ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 9


__ADS_3

Hari sudah menjelang petang, aku harus pulang, kulihat perut kambingku juga sudah besar pertanda kalau kambing- kambingku sudah kenyang dan sak sudah penuh rumput hasil menyabit tadi, sesampainya dirumah kukandangkan kambingku seperti biasa terus kutaruh hasil sabitanku tadi didepan kandang kambing. kulihat istriku dan emak lagi masak di dapur yang sebelahan dengan kandang kambing.


"Kamu ngapain mas?" tanya istriku saat melihatku pergi kesumur membawa sabit.


"Ngasah arit biar tajam dik" sahutku sambil meliriknya sedikit.


"Pras?"


"iya Emak, ada apa?" sahutku saat dipanggil emak.


"Ember besar yang disebelahmu nanti di isi air sampai penuh ya, buat mandi Bapakmu !" perintah emak dan aku iyakan perkataannya.


Aku meneruskan mengasah sabit sambil ku amati dan kuraba sabit tersebut, setelah kurasa sudah tajam aku menyudahinya dan menaruh diatas batu dekat ember besar, kulanjutkan dengan menimba air sumur buat ngisi ember besar sampai penuh.


"Makan dulu pras, kata istrimu tadi kamu belum makan ya?" tanya Emak.


"ya mak, tak mandi dulu" jawabku seraya menaruh sabit ditempat biasanya kumanaruh sabit.


Sore merambat malam, cuaca saat ini cerah banget langit bersih tanpa awan, taburan jutaan bintang menghiasi indahnya malam ini nampak bulan separo andung- andung menampakan cahayanya yang bersinar menerangi bumi yang gelap.


Kuberjalan melewati pematang sawah, sesekali aku terpeleset karna embun malam yang bergelayut direrumputan, hanya cahaya rembulan yang membantuku menapak melintasi persawahan belakang rumahku,


tujuanku saat ini adalah sebuah tempat yang biasa buat mangkal muda mudi bercumbu ria dengan pasangaannya.


Sebuah taman ilegal yang terbentuk secara tak sengaja karna biasa buat tongkrongan orang- orang setiap harinya, lumayan luas dengan pepohonan yang besar dan rimbun, biasanya kalau malam masih ada satu dua pasangan yang datang untuk santai ataupun sekedar jalan- jalan mencari udara segar, udara segar lewat mulut.


Kuamati sekeliling mencari mangsa, karna aku sudah hapal dengan seluk beluk wilayah taman ilegal ini, aku tak kesulitan menemukan tempat- tempat yang strategis dan spot- spot aman untuk bermantap- mantap dengan pasangan, aku berjalan mengendap -endap dan berjingkat pelan supaya kedatanganku tidak menimbulkan suara, dibalik pohon besar aku bersembunyi sayup- sayup kudengar ada erangan kecil dari sepasang kekasih yang memadu kasih, meski gelap aku dapat mengetahui dengan lumayan jelas dua anak orang berlainan jenis duduk diatas motor dibawah pohon rindang, yang laki duduk dibelakang memeluk ceweknya yang bersandar didadanya menikmati setiap sentuhan sicowok.


Dari pohon satu kepohon yang lain aku berjalan mengendap- endap mendekati dua sejoli yang dimabuk asmara, jarak sekitar lima meter dibawah bayangan pohon aku menonton adegan hot gratis, kubiarkan sebentar biar tambah panas adegannya, kusiapkan sabit yang kubungkus sarung, pelan- pelan kubuka bungkusannya, aku ambil sabit dan kukalungkan sarungku kembali ke leher, aku berjalan pelan mendekatinya agar tak menimbulkan suara berisik aku jalan berjingkat.


Jantungku berdegup kencang, ada rasa takut dalam diriku, karna baru pertama kali ini aku lakukan hal seperti ini, napas panjang kutarik beberapa kali untuk menenangkan diriku sendiri. Mereka tak menyadari kedatanganku, kalau aku sudah tepat dibelakangnya, duh enak sekali posisinya.


Kutamatkan lebih dekat lagi pelan- pelan kulihat sicewek ternyata mrongos, dan sicowoknya juga monyong, aku tertawa cekikikan dalam hati, ini pasti anggota group bimoli "bibir monyong lima centi"


pantesan dari tadi setiap ciuman bibir dan saling ******* ada suara tuk tak tuk, klethuk klethuk kemruthuk, rupanya saling mengunyah gigi satu sama yang lainnya.


Aku biarkan sajalah mereka sampai puas dulu, hitung- hitung dapat tontonan gratis secara life,


"ehmm ehm, selamat malam" tiba- tiba aku datang dari sebelah kanan mereka dengan suara yang kubesar- besarkan.


Sontak mereka kaget setengah mateng saat melihatku,


"ASTAGHFIRULLOH HAL ADIM, WATTAAAUUUWWW!!" cowoknya terpekik kaget, siceweknya jatuh GEDABRUUK, KREEKK, jatuh kesebelah kiri dengan rok plisket nyangkut distang motor, sedangkan tangan sicewek masih memegang kuat tongkat sicowok.


"Watauww wataau!!! lefasin lefasin!!" teriak sicowok meringis kesakitan sambil mukulin tangan sicewek yang menggenggam erat pisangnya, aku buru- buru nyalahin senter yang ada di hape, siceweknya buru- buru bangun tanpa melepaskan pegangan di pisanga lembut milik sicowok, karna tidak tahu kalau rok plisketnya masih nyangkut distang motor, dia terjatuh lagi dan sicowok menjerit lagi kesakitan.


"Watttaaw attaaa atttaaww!!" jeritnya histeris kesakitan sambil sambil memegangi mulutnya yang monyong.


Hampir saja tawaku meledak, tapi kutahan sekuat mungkin hingga hidungku kembang kempis menahan tawa , untungnya gelap, jadi mereka tidak tau mukaku yang menahan tawa.


Kuarahkan senter hapeku ke arah tongkat sicowok yang jadi pegangan sicewek, dengan susah payah sicewek bangun, dengan tangan kiri berhasil meraih paha sicowok sebagai pegangan untuk bangun, kemudian baru tersadar dan melepaskan genggamannya.


Sicewek menunduk mau mamakai semvaknya, dan Dukkk, "aduuuhh!!!" jidat sicewek terbentur stang motor lumayan keras,

__ADS_1


sambil menahan sakit dan menahan malu buru- buru dia memakainya kembali.


Aku katupkkan mulutku kuat- kuat, gigiku gemrutuk karna menahan tawa yang susah aku tahan, dan akhirnya


serrr serrr, aku terkencing dicelana, kututupi mulutku pakai tangan kiri sekencang mungkin dengan berpura- pura memencet hidung karna pilek biar gak ketahuan, aaanjjjirr.


Agak lama kukendalikan diri supaya tidak pecah tawaku, kulihat sicowok masih meringis kesakitan dan mengelus- elus senjatanya yang tersakiti, sedangkan sicewek meringis kesakitan sambil mengusap- usap jidatnya yang mulai benjol membesar, rasain kena batunya dech tu.


Kutarik nafas panjang berulang kali biar kondusif kejiwaanku oleh ulah mereka.


"Ehm, anda telah melakukan tindakan asusila dan mesum ditempat umum, oleh karna itu anda berdua saya bawa kekantor Desa untuk dilakukan proses secara hukum yang berlaku" kataku sok iyess, dengan suara yang ku buat- buat biar kelihatan berwibawa.


"Amfun, fak jangan bfawa kami ke bfalai Desa" kata sicowok memelas dengan nafas yang masih ngos- ngosan.


Kulihat siceweknya sudah gemetar ketakutan.


"Baiklah, tunggu sebentar, saya mau melaporkan dulu ke komandan saya" kataku berpura- pura pencet nomor telpon, kemudian aku agak menjauh dari pasangan itu. Pura- pura telpon.


"Jallo komandan, ya selamat malam, ijin melaporkan ndan,vtelah terjadi tindakan mesum oleh dua orang remaja di taman desa dekat perkebunan, iya barusan ndan, iya ndan, belum tau ndan, nanti kutanya lagi, baik ndan, iya baik ndan, siap laksanakan" suaraku kuperkeras sedikit biar mereka dengar kalau aku serius telpon.


Kemudian aku datangi mereka, belum sempat sampai aku ngomong sicowoknya langsung berlutut minta ampun agar dibebaskan, aku jadi tertawa geli sendiri, sedangkan si ceweknya mulai terisak menangis.


"Amfun fak, jangan tangkaf kami, aku mohon fak" pintanya memelas,


" maaf kata komandan saya, kalian harus diproses di kantor Desa, dan nanti orang tua kalian akan di panggil, selanjutnya di proses secara hukum kami akan menyerahkan kalian ke satpol pp kota guna dilakukan pembinaan" kataku menakuti mereka.


"Amfuuunnn, jangan fak, jangan!"


"Nama kamu siapa, yang cowok?"


"hmfaiidi fak"


"hah!! siapa? saidi?"


"faidi, faidi fak"


"oh paidi to, terus pacar kamu namanya siapa?"


"shfuitun bfahdruah"


"hah!! belatung murah??"


"bfukan fak, shfuitun bfadryuah"


"hah apa??syaitun diruqyah?"


"soifatun badriyah pak" jawab siceweknya, malah cowoknya cengengasan aku bilang syaitun diruqyah.


"Oh soifatun badriyah, kamu kalau ngomong yang jelas donk" kataku pada sicowoknya.


" coba bilang apem" lanjutku mengerjai


"abfem"

__ADS_1


"apem putih plenuk- plenuk"


"abfem futih bflenuk- bflenuk"mencoba menirukanku.


Aku hanya bisa tersenyum kecil, puas mengerjai terus kulanjutkan aksiku.


"Baiklah daripada lama- lama kasihan juga cewekmu, kamu juga gak mau diproses secara hukum, kamu maunya bagaimana?"


"nngak tau fak"


"aku juga sebenarnya kasihan sama kamu, kamu tak kasih solusi ya biar urusan cepat kelar, aku bantu kamu supaya tidak diproses secara hukum"


"i iya fak" katanya senang.


"Kamu saya kenakan denda tempat, gimana?"


"i iya fak bferpa"


"satu juta saja, untuk menutupi kesalahanmu buat laporan sama komandan saya" kulihat dia lemas seketika.


"Aku gak fubya fak"


"terus punyamu berapa?"


kulihat dia dan pacarnya mengumpulkan uang dari sakunya, kemudian diserahkannya padaku beserta dua hape jadul yang bentuknya sudah amburadul.


"Ini fak yang kami funya"


"ya sudah saya terima, yang penting kamu ikhlas to?"


"i iya fak"


"ya sudah sekarang kamu pulang bersama pacarmu, karna sudah malam dan jangan diulangi lagi perbuatanmu ya? ini hapemu aku kembalikan" kataku sok menasehati.


"Iya fak, makasih"


kemudian dengan cepat mereka ngacir pergi tanpa menoleh,


kukantongi hasil malak pertama dimalam ini, kemudian kuambil sabit dan sarungku yang aku letakan tadi dibawah pohon, selanjutnya aku hitung uang hasil malak tadi sambil berjalan pulang.


"wah lumayan juga nih ada seratus tuju puluh tiga ribu" batinku senang,


aku kembali melewati pematang sawah menuju rumah, sampai rumah aku ditanya Fatimah istriku.


"Daribmana si mas?, kok kotor gitu, celananya juga basah"


"habis nyari jangkrik dik, aku terjatuh di sawah tadi" jawabku sambil ganti celana yang kering.


Dan malam- malam selanjutnya aku bergerilya untuk mencari korban, aku sekarang menjadi preman kampung tukang palak tapi niatku baik kok, biar kampungku bersih dari orang- orang luar yang membuat rusuh dan kotor.


Namun demikian aku masih punya etika lho kalau malak, hanya orang yang melakukan tindakan asusila yang aku palak itupun harus ada kata sepakat ikhlas Ridlo Lillahi ta'alah, gak ada unsur paksaan,


kalau hanya sekedar ngobrol biasa dan bercanda aku biarin gak aku palak.

__ADS_1


__ADS_2