Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 79 : Kehilangan


__ADS_3

Ny. Chelsi kini sampai juga ke ruangan Elisa. Kedua matanya melihat Devan yang sedang berdiri menunduk mondar-mandir di depan kursi tunggu. Ny. Chelsi tersenyum sedikit menghilangkan ekspresi sedihnya agar tak dicurigai oleh Devan. Baru juga mau menyapanya, Devan melihatnya.


"Devan, ternyata kau-" ucap Ny. Chelsi berhenti, terkejut melihat Devan berjalan melewatinya dan pergi begitu saja. Ny. Chelsi berbalik melihatnya, pandangan matanya mengikuti langkah Devan. Ternyata benar, Devan pergi mencari Ella. Sangat jelas, jalan yang tadi dia lewati barusan dilewati juga oleh Devan.


"Dia tidak mencemaskan Elisa, tapi mencemaskan Ara?"


Ny. Chelsi mengepal tangan, kecewa pada Devan yang begitu peduli dan mencintai Ella dari pada Elisa yang terbaring di dalam. Ny. Chelsi menoleh setelah mendengar suara pintu terbuka.


"Dokter, bagaimana kondisi putriku?" tanya Ny. Chelsi begitu cemas dan melirik ke dalam di balik pintu, melihat Elisa mulai sadar kembali.


"Kondisi jantungnya cukup lemah, dia tak boleh shock jadi hindari sesuatu yang membuatnya terkejut ataupun pikiran yang membuatnya drop. Untung dia hanya pingsan biasa dan sepertinya dia harus tetap dirawat di sini."


"Ya Tuhan, berapa biaya yang harus aku keluarkan lagi," batin Ny. Chelsi menunduk setelah mendengar anjuran Dokter.


"Kalau begitu, saya sudah bisa masuk kan, Dok?" tanya Ny. Chelsi.


"Boleh, silahkan. Jika begitu, saya permisi dulu." Dokter pamit bersama perawat lainnya. Nyonya Chelsi masuk dan perlahan berjalan ke arah Elisa. Elisa menatap Ibunya lalu tidur membelakangi Ibunya. Kesal dan marah berkecamuk di hatinya. Kesal karena Devan pergi dan marah pada Ibunya yang baru datang untuk melihatnya.


Ny. Chelsi hanya mengelus kepala Elisa tak berkata sedikitpun, tahu jika kehadirannya tak disukai oleh putrinya sendiri.


"Maaf, Mama telat datang." Ucapan Ny. Chelsi diabaikan begitu saja. Elisa tetap diam tak ingin berbicara sedikit pun. Ny. Chelsi menghela nafas lalu duduk di sofa.


"Mama akan tetap di sini, menemanimu sampai kau mau maafkan, Mamah." Ny. Chelsi berkata sambil melihat punggung putrinya. Namun, lama-lama rasa lelahnya mulai dirasakan. Perlahan, Ny. Chelsi memejamkan mata dan mulai tidur bersandar di sofa. Melepaskan lelah dan kesedihannya barusan terhadap Ella.


Elisa berbalik melihat Ibunya yang sudah tertidur. Elisa duduk lalu melihat ke luar jendela. Tak ada siapa-siapa, tak ada Devan, melainkan angin yang terasa masuk ke celah-celah jendela membuat Ny. Chelsi menggeliat kedinginan. Elisa menatap sedih Ibunya, lalu turun dari brankar. Elisa mengambil seprai lalu menyelimuti Ibunya dengan hati-hati.


"Mamah pasti capek, maaf aku sudah menyusahkan Mama. Harusnya aku berterima kasih, tapi entah kenapa aku marah pada Mama. Aku tidak tahu, apa alasannya itu." Elisa menunduk lirih mulai menangis. Tiba-tiba kesedihan itu muncul di hatinya.


"Apa aku punya adik, Mah?" Elisa bertanya, tapi Ibunya sudah lelap tertidur. Pertanyaan ini yang ingin dia ucapkan, tapi mulutnya seakan terkunci bila berhadapan dengan Ibunya. Elisa duduk di dekat Ibunya, menyandarkan kepalanya ke bahu Ibunya lalu menatap ke atas wajah Ny. Chelsi.

__ADS_1


"Ara? Satu kata ini sebenarnya apa? Kenapa sekarang satu kata itu terus muncul di otakku." Elisa menyentuh kepalanya ingin mengingat sesuatu tengang Ara. Tapi, Elisa malah kesakitan dan akhirnya menyerah lalu ikut tidur di dekat Ibunya.


Tidak seperti Devan yang berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Berharap dapat menemukan Ella. Tapi jejak Ella sudah hilang dari rumah sakit. Devan merogoh saku celananya mencari ponselnya.


"Hah, di mana ponselku?" Terkejut tak mendapatkan ponselnya. Devan kini ingat lupa mengambil ponselnya di villa saking buru-burunya ke kantor tadi pagi. Devan berjalan kembali mencari Ella dan mulai cemas dan was-was Ella akan benar-benar pergi meninggalkannya.


"Aku akan terus mencarimu!" tekad Devan semakin serius menatap ke depan. Tapi, tiba-tiba saja seseorang memanggilnya dari belakang.


"Presdir Devan!"


Devan berhenti lalu berbalik melihat Hansel berdiri tak jauh darinya sedang menggendong Maysha.


"Hansel? Apa yang kau lakukan di sini?" Devan berjalan mendekatinya. Mengira Hansel tau di mana Ella.


"Aku sedikit sakit, Presdir. Sedangkan anda sendiri, kenapa ada di sini?" tanya Hansel memang tak tahu Atasannya juga ada di rumah sakit, begitupun Devan juga bisa-bisanya Hansel sakit dan tak meberitahukan padanya.


"Aku-aku sedang mencari, Ella. Apa kau bersamanya barusan?" tanya Devan lebih peduli pada Ella. Devan melihat Maysha yang menganggukkan kepala.


"Jadi, Ella tak bersamamu?"


"Tidak, Presdir. Nona Ella tidak kembali dan oh ya ini ponsel anda yang tadi ditinggalkan Ella di ruanganku. Sepertinya dia datang untuk membawa ponsel anda ke kantor tadi." Hansel menyerahkan ponsel Devan. Saat inilah Devan mengambilnya lalu melacak keberadaan Ella. Devan kini ingin menghubungi Ella, berharap tak terjadi sesuatu pada gadis ini.


"Apa kau masih sakit, Hansel?" tanya Devan sambil menghubungi Ella.


"Aku rasa begitu, tapi sudah sedikit mendingan. Memangnya kenapa, Presdir?" Hansel bertanya balik masih menggendong Maysha.


"Kalau begitu kau tetap di sini, jaga Maysha sebentar. Aku ingin mencari Ella." Devan segera berlari keluar rumah sakit meninggalkan Hansel yang diam berdiri bersama Maysha. Hansel tersenyum sedikit lalu membawa Maysha jalan-jalan di rumah sakit dan lupa memberitahukan jika Ella dan Elisa bersaudara.


Devan kini masuk ke dalam mobil, masih berusaha menghubungi Ella. Tapi nyatanya panggilannya selalu ditolak.

__ADS_1


"Ayolah, Ella. Kau jangan bercanda, aku benar-benar tak mau kau pergi dariku, sayang." Devan mulai panik dan kembali lagi menghubungi Ella. Ketakutannya meningkat setelah panggilan akhirnya tersambung, tapi tak ada suara Ella melainkan suara air yang mengalir deras.


"Ya ampun, Ella. Kau sekarang ada di mana! Jawablah aku!" ujar Devan dalam panggilan. Bukan jawaban melainkan suara tangis Ella yang tak dapat berkata-kata lagi. Bahkan kali ini, Ella kembali memutuskan panggilannya. Devan terkejut dan semakin panik. Devan pun menghubungi dan menyuruh anak buahnya segera ke tempat Ella yang berhasil Devan lacak. Terlihat Ella memang berdiri di dekat pinggir jembatan seorang diri sambil menunduk dan menangis tersedu-sedu.


Sesaat kemudian, beberapa mobil akhirnya sampai ke kawasan lokasi Ella. Semua anak buah dikerahkan mencari Ella begitupun Devan turun mencari sang Istri tercinta. Kedua mata Devan selalu mengarah ke arah sungai. Devan berlari ke arah jembatan lalu tak sangka kedua matanya tertuju pada ponsel yang tergeletak di tepi jembatan. Devan segera berlari mengambil dan kini kekuatirannya semakin tinggi.


"Cepat! Cepat cari dia! Temukan dia hidup-hidup!" pinta Devan berteriak pada anak buahnya. Takut Ella menjatuhkan dirinya ke sungai.


"Presdir, aku menemukan sesuatu!" teriak salah satu anak buahnya. Devan menoleh ke sumber teriakan dan membola melihat kalung istrinya ada di tangan anak buahnya.


"Di mana, di mana Istriku? Kenapa cuma kalung saja kau temukan, ha!" amarah Devan memuncak. Matanya mulai berkaca-kaca lalu merebut kalung Ella.


"Maaf, Presdir. Saya menemukannya bercahaya dan tersangkut di semak-semak dekat sungai. Sepertinya, Nona-"


"Tidak! Pergi cari dia lagi! Bukan itu yang ingin aku dengarkan! Cepat, temukan dia!" teriak Devan lalu melihat ke arah sungai, aliran air yang deras begitupun air matanya ikut turun. Menangis tak sangka Ella menjatuhkan dirinya ke sungai.


"Kenapa, kenapa kau lakukan ini Ella. Aku sudah meminta maaf padamu dan sudah cinta mati padamu. Tapi kau pergi, pergi meninggalkan aku! Kenapa kau egois! Kenapa kau tak sadar perasaanku ini cuma untukmu sekarang. Kau menyuruhku pergi, tapi sekarang kau yang meninggalkanku."


Devan menunduk, meremas kalung Ella. Benar-benar diluar dugaannya, harus kehilangan Ella. "Aku akan tetap mencarimu, aku tahu kau pasti masih hidup!" Devan memukul pinggir jembatan, ketakutan kehilangan Ella. Meremas rambut lalu berteriak sekeras mungkin disertai gemuruh petir yang menandakan hujan mulai perlahan turun.


"Aradella! Selamanya aku akan terus mencarimu!"


...______...


...~ Vote dan like ya guys, biar author semangat ~...


...🤗🤗...


...Terima kasih...

__ADS_1


...🔥🔥🔥...


__ADS_2