senyuman terlihat di bibir Devan merasa keputusannya tidaklah salah sudah memutuskan Elisa dan memilih Ella. Sekarang mobil pun melaju meninggalkan villa menuju ke panti asuhan.
_____
Maaf jika ada kata salah dan sedikit garingš karena author habis keluar dari kesibukan dunia nyata alias baru sempat pegang ponselšjadi ide-idenya masih belum ngalir sepenuhnya. Jadi, ikuti alurnya saja ya, mungkin 10 part lagi bakal tamat nih cerita heheš
__ADS_1