Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 47 : Keputusan Devan


__ADS_3

"Apa kau menyukainya?" tanya Devan melihat Ella. Pertanyaan ini sudah dari kemarin belum dijawab oleh Ella. Berharap Ella akan memaafkan dirinya, dan tahu jika liontin ini belum cukup mengobati relung hatinya yang terluka. Ella melihat Devan dan tersenyum.


"Aku menyukainya, sangat menyukainya, Tuan." Ella menjawabnya sambil menyentuh liontin bunga miliknya.


"Syukurlah," ucap Devan menyentuh kepala Ella lalu meraih tangan kanan Ella.


"Ella, aku minta maaf atas kesalahanku sudah membuatmu sedih seperti ini. Jujur, aku menyesal, sangat menyesal. Aku janji, aku tak akan mengulanginya. Kamu mau kan maafkan aku?" Devan melihatnya serius, memohon pada Ella agar memaafkannya. Tapi, Ella hanya diam belum bisa menjawabnya. Perasaaan Ella belum sembuh sepenuhnya.


Devan memeluk Ella, ia paham, sangat paham jika Ella butuh waktu untuk memastikan ucapannya ini tulus atau tidak.


"Baiklah, tak usah menjawabnya. Sekarang, aku akan membawamu jalan-jalan hari ini." Devan tersenyum lalu menarik Ella mulai berjalan. Ingin menghibur Ella agar tak bersedih lagi dan berpikir untuk tidak menemui Ayahnya lagi. Tapi, Ella masih diam membuat Devan berbalik melihatnya. Heran, mengapa gadis ini tak bergerak.


"Kenapa diam saja?" tanya Devan mulai cemas melihat Ella diam dan menunduk.


"Tuan, mau membawaku kemana?" tanya Ella melihatnya.


Devan mengangkat alisnya, lalu menyentuh dagunya. Berpikir tempat apa yang cocok untuk menghibur Ella.


"Bagusnya, kau mau kemana?"


"Ke tempat Ayahku, Tuan." Jawaban Ella membuat Devan terkejut.


"Ella," ucap Devan segera menepuk kedua lengan Ella.


"Jangan berpikir untuk mati, Ella. Aku tak mau kau mengulanginya. Jangan berpikir untuk bunuh diri, aku tak sanggup melihatmu seperti ini." Ungkap Devan cemas dan ketakutan, berpikir Ella masih mau mengakhiri hidupnya.


"Tuan, aku mau ke makam Ayahku, bukan mau bunuh diri. Aku mau berkunjung, Tuan."


"Eh?" Devan sedikit terkejut. Kini gilirannya yang gagal paham dengan ucapan Ella.

__ADS_1


"Jadi, kamu mau ke makam, Ayahmu?" tanya Devan memastikan.


"Ya, Tuan. Aku tidak pernah berkunjung bulan ini, jadi bisakah Tuan menemaniku? Aku merindukan, Ayahku," jawab Ella menjelaskan sambil melihat Devan dengan tatapan polosnya.


"Kau tak mau ke mall atau ke tempat lain?" Usul Devan melihat Ella. Ella menggelengkan kepala tidak mau kemana-mana selain ke makam Ayahnya.


"Baiklah, aku akan menemanimu." Devan tersenyum. Sungguh Ella berbeda dari sifat Elisa yang manja. Tapi, sekali lagi Ella tak bergerak saat ditarik untuk keluar, membuat Devan kembali berbalik melihatnya.


"Kenapa diam lagi?" tanya Devan. Ella menatap Devan lalu sedikit tersenyum. "Terima kasih, Tuan." Perkataan Ella membuat Devan kali ini yang terdiam, rasanya senang telah mendengar dua kata itu barusan. Devan mengelus kepala Ella lalu menganggukkan kepala. Ella pun berjalan bersama Devan menuju ke mobil untuk membawanya ke makam Ayahnya.


Sesampainya di pemakaman, Ella segera turun dari mobil lalu berjalan bersama Devan menuju ke makam Ayahnya. Langkah kaki Ella berhenti di salah satu makam yang sedikit dipenuhi rerumputan kecil. Ella berjongkok lalu mencabut rumput liar agar makam Ayahnya terlihat bersih dan rapi.


Devan yang berdiri di dekatnya merasa kagum, karena Ella masih peduli untuk melakukan ini. Tidak seperti Elisa yang pastinya enggan untuk berkunjung ke tempat ini.


Ella berdiri sudah selesai membersihkan makam Ayahnya. Senyuman kecil mulai terlihat dan perlahan kedua matanya mulai meneteskan air mata. Devan segera memeluk Ella, memberi sandaran bahu untuk linangan air matanya. Ella menangis bukan lagi sakit hati, tapi senang telah bebas dari cengkraman Ibu dan adik tirinya. Kini Ella mulai ikhlas dengan semua ini.


Mobil berhenti di depan mall yang kemarin dikunjungi Elisa bersamanya. Ella turun bersama Devan. Begitu ramainya membuat Ella ketakutan. Takut dihimpit, takut didorong. Devan mengangkat sebelah alisnya merasa heran.


"Apa kau tak pernah datang ke sini?" tanya Devan menunjuk mall lalu melihat Ella. Ella mengangguk lalu menatap mall dengan raut wajah pilunya.


"Tuan, aku tak pernah diajak ke sini."


Devan tertawa kecil mendengarnya, lalu menepuk pelan kepala Ella yang sungguh polosnya tak pernah mengunjungi mall. Memang begitulah, Aline tidak pernah mengajak Ella keluar jalan-jalan, dan hanya menyuruh Ella tetap di dalam rumah.


"Jadi, apa yang kamu tahu?" tanya Devan ingin tahu.


"Cuma dapur, Tuan."


Sekali lagi kepala Ella dielus oleh Devan yang sedang menahan tawa sudah mendengar jawaban Ella. Devan segera menarik Ella masuk untuk melihat mall. Menunjukkan kepada gadis polos ini soal mall yang luas akan berbagai barang bagus di dalamnya.

__ADS_1


Ella tercengang begitu banyak orang yang berlalu lalang ke sana sini. Apalagi begitu banyak berbagai toko berjajar rapi yang dijumpainya hari ini.


"Apa kau suka datang ke sini?" tanya Devan melihatnya. Ella segera mengangguk.


"Ini luar biasa, Tuan. Ini tidak sama seperti di pasar yang sering aku datangi setiap paginya."


Devan tertawa mendengar ucapan Ella. Ternyata, istrinya sungguh anak rumahan yang hanya tahu soal dapur. Devan berjalan cepat sambil menarik Ella, ingin perlihatkan pada gadis polos ini berbagai barang berharga di mall.


"Aaaa, Tuan!" jerit Ella tiba-tiba memeluk Devan. Terkejut melihat tangga yang dia injak bergerak ke atas. Devan cemas dan segera melihatnya.


"Ada apa?" tanya Devan masih dipeluk Ella.


"Tang-tangganya bergerak, Tuan. Tangganya tidak mirip yang ada di rumahku," jawab Ella masih menjerit.


Devan seketika tertawa lepas melihat Ella begitu lucu dan lugunya baru pertama kali menginjaknya. Para pengunjung ikut menertawai Ella yang memeluk Devan nampak ketakutan. Devan mulai malu dan segera mencoba melepaskan Ella sambil menunjuk tangga yang bergerak perlahan di bawahnya.


"Ella, kau jangan takut. Ini itu tangga eskalator."


"Hm, tangga kalkulator?" tanya Ella belum paham dan mulai lagi tingkahnya yang polos.


"Astaga, bukan kalkulator, tapi eskalator," jawab Devan menepuk wajahnya.


"Eskantor?" ucap Ella pura-pura mendengar tidak jelas.


"Ella, apa kau sengaja tuli?" Devan menyipitkan matanya mulai kesal. Ella menunduk dan nyengir tidak jelas. Merasa asik juga berbicara seperti ini pada lelaki angkuh di sampingnya. Merasa senang telah membuatnya kesal.


"Ehehe, maaf Tuan." Ella cengengesan memainkan kedua jarinya. Devan tersenyum, merasa ini juga menyenangkan mengajak Ella jalan-jalan. Devan kembali menggenggam tangan Ella lalu pergi ke sebuah toko pakaian. Ingin merubah penampilan Ella agar pantas berdiri di sisinya sebagai istrinya. Kini keputusan Devan mulai jelas, jika dirinya akan mempertahankan pernikahannya dan mencoba membatalkan pertunangannya dengan Elisa.


"Kau keputusanku, Ella."

__ADS_1


__ADS_2