ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 55


__ADS_3

BOCIL MINGGIR DULU, ADEGAN DEWASA NIH...


"Oh iya, bukannya besok pagi aku janjian pergi sama Ningsih" desisku sendiri membuyarkan lamunanku. Entah sudah berapa banyak perempuan yang aku tiduri, sampai aku tak ingat. Tapi menurutku, petualangan bercinta yang paling mengasyikan hanya dengan Viska.


kalau di pikir-pikir, aku dulunya yang anak baik-baik, di didik secara Agama dengan baik, kenapa bisa begini.


"Kenapa aku bisa jadi sebangsat ini ya? kenapa pula aku sangat menikmatinya" gumamku kecil sambil menghisap rokok.


Ternyata, settan dalam nafsuku lebih kuat di bandingkan iman dalam hatiku. Candu dunia yang semu ini begitu menghipnotisku, sampai-sampai aku lupa akan diriku sendiri dari mana aku berasal.


Krrreek kreekk tung, drrtt drrrrtt. Ponselku kembali berdering dan bergetar, dengan malas ku ambil ponselku yang aku letakan di meja samping tempatku duduk.


-Mas Pras, besok tak tunggu di perempatan  jam 08.00 ya. Ningsih-


"aihh, darimana dia mendapat nomor hapeku" gumamku sendiri merasa heran saat membaca pesan dari Ningsih.


-Iya, kamu atur ajalah. Oya darimana kamu dapat nomorku?-


Balasku malas, dan tak lama ponselku kembali bergetar.


-Dari temanmu mas, Oya makasih tadi sudah di kasih jajan-


aku letakan kembali hapeku di meja tanpa aku balas pesan dari Ningsih, aku kembali menyesap menikmati rokok yang tinggal sedikit. Kenapa perempuan yang aku kenal harus berakhir di ranjang, apa aku di takdir kan untuk pemuas nafsu perempuan-perempuan yang kehausan akan belaian seorang pria. Ataukah aku sendiri yang kurang puas akan pelayanan dari perempuan-perempuan itu, sehingga aku terus berburu untuk mendapat kenikmatan dari perempuan lainnya. Benar kata pepatah; beda rupa beda rasa, beda wajah beda juga goyangannya.


"Ah pepatah dari mana juga itu, asal bacot aja mulutku" aku tersenyum sendiri.


Malam berlalu dengan cepat, silih berganti dengan hangatnya mentari yang mulai menampakan sinarnya dengan malu-malu meong, burung prenjak dan burung-burung lainnya bernyanyi bersahutan di sela-sela ranting pohon. Seakan bergembira menyambut pagi hari yang cerah.


"Hoaaambuh" aku meregangkan otot sebentar di depan pintu, menghilangkan kekakuan otot yang menjalar di sekujur tubuh. Kulirik anakku Ghibran, sedang jongkok di sebelahku memandang ke depan dengan tatapan kosong.


"Ikut olahraga ayah yuk?" ajak ku pada Ghibran, dengan senang hati menyambutnya. Ghibran dengan semangat membuntutiku dari belakang.


Srek...srek...srek. Wajahnya yang ceria berubah seketika menjadi suram, saat melihatku meraih sapu dan menyapu halaman rumah. Aku hanya tersenyum, melihat wajah imutnya yang lagi ngambek.

__ADS_1


"Kok nyapu yah" tanyanya protes.


"Lha iya, olahraganya memang nyapu sayang, sama-sama gerak badan dan sehat" jawabku melihatnya lucu, karna kecewa dia pergi bermain sendiri.


Waktu sudah menunjukan pukul 08.05, aku sudah berdandan rapi, mengenakan kemeja lengan panjang warna gelap dan celana Levis hitam. Ku semprotkan minyak wangi tanpa merk, setengah botol habis hanya buat ketek doang. Aromanya sangat menyengat hidung, maklum minyak warung, tapi ampuh membuat cewek melayang dalam pelukan.


"Mau kemana mas, rapi amat" tanya istriku curiga.


"ya kerja dong dik, mau kemana lagi" sahutku tanpa menoleh padanya, karna aku lagi sibuk menyisir rambut.


"Kok nggak pakai seragam, pergi kencan ya" sahutnya ketus, aku hanya mengulas senyum.


"Yang penting pulang membawa duit dik, tenang aja" balasku santai, setelah kucium anakku, aku segera berlalu menuju ke perempatan menjemput Ningsih yang sudah menungguku.


"Lama amat mas Pras, aku sudah capek nih nungguin kamu" omel Ningsih saat aku sudah sampai perempatan tempat dia menunggu.


"Aku dandan dulu, biar ganteng dong" celutuku cengengesan, dengan muka cemberut Ningsih langsung naik ke atas motorku.


"Kamu kelihatan cantik Ning, lebih seksi kalau sedang dandan kayak begini" rayuku memuji Ningsih.


Di jalan, Ningsih tak henti-hentinya mengoceh, aku hanya menanggapinya seperlunya.


"kita kemana nih?" pancingku, setelah memasuki daerah jalan lingkar yang berjejer Hotel kelas melati yang biasa aku masuki.


"Kemana aja sesukamu mas, pokoknya aku mah nurut saja" jawabnya manja, sambil bersandar di punggungku.


"Hotel depan ya?"


"iya, terserah kamu sayang, sekarang aku milikmu sepenuhnya" gelayutnya pasrah dan memeluk erat pinggangku.


Di hotel depan kami berhenti dan memesan kamar, di depan kamar yang kami pesan, Ningsih turun lalu memasukinya. Baru saja aku ikut masuk, sudah di hujaninya dengan ciuman-ciuman panas.


"Bentar Ning, tak tutup pintu dulu" tanganku meraih gagang pintu dengan susah payah, karna Ningsih tak memperdulikan omonganku.

__ADS_1


"Ayolah sayang, aku sudah nggak tahan nih, beri aku kehangatanmu sayang" aku hanya tertegun tak bergerak, menikmati setiap sentuhan yang di berikan kepadaku. Mungkin karna aku capek, atau tidak terlalu nafsu dengan Ningsih. Aku hanya diam dan pasrah. Bag cacing kepanasan, Ningsih menggeliat-geliat di atas tubuhku yang sudah terbuka tanpa sehelai benangpun yang menempel.


"Nikmatilah sesuka hatimu Ning, aku pingin tau seberapa dahsyatnya kamu memberikan kepuasan padaku" kemudian aku memejamkan mata, menikmati setiap cumbuan Ningsih. kalau aku perhatikan, tubuh Ningsih bagus juga, putih dan semok. Aku hanya mendesis nikmat setiap mendapat sentuhan nakal Ningsih.


"kamu bakal ketagihan mas Pras ku sayang, aku jamin" aku hanya tersenyum sedikit mendengar seloroh nya yang penuh nafsu.


Tak berapa lama tubuhku sudah tersentak-sentak hebat, saat Ningsih mengayuh, memaju mundurkan tubuhnya dengan lihai.


"Ohh mas Pras, punyamu sangat nikmat, yesss, hmmm" racaunya semakin beringas.


"Suka-suka kaulah, Ning" kataku, kemudian aku memejamkan mata dan tertidur.


"Mas Pras, sentuh aku, jamah Akku, ouh, nikm...**&&@&&" racaunya hanya samar-samar aku dengar. Entah berapa lama, dia main kuda-kudaan di atasku, tahu-tahu...


Brruukkk, preekk. Hah hah hah. Aku tersentak kaget, sesuatu yang besar menimpaku. Dan aku baru tersadar, kalau Ningsih sekarang ambruk di atas daddaku dengan nafas yang memburu cepat setelah mendapat puncaknya.


"Uhh mantap sekali, aku puas!" senyumnya mengambang di bibir, butiran keringatnya meleleh membasahi tubuhku.


"Lho sudah Ning? aku belum apa-apa nih"


"hah, hah, kamuhh curang mas, kamu malaahh tidur mendengkur" tukasnya dengan suara dan nafas yang ngos-ngosan.


"Sekarang giliran ku ya? aku mau sodok dari belakang"


"iya sayang, jangan salah lubang ya" jawabnya lirih, sambil tersenyum menantikan serangan balik dariku.


"tenang aja sayang, sama-sama lubang kok, rasanya sama, cuman tempatnya aja yang beda" gurauku agar tidak tegang.


Aku menggeser tubuhku yang di tindih Ningsih, dan beranjak mengatur posisi. Setelah kurasah cukup nyaman dengan posisi ini lalu...


SLEKETEM... Sleebb.


"AUUUHHKK!!" pekiknya kaget, secara refleks dia menggigit bantal yang ada di depannya, dan kedua tangannya mencengkeram erat sprei kasur hingga menjadi tambah kusut.

__ADS_1


terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.


__ADS_2