ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 16


__ADS_3

Awal perkenalanku dengan Andriano sang predator wanita cantik dan sexy.


Suasana di tempat ini cukup ramai, terlebih lagi hari mulai malam.


aku berjalan gontai menuju meja bar dengan pikiran yang kalut dan semrawut, betapa tidak hari adalah hari yang sangat menyakitkan bagiku.


Suara Musik DJ yg di Putar membuat semua orang menari ria, tapi tidak dengan ku. aku bagaikan seonggok daging yang bernyawa, hiruk pikuk disekitarku tak bisa meredahkan kegalauan yang melanda hatiku, semua rasa berkecamuk dalam dada.


"Bang satu ya"


"okey kak"


aku duduk di pojokan sambil meneguk minuman, berulang kali aku membiarkan minuman itu mengalir di tenggorokan seakan minuman beralkohol itu sebagai pelepas dahaga.


Satu, dua, tiga gelas sudah kuhabiskan dalam sekejap, tetap saja tak bisa mengilangkan rasa hausku.


Mataku yang bengkak seperti baru saja menangis karna merasakan hancur yang sangat luar biasa, orang- orang hilir mudik melihatku dengan tatapan aneh, Mungkin juga terlihat dari pakaian ku yang serba hitam, ah busyiiit, emang mereka tau apa yang aku rasakan saat ini.


Iya, aku memang baru saja pulang berkabung.


teringat kejadian itu lagi air mataku meleleh hangat di kedua pelupuk kecilku.


"Sayang, kenapa kamu begitu cepat meninggalkanku"


aku menuangkan alkohol ke gelas kecil itu dan meminumnya lagi.


Aku memang butuh waktu untuk sendiri,


sendiri meluapkan segala emosi yang membuat sakit hatiku.


"Sayang, kenapa terlalu cepat kau pergi meninggalkan ku, harusnya kau membawaku" gumam ku dengan perasaan kacau.


Aku baru saja berkabung karna kematian kekasihku, Davin, Kematian yang tiba tiba. Kematian karna rasa sayangnya padaku, yang ingin membahagiakanku dengan ketulusannya.


Hanya sesaat kami ketemu, karna rasa laparku dia berinisiatif membelikan aku nasi goreng, tak kusangka malam itu adalah malam terakhir dia memperlihatkan kepeduliannya padaku, serasa lemas tubuh ini, serasa dunia ini berputar kencang sehingga membuatku terhuyung dan tak sadar, saat kuterima kabar duka. Serasa tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar.


Davin tewas dikeroyok.


Beberapa tusukan ditubuhnya, dan lebam diseluruh mukanya, masih mengalir darah segar dari hidung dan mulutnya.


Dan, dan yang paling membuatku terenyuh serta menangis pilu adalah masih tergenggam erat dua bungkus nasi goreng dalam kantong plastik hitam yang nantinya buat makan malam kita.


"Kalau saja aku ada, sudah ku plintir kepala mereka semua! Sial!!!"

__ADS_1


ujarku penuh emosi, sambil ku sentakkan gelas kecil itu di meja bar.


"Aahhh siaaall, kenapa ini harus terjadi padaku Tuhan, disaat kami baru saja merajut kasih, kini engkau renggut dia dariku, apa ini karma dari perbuatanku Tuhan" aku benamkan wajahku dalam tangan dan mulai menyalahkan takdir yang kuhadapi.


Dan tak lama air mataku mengalir lagi, Sunggu ini sangat menyakitkan untukku.


cukup lama aku menyembunyikan wajahku ke meja bar hanya tanganku yang sebagai tumpuan untuk kesedihanku.


"Bella, lu gak boleh larut dalam kesedihan, lu harus bangkit dari keterpurukan ini, percuma, percuma kalo lu cuma bersedih, itu tidak akan merubah keadaan"gumamku memberi semangat pada diriku sendiri.


Dalam pengaruh alkohol, aku masih bisa berfikir jernih,


"iya, gue harus bangkit, tenang sayang akan kuremukan kepala mereka, kamu istirahatlah dengan tenang disana" kataku lirih, menenangkan diriku sendiri.


"Tunggu aja pembalasan gue bajingan!!!"


batinku sambil mengepalkan tangan.


Di sisi Lain ku lihat seorang Pria baru datang dengan beberapa teman nya, pria itu cukup tampan dan juga tinggi, memakai kemeja hitam slimfit dipadu celana cargo panjang kelihatan berkelas, dia Langsung melangkah kan kaki menuju para wanita cantik yg sedang bergoyang sexy.


"Och! Andreano!! aku sangat merindukanmu, kemana aja lu" Ucap salah satu seorang wanita sambil membelai dada bidang nya, serta bergelayut manja di lengan kekarnya.


Kelihatannya pria itu memang suka pamer untuk membuat para wanita bertekuk lutut padannya.


dia berniat mengajak wanita yg barusan menyapanya untuk melakukan sesuatu yg menyenangkan mungkin.


Tapi tiba-tiba pandangannya mengarah kepadaku yg sedari tadi sedang melihatnya, sampai tidak mengindahkan ajakannya kepada si wanita tadi.


Andreano mengernyitkan dahi dan menajamkan pandangaanya kearahku,


"hei itu apaan ya"


"kenapa Andre?? " tanya wanita di hadapan nya.


"Hah! gue kira itu hantu yg di sana" sambil menunjuk ke arahku.


"Jadi penasaran, gie kesana dulu ya?"


"tapi Andre, gimana dengan acara bersenang- senang kita?"


"ah lupakanlah" jawab Andriano melambaikan tangan tanpa menoleh kewanita itu.


"Iiihh, nyebelin lu andre"

__ADS_1


Pria itu meninggal kan si wanita tadi lalu berjalan menuju ke arahku yg duduk dalam kesendirian.


Tanpa ragu pria itu duduk di sebelah ku dan mencoba melihat kondisi wajahku.


"Hei?!apa yang lu lakuin di sini?" tanyanya mengagetkan ku, aku pun langsung menoleh dan menatap pria yg menghampiriku itu,


"ish, apaan si lu" kataku cuek.


Dia pun tebelalak dan tak lama dia menarik sudut bibir nya.


"Andreano Putra Atmaja" dia memperkenalkan diriny lalu begitu saja mengangkat bokong ny untuk duduk lebih mendekat kepadaku, aku pun terkejut dan sontak menjauh darinya.


Tapi justru dia malah memberikan senyuman ramah seoalah dia adalah teman.


Dan tiba-tiba aku merasakan sedikit dada ku berdebar.


"Apa ini??? aku berdebar dengan org asing?" batinku.


Dan tak Lama Dani malah meraih tanganku.


"Lu kelihatan nya baru kehilangan orang yg lu sayang ya??" tanyanya dengan nada perhatian.


"Apa pedulimu, sok tau lu!!!"


ku tarik tanganku lalu ku buang muka darinya.


"Gue ma kalo sedih ngebagi nya sama orang lain, bukan sama alkohol, mabok gini" Andrwano menjawab enteng.


"Dan gue bukan pemabuk, jadi lu gak perlu khawatir sama orang lain, gue bisa memelintir kepala siapa yang berani macam macam dengan gie" ku jawab sambil menatap tajam ke arah andreano yang kurasa sama sekali tidak merasa takut malah makin berani, uh dasar monyet bule lu.


Andreano lalu menarikku ke dalam pelukannya hingga aku bersandar di dada bidangnya, aku berusaha menolak tapi aku juga butuh teman untuk berbagi, ya sudahlah, apa salahnya dicoba.


"Ttusst jangan begitu, tenangkan saja perasaan mu, ada gue di sini" bisiknya lembut di telingaku.


"Apa ini??? tpi kehangatan ini, aku sedang membutuhkan nya sekarang, oh" batinku, desiran hangat merambat diseluruh tubuhku.


Aku merasa sangat dilema karna sedang di rundung duka dan juga ingin merasakan perhatian dari seseorang.


"mungkin ia dikirim TUHAN untuk menghiburku, biar tak berlarut dalam kesedihan ini, ah makin pusing kepalaku"


Aku gak mungkin pulang ke rumah dalam keadaan seperti ini, karna kedua orang tua ku gak pernah suka dengan hubungan ku dengan Davin, kita berbeda agama dan itu di tentang oleh keluargaku.


Apalagi di sana juga ada tunanganku yang satu desa denganku, yang di pilihkan oleh orang tuaku.

__ADS_1


__ADS_2