ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 45


__ADS_3

Dalam kegelapan malam, samar-samar kulihat Toni di jepit tiga orang pria tinggi besar.


Toni yang badannya tinggi kecil, tak berkutik saat kerah bajunya di tarik kasar oleh seorang pria berkaos hitam.


"Kamu ya! yang sok-sok an jadi jagoan disini!" bentak orang orang itu kasar. Tangannya mengepal.


"Bukan aku bang, aku nggak tau apa-apa" kilahnya ketakutan.


"Benar dia bang, dia yang memalak ku dengan satu temannya, aku masih ingat betul wajahnya" timpal seorang pemuda yang memakai Hoodie merah, terlihat sangat marah sambil mendekap dari belakang tubuh Toni. Toni hanya terdiam, tak bisa mengelak lagi.


Buk... Bukk.


"Aukk, ADUUHH" Toni meringis kesakitan, perutnya kena bogem dua kali.


"WOIII, Hentikan!!" teriakku, lalu aku turun dari motorku. Mereka bertiga memandangku geram, kemudian melepaskan Toni yang di dekap oleh dua orang.


Aku mendatangi mereka.


"Ada apa ini, jangan membuat onar di wilayahku" hardik ku menatap tajam mereka. Aku sudah bersiap-siap memasang kuda-kuda, untuk menghadapi segala serangan secara tiba-tiba. Seorang yang memakai Hoodie merah, berbisik ke orang yang berbaju hitam, dia meliriku tajam penuh emosi.


"Oh, jadi kamu ya premannya, yang malakin orang-orang disini" dia menuding wajahku, aku tepis tanganya.


"Hehehe, masalah itu to, santai dulu bang. Mari ngerokok dulu" Aku mengambil rokok dari saku, kemudian ku Sulut dan ku hisap pelan. Cara ini aku gunakan untuk menghilangkan rasa panik, dan untuk mengendalikan emosiku. Ku sodorkan rokok pada mereka, dengan pongahnya menolak mentah-mentah niat baikku.


"Aku kagak doyan rokok murahan kayak gitu, sudah kagak usah basa-basi" hardiknya padaku dengan muka di tekuk, jelek banget.


"Baiklah, kalian cuma bertiga saja?" jawabku santai, ku hisap rokok ku dalam-dalam, lalu ku hembuskan ke udara, segera hilang di terpa angin malam yang cukup dingin dan mencekam.


"Maksut kamu apaan!, untuk memberimu pelajaran, bertiga aja sudah cukup" jawabnya sombong dan sedikit membentak.


"Kalian bertiga silahkan maju, kalau tidak bisa di selesaikan dengan otak, ku ladeni dengan otot" ku jentikan rokok ku, tepat mengenai wajah cowok yang berkaos hitam, bara rokok menciprat ke wajah jeleknya, seketika dia menjerit kesakitan. "Aww!! panas"


Terus aku tambahi tendangan depan dengan keras.


Sett DUKK..


"aarghh"


tepat mengenai perut tambunnya, pas di ulu hati. Dia jatuh tersungkur ketanah, sambil mencengkeram perutnya yang kesakitan. giliran yang memakai Hoodie merah, dengan cepat ku kasih hadiah tendangan sabit.

__ADS_1


SREEETTT BETT...


dia terpental ke belakang, dan jatuh telentang. Dengan gerakan memutar cepat dan lincah,


SLERETTT PRAAKK...


seorang yang memakai celana pendek, ku kasih sapuan bawah hingga dia terpelanting jatuh kesamping dengan sikut sebagai tumpuan.


KREKK...


"WATTAW" tangannya seketika lecet kena bebatuan kecil dan terkilir, dia terus menjerit kesakitan sambil memegangi sikutnya. Cuma lima detik semua sudah terkapar di tanah, menjerit dan meringis kesakitan.


Kemudian ku injak leher cowok yang memakai baju hitam, karna kurasa dia yang paling kuat dan paling sok-sok an dari tadi. Dia meraung kesakitan, karna tendanganku tadi, dan injakan di leher yang sedikit ku tekan.


HWWK...HWWK...JUHH.


Ku kumpulkan suliva yang paling kental, lalu ku ludahkan ke mukanya. Biar ketularan gantengku.


"Ampun mas, lepaskan aku" rengeknya hampir menangis. Aku mengambil sebatang rokok, lalu ku Sulut dengan santai, ku hisap, ku nikmati. Krepull krepull, ah, mantap.


"Ton, giliran kamu, kasih sedikit hadiah"


Satu persatu muka mereka kena bogem mentah si Toni, giliran si item gendut, yang sekarang lehernya di bawah kakiku. di injak perutnya dengan keras oleh Toni.


BUKK BUKK,


"HEHG HEHG..."


mungkin saking geramnya Toni ke dia.


"Jangan keras-keras, nanti keluar tainya" celutuku tersenyum geli. Ku lihat si item masih kesakitan dan sesak nafasnya, saat ku tendang keras perutnya di tambah hadiah dari Toni.


"Gimana? masih mau lagi?"


"A-ampun mas, a aaku kapok" suaranya terbata-bata karna menahan sakit di perutnya.


"Kalau masih macam-macam di sini ku patahkan lehermu" kembali ku tekan sedikit lehernya, di menjerit dan meminta ampun. Lalu ku singkirkan kaki kananku dari lehernya, kusuruh semua duduk. Dengan susah payah mereka mencoba duduk mengikuti perintahku.


"Hoi, kamu baringan aja" ku tunjuk cowok yang barusan ku injak lehernya kembali berbaring, karna masih sesak nafas dan memegangi perutnya. Ku lipat kaosnya sebatas dadda, hingga terlihat perutnya yang buncit dan memar kena tendanganku.

__ADS_1


Biar kelihatan seksi, ku dongakan wajahku ke atas, ku tadahkan kedua tanganku ke langit tinggi.


"tarik nafasmu di dadda, dan tahan!" Ku tarik nafas, lalu ku usap dan sedikit ku tekan perutnya tiga kali. Ku tepuk pundaknya, kusuruh duduk kembali.


"Gimana? sudah enakan?"


"i iya mas, makasih"


ku suruh duduk berjejer, sedangkan aku duduk bersila di hadapannya dan Toni duduk di belakangku.


"Ehm...ehm, sebelumnya aku minta maaf telah menyakiti kalian" kataku mulai membuka suara.


"Kira-kira, ada yang mau mencoba lagi?" ku pandang satu persatu orang-orang belagu yang di depanku.


"kagak mas, ampun" jawab si kaos hitam.


"Aku juga nggak mas, aku nggak berani" tambah cowok yang memakai Hoodie merah sambil menunduk.


"Hehehe, nggak percuma aku dua tahun di Karawang, dan tiga bulan di Probolinggo Jawa timur" ujarku sambil tertawa kecil, biar suasana lebih akrab.


"Belajar ilmu Kanuragan mas?" tanya cowok yang memakai celana pendek.


"Nggak kok, di Karawang aku buat roti, kalau di Probolinggo jualan bakso dorong. Hwahahaha" mereka ikut tertawa serempak, sambil menahan sedikit nyeri di tubuh mereka.


"Oya, nama masnya siapa?"


"namaku Prasetyo, panggil saja Pras." Akhirnya kami saling berkenalan, dan ngobrol-ngobrol ringan, di selingi canda tawa.


"baiklah abang-abang semua, aku dan temanku, mungkin anggapan kalian salah, telah memalak Abang ini" ku tunjuk cowok Hoodie merah yang bernama Maulana.


"kalau Abang Maulana tidak berbuat salah, tidak mungkin sampai terjadi pemalakan. menurutku itu bukan malak, tapi di kasih secara ikhlas sukarela. betul kan bang Maulana" Maulana mengangguk dan meng iyakan perkataanku.


"Seperti halnya yang kalian lakukan tadi, melakukan penganiayaan ke Toni, dan membuat keributan di wilayah ini. Kami bisa saja melaporkan abang-abang semua ke polisi denga tuduhan tersebut, Mau kalian tak laporin ke Polisi?" serempak mereka menggelengkan kepala. Aku cuma tersenyum geli, melihat tingkah mereka yang saling menyalahkan.


"Kapan-kapan kita sambung lagi ya, bukan sebagai lawan tapi sebagai kawan. Ngopi bareng. Musuh jangan di cari, tetapi bila musuh datang, pantang lari." Ku akhiri perkataanku, lalu kami berdiri dan salam-salaman, tanda kita sudah menjadi teman.


"Wah, masnya keren lho" celutuk cowok berkaos hitam yang bernama Azis, dia tersenyum serta mengacungkan jempolnya memujiku.


"Kalian juga hebat, bermental pemberani, tapi jangan menyalah gunakan keberanian kalian. Okey!!"

__ADS_1


"siap bos" jawabnya, kemudian pergi dengan naik motor bebek. Satu motor di naiki tiga orang yang besar, semoga saja motornya tidak pingsan di jalan. Aku dan Toni juga bergegas pulang, karna malam semakin larut, dan dingin angin malam semakin merasuk sampai tulang sum-sum.


__ADS_2