Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 78 : Pergilah Jauh


__ADS_3

Ny. Chelsi menyapu pakaiannya yang tersentuh oleh Ella barusan. Merasa Ella bagaikan dekil dan bakteri yang sudah berani menabraknya. "Kau siapa?" Ny. Chelsi kembali bertanya dan melihat Ella yang terdiam.


"Apa Mama tak mengenalku?" batin Ella tak percaya Ibunya benar-benar tak mengenalinya sama sekali.


"Kenapa diam saja, apa kau tuli dan bisu?" ucap Ny. Chelsi menatapnya dari bawah sampai ke atas.


Ella terdiam, bukan karena dia bisu atau tuli, tapi ini karena dia sudah tak bisa lagi bicara, apalagi suaranya mulai serak. Ny. Chelsi menghela nafas mengira dugaannya benar.


"Minggir." Ny. Chelsi menyenggol bahu Ella lalu berjalan ingin meninggalkannya. Ella tersentak diperlakukan seperti tadi.


"Mama tidak mengenalku sama sekali? Mama tak bisa melihatku dengan jelas? Segitu buruknya aku hingga Ibuku sendiri memperlakukan aku seperti ini?" Ella kembali berbalik langsung mengejar Ny. Chelsi.


"Tunggu, Mah!" panggil Ella berhasil meraih tangan Ibunya. Ny. Chelsi terkejut tangannya ditahan dan ditambah lagi gadis yang dia temui malah memanggilnya Mamah. Ny. Chelsi menepis tangan Ella lalu menatapnya sinis.


"Kau sepertinya salah orang, aku bukan Ibumu. Aku tak punya anak sepertimu, dan aku cuma punya satu putri saja." Ny. Chelsi berjalan kembali. Begitu angkuhnya hingga Ella ditepis begitu saja. Ella terdiam, pasti ini yang akan terjadi.


"Aku Ara, Mah!" pekik Ella berusaha teriak diantara isak dan suaranya yang semakin serak.


"Ara?" Ny. Chelsi langsung berhenti lalu berbalik melihat Ella.


"Kau Ara?" tanya Ny. Chelsi melihat Ella dari atas sampai ke bawah. Ella segera menggangguk dan sedikit tersenyum.


"Ya, aku Ara, Mah. Aku putrimu juga yang kau tinggalkan sejak kecil." Ella mulai berbicara, suaranya begitu kecil sambil menepuk sedikit dadanya.


"Mamah," lirih Ella berjalan mendekati Ny. Chelsi. Isak tangisnya mulai lagi terdengar, berharap Ny. Chelsi tak mengabaikannya kali ini.


"Mamah ingat aku, kan?" Ella meraih kedua tangan Ny. Chelsi, mencoba menggenggam kedua tangan yang sudah lama tak pernah disentuh olehnya dan selama lima belas tahun Ella akhirnya merasakannya juga. Ella meletakkan tangan kanan Ibunya ke pipinya. Menutup mata sambil terisak.


"Mamah kenapa tidak pernah temui aku?" tanya Ella menatap kedua mata hitam Ibunya. Bukan jawaban yang diterima, tapi Ny. Chelsi malah menarik paksa tangannya membuat Ella terkejut.


"Kau salah orang!" ucap Ny. Chelsi sinis dan mempertegaskan lalu kembali berjalan meninggalkan Ella.

__ADS_1


"Kenapa Mamah perlakukan aku seperti ini! Aku Ara, Mah! Apa Mama tau, Papa sudah meninggal dan sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Mamah!" lirih Ella begitu sakit dan teriris hatinya tahu Ibunya sendiri mengabaikannya lagi.


Deg!


Detak jantung terdengar sedikit keras, Ny. Chelsi berhenti lalu melihat Ella kembali. Terkejut mantan suaminya sudah meninggal.


"Kau ...."


"Ya, Mah. Papa sudah lama meninggal, Mama baru tau kan?" lirih Ella mendekatinya lagi.


"Mah, jangan diam saja. Katakan lah sesuatu." Ella menatapnya kembali, menunggu suara Ibunya. Matanya berkaca-kaca dengan sedikit senyuman. Tapi Ny. Chelsi malah menatapnya sinis lalu berbalik.


"Aku tak mengenalmu dan tak peduli pada Ayahmu."


Senyum Ella seketika hilang mendengar kalimat dari mulut Ibunya. Benar-benar diluar dugaannya. Ella berpikir, Ibunya akan menangis dan mengatakan jika dirinya merindukannya. Namun ternyata itu hanyalah angan-angan belaka.


"Aaah! Kenapa, kenapa Mama begini! Kenapa Mama perlakukan aku begini, aku juga anakmu, aku tak ada bedanya dengan Kak Shella. Mama jangan pilih kasih, aku selama ini merindukanmu, Mah. Apa tidak ada sedikitpun kerinduanmu kepadaku dan Ayah?" Tangis Ella menjadi-jadi di belakang Ny. Chelsi.


"Tidak, aku tak akan pergi. Mama katakan sesuatu padaku! Katakan, kalau Kak Shella masih hidup. Mama berbohong, Kak Shella masih hidup kan?" racau Ella meraih tangan Ny. Chelsi dan menggoyangkannya sedikit.


"Jawab, Mah! Jawab!" ujar Ella tak henti-hentinya terisak.


"Aku sudah katakan, kalau aku tak mengenalmu!" bentak Ny. Chelsi menepis tangan Ella hingga tubuh gadis ini terbentur ke tembok.


"Aku Nyonya Chelsi! Tak pernah mempunya putri sepertimu yang manja dan cengeng! Jadi pergilah!" Sekali lagi Ny. Chelsi membentaknya. Mata Ella melebar, tak sangka Ibunya sendiri masih tidak mengakuinya. Ella menunduk, tau dan mengerti ucapan Ibunya ada benarnya, jika dirinya memanglah cengeng dan lemah.


"Sekarang jangan katakan itu lagi." Ny. Chelsi mulai berjalan. Ella melirik punggung Ibunya dan menggenggam kuat tangannya. Kini berpikir, kemana harus dia pergi sedangkan dirinya sudah tak punya siapa-siapa lagi.


"Tunggu, Mah! Aku sudah tahu, Elisa adalah Shella. Dia kakakku yang selamat atas kebakaran yang lalu. Aku akan ... akan melepaskan Tuan Devan untuknya," ucap Ella terpaksa. Meski sebenarnya dirinya masih tak rela melepaskan Devan, tapi kini cuma Ibunya satu-satunya harapan dirinya berlabuh mendapatkan kebahagiaan.


"Maksudmu?" Ny. Chelsi berbalik melihat Ella yang amat menyedihkan. Ella berjalan ke arah Ibunya dan kembali tersenyum.

__ADS_1


"Elisa, Elisa itu Shella kan, Mah?" tanya Ella memastikan sebelum menjelaskan. Ny. Chelsi terdiam lalu menunduk.


"Katakanlah sejujurnya, Mah. Aku tidak akan marah, aku tetap sayang Mama. Jadi jujurlah, Mah." Sekali lagi Ella meminta kebenaran.


"Huft, baiklah. Kau memang putriku, dan Elisa adalah kakakmu yang berhasil selamat," ucap Ny. Chelsi menghela nafas. Sedikit tak tega pada putrinya satu ini. Apalagi kedua mata Ella mulai sembab. Ella terisak, kini dirinya telah diakui dan mengetahui sebanarnya.


"Kau tadi bilang Tuan Devan, apa itu Presdir Devan?" tanya Ny. Chelsi tanpa ekspresi sedikitpun. Bahkan tak ada rasa bersalah sedikitpun yang dia perlihatkan sekarang.


"Ya, dia suamiku ... bukan, dia bukan lagi suamiku." Ella menggelengkan kepala. Tidak seperti Ny. Chelsi yang terkejut mendengarnya.


"Jadi kau yang dinikahi Devan? Kau yang merebut kekasih kakakmu sendiri! Apa kau sudah bodoh!" bentak Ny. Chelsi mengamuk. Ella meraih segera tangan Ibunya. Tahu jika Ny. Chelsi kini marah besar padanya.


"Tidak, Mah. Aku tidak sengaja merebutnya, aku memang salah sudah dekat dengannya. Tapi Mama jangan marah, aku sudah tak punya hubungan apa-apa lagi dengannya. Jadi, ku mohon, aku boleh kan ikut sama Mamah pulang?" mohon Ella penuh harap. Meski villa Devan tak bisa lagi ditempati setidaknya Ella bisa tinggal bersama Ibunya. Tapi sekarang Ny. Chelsi malah langsung mendorong Ella hingga jatuh ke lantai.


"Kau gila! Kakakmu sekarang masuk rumah sakit gara-gara kau! Kau ternyata perusak hubungan kakakmu sendiri. Kau bukan lagi putriku, jadi pergilah!" ujar Ny. Chelsi murka membuat Ella terperanjak. Ella segera berdiri lalu memohon kembali.


"Tidak, Mah. Aku tidak sengaja, aku benar-benar tidak tahu jika akan seperti ini. Mama jangan usir aku, aku ingin tinggal bersamamu, Mah."


Ny. Chelsi diam dan menatap geram Ella. Ella sedikit mundur, takut kemarahan Ibunya yang meluap.


"Tidak ada tempat bagimu di sisiku, pergilah jauh atau usul Ayahmu saja!"


Jeddar!


Petir menggelegar di luar rumah sakit membuat pengunjung terkejut apa lagi makin terkejut mengenali Ny. Chelsi membentak seorang gadis yang menangis tersedu-sedu di depannya.


"Baik, baik. Aku akan pergi, hiks. Ku harap Mama tidak menyesal!" pekik Ella berbalik lalu lari menjauhi Ny. Chelsi. Air matanya mengalir deras dari kedua pelupuk matanya. Sakit bagaikan tertusuk duri mendengar kemarahan Ibunya. Apalagi dirinya bagaikan dibedakan oleh saudaranya sendiri.


"Aku hanya ingin tinggal bersamamu Mah, tapi Mama tega dan tetap berusaha mengusirku. Apa tidak ada tempat yang bisa memberiku kebahagiaan, Tuhan." Ella mengadu memohon kebahagiaan sekali lagi. Berlari pergi dari rumah sakit, menerjang gemuruh petir yang menggelegar di atas langit.


Ny. Chelsi menyandarkan punggungnya ke dinding. Menutup wajahnya, menyembunyikan air mata yang akhirnya jatuh ke wajahnya. Tidak tega dan merasa sangat bersalah sudah memperlakukan putri keduanya.

__ADS_1


"Maafkan Mama, Ara. Mama terpaksa, demi Kakakmu. Mama tak bisa mengakuimu, Nak. Mama takut, jika Mama jujur, suami Mama pasti akan marah dan meninggalkan Mama serta tak bisa membiayai kakakmu lagi. Maafkan aku, Shan. Kau benar, aku tak pantas jadi Ibu." Tangis Ny. Chelsi pecah di setiap langkahnya menyusuri jalan menuju ke ruangan Elisa. Perih dan sakit sudah memperlakukan putrinya barusan. Ny. Chelsi segera mengusap kasar kedua matanya.


__ADS_2