Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 88 : Buah Hati


__ADS_3

Devan melepaskan pelukannya, menatap saksama wajah gadis yang dia rindukan. Sangat jelas, tatapan keduanya tak dapat teralihkan lagi. Bahkan masih tak peduli pada pengunjung yang sedikit terkejut melihat Devan datang ke cafe dengan penampilan style pernikahan. Sementara gadis di depannya hanya berpenampilan biasa-biasa saja.


Kini keduanya menunduk bersamaan, tersipu dan merona menahan malu dengan pertemuan yang agak sedikit berlebihan. Teriakan Devan yang menggila barusan masih terngiang-ngiang di telinga mereka.


Kini keduanya saling menatap satu sama lain, disertai rasa canggung dan gugup mulai menyelimuti keduanya lalu tertawa kecil seperti orang yang baru bertemu saja. Apalagi senyum Devan tak bisa sirna sekarang. Ini hari yang sangat bahagia untuknya, bukan karena hari ini pernikahannya, melainkan bahagia dapat melihat kembali senyuman istrinya lagi. Devan menghela nafas sebentar lalu meraih kedua tangan Ella.


"Aku pikir kau meninggal sudah jatuh ke sungai, ternyata kau ada di sini, aku benar-benar senang melihatmu kembali," ungkap Devan berkata serius. Rasa kuatir dan cemas masih jelas terlihat di kedua mata Devan membuat Ella menunduk kembali.


"Maaf sudah pergi darimu dan sudah membuatmu sedih-" ucap Ella seketika menerima kecupan lembut dari Devan di pipi kanannya. Matanya sedikit terbelalak mendengar perkataan Devan sekarang.


"Tidak, ini bukan salahmu. Aku yang minta maaf, sudah membuatmu menderita selama ini. Tapi percayalah, sejak kau tidak ada di sisiku, aku selalu memikirkanmu, aku kesepian, aku juga menderita, serta aku sangat merasa bersalah tidak mengejarmu waktu itu. Tapi kini aku sadar, kau yang paling terpenting bagiku sekarang dan sangat takut kehilanganmu." Jelas Devan menepuk dadanya sedikit.


Ungkapan Devan membuat Ella mengeratkan genggamannya, menunduk lalu melihat keseriusan mata Devan. Wajahnya memerah, lalu ingin memeluk Devan. Tapi tinggal sedikit sejengkal tangan, Ella berhenti lalu mengurungkan niatnya dan melepaskan kedua genggaman Devan. Mengingat dirinya punya penyakit TBC yang bisa saja menular.


"Sepertinya kau salah,"


"Salah apanya?" tanya Devan heran melihat Ella tiba-tiba berubah murung.


"Hari ini yang paling penting adalah pernikahanmu dengan Elisa, bukan aku. Jadi kembalilah, sebelum-"


"Tidak Ella, tidak seperti itu. Hari ini memang berharga bagiku, bisa melihatmu setelah tiga minggu berpisah denganmu, dan aku datang padamu ingin membawamu bersamaku pulang. Hari ini yang akan menikah denganku adalah kamu bukan Elisa," ucap Devan menyentuh dan mengelus kedua pipi Ella dengan lembut.


"Aku?" Tunjuk Ella pada dirinya sendiri.


"Ya, sayang. Kau pengantin wanitaku, aku akan menikahimu sore ini. Jadi sekarang kemarilah, aku akan berikan pesta pernikahan yang megah untukmu." Devan meraih tangan kanan Ella lalu dengan perlahan menuntunnya ke arah motornya.


Tapi Ella berhenti sebentar. "Apa orang tuamu akan menerimaku?" Devan seketika berhenti lalu melihatnya, terkejut sedikit mendengar pertanyaan Ella.


"Tentu saja, orang tuaku baik. Aku yakin, setelah melihatmu, mereka akan merestui hubungan kita." Kata Devan menyakinkan Ella yang ketakutan.


"Benarkah itu?" tanya Ella sedikit gemeteran.


"Hei," ucap Devan menepuk pelan kedua pipi Ella. Tersenyum memberi keyakinan yang pasti.


"Kamu tidak usah takut, kedua orang tuaku bukan monster pemakan manusia. Mereka itu orang tua yang baik."


"Pfft," Ella menahan tawa mendengarnya. Bisa-bisanya Devan menyakinkannya seperti itu.


"Sekarang kamu percaya kan padaku?" Devan mengcak-acak sedikit rambut Ella lalu tersenyum melihatnya mengangguk kepala.


"Hm, aku seratus persen percaya padamu." Kata Ella menunjuk dada Devan. Devan kegirangan, akhirnya Ella sepenuhnya percaya padanya kali ini. Devan dengan riang langsung menuntun Ella kembali ke motornya, tak sabar membawa Ella pulang untuk mengenalkan pada orang tuanya.


Tapi sayangnya, rasa riang itu sirna setelah melihat ban motornya kempes. Devan memutarinya, memperhatikan keseluruhan motornya. Ternyata sebuah paku besar tertancap di ban motornya hingga bocor.


"Aish, kenapa malah jadi gini sih! Baru juga senang-senangnya, tapi kamu malah buat aku kecewa! Sama halnya dengan pemilikmu saja, sial!" umpat Devan menggerutu sana sini, bahkan menendang ban motor milik Rafa. Melihatnya kesal, membuat Ella hanya bisa tertawa kecil lalu menunduk, sedikit batuk. Tapi suara batuknya cukup terdengar jelas di kedua telinga Devan.


Huk! Huk!


Devan segera menoleh lalu bertanya, "Kau kenapa sayang?" tanya Devan cemas melihat Ella membelakanginya. Ella segera berbalik lalu tersenyum manis, menyembunyikan kedua tangannya yang terdapat bercak darah di telapak tangannya.


"Tidak apa-apa, cuma batuk biasa gara-gara asap tadi," jawab Ella mengelap diam-diam telapak tangannya menggunakan tissu yang sempat dia ambil dari sakunya.


"Asap? Asap mana?" tanya Devan, ekspresinya berubah sangar ingin memarahi seseorang yang sudah berani membuat istrinya batuk berdahak.


"Ehehe, sudah pergi. Kau jangan gampang marah ya." Mohon Ella tertawa kecil dan menenangkan Devan yang sibuk melihat sekeliling mencari pengendara yang mengeluarkan asap.


"Tapi, kau-" ucap Devan berhenti sebab menerima pelukan dari Ella.


"Aku baik-baik saja kok, kau tidak usah cemas. Sekarang, bisakah kita pergi cari angkot atau kendaraan lain?" mohon Ella mulai melemah, seluruh tubuhnya terasa lemas kembali. Tak bisa berdiri terlalu lama di tepi jalan.


"Baiklah, sini kita cari sama-sama." Devan membuka kemejanya, memasangkan pada Ella lalu kembali menariknya meninggalkan motor Rafa, menyusuri tepi jalan hanya berdua saja dan saling bergandengan tangan.



Suasana di sekeliling mulai sepi, tak ada satu pun kendaraan yang dapat mereka tumpangi. Namun tiba-tiba Devan berhenti. "Ella, kau kenapa lagi?" tanya Devan cemas melihat Ella membungkuk sedikit menyentuh dadanya mulai sesak. Ella mengusap kedua matanya lalu tersenyum menatap Devan, menyembuyikan nafasnya yang mulai sesak.


"Aku sudah lelah, bisakah kita berhenti sebentar?" Devan tidak berbicara, melainkan langsung menggendong Ella. Gadis ini langsung terkejut dengan tindakan Devan.


"Turunkan aku, aku berat tau. Tidak usah menggendongku."


"Berat? Mana ada, kamu ini ringan. Karena kamu lelah, jadi aku akan menggendongmu sampai ke rumah Ibu dan Ayahku. Kau menurutlah, aku tak mau kamu lelah sampai di sana." Kata Devan mulai perhatian. Ella menunduk, tersipu mendengarnya.


"Baiklah, maaf sudah merepotkanmu." Kata Ella langsung mencium pipi Devan dan melemaskan sedikit tangannya yang melingkari leher Devan dari belakang. Devan menoleh melihatnya, membola sedikit sudah diberikan kecupan tadi, lalu menunduk menyembunyikan wajahnya yang merona dan mulai senyum-senyum sendiri. Ella yang menyadarinya, hanya tertawa dalam hati.


"Pfft, apa dia tidak pernah dicium sama sekali? Wajahnya begitu memerah."


Sudah beberapa menit berlalu, tapi tak ada satu pun kendaraan yang lewat. Meski begitu, Devan masih sanggup menggendong Ella yang semakin lemas di punggungnya.


"Apa masih jauh?" lirih Ella bertanya, mencemaskan Devan yang dari tadi diam saja. Takut Devan ikut lelah berjalan dari tadi.


"Sudah dekat, kau sabar saja."

__ADS_1


"Apa kau tak capek?" tanya Ella lagi.


"He, mana ada. Aku ini sangat kuat!" sahut Devan mulai lagi menyombongkan dirinya lalu kembali diam memikirkan Ayahnya, takut jika Ella benar-benar tak akan diterima. Sangat jelas, kekuatiran itu terlihat di wajahnya yang murung.



Ella bukannya tertawa malah semakin cemas, lalu tak sengaja melihat restoran yang sering dia kunjungi dulu bersama Devan. Ella pun berniat untuk ke sana melepaskan lelahnya. "Tuan," ucap Ella kembali bicara.


"Ya ada apa?" Devan berhenti sebentar.


"Bisakah kita istirahat dulu?" Ella kuatir, sangat takut Devan akan sakit jika menggendongnya terus menerus.


"Baiklah, mumpung kita sampai di restoran ini. Kita masuk makan dulu." Devan membawa Ella ke restoran. Kini semua pandangan mata tertuju padanya. Devan segera menunduk, was-was jika ada yang mengenalinya. Pasangan ini duduk di sudut restoran mengasingkan diri dari pandangan mereka. Untung saja, tadi ada syall Ella yang Devan gunakan untuk membalut lehernya menyembunyikan sebagian wajahnya.


Ella hanya duduk lemas tak memperhatikan makanan di depannya. Nafsu makannya tak ada sama sekali, bahkan tak sedikitpun menyentuh makanan itu yang telah dipesan oleh Devan.


"Kenapa tidak makan juga?" tanya Devan menatapnya yang diam saja, apalagi bibir Ella terlihat pucat.


"Kamu baik-baik saja kan?" Sekali lagi Devan bertanya lalu ingin menyentuh kening Ella, tapi Ella dengan cepat menghindarinya membuat Devan sedikit terkejut dengan tingkahnya yang aneh.


"Aku-aku baik kok, tadi cuma sedikit lelah. Sekarang kita makan saja," acuh Ella mengambil sendok, tapi tak kuasa mengambil makanan. Tangannya bergetar mulai merasa menggigil.


"Sini, biar aku suapin kamu," ucap Devan semakin perhatian lalu mengambil sendoknya, mengambil sesendok nasi untuk Ella. Tapi gadis di depannya tak mau membuka mulut.


"Biar aku saja," lirih Ella menolaknya halus lalu menunduk. Tanpa sadar setetes air mata jatuh kembali. Rasa sakit dan lemas menyelimuti tubuhnya. Tak ada nafsu makan sama sekali. Ingin jujur jika dirinya menderita TBC, tapi takut jika Devan akan meninggalkannya sudah mempunyai penyakit yang bisa saja menular pada siapu pun. Sekaligus mungkin tak ingin membuatnya sedih.


Krek!


Kursi di dorong ke belakang, Devan berdiri lalu berpindah duduk di dekat Ella. Sedikit terkejut melihat Ella tiba-tiba menangis dalam diamnya. Devan memeluknya, berpikir entah apa yang dikuatirkan gadis ini lagi.


"Hei, kamu kenapa menangis?" tanya Devan menatap kedua mata Ella yang berair.


"Apa kita akan bersama nanti?" lirih Ella bertanya balik.


"Tentu saja, setelah ini kita akan selalu bersama," jawab Devan mengelus rambut Ella. Ella terisak kembali, menatap bergatian kedua mata Devan lalu memeluknya erat.


"Aku tak mau pergi darimu lagi, aku janji." Devan dengan lembut hanya mencium puncak kepala Ella.


"Baguslah, aku senang mendengarnya. Sekarang, kamu makan. Aku akan nyanyikan satu lagu untukmu." Devan berdiri lalu meminjam gitar pada orang di belakangnya. Ella pun melihat gitar itu dipetik oleh Devan yang kini duduk kembali di dekatnya.


"Kamu mau apa?" tanya Ella sedikit malu dilihat banyak orang. Suasana seketika hening mendengar petikan gitar Devan mulai mengeluarkan nada.


"Sekarang, kamu dengarkan saja. Lagu ini sangat spesial untukmu malam ini."


Devan mulai bersenandung menyanyikan lagu My Heart. Ella hanya terdiam menikmati petikan gitar Devan. Memang terdengar baik dari pada petikan gitar Rafa yang lalu. Bahkan Ella ikut bersama menyanyikan lagu yang indah untuk malam ini dengan suara lirihnya.


Disini kau dan aku...


Terbiasa bersama...


Menjalani kasih sayang...


Bahagia kudenganmu...


Pernahkah kau menguntai...


Hari paling indah...


Ku ukir nama kita berdua...


Disini surga kita...


Bila kita mencintai yg lain...


Mungkin kah hati ini akan tegar...


Sebisa mungkin tak akan pernah...


Sayang ku akan hilang...


If you love somebody...


Could we be this strong...


I will fight to win...


Our love will conquer all...


Wouldn't risk my love...


Even just one night...

__ADS_1


Our love will stay in my heart...


My heart...


Petikan terakhir akhirnya mencairkan suasana. Semua orang bertepuk tangan merasa ikut terhibur. Devan tersenyum bahagia melihat Ella mengusap matanya, benar-benar terharu menunjukkannya kepada semua orang. Devan berdiri lalu berlutut di depan Ella.


"Wah, sepertinya bakal ada yang mau dilamar nih?" seru pengunjung senyum-senyum sendiri lalu melihat Devan.


"Kau sedang apa?" tanya Ella ketakutan dan deg-degan, wajahnya mulai merona dahsyat. Devan tak menjawab, melainkan meraih tangan kiri Ella lalu mengeluarkan sebuah kotak merah. Kotak cincin pernikahan yang sudah awal dibeli Devan sebelum ke cafe.


Devan tanpa rasa ragu-ragu mulai mengutarakan niatnya. "Malam ini, aku Devandra Welfin, bersungguh-sungguh dan yakin ingin mengikatmu dalam hidupku, mencintaimu tulus, menerimamu apa adanya, menyayangimu sepenuh hati. Memberimu kebahagiaan selalu. Aku berjanji akan setia pada satu wanita yang aku cintai diseluruh hidupku dan wanita itu adalah kamu, Ella. Jadi," ungkap Devan membuka kotak itu lalu menunjukkannya pada Ella. Sebuah cincin emas yang indah dan cantik terpancar dari kotak merah di tangannya.


"Jadi, mau kah kau menikah denganku, sayang?"


Ella tertawa kecil sebentar mendengarnya. Sangat lucu, Devan benar-benar melamarnya di tempat umum.


"Bukannya kita sudah menikah?" ucap Ella melirik para pengunjung yang seakan menanti Ella memakai cincin itu.


"Memang sudah, tapi cincin dan pesta pernikahan belum aku berikan untukmu. Jadi mari kita menikah lagi. Kita bangun hubungan ini dari awal lagi. Apa kau mau, Ella?" Devan memohon, berharap tidak ditolak. Jantungnya mulai berdebar-debar sendiri.


Ella menunduk lalu berkata, "Maaf, aku tak bisa."


Deg!


Semua pengunjung langsung tercengang, begitupun Devan ingin shock mendengar penolakan Ella. Devan pun berdiri lalu menurunkan tangannya merasa kecewa. Tapi rasa kecewa itu sirna ketika melihat Ella berdiri lalu tersenyum manis padanya.


"Maksudku ... aku tak bisa menolakmu." Peluk Ella dengan cepat membuat Devan membola senang, lalu melompat kegirangan. Lamaran cintanya berjalan lancar, apalagi begitu banyak saksi mata malam ini membuat Devan yakin seyakin yakinnya.


"Yes! Aku mencintaimu, Ella!" pekik Devan menggila kembali lalu memeluk erat Ella. Suara seruan pengunjung bertepuk tangan memecah kericuhan isi restoran, tawa kekeh mereka melihat tingkah Devan yang lucu membuat Ella kian merona apalagi sekarang dipasangkan cincin olehnya.


"Sekarang kita pulang malam ini!" seru Devan mengembalikan gitar itu dan bahkan pergi membayar semua pesanan pengunjung di dalam restoran. Namun, suara teriakan terdengar mengagetkannya. Spontan Devan berbalik dan membola melihat Ella tergeletak di pangkuan seorang wanita.


"Ella!" teriak Devan berlari segera.


"Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba jatuh pingsan?" lanjut Devan bertanya langsung mengangkat Ella, tapi kembali kaget dan panik melihat telapak tangan Ella terdapat bercak darah.


"Kita bawa dia ke rumah sakit, sepertinya dia menderita TBC."


"Apa, TBC? Bagaimana bisa?" kaget Devan luar biasa.


"Nanti kau akan tahu, sekarang ikutlah denganku. Dia perlu dirawat segera." Wanita itu pun keluar diikuti Devan. Ketiganya masuk ke dalam mobil lalu melaju ke rumah sakit. Devan tak henti-hentinya mengelus wajah pucat Ella sekaligus mencium keningnya.


"Bertahanlah, sayang. Kau akan segera dirawat sekarang." Rasa takut itu mulai muncul dan tak sangka hidup Ella benar-benar lebih menderita dari apa yang dia pikirkan. Matanya mulai berkaca-kaca dan semakin panik. Apalagi Devan tak tahu apakah ini berbahaya atau tidak untuk Ella.


Sesampainya di rumah sakit, Devan sudah berkali-kali dihubungi oleh semua orang. Tapi Devan mematikannya lalu melempar keluar ponselnya dari jendela. Panggilan itu tak penting, yang lebih penting sekarang istrinya yang masih ditangani oleh wanita yang tadi membawanya ke RS. Seorang Dokter ahli yang dapat menangani penderita TBC. Devan mondar mandir, duduk sana sini lalu berdiri sana sini. Begitu cemas dan takut jika penyakit Ella sudah parah.


"Aaargh! Kenapa jadi begini!" racau Devan memukul tembok. Seketika pintu dibuka, Dokter wanita itu keluar bersama beberapa perawat. Devan melirik ke dalam melihat Ella dipasangkan alat bantu oksigen.


"Bagaimana dengan istriku, Dok?"


"Eh, istri? Bukannya kamu malam ini baru melamarnya?"


"Aku dan dia sudah menikah, cuma belum melangsungkan pesta pernikahan, jadi abaikan itu. Sekarang, Istriku bagaimana?" tanya Devan lagi dan nampak ingin masuk ke dalam. Dokter tersenyum melihat kekuatiran Devan yang tinggi. Dokter pun menepuk bahu Devan lalu memberinya sebuah surat.


"Tenang saja, penyakitnya bisa disembuhkan. Asalkan dia tinggal di sini dan melakukan program, dia bisa sembuh." Jelas Dokter melihat Ella.


"Huft, syukurlah. Aku benar-benar tak ingin terjadi sesuatu padanya. Ini salahku sudah terlambat menemukannya," lirih Devan menunduk lalu mengusap matanya. Ingin rasanya menangis menyesalinya.


"Oh dan juga selamat Istrimu hamil," ucap Dokter membuat Devan tersentak kaget langsung melihatnya.


"Ha-hamil? Istriku hamil beneran, Dok?" tanya Devan terbata-bata saking kagetnya.


"Menurutmu, aku sedang bercanda?" ucap Dokter geleng-geleng kepala melihat Devan menghitung jari tangannya.


"Jadi, itu artinya istriku sudah hamil tiga minggu kan, Dok?" tebak Devan mengangkat tiga jarinya.


Dokter tertawa kecil lalu menjawab, "Benar, jadi sekarang kau harus jaga dia baik-baik. Aku pergi dulu memeriksa sesuatu, permisi." Dokter pergi bersama perawat. Sedangkan Devan masih menatap jarinya.


"Hamil tiga minggu, itu artinya tembakan ku berhasil mencetak gol! Yes!" desis Devan kegirangan lalu berteriak.


"Oh Ella, aku tambah cinta padamu!" pekik Devan msuk ke dalam ruangan Ella. Menatap riang istrinya yang belum sadarkan diri. Devan duduk di dekat Ella lalu meraih tangannya. Begitu bahagia akhirnya memiliki buah hati dari hasil benih-benih kecebongnya.


Devan berdiri mengecup lembut kening Ella lalu mengelus perutnya lalu rambutnya. Berharap Istrinya bisa melewati sakitnya dan calon debay-Nya baik-baik saja.


"Terima kasih, Tuhan." Puji Devan penuh syukur. Namun, tiba-tiba saja ketukan pintu terdengar, Devan menoleh kaget melihatnya.


"Papi?"


..._______...


...😉maaf kalau kepanjangan teksnya😸🙏yuk beri like dan vote agar author semangat🤗❤...

__ADS_1


__ADS_2