Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 62 : Surat Kontrak Hilang


__ADS_3

Pintu kamar mandi terbuka, Devan keluar habis mandi sore lagi. Devan memakai baju kaos lalu memakai celana biasa. Kedua mata Devan kini tertuju pada Ella yang tertidur masih dibalut dengan seprai yang sudah diganti oleh Devan. Devan tersenyum lalu duduk di dekat Ella. Tubuh Ella yang hanya dibungkus seprai membuat Devan jadi tergoda kembali. Tapi Devan sadar, tubuh Ella belum cukup menerima permainannya.


"Dia, kalau tidur memang manis. Pasti lelah rasanya sudah melayaniku tadi." gumam Devan mengelus poni Ella. Melihat wajah cantik Ella sambil mengelusnya sedikit. Ella perlahan membuka matanya. Samar-samar melihat Devan di dekatnya. Ella membola segera berbalik membelakangi Devan sambil menggigit bibir bawahnya.


"Oh ya ampun, aku pikir aku sedang bermimpi. Ternyata aku benar-benar melakukan itu bersamanya." pikir Ella sungguh malu. Ella perlahan berbalik kembali melihat Devan yang tertawa kecil melihatnya merona. Ella tersipu dibuatnya seperti ini.



"Tu-tuan, apa tadi itu sungguhan?" tanya Ella masih setia dengan seprai yang membalut tubuhnya. Devan melihatnya lalu mengelus rambut Ella.


"Apa kau pikir tadi kau sedang bermimpi?" Devan malah bertanya balik. Ella menutup wajahnya pakai seprai, malu dan takut untuk melakukannya lagi.


"Lain kali, aku tak mau lagi, Tuan. Aku belum siap, apalagi melahirkan anak. Saya takut, Tuan." lirih Ella dalam seprainya.


"Pfft, segitu penakutnya kah dirimu?" ucap Devan masuk ke dalam seprai lalu memeluk Ella. Ella tersentak tubuhnya dipeluk tiba-tiba, padahal belum pakai sehelai kain pun.


"Aku-aku tentu takut, apalagi melahirkan anak itu butuh perjuangan. Serta aku belum siap hamil dan juga melahirkan, Tuan." kata Ella terbata-bata merasa gugup.


"Kamu tahu dari mana melahirkan anak butuh perjuangan?" tanya Devan memeluk erat Ella. Ella mendongak melihat wajah Devan lalu menundukkan kepala.


"Aku pernah baca di buku, Tuan," jawab Ella gemeteran.


"Apa Tuan lelah?" lanjut Ella bertanya merasa Devan begitu erat memeluknya. Tak ada jawaban yang terdengar. Ella pun mendongak lagi dan melihat Devan malah tertidur. Suara nafasnya jelas terdengar sudah normal. Ella tersenyum kecil saja lalu perlahan ingin melepaskan tangan Devan yang merangkulnya.


"Fiuuuh ...." Ella membuang nafas berat lalu dengan hati-hati berdiri disertai seprainya. Rasa sakit di pinggangnya benar-benar terasa ingin remuk saja. Tapi seketika diabaikan saat melihat Devan yang mendengkur sedikit.


"Pfftt, sepertinya Tuan juga lelah," gumam Ella menahan tawa melihat Devan sangat tertidur pulas. Ella pun melihat jam dinding sudah pukul 16.35 sore.


"Ini waktunya aku masak buat makan malam."


Ella melangkah ingin ke kamar mandi tapi berhenti lalu berbalik melihat Devan sebentar. Ella mendekati Devan dan tersenyum.


"Apa surat kontrak akan dibatalkan dan Tuan akan memberiku pesta pernikahan?" pikir Ella lalu menundukkan kepala.


"Hm, sepertinya ... aku sekali lagi harus berharap padanya." lanjut Ella menyentuh wajah Devan sambil menunjuk-nunjuknya sedikit.


"Tuan ... kalau tidur lucu juga." Ella tertawa kecil lalu lari ke kamar mandi untuk siap-siap masak buat makan malam.


Setelah selesai mandi, Ella buru-buru mencari pakaian untuknya. Ella kini sudah siap dan segera keluar dari kamar. Ella berjalan ingin menuruni tangga dan tak sengaja bertemu Elisa dan Maysha. Elisa geram melihat Ella keluar dari kamar Devan. Ia pun segera mendekati Ella lalu menatapnya tajam. Kedua mata Elisa tertuju pada bekas cupan di leher Ella.


"Kau, apa yang kau lakukan di kamar calon suamiku, ha!" bentak Elisa mendorong sedikit Ella. Ella mengepal tangan lalu menatapnya balik.


"Tuan Devan adalah suamiku. Ini tidak masalah jika aku dari kamarnya. Tapi, jika kau yang keluar dari kamar suamiku, itu baru masalah. Jadi, permisi saya mau turun masak." kata Ella tak mau kalah lalu berjalan melewati Elisa. Tapi ditahan oleh Elisa yang memendam kekesalan.

__ADS_1


"Ck, ternyata kau masih berani padaku!" decak Elisa mencekram kuat tangan Ella. Ella meringis dan segera menepisnya.


"Aku tentu berani dan tak takut padamu. Lagian juga aku istri sah-Nya jadi aku tak usah kuatir lagi padamu yang kasar ini." kata Ella ingin berbalik tapi berhenti setelah mendengar tawa Elisa.


"Ahahaha, istri sah? Hei, gadis miskin! Kau ini cuma istri kontrak. Mana mungkin kau akan bisa bertahan sebagai istrinya Devan. Kau harus pikir-pikir dulu sebelum mengucapkan itu, dasar bodoh!" tawa Elisa menunjuk kepala Ella lalu pergi begitu saja sambil tertawa. Ella menunduk, menggegam kedua tangannya.


Maysha sedih melihat perdebatan barusan dan segera mendekati Ella. Maysha meraih tangan Ella lalu mendongak melihat wajah Ella. Kedua mata gadis muda ini nampak ingin menangis setelah mendengar cacian dari Elisa.


"Bun-nah, cidak apa-apa?" tanya Maysha. Ella mengusap matanya lalu tersenyum.


"Tidak apa-apa kok," jawab Ella mengelus rambut Maysha.


"Oh ya, kenapa Maysha bisa sama dia. Maysha dari mana?" lanjut Ella berjongkok di depan Maysha.


"Maysha cadi bangun Bun-nah. Celus Maysha mawu popok. Capi cidak ada yang cemening. Jadi, Maysha pelgi bangunin Bibi Syasa," jelas Maysha melihat Ella.


"Ahaha, ternyata begitu. Pantas saja dia kesal. Ternyata bantu Maysha buat BAB ya. Oh ya, yang cebokin Maysha siapa?" tanya Ella disertai tawa kecilnya.


"Bibi Syasa, Bun-nah. Bibi Syasa cadi bicala sendili di kamal. Malah-malah sama cembok, hihiihi." tawa Maysha cekikikan.


"Bun-nah cadi dali mana?" lanjut Maysha bertanya.


"Dari kamar sana!" Tunjuk Ella pada kamar Devan.


"Bun-nah buac apa di kamal Dejhi?" tanya Maysha polos.


"Hm, Debay? Debay apa cuh Bun-nah?" tanya Maysha tidak tahu.


"Bukan apa-apa, sini temani Bunda ke dapur. Maysha mau gak?"


"Hm, Maysha mawu. Maysha lapal Bun-nah." ucap Maysha mengelus perutnya yang habis BAB [Buang air besar].


"Ahaha, ya sudah. Sini sama Bunda turunnya." Ella tertawa lucu dan meraih tangan kecil Maysha lalu dengan riangnya menuruni tangga. Elisa yang tadi menguping di balik dinding merasa geram.


"Ck, apa tuh Debay? Apa dia sudah macam-macam pada Devan?" pikir Elisa marah karena tak tahu apa itu Debay.


"Aku tak boleh biarkan dia lama-lama di villa ini. Devan itu calon suamiku, malam ini aku akan memaksa Devan ikut denganku ke pesta. Aku tak akan biarkan dia dekat-dekat lagi sama Devan." batin Elisa tersenyum miring lalu pergi ke kamarnya.


Sudah beberapa menit berlalu. Devan mulai menggeliat lalu terbangun. Devan menyentuh kepalanya sambil duduk di atas kasur. Devan terkejut tak melihat Ella di dalam kamarnya.


Devan pun beranjak berdiri lalu berjongkok melihat ke bawah ranjang untuk melihat Ella. Merasa jika Ella mungkin lagi tidur di bawah ranjang. Tapi nyatanya, tidak ada sama sekali dan malah kedua matanya tertuju pada koper kecil miliknya. Devan meraihnya lalu meletakkannya di atas kasur. Devan membuka password lalu terkejut melihat isi koper ada yang hilang. Devan mengambil satu berkas yang ada. Berkas-berkas hak waris Ella.


"Di mana surat kontrak dan nikahku?"

__ADS_1


Devan membongkar isi koper dan ternyata tak ada sama sekali. Devan kesal lalu mengambil surat hak waris Ella lalu keluar dari kamar. Beranggapan jika Ella yang mengambilnya tanpa izin darinya.


Ella nampak tertawa kecil bersama Maysha yang sedang menyiapkan makan malam. Maysha kini duduk manis di kursi, sedangkan Ella sedang menggoreng ikan. Namun, tiba-tiba saja seseorang memeluknya dari belakang.


"Ella," panggil Devan ke telinga Ella. Ella mematikan kompor lalu berbalik melihat Devan yang berdiri di depannya.


"Tu-tuan, kau sudah bangun?" Ella terbata-bata. Sungguh malunya Devan memeluknya di depan Maysha.


"Ya, aku bangun karena tidak ada dirimu di sampingku. Tapi, rupanya Istriku sedang memasak sendirian di sini," ucap Devan tersenyum melihat Ella sungguh tau pekerjaannya.


"Hehe, iya. Ini sudah mau malam, jadi aku pergi masak dulu." Ella cengengesan sambil menunduk. Devan melihat surat hak waris Ella lalu meraih tangan Ella.


"Ini apa, Tuan?" tanya Ella melihatnya.


"Ini hak waris Ayahmu. Hansel menemukannya saat dia menggeledah rumah Ayahmu. Jadi sekarang, kau pemilik rumah itu. Kau sudah bisa laksanakan keinginanmu untuk jadikan panti asuhan," jawab Devan membuat Ella terkejut.


"Be-benarkah, Tuan?" tanya Ella nampak tak percaya.


"Benar, sayang." kata Devan mengelus rambut Ella dengan lembut. Ella sontak memeluknya, merasa sungguh senang akhirnya dapat memiliki rumah Ayahnya.


"Te-terima kasih, Tuan." ucap Ella ingin menangis.


"Sama-sama. Sekarang, lepaskan aku, Ella. Apa kau tak malu memelukku di depan Maysha?" ucap Devan melirik Maysha yang diam terpaku menatap mereka.


"Astaga, maaf Tuan." Ella mengusap kedua matanya lalu tersenyum dan melirik Maysha yang kini senyum-senyum sendiri. Ella menunduk merasa malu.


"Oh ya, Ella. Apa kau yang ambil surat kontrak dan surat nikahku tadi di kamar?" tanya Devan melihatnya.


"Tidak, aku tidak ambil. Aku bahkan tidak tahu di mana tempatnya. Memangnya kenapa, Tuan?" tanya Ella ingin tahu.


"Tidak apa-apa. Kamu lanjut masak dulu. Aku mau ke atas sebentar," kata Devan tersenyum lalu pergi menaiki tangga meninggalkan Ella dan Maysha yang penasaran.


"Jika bukan Ella, berarti ini ulah Elisa?" pikir Devan segera membuka laptopnya dan melihat CCTV. Kedua mata Devan seketika membola melihat Ella jatuh didorong oleh Elisa dari kamar lalu Devan segera mempercepatnya.


"Astaga," Devan terkejut. Ternyata dari rekaman ini, Elisa nampak keluar dari kamar Devan dengan berkas di tangannya. Surat kontrak dan nikah sudah jelas ada di tangan Elisa. Devan kembali terkejut melihat Elisa dan Ella berdebat di dekat telepon rumah. Apalagi kedua matanya melebar melihat Elisa mencekik Ella.


"Elisa! Tingkahmu tidak seperti ini dulu! Kenapa kau semakin melunjak!" geram Devan menutup laptopnya lalu berdiri keluar dari kamar menuju ke kamar Elisa dengan perasaan kesal dan marah pada Elisa yang sudah mengambil sesuatu tanpa izin darinya.


...________...


...Beri like (👍) komen (💬) dan favoritkan (❤) ya readers 😍Supaya author semangat!! Terima kasih sudah mampir di ceritaku ini...


...Instagram : @asti.amanda24...

__ADS_1


...YouTube : Aran Channel...


...🌷•|| Semoga suka ya ||•🌷...


__ADS_2