
"Elisa, tenanglah." Devan berhasil meraih tangan Elisa sebelum masuk ke dalam kamar.
Plak!
Elisa menampar tangan Devan. Sungguh menyakitkan mengetahui kekasihnya mencintai wanita lain. Elisa menatap Devan masih dengan wajahnya yang sembab.
"Tenang? Setelah aku tahu ini, kau hanya menyuruhku tenang? Kau jahat Devan!" pekik Elisa mendorong Devan lalu masuk ke dalam kamar mengunci dirinya dan bersandar di balik pintu. Elisa tak henti-hentinya mengusap kedua pipinya. Tangisnya memecahkan malam di villa Devan.
Devan hanya berdiri menunduk di depan pintu kamar. Mengepal tangan merasa dirinya memanglah jahat. Sungguh egoisnya, mencintai wanita lain sedangkan dirinya sudah lama berpacaran dengan Elisa sejak mereka masih remaja.
"Ma ... maafkan aku, Elisa," lirih Devan gemeteran sudah menyakiti perasaan Elisa yang sangat mencintainya.
"Hiks, maaf? Untuk apa? Untuk apa!" teriak Elisa dari dalam kamar. Suaranya mulai serak diantara tangisnya.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud seperti ini padamu. Aku-"
"Dasar pengkhianat! Kau bilang padaku, kau janji padaku, jika aku hanyalah wanita yang pantas di sisimu. Kau bilang padaku, jika kau hanya mencintaiku. Ternyata janjimu itu hanyalah omongan belaka, hiks." Isak tangis Elisa menjadi-jadi.
"Aku tahu, ini salahku. Aku tidak bisa menjaga janji itu. Tapi, aku mencoba menunggumu, kau pergi ke LN terlalu lama. Aku sudah-"
"Bosan? Bosan menungguku?" tebak Elisa mengusap matanya.
"Bu-bukan begitu, Elisa. Aku-" ucap Devan berhenti sangat terkejut mendengar suara tangis Elisa semakin pecah. Wanita itu jatuh ke lantai dan menangis meluapkan kesedihannya dan juga kekesalannya.
"Aku-aku," lirih Elisa masih dalam tangisnya.
"Aku ke luar negeri untuk berobat, Dev. Aku mencoba agar bisa sembuh total agar aku tak menyusahkanmu setelah kita menikah. Aku lima bulan di sana hanya untuk kesembuhanku agar aku bisa menjadi istri yang sempurna untukmu. Aku memang lemah, aku memang punya penyakit. Tapi, saat kau berkata ingin menikahiku, aku langsung semangat untuk sembuh. Tapi-" Jelas Elisa terhenti dan melanjutkan tangisnya.
__ADS_1
Sungguh pilu, selama ini pengorbanannya untuk sembuh total malah dibalas dengan pengkhianatan. Devan juga tak sangka ucapannya adalah semangat untuk Elisa dan kali ini ucapannya malah menghancurkan hati wanita ini.
"Tapi, kau malah selingkuh dengan wanita lain."
"Hiks," isak Elisa tak sanggup lagi berkata-kata. Hanya tangis dan isakannya yang menemaninya di dalam kamar. Enam tahun menjalin kasih malah harus retak hanya karena kehadiran Ella yang tak sengaja dicintai oleh Devan.
"Elisa," lirih Devan memanggilnya.
"Aku minta maaf, ku harap kau mau maafkan aku." lanjut Devan mengepal tangannya. Memang sakit rasanya dikhianati, apalagi hubungan mereka sudah lama berjalan dan baik-baik saja. Tapi, sekarang malah berantakan.
"Maaf?" Elisa berdiri lalu melihat pintu kamarnya.
"Kau ingin maaf dariku?" lanjut Elisa bertanya.
"Ya, Elisa. Aku minta maaf, aku salah sudah mengkhianatimu," lirih Devan gemeteran ingat semua moment bersama dirinya dengan Elisa dulu. Canda tawa mereka lalui bersama, tapi sekarang tangis dan marah yang harus ia lalui sekarang.
"Aku-aku akan maafkan kau, asalkan ...." ucap Elisa terisak mengatur nafasnya.
"Asalkan kau ceraikan dia," jawab Elisa membuat Devan terkejut. Belum ada suara yang keluar dari mulut Devan. Tapi, mendengar tangis pilu Elisa membuat Devan sangat-sangat bersalah. Tapi, perasaannya tak bisa lagi berbohong dan tak bisa dipaksakan untuk menerima usulan Elisa.
"Maaf, El. Aku tak bisa," ucap Devan mengepal kedua tangannya. Seketika itupun, suara tangis Elisa tumpah kembali. Elisa jatuh ke lantai, duduk menutupi wajahnya. Sungguh bodohnya malam ini Devan tetap tak mau melepaskan Ella.
"Hiks," Isakan Elisa masih mewakili hatinya yang terluka.
"Pantas saja kau berubah, pantas saja kemarin kau selalu melihatnya, pantas saja kemarin aku ajak kau melakukan itu tapi kau menolaknya. Ternyata, kau sudah cinta mati dengan wanita lain dan pasti kau sudah tidur dengannya, kan?" tebak Elisa semakin bergetar memikirkan Devan berhubungan intim dengan Ella.
"Benar, aku mencintainya dan aku sudah melakukan itu padanya. Aku ... tak pantas untukmu, Elisa. Maafkan aku," lirih Devan memukul dinding di dekatnya. Tangis Elisa semakin kencang. Ini bagaikan pukulan untuknya tak sangka Devan benar-benar mengkhianati cinta yang tulus darinya.
__ADS_1
Elisa berdiri lalu berjalan terhuyung-huyung ke arah ranjang. Kedua kakinya lemas tak berdaya lagi. Bahkan suara dan kedua matanya sudah cukup untuk mewakili kesedihannya. Elisa jatuh tengkurap memeluk guling dan menahan tangisnya.
"Elisa ...." lirih Devan memanggilnya.
"Cukup! Aku tak ingin berbicara padamu malam ini!" pekik Elisa. Batinnya mulai terluka.
"Elisa, setelah kedua orang tuaku datang. Aku akan membatalkan pertunangan kita." Devan berkata sambil menatap pintu di depannya lalu pergi ke arah kamarnya meninggalkan Elisa yang menangis sekencang-kencangnya.
Suara gemericik air perlahan membasahi tubuh Devan. Mencoba untuk menjernihkan kepalanya. Apalagi suara tangis Elisa masih terngiyang-ngiyang di kedua telingnya.
"Argh!" racau Devan menjambak rambutnya sendiri. Kesal pada dirinya sendiri sudah melukai dua wanita sekaligus.
"Apa terlalu sakit mencintai dua perempuan sekaligus?"
Devan memukul tembok di dekatnya. Kesal bercampur amarah merasa dirinya begitu pengecut. Merasa bukanlah lelaki sejati yang sudah melukai dua wanita malam ini. Sakit rasanya meninggalkan Ella di panti asuhan dan sakit rasanya melihat Elisa menangis pilu seperti ini.
"Ma-maafkan aku, Ma. Anakmu ini memang bodoh dalam urusan cinta, aku terlalu bodoh tak seperti Papa yang begitu mencintaimu dan setia padamu. Sekarang, aku tak bisa lanjutkan pertunangan ini dengan wanita pilihanmu, semoga Ella bisa kau terima menjadi menantumu, Ma," lirih Devan menunduk memikirkan kedua orang tuanya.
"Aaargh!" racau Devan memukul tembok lagi. Devan keluar dari kamar mandi sudah selesai membersihkan tubuhnya dan memakai piyama. Devan menjatuhkan dirinya ke ranjang lalu meringkuk memeluk guling. Devan menutup kedua matanya memikirkan Ella yang dia peluk sekarang.
Begitupun Ella yang sekarang memeluk boneka biawaknya. Memeluk berharap sekarang suaminya yang dia peluk sekarang ini. Ella melihat Bu panti yang sudah tidur lalu duduk melihat keluar jendela. Memikirkan apa yang dilakukan Devan sekarang.
"Apa dia sudah tidur?"
Ella menunduk, menggenggam bonekanya lalu memeluknya kembali. Menyembunyikan tetesan bening yang jatuh dari kedua matanya. Menahan isak tangisnya, memikirkan apakah ini baik untuknya atau tidak. Ella kembali tidur lalu menghadap ke samping membelakangi Bu panti. Ella gemeteran merasa sesuatu telah membuatnya sedih. Malam ini terasa begitu hampa seperti kemarin malam. Tanpa kehadiran Devan, Ella tak bisa tidur sampai sekarang.
"Apa aku salah telah menerimanya kembali, Tuhan?"
__ADS_1
Ella memejamkan mata mencoba merenungkan keputusannya kali ini serta mencoba untuk tidur.
...______...