Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 56 : Istri Vs Tunangan


__ADS_3

"Dia cuma pembantu di sini, Mah."


Kalimat Elisa membuat Ella yang berdiri hanya bisa menahannya. Elisa kembali membelakangi Ella dengan angkuhnya.


"Pembantu? Kenapa suaranya masih muda? Setahu Mama, calon menantu Mama tak mempekerjakan pembantu yang masih muda, Elisa." Ibunya Elisa terdengar curiga.


"Oh itu, memang masih muda, Mah. Terus Devan mempekerjakan dia karena dia amat menyedihkan, Mah. Jadi, Devan kasihan padanya," jawab Elisa melirik Ella yang semakin mengepal tangannya.


"Oh, begitu. Ya sudah, karena kamu sudah pulang, malam ini kamu pulang ke rumah, ajak Devan sekaligus," kata Ibunya Elisa.


"Buat apa, Mah?" tanya Elisa melirik kembali Ella yang ingin pergi. Tapi terhenti setelah mendengar jawaban Ibunya Elisa.


"Mama mau lihat calon menantu Mama. Malam ini kamu pergi ke sini, Mama sudah siapkan pesta penyambutan kepulanganmu."


"Oh, baiklah, Mah. Malam ini aku akan pulang ke rumah bersama Devan."


Panggilan ditutup langsung oleh Elisa. Elisa berbalik melihat Ella dan tersenyum miring sambil memakan apel merahnya lagi.


"Oh ya, karena kamu pembantu di villa ini dan Devan belum datang juga. Jadi sediakan pakaian untuk kami. Pilih yang cocok untuk kami. Malam ini aku akan membawa calon suamiku pergi ke rumahku, oh atau mungkin ... aku harus bilang kalau malam ini aku akan pergi bersama suamimu, Ella," ucap Elisa terdengar angkuh.


Ella mulai geram, kesabarannya sudah habis. Ella berbalik dan langsung mengambil apel milik Elisa. Kedua mata Elisa melebar melihat Ella membuang apelnya ke lantai, apalagi Ella menatapnya tajam.


"Kau?!" ucap Elisa ikut geram.


"Aku ... bukanlah pembantu!"

__ADS_1


"Aku istri Tuan Devan, dan kau hanyalah tunangan! Kau tak punya hak memerintahku apalagi menginjak harga diriku di villa ini!" ujar Ella menggertak.


"Kau! Beraninya menggertakku!" Dorong Elisa pada bahu Ella.


"Ya, tentu saja. Aku tak takut padamu!" Ella maju sedikit. Kedua tatapan wanita ini mulai serius.


"Ha? Tak takut? Oh benar, kau tak perlu takut padaku, aku sudah tahu sifat busukmu. Kau memiliki cukup keberanian mendekati Devan hanya karena dia putra sulung dari pengusaha kaya raya di kota ini. Tapi ternyata, tindakanmu mendekati Devan hanya membuahkan hasil yang sungguh menyedihkan," cibir Elisa ikut maju selangkah.


"Aku tahu, pernikahanmu ini hanyalah kontrak nikah! Kau ini cuma istri kontrak dan bukan istri yang bisa berdiri selamanya di sisi Devan. Kasihan sekali dirimu, Ella. Kau amat menyedihkan!" lanjut Elisa mendorong sedikit Ella kembali.


Ella tentu terkejut melihat Elisa tahu pernikahannya. Ella menunduk kembali dan mengepal tangannya. Bukan lagi sakit yang dia rasakan, tapi kekesalan yang amat besar.


"Kenapa diam, ha?" Elisa kembali tersenyum miring.


"Ha? Dicintai?" ucap Elisa terdengar begitu lucu ucapan Ella. Ella heran dan mengangkat sedikit alisnya melihat Elisa tertawa.


"Ahahaha,"


"Jika dia cinta padamu, seharusnya dari kemarin dia membatalkan pernikahan kontrak ini dan memberimu pesta pernikahan," ucap Elisa membuat Ella terkejut. Kaget karena ada benarnya juga.


"Tapi, ternyata cincin pernikahan saja tak ada di jari kotormu ini!" gertak Elisa meraih tangan kirinya lalu melihat jari manis Ella tak ada cincin pernikahan. Ella menepis tangan Elisa dan menatapnya tajam.


"Tunggu saja, aku dan Tuan Devan akan mengadakan pesta pernikahan kita dan kau tak akan lagi mengusik hubunganku dengan Tuan Devan!" ucap Ella tak mau kalah. Elisa menggertakkan giginya semakin kesal.


"Ahaha, pesta pernikahan? Oh kasihannya dirimu, mana mungkin itu akan terjadi. Orang tua Devan sangat menyukaiku, dan kau mana mungkin akan diterima oleh mereka. Kau harusnya tau diri, kau ini miskin dan anak yatim piatu!" hardik Elisa membuat Ella terdiam.

__ADS_1


"Jadi, jangan mimpi deh! Lebih baik kau pergi dari sini!" gertak Elisa meraih tangan kanan Ella untuk membawanya keluar dari villa. Tapi Ella tak bergerak sedikitpun. Kini rasa sakit mulai kembali dirasakan Ella lalu dengan kerasnya menepis tangan Elisa lalu berjinjit di depannya mencoba menyeimbangi tinggi Elisa.


"Aku tak peduli, Tuan Devan sangat mencintaiku! Aku juga akan mencoba mengambil perhatian kedua orang tuanya Tuan Devan!" ujar Ella menatapnya serius. Perkataan Ella membuat Elisa geram, tak sangka gadis polos ini berani juga melawannya.


"Ck, terserah! Kita lihat saja nanti!" decak Elisa mendorong Ella ke dinding. Ingin rasanya Elisa menjambak rambut Ella.


"Aku tak mau berdebat lagi padamu, mendingan aku siap-siap untuk ke pestaku bersama calon suamiku. Kau baik-baiklah di sini menjadi baby sister untuk Maysha, ahahaha!" tawa Elisa begitu gampangnya menghina Ella.


Ella menunduk, sakit rasanya melihat tingkah Elisa yang suka semena-mena padanya. Bukan lagi pembantu tapi malah dikatain baby sister. Tawa Elisa masih terdengar belum jauh darinya, tapi seketika berhenti setelah mendengar ucapan Ella.


"Kau boleh tertawa sekarang, tapi tidak nanti malam aku akan mengatakan pada Tuan Devan jika kau kabur dari rumah sakit, Nona Elisa." Kata Ella mengancamnya dan ini sangat membuat Elisa terkejut. Ella tak peduli lagi, kini ia harus melawannya. Elisa berbalik dan segera maju dengan raut wajah penuh amarah.


"Agh!" jerit Ella kesakitan dipojokkan ke tembok. Punggungnya sakit menahan dorongan Elis barusan. Apalagi sekarang lehernya dicekik oleh Elisa.


"Hai anak miskin! Kau ini harus tau diri! Kau tak usah mengancamku dengan ucapan kotormu! Aku ini sudah sembuh total jadi jagalah sikapmu padaku. Jika tidak, aku tak akan segan-segan melukaimu di villa ini! Camkan itu!" ujar Elisa menggertak lalu melepaskan Ella dan berbalik membelakanginya. Mengepal tangan lalu pergi meninggalkan Ella yang menahan sakit. Untungnya tak ada bekas yang tertinggal.


"Aku tak takut padamu!" pekik Ella berteriak sedikit. Air matanya ingin turun, tapi Ella harus kuat menahan cacian Elisa.


"Ahahaha, aku tak peduli!" tawa Elisa angkuh dan acuh tak acuh.


Ella ingin pergi untuk menenangkan dirinya. Tapi ternyata, suara Elisa kembali menghentikan langkah kakinya. Ella berbalik dan melihat Devan sudah pulang dari kantor. Ella tersenyum, senyum yang manis untuk menyambut sang suami. Namun, kedua matanya melebar melihat Elisa berlari duluan ke arah Devan dan bahkan memeluk Devan di depan matanya. Apalagi perkataan Elisa membuat Ella sakit mendengarnya.


"Sayang, akhirnya kau pulang juga sore ini." kata Elisa mulai bertingkah manja memeluk Devan yang langsung terkejut dengan tingkah menyebalkan Elisa.


..._______...

__ADS_1


__ADS_2