
...[Beri like dan vote]...
Dengan kekesalan tiada tara, Viona langsung mendobrak pintu. Sangat tidak terima ada gadis lain yang berjalan bersama dengan Devan. Apalagi gadis itu adalah Ella yang pernah Viona temui di restorannya.
"Rupanya, kau masih ada keberanian datang menemuiku setelah kejadian kemarin, Viona!" Devan berdiri dari kursinya. Ekspresi amarahnya mulai kambuh lagi. Viona yang datang dengan amarahnya langsung berubah drastis. Viona berjalan mendekati Devan.
"Kak Devan, aku ... aku bisa jelaskan semua ini. Jangan marah padaku, aku mengaku salah."
Ella tersentak melihat Viona memeluk Devan di depan matanya. Tapi pelukan itu hanyalah sementara setelah Devan mendorongnya. Tentu dari rencana Viona yang tidak berhasil malah mengakibatkan Devan yang tidur dengan Ella meski sebenarnya Devan dan Ella hanyalah sebuah salah paham.
"Menyingkirlah dariku dan jangan memanggilku seperti itu lagi. Aku bukan kakakmu dan mulai sekarang aku tidak mengenalmu." Devan menunjuk ke arah pintu ruangannya.
Viona kaget diusir, ia pun mulai menangis.
"Kak Devan, maafkan aku. Aku tidak ingin hubungan kita putus,"
Deg!
Ella kembali kaget, "Ha? Putus?" batin Ella melihat Viona merengek di depan Devan.
"Apa dia kekasihnya, Tuan Devan?" pikir Ella.
Devan melihat Ella dan mulai risih mendengarnya apalagi melihat Viona yang datang untuk hal ini.
"Singkirkan tanganmu dariku!" Devan menepis Viona hingga terjatuh ke lantai. Ella terperanjak melihatnya. Bahkan kedua matanya melebar sambil menelan ludah.
"Hiks, Kak Devan. Jangan perlakukan aku seperti ini. Aku lakukan itu untuk bisa berada di sampingmu. Aku tidak mau dianggap sebagai adik saja, aku ingin selalu di sampingmu menjadi kekasihmu terus," mohon Viona dengan mata berkaca-kaca.
"Ingin selalu di sampingku?" Devan mendecak.
"Ck, dengan kelakuanmu seperti ini membuatku tak ingin lagi melihatmu, dan mulai hari ini aku tak akan membantu restoranmu lagi. Jadi sekarang, pergilah!" bentak Devan menunjuk pintu lagi. Viona tak bergerak dari tempatnya, ia masih terduduk di lantai sedang menunduk mulai emosi.
"Kenapa ... aku tidak bisa mewujudkan ini, aku mencintaimu Kak Devan. Apa kau tidak bisa merasakan perasaanku yang tulus padamu?" Viona menepuk dadanya dan mendongak ke Devan. Ella hanya bisa menjadi penonton saja, tidak mau ikut campur soal urusan pribadi Devan. Takutnya malah kena marah lagi. Tapi asik juga melihat perdebatan ini.
"Aku bisa merasakannya, tapi aku tidak mencintaimu," kata Devan berbalik membelakangi Viona. Viona mengepal tangannya merasa kecewa.
"Tapi kau menyayangiku, Kak Devan,"
"Itu hanya rasaku menganggapmu sebagai adik," Devan kembali berbalik melihat Viona yang sudah berdiri.
"Dan juga, kau bukanlah tipeku. Lagian, aku punya wanita yang aku cintai dan kamu pasti tau itu, Viona." lanjut Devan dengan ekspresi santainya. Viona menggenggam tangannya, ia tahu siapa yang dimaksud oleh Devan.
"Kenapa, kenapa kau masih tetap memilihnya! Dia itu wanita penyakitan! Dia tidak pantas untukmu!" ujar Viona meluap.
Ella yang mendengar perdebatan itu sangat terkejut, "Wanita yang dicintai Presdir adalah wanita yang berpenyakitan?" gumam Ella terdiam di tempatnya.
"Apakah itu aku?" pikir Ella mulai merona. Tapi kedua matanya melebar kaget melihat Devan ingin menampar Viona. Tentu Devan marah besar kekasihnya dihina berpenyakitan.
__ADS_1
"Hentikan, Tuan!" tahan Ella berdiri di depan Viona dan hampir kena tampar. Devan pun menurunkan tangannya dan melirik sinis kedua gadis ini lalu duduk di kursinya. Ella menarik nafas merasa lega.
"Kau?" Viona terkejut melihat Ella melindunginya. Bukannya berterima kasih, Viona malah meraih pergelangan tangan Ella.
"Kau tidak usah melindungiku, jadi keluarlah!" bentak Viona mendorong Ella jatuh ke lantai. Ella kaget begitupun Devan. Devan berdiri kembali dan mencengkeram lengan Viona.
"'Viona! Aku tidak pernah mengajarimu kekerasan seperti ini,"
"Melihatmu semakin melunjak, lebih baik keluarlah dan mulai sekarang jangan muncul di hadapanku lagi!" Devan menarik Viona ingin mengeluarkannya dari ruangannya, tapi Viona memberontak.
"Tidak, aku tidak mau keluar! Ku mohon, Kak Devan jangan perlakukan aku seperti ini." tangis Viona memohon.
"Hentikan aktingmu itu, tetap saja kau bukanlah tipeku jadi jangan bermimpi dapat lagi melihatku. Kau sama saja dengan wanita liar di luar sana!"
Plak!
Tamparan berhasil mengenai pipi kiri Devan. Devan seketika kaget melihat Viona menamparnya, begitupun juga Ella menutup mulutnya melihat perdebatan yang sedikit ngeri. Apalagi suara tamparan itu begitu keras hingga membekas di pipi Devan. Devan semakin geram dan langsung menghempaskan Viona keluar dari ruangannya.
"Hari ini aku maafkan atas kejadian ini, tapi ... jika aku melihatmu lagi di depanku, maka jangan salahkan aku jika restoran Ayahmu mengalami kebangkrutan!" ancam Devan memberi peringatan dan menutup keras pintu ruangannya.
Viona semakin menangis, apalagi melihat ada perempuan lain di dalam ruangan itu. Ia amat menyedihkan hari ini. Viona berdiri lalu berteriak, "Tunggu saja, hari ini aku akan katakan padanya jika kau diam-diam menyukai perempuan lain di belakangnya!" gertak Viona pergi dari perusahaan Devan.
Devan menatap Ella lalu mendecak dan duduk di kursinya. Ella menalan ludah lagi tidak bisa berkata-kata. Kini perlahan, Ella berdiri untuk tanyakan sesuatu.
"Em, itu," Ella mulai bicara pada Devan yang membelakanginya.
"Aish, wanita kalau lagi marah sangat menyeramkan."
Devan tak henti-hentinya mengelus pipi kirinya yang memerah bekas tamparan Viona.
"Em, Tuan. Apa anda baik-baik saja?"
"Ck, tentu saja baik." jawab Devan berbalik melihatnya. Ella sedikit terkejut melihat Devan. Meski wajahnya merah habis ditampar, Devan masih saja bertingkah cool di depannya. Ingin rasanya Ella menertawainya, tapi takut juga ditendang dari ruangan seperti Viona barusan.
"Tidak usah sembunyikan," ucap Devan berdiri mendekatinya.
"Eh?" Ella mundur sedikit.
"Aku tahu isi kepalamu, kau pasti ingin tertawa kan melihatku tadi?" Devan menyipitkan matanya dan semakin dekat.
"Ehehe, tidak kok, Presdir," cengir Ella mundur lagi sambil menggerakkan tangannya.
"Kalau begitu, saya ke Maysha dulu, Presdir." lanjut Ella langsung lari terbirit-birit keluar dari ruangan Devan, takut Devan akan berulah lagi. Devan mendecak sambil menyentuh pipinya, "Aduh, kenapa masih sakit sih," desis Devan meringis sedikit lalu duduk di kursinya. Ponsel dan gantungan masih belum diambil oleh Ella. Ternyata Ella lupa mengambilnya. Devan tersenyum kecil melihat gantungan bebek itu sambil memikirkan Ella dan mulai melupakan kejadian barusan.
Asik menatap gantungan, Ella tiba-tiba masuk lagi membawa kotak obat dari ruangan Hansel. Untung saja ia tidak kesasar di perusahaannya.
"Hm, untuk apa kau datang kemari?" tatap Devan sinis berdiri dari kursinya.
__ADS_1
"E, itu. Aku mau obati bekas ...."
"Tidak perlu, kau urus Maysha saja." tolak Devan cuek dan membaca berkas. Ella manyun dicuekin dengan sikap Devan yang menyebalkan. Ella tidak tahan dan langsung menarik tangan Devan ingin mengobati bekas tamparan Viona.
"Eh, kau mau apa?" tanya Devan menarik tangannya kembali.
"Itu ... pipi anda pasti sakit, apalagi di sudut bibir Presdir berdarah. Ini harus diobati," Ella menunjuk sudut bibir Devan terlihat begitu sangat dekat. Devan melirik jari telunjuk Ella dan langsung menggigitnya membuat Ella kaget melihat jarinya masuk ke dalam mulut Devan.
"Aaaakh!" teriak Ella menarik jarinya dan melihat ludah Devan menempel dijari telunjuknya. Ella merasa jijik melihatnya.
"Hm, apa kau masih mau mengobatiku?" Devan berjalan selangkah. Jarak keduanya begitu dekat membuat Ella deg-degan.
"Ahaaha, aku rasa ... aku salah masuk ruangan. Ma-maaf." Ella menunduk lalu ingin keluar, tapi Devan menariknya dan memojokkannya ke tembok.
Deg!
Jantung Ella berdebar-debar melihat Devan menyeringai tipis di depannya.
"Hm, sepertinya bibirku ini memang harus diobati. Bagaimana jika ...." Devan menyentuh tengkuk leher Ella membuat tubuh Ella spontan merinding.
"Tu-tuan, bagaimana jika anda lepaskan saya, mungkin Maysha sedang mencari saya," Ella terbata-bata gemeteran.
"Tapi, bibirku mau diobati, kau harus mengobatinya sekarang,"
Bruak!
Kotak obat lepas dari tangan Ella lalu jatuh berhamburan ke lantai. Ella terkejut, Devan ternyata mencium bibirnya lagi. Bahkan bibirnya dimainkan bagaikan sedang menjilat permen lolipop. Begitu menggiurkan membuat Ella malah menikmatinya.
Devan yang merasakan Ella menikmatinya, akal jahilnya mulai muncul. Devan segera menggigit bibir bawah Ella. Mata Ella melebar merasa sakit. Ella ingin lepas, tapi Devan tetap melummat dengan lidahnya bermain di dalam mulut Ella. Ella sudah tak tahan, matanya mulai berair merasa sesak. Devan yang melihatnya, ia pun melepaskan Ella. Kedua nafas mereka kini memburu dengan cairan yang saling bertukar dari mulut keduanya. Ella merona dengan jantungnya yang berdebar-debar.
"Hm, lumayan juga," kata Devan melihat Ella yang tidak memberontak sambil menjilat bibir bawahnya. Ella menunduk lalu mendorong Devan sedikit memberinya ruang. Ella benar-benar malu malah membalas ciuman tadi. Apalagi entah kenapa rasanya ia ingin lebih dari itu.
"Tu-tuan, saya-saya permisi dulu ...." ucap Ella gelagapan dan berjalan melewati Devan serta mengambil ponsel miliknya. Devan cemberut melihat Ella keluar, ia mulai kesal karena Ella pergi meninggalkan kotak obat yang berserakan di depannya.
"Apakah ini balasan atas ciumanku tadi!" gerutu Devan melihat kotak obat itu. Berpikir jika ia sendiri yang harus membereskan kekacauan yang ia buat sendiri.
"Eh, tapi ... kalau dipikir-pikir, kenapa tadi aku harus melakukan itu padanya?" Devan mulai sadar dengan tindakannya barusan.
"Aaagh, kacau!" Devan mengacak-acak rambutnya merasa berlebihan tadi. Kini wajahnya yang memerah merona masih membayangkan aksinya mencium Ella.
"Ish, lama-lama aku bisa jatuh cinta sama nih cewek!" gerutu Devan masih mengacak-acak rambutnya.
.
.
...🌷🌷_____🌷🌷...
__ADS_1
Hallo pembaca, hari ini adalah hari senin, kalian jangan lupa vote cerita ini ya, agar author semangat buat lanjutkan kisah percintaan Devan dan Ella😁wah sepertinya Devan mulai suka dengan Ella. Ihihihi ~