Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 55 : Cuma Pembantu


__ADS_3

Pintu kamar Devan terbuka. Elisa perlahan masuk dan melihat isi kamar Devan. Tatapan matanya mencari sesuatu. Dengan sedikit sesugukan, Elisa berjalan ke arah meja di dekat ranjang Devan. Elisa mencari-cari dan mengobrak-abrik isi laci meja.


"Ck, di mana surat nikahnya? Jika memang mereka sudah menikah seharusnya ada surat nikah yang bisa ku dapatkan di kamar ini!" decak Elisa semakin mencari-cari.


Kini Elisa berpindah ke lemari Devan, membuka dan mengobrak-abrik isi lemari Devan, mencari surat nikah yang membuatnya ingin tahu jika ucapan Devan benar atau tidak.


"Ish! Mana sih, kenapa tidak ada sama sekali! Devan pasti sudah menyimpannya agar aku tak bisa mendapatkannya!" gerutu Elisa mulai kesal. Kedua kakinya kembali ke arah ranjang lalu duduk menyilangkan tangan. Melihat sekeliling kamar Devan.


"Malam nanti, aku tak akan biarkan dia tidur satu kamar dengan Devan. Aku harus buktikan dulu!"


Elisa menggertakkan giginya lalu berdiri, namun baru selangkah saja kakinya menendang koper begitu sedikit keras. Elisa segera menunduk melihat ke bawah ranjang. Ternyata benar, ada koper kecil yang terlihat misterius. Elisa berjongkok lalu meraihnya.


"Hm, koper?" pikir Elisa mencoba meraihnya.


Tak!


"Auw-" ringis Elisa, kepalanya malah terbentur.


"Astaga, sakit banget!" ringis Elisa berhasil meraihnya lalu meletakkan koper itu ke atas kasur. Elisa menyentuh dagunya mulai terfokuskan pada koper di depannya. Elisa membolak-balikkan koper itu lalu menemukan sebuah alat kunci password. Elisa menekan tombol asal-asalan untuk membukanya, tapi percuma karena koper itu dikunci otomatis menggunakan kata password.


"Manis-manis tapi menyakitkan?" pikir Elisa menemukan sebuah kalimat tertera pada layar kunci.


"Sejak kapan koper punya kunci seperti ini?" gumam Elisa menggaruk kepalanya yang tadi terbentur.


"Gula?" Elisa menakan empat huruf. Tapi kata password-Nya salah.


"Permen kapas?" Sekali lagi salah.


"Apaan sih password-Nya!" ketus Elisa duduk di dekat koper. Berkali-kali kata yang 'manis-manis' dia gunakan namun percuma saja tak ada yang benar.


"Kenapa Devan memberi teka-teki begitu sulit. Apa dia sudah tahu duluan kalau aku akan mencari surat nikahnya?" Elisa mulai greget dan kemudian berpikir menemukan sesuatu.


"Ha? Apa itu buaya?" tebak Elisa lalu mencobanya. Raut wajahnya kembali kesal, ternyata kata password salah.


"Apaan sih ini! Kenapa dia memberiku kesusahan begini!" gerutu Elisa meremas rambutnya mulai lagi berpikir. Kedua mata Elisa melebar menemukan sebuah kata.


Cklek!


Koper terbuka membuat Elisa terkejut. Elisa berdiri dan melihat jari telunjuknya.


"Biawak?"

__ADS_1


"Sejak kapan biawak manis dan menyakitkan?" Elisa menggelengkan kepala tak mau memikirkan terlalu lama. Elisa membuka koper dan seketika tersenyum miring berhasil menemukan yang dia cari-cari. Elisa mengepal tangan dan mengambil surat nikah Devan.


"Kau, kau benar-benar berkhianat!" umpat Elisa pada Devan. Elisa ingin merobeknya namun kedua matanya tertuju pada sebuah kertas. Elisa penasaran dan mengambilnya.


"Ini, kan?" Elisa terkejut lalu tersenyum licik.


"Cih, cinta? Menikah?" Elisa meludah.


"Katanya cinta, tapi ternyata pernikahannya hanyalah pernikahan kontrak. Katanya cinta, tapi cintanya malah di atas kertas. Apa Devan sedang mempermainkan aku?"


Elisa mulai memikirkan sesuatu dan segera memperbaiki kamar Devan. Mengambil surat nikah Devan dan juga surat peraturan kontrak yang dibuat oleh Devan untuk Ella. Elisa berjalan riang, kini raut wajahnya terlihat berseri-seri.


"Akan ku buat kau tak bertahan lama di sisi Devan. Wanita sepertimu hanyalah cicak yang merayap ingin mendapatkan kesenangan! Akulah yang pantas menjadi istri sah untuk Devan!"


"Aku tak akan keluar dari villa ini sebelum aku tendang kau pergi dari sisi Devan. Tunggu saja, akan ku buat dirimu bersujud di hadapanku. Meminta maaf dengan penampilanmu yang amat menyedihkan. Hahaha ...."


Itulah yang ingin dilakukan Elisa, mencoba membuat Ella tak bertahan di villa Depan. Tawanya begitu jelas sampai ke kamar Ella. Ella berdiri dari kursi riasnya lalu membuka pintu kamar, dan melihat sekelilingnya.


"Aneh, apa tadi aku salah dengar? Tadi ada suara Nona Elisa, tapi kenapa tak ada orang? Apa Nona Elisa keluar dan menuju ke dapur?"


Ella begitu penasaran hingga akhirnya keluar dari kamar lalu menuruni tangga. Suara deringan panggilan tiba-tiba membuatnya menoleh. Ternyata, ada seseorang yang sedang menelpon ke villa. Ella ingin mengangkat telepon rumah, namun Elisa tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan sebuah apel merah di tangannya. Ella langsung bersembunyi di balik pilar.


"Halo, ini dengan siapa?" tanya Elisa sambil memakan apelnya pada panggilan sekarang.


"Elisa, ya Tuhan. Kamu ternyata sudah pulang duluan, kenapa tidak beritahu Tante dan Om dulu, sayang?" ucap seorang wanita yang tak lain Ibunya Devan yang ingin menghubungi Devan di sore ini. Mata Elisa melebar sedikit terkejut dan menutup sebentar telepon dengan tangannya.


"Oh no, kenapa Tante malah menghubungi Devan sore ini?" gumam Elisa terlihat panik.


"Elisa, kenapa diam saja? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Ibunya Devan terlihat cemas.


"Hahaha, itu. Aku sudah baikan, Tante. Jadi, aku pulang duluan tanpa beri tahu Tante dan Om," jawab Elisa gugup. Ella yang mendengarnya semakin penasaran, apalagi Elisa memanggilnya Tante.


"Apa sekarang Ibunya Tuan Devan yang lagi bicara sama Elisa?" pikir Ella sedikit mendekat. Ingin tahu apa yang dibicarakan sekarang.


"Kamu ini kenapa pulang? Kamu masih harus dirawat, Elisa. Tak seharusnya kamu pergi dari rumah sakit." Kata Ibunya Devan mencemaskan. Elisa terdiam lalu menyentuh dadanya.


"Dirawat? Apa maksudnya? Apa Nona Elisa kabur dari rumah sakit?" gumam Ella terkejut mendengarnya dan kembali menguping.


"Eh, itu. Tante tidak usah kuatir, aku sudah sembuh total Tante. Bahkan kemarin, Devan mengajakku ke rumah sakit buat cek kesehatan dan Dokter bilang aku sudah baik-baik saja." Kata Elisa berbohong dan sekali lagi membuat Ella terkejut.


"Tidak, Nona Elisa tak pernah keluar bersama Tuan Devan kemarin. Tuan Devan selalu bersamaku kemarin. Apakah Nona Elisa sedang menyembunyikan sakitnya? Penyakit apa yang diderita Nona Elisa?"

__ADS_1


Ella tak henti-hentinya memikirkan Elisa. Sekali lagi Ella terkejut melihat Elisa menyentuh dadanya sambil menekannya sedikit. Terlihat sedang mengatur nafasnya.


"Tante, tidak usah kuatir. Aku sudah baik-baik saja, lebih baik Tante segeralah pulang. Aku dan Devan tak sabar ingin melangsungkan pernikahan kita, Tante." Elisa berkata lembut, namun ini menyakitkan bagi Ella.


"Huft, kamu ini. Tante dan Om kuatir padamu, tapi sepertinya kamu sudah baik-baik saja. Kalau begitu, seminggu ini Tante dan Om akan pulang dari LN dan setelah itu Tante akan menemanimu memilih baju pengantin yang bagus untukmu." Suara Ibunya Devan terdengar lega tapi tidak untuk Ella yang kembali terkejut mendengar seminggu lagi orang tua suaminya akan pulang ke kota ini. Ella menunduk merasa sedih.


"Hm, aku tak sabar lagi melihat Tante dan Om pulang," ucap Elisa tersenyum manis.


"Ya sudah, Tante tutup dulu dan jaga kesehatanmu, jangan sampai menantu Tante ini sakit lagi. Kalau Devan buat kamu sedih, beritahu Tante saja, nanti suami Tante yang akan beri pelajaran buat Devan," kata Ibunya Devan begitu menyukai Elisa.


"Hm, ia Tente. Aku akan menunggu Tante dan Om pulang." Elisa tersenyum lagi lalu menutup panggilannya. Elisa menunduk dan kemudian memukul meja. Kesal karena masih lama orang tua Devan pulang dari LN. Hingga Elisa kuatir, jika Ella tak dapat disingkirkan dari sisi Devan. Maklum, Ayahnya Devan sedang mengurus bisnis di LN juga.


"Ck, sialan!" umpat Elisa berjalan kesal pada Ella lalu masuk kembali ke dalam dapur untuk mengisi perutnya lagi. Ella keluar dari tempat persembunyiannya lalu mendekati meja dan melihat telepon rumah. Seketika ia terkejut melihat telepon kembali berdering. Ella melihat ke dapur sebentar lalu mencoba ingin tahu siapa yang menelpon lagi.


"Ha-halo, ini siapa?" tanya Ella mulai bicara.


"Kamu siapa dan di mana Elisa?" tanya seorang wanita lain. Terdengar lembut dan keibu-ibuan. Ella terdiam, merasa suara ini sangat familiar.


"Aku-aku El-" ucap Ella terhenti dan terkejut melihat Elisa merebutnya.


"Berani sekali kau angkat telepon di villa ini! Di mana sopan santunmu, ha!" bentak Elisa mendorong Ella sedikit.


"Elisa, ini kamu kan, Nak?" tanya wanita pada panggilan itu. Elisa terkejut dan melihat telepon di genggamannya.


"Eh, Mamah?" ucap Elisa membelakangi Ella.


"Sayang, katanya kamu sudah pulang dari LN. Kenapa tidak pulang ke rumah dulu. Mamah kuatir sama kamu, Nak. Tiba-tiba saja calon besan Mama nelpon bilang kalau kamu pulang dari LN. Jadi, gimana kabar kamu? Sudah baik-baik saja?" tanya wanita itu terdengar begitu cemas.


"Ah, itu. Mamah tidak usah cemas. Aku sudah sembuh total," jawab Elisa mulai bertingkah manja sambil mencibir Ella yang berdiri menunduk di belakangnya.


"Syukurlah, Nak. Mamah kuatir banget tadi,"


"Hm, Mama tenang saja. Devan dan aku sering pergi cek kesehatan jadi aku sudah baik-baik saja," jelas Elisa agar tak membuat Ibunya cemas.


"Baguslah, calon menantu Mama memang cocok jadi anggota keluarga kita dan jika begitu siapa yang tadi angkat panggilan Mama? Kenapa tiba-tiba hilang?" tanya Ibunya Elisa penasaran.


Elisa terdiam lalu melihat Ella dan tersenyum picik. Ella hanya menatapnya diam, tapi mendengar jawaban Elisa untuk Ibunya membuat Ella begitu terkejut dan mengepal tangan menahan sakit setelah mendengarnya.


"Dia cuma pembantu di sini, Mah."


..._______...

__ADS_1


__ADS_2