
Mendengar dua kata yang keluar dari mulut Devan membuat Ella kini semakin tak karuan dalam hatinya. Ella menatap kedua mata Devan dengan serius. Tak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya jika malam ini dirinya harus melawan lelaki di depannya.
"Maaf, Tuan. Meski anda menolak, aku akan tetap pergi dari Villa ini. Kehadiranku tak perlu ada diantara hubungan anda dengan tunangan anda." Ella meletakkan kalungnya ke atas meja di dekatnya lalu melewati Devan begitu saja. Ella merasa jika dirinya dari awal adalah orang ketiga yang tak seharusnya mengusik hubungan Devan.
Devan mengepal tangan melihat sikap beraninya Ella. Apalagi kalung yang dia beli sendiri diletakkan begitu saja. Devan segera berbalik lalu mengejar Ella.
"Aahk!" rintih Ella terkejut tangannya ditarik oleh Devan. Apalagi sekarang tubuhnya dipojokkan ke dinding. Sangat terkejut melihat Devan mengunci dirinya kali ini. Raut wajah Devan yang marah membuat Ella ketakutan. Seakan malam ini Ella harus menerima kemurkaan Devan yang tak terima hadiahnya dibuang dan juga tak terima ucapan Ella.
"Tu-tuan, kau menyakitiku." Ella menjerit sedikit, kedua pergelangan tangannya digenggam kuat oleh Devan.
"Sakit? Apa kau sudah sadar? Aku juga sakit melihat kau tak memakai kalung itu, aku dengan senang hati memberikannya padamu, tapi kau malah membuangnya dan lebih parahnya berbicara seperti itu padaku!" geram Devan semakin mencengkram kedua pergelangan Ella. Ella mencoba untuk bertahan, tapi genggaman itu semakin membuatnya kesakitan.
"Aku tidak perlu hadiah dari, Tuan. Aku hanya ingin kebebasan. Anda telah bertunangan, jadi lepaskan aku. Biarkan aku pergi malam ini. Aku ikhlas bercerai dengan anda." Ella sekali lagi memohon. Menahan sakit kedua pergelangan tangannya, menahan air mata yang dari tadi tertahan di pelupuk matanya. Tak menyaka Devan menyakitinya malam ini.
"Bercerai? Kau ingin bercerai?" Devan menyeringai tipis lalu mencengkram dagu Ella.
"Mulai malam ini aku tak akan pernah menceraikanmu, kau wanita yang tak tahu menghargai balas budi seseorang. Jika saja bukan aku yang membelimu, kau sudah jadi wanita jalang di luar sana!" gertak Devan membuat dagu Ella terangkat sedikit. Ucapan Devan kali ini sungguh membuat hatinya kembali teriris. Ingin rasanya bertahan, tapi kini kedua mata Ella mulai berair.
Plak!
Tangan Ella berhasil menampar pipi kanan Devan. Kedua mata Devan melebar menerima tamparan keras dari gadis ini. Tentu sakit dikatain jalang oleh Devan. Tak ada seorang wanita baik-baik yang sudi dikatakan seperti itu. Batin Ella semakin tersiksa.
"Anda sangat kejam!" ujar Ella segera mendorong tubuh Devan dan mencoba untuk pergi. Tapi, Devan dengan kekesalan menahan kembali Ella dan kembali memojokkannya. Tatapan Devan begitu tajam padanya. Ella gemeteran, dan seketika itu pun kedua matanya melebar melihat tindakannya.
"Ahhh"
Ella mendesah, merasakan Devan mengecup lehernya, bahkan meremas buah dada kanannya. Butiran air mata berhasil turun dari kedua mata gadis polos ini. Tak sangka Devan terang-terangan mulai melecehkannya.
"Kejam?" Devan berbisik ke telinga Ella.
"Jika begitu, aku akan mencoba lembut padamu, Ella."
"Ahhh"
Ella mendesah kembali, tindakan Devan sudah membuatnya ingin menjerit. Bukan karena nikmat, tapi terlalu sakit hatinya menerima perlakuan Devan.
__ADS_1
"Ku mohon, lepaskan aku, Tuan." Ella memohon tak berdaya lagi. Ingin memborantak, tapi tubuhnya dikunci oleh kedua tangan Devan. Mata Ella melebar merasakan gigitan Devan pada bahu kirinya. Ingin kuat, tapi dirinya tak sanggup melawan Devan yang memiliki tubuh dan energi yang kuat darinya.
"Dengar baik-baik, di dalam kamusku tak ada kata lembut untuk dirimu. Jadi, jangan berpikir untuk pergi dari Villa ini. Hidup dan matimu ada di tanganku. Jika kau pergi dari Villa ku, jangan salahkan aku jika rumah Ayahmu hancur berkeping-keping. Harta Ayahmu tak ada gunanya bagiku, terutama tubuhmu."
Bisikan Devan membuat Ella terdiam. Terdiam bukan karena terkejut, tapi dirinya kembali terguncang. Ella melihat Devan yang menyeringai tipis lalu memperbaiki penampilan Ella. Tanda cupan tertinggal di lehernya. Ella mendorong Devan menjauhi darinya. Ella menunduk, menahan tangisnya.
Devan menepuk kepala Ella lalu mengelusnya dengan lembut. Melihat Ella gemeteran dan takut setelah diancam.
"Jadilah Istri yang penurut jika tak ingin rumah Ayahmu hancur begitu saja." Kata Devan lalu pergi meninggalkan Ella yang menutup wajahnya menahan air matanya agar tak tumpah malam ini. Sungguh menyakitkan dirinya, sungguh menyedihkan hidupnya. Wanita yang telah dibeli harus menerima perlakuan seperti ini. Semakin menahannya, semakin pula batinnya tersiksa.
"Tuhan, apa salahku?"
Ella mengusap air matanya, lalu berjalan ingin keluar dari dapur tapi kedua matanya kembali melihat kemesraan Devan pada Elisa yang turun dari lantai dua. Elisa nampak tersenyum manis pada Devan. Bahkan dengan lembutnya mengelus rambut wanita itu. Apalagi kedua mata Ella kembali melebar melihat Devan mencium pinggir bibir Elisa. Sungguh tontonan yang menyayat hatinya.
"Sayang, kamu kenapa lama di dapur?" tanya Elisa bergelayut manja di lengan Devan. Tingkah manjanya mulai lagi kambuh, dan ini membuat Ella merasa muak.
"Tadi perutku sangat lapar, jadi aku makannya lama. Tidak apa-apa kan? Kamu tidak marah kan?" Devan mencubit pipi Elisa. Sikap lembut Devan pada Elisa membuat Ella kembali diam-diam menangis di balik dinding.
"Tidak kok, sayang," ucap Elisa memeluk Devan.
"Boleh. Sekarang kita naik ke atas dan tidur malam ini." Devan memeluk pinggang Elisa lalu keduanya menaiki tangga bersama. Sungguh mesra pasangan ini, tapi tidak di mata Ella yang merasa begitu menyakitkan.
Ella mengepal tangan lalu berlari ke arah toilet dapur. Masuk ke dalam dan mengurung dirinya. Ella menyandarkan tubuhnya ke pintu dan perlahan duduk ke lantai. Ella menutup wajahnya. Tak sanggup lagi tinggal di Villa ini melihat kemesraan Devan dan Elisa.
Suara tangis mulai terdengar di dalam toilet. Ella menyentuh bekas gigitan Devan. Rasanya perih, pedih, sakit. Ella menepuk dadanya, mencoba menghilangkan rasa sakit itu. Deraian air mata masih saja membasahi kedua pipinya.
"Aku ingin pergi, ku mohon bawa aku pergi."
Ella menunduk, menekuk lututnya. Kini dirinya ketakutan, takut akan ancaman Devan. Ingin rasanya pergi, tapi ancaman itu membuat kedua kakinya lemas tak berdaya.
"Kenapa-kenapa, dia jahat padaku."
Rintihan Ella begitu pilu, hanya bisa menangis di dalam toilet. Tak sanggup lagi melawan Devan. Merasa ucapan Devan ada benarnya, jika kini hidup dan matinya ada di tangan lelaki yang berkuasa di kota ini. Batinnya semakin tersiksa.
"Siapa-pun itu, tolong bawa aku pergi."
__ADS_1
Ella mengusap kedua matanya, suaranya kembali serak. Ella berusaha berdiri meski kakinya mulai lemas untuk berjalan. Ella mendongak melihat jendela kecil. Ella mencoba meraihnya. Kini pikiran Ella sudah kacau. Pikirannya ingin pergi dari Villa malam ini juga. Ella mencoba memanjatnya meski beberapa kali dirinya terjatuh ke lantai.
"Ya Tuhan, berikan aku kekuatan."
Ella melompat sekuat tenaga dan akhirnya bisa naik ke jendela tersebut. Untungnya tubuh Ella bisa melewati jendela itu. Ella melompat ke bawah, tapi sayangnya kakinya malah terkilir.
"Au-" Ella merintih kesakitan, tapi kini ia harus kuat berjalan untuk meninggalkan Villa Devan. Ella berdiri lalu berjalan meski harus dengan kakinya yang pincang. Ella semakin jauh, dan segera berlari meninggalkan Villa Devan dengan tangisnya. Menangis bukan karena Devan, tapi menangisi nasibnya yang malang.
Ella tetap berlari melewati kerumunan orang, bahkan sesekali terjatuh akibat dorongan orang-orang di sekitarnya. Kini Ella tak tahu harus ke mana. Jika dia kembali ke rumah Ayahnya, dirinya pasti akan ditemukan oleh Devan. Ella berjongkok di tepi jalan, menekuk lutunya dan memendamkan kepalanya. Mengeluarkan air matanya kembali. Namun, tiba-tiba saja seseorang memakaikan jaket untuknya. Ella mendongak dan terkejut melihat Hansel yang berdiri di dekatnya.
"Kak Hansel?" lirih Ella dalam isakannya.
"Nona, mengapa anda bisa sampai ke sini dan bahkan tidak pakai sandal?" tanya Hansel merasa kasihan melihat Ella berjongkok tanpa memakai sandal. Ella semakin sesugukan, sungguh tak sangka Hansel melihatnya begitu menyedihkan dan begitu baik padanya malam ini. Pertanyaan Hansel tidak dijawab melainkan Ella berdiri lalu memeluknya. Menumpahkan rasa sakitnya pada Hansel. Mencoba mendapatkan pelukan hangat untuk relung hatinya yang terluka.
"Kak Hansel, tolong bawa aku pergi malam ini."
Hansel terdiam, lalu mengelus punggung Ella.
"Baiklah, kemana aku harus membawamu?" tanya Hansel melepaskan Ella lalu melihat gadis ini.
"Ba-bawa aku ke panti asuhan." Ella mengusap kedua matanya, mulutnya bergetar mengucapkan permintaannya.
"Baiklah, tenangkan dirimu. Kemari, ikutlah denganku." Hansel meraih tangan Ella, Ella menatap Hansel yang sedang tersenyum padanya. Ella pun menunduk lalu memegang kuat tangan Hansel. Keduanya pergi ke arah mobil Hansel. Memang tadi Hansel tak sengaja melihat Ella saat dirinya habis makan malam di restoran. Mobil Hansel pun melaju pergi ke panti asuhan malam ini.
Tak memakan waktu lama, mobil Hansel akhirnya sampai ke panti asuhan. Ella turun bersama Hansel. Anak-anak panti yang belum tidur terkejut melihat Ella datang berkunjung. Mereka pun masuk ke dalam memanggil Ibu panti.
"Nona Ella, aku hanya bisa mengantarmu malam ini. Tapi, apakah tidak apa-apa jika kau pergi dari Villa?" tanya Hansel.
"Tidak apa-apa, aku tak ingin mengganggu Tuan dengan tunangannya. Terima kasih, Kak Hansel." Ella menunduk lalu masuk meninggalkan Hansel. Hansel merasa kasihan lalu masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan Ella di panti asuhan.
"Astaga, Nak Ella. Ada apa denganmu?" Bu panti sungguh terkejut melihat Ella masuk dengan penampilan yang amat menyedihkan dengan kedua kakinya yang kotor. Ella melihat Bu panti lalu dengan cepat memeluk wanita paruh baya ini. Tangis Ella pecah di pelukan Bu panti.
"Ibu-ibu-ibu." Mulut Ella bergetar memanggil seseorang. Bukan Ibu panti yang dia panggil melainkan Ibu kandung yang Ella rindukan sekarang. Bu panti meneteskan air mata tak tega pada gadis malang ini.
....----------...
__ADS_1