
MASIH ADEGAN PANAS, BOCIL DUDUK DI POJOK BENTAR.
Ruangan kamar berubah menjadi panas, bukan Karna udara, melainkan karna permainan asmara kami yang kian ganas.
"kamu ternyata lihai sayang" ucapkku pelan,Viska memandangku nakal, dengan senyum tipis, lalu memanggut daguku.
"lu kan yang ngajarin gue"
"mari guncangkan ranjang itu, kita getarkan kamar ini"
dengan tubuh yang masih menempel, bibir bergumul liar, tangan merajalela saling meraba di bagian tubuh yang sensitiv. Lidahku menyusuri leher jenjang, hingga menjalar menaiki bukit indahnya. suara *******, dan rintihan kenikmatan terdengar merdu. Di jambaknya lembut rambutku, di tekannya kepalaku. Bibirku menyapu perut ramping miliknya, Dia menggelinjang geli.
"Teruskan sayang, gue menginginkannya" racaunya pelan.
Tanganku berusaha membuka celana pensil yang masih menempel, hingga terlepas dari tubuhnya.
"Uhh, mantap jiwa"
sebuah gundukan indah masih terbungkus selembar kain tipis, dengan nakal kugigit gemas.
"Auuhkk!" rintihnya sedap.
Kemudian ku susuri naik setiap lekuk indah tubuhnya, menyapu bersih kulit lembutnya dengan bibirku. Ku peluk dia, Ku banting tubuhku ke ranjang, hingga tubuhku tertindih olehnya.
Disisi lain.
"Eh, nak Mujab, kapan pulang?" tanya Mamak ke Mujab, tunangan Viska yang baru pulang dari Jakarta. dia datang ke rumah Viska untuk bertemu.
"Tadi malam Mak, Viskanya dimana Mak?"
"Viska kerja, nanti sore baru pulang"
"oh, ini ada sedikit oleh-oleh buat mamak dan Bapak" kata Mujab memberikan sekantong plastik besar oleh-oleh dari jakarta, mamak menerimanya dengan suka cita.
"Aduh ngapain repot-repot sih nak, makasih banyak lho"
kemudian Mujab duduk melantai, dia sudah terbiasa dengan hal itu, karna menganggap rumah Viska adalah rumahnya.
"Kapan pulang dari Jakarta Jab?" tanya Bapak yang baru pulang dari rumah saudara.
"tadi malam pak" jawabnya sambil mencium punggung tangan Bapak.
"Bapak dari mana?"
"Tadi dari rumah pak Rif'an, ada tawaran kerja buat Bapak" lalu Bapak ikutan duduk melantai di samping Mujab.
"Oh, kerja apa pak?"
"itu, membuat rumah baru, untuk anaknya pak Rif'an, yang sebulan lalu baru pulang merantau dari Kalimantan. Sekarang sudah sukses" jawab Bapak panjang lebar.
"Gimana usahamu di Jakarta?"
"ya begitulah pak, yang namanya usaha pasti ada pasang surutnya. Dan ini usahaku lagi sepi, makanya saya pulang dulu pak, sekalian nanti mau minta bantuan Viska, untuk ikut mengembangkan usaha" jawabnya penuh sopan.
Mamak datang dari belakang membawa seteko teh hangat, dan beberapa gelas. Lalu meletakan di tengah mereka.
"Hayo di minum dulu, mumpung masih hangat"
Selanjutnya mereka berhiha hihi bersama.
__ADS_1
****
Viska sekarang lebih liar gerakannya, tak ku sangka, orang yang ku kira dulu robot, sekarang seganas ini mencumbuiku.
" Tak sia-sia aku mengajarinya" batinku, sambil menikmati cumbuan Viska yang semakin menggila. Aku membalikan posisi, sekarang aku yang menguasai permainan. Viska ku tindih, tak mau kalah, aku secara brutal mencumbui seluruh tubuhnya. Tak bolak-balik biar tidak gosong. Viska hanya merintih dan mendesah saat menerima seranganku. Saling sesap menyesap tanpa ampas.
Satu ronde telah aku selesaikan dengan baik, nafas kami masih memburu tidak teratur.
"capek nggak?" ku tengok Viska yang di sampingku, juga lagi mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Lumayan" jawabnya tersenyum, karna kami tadi melakukan pertempuran cukup lama.
"Masih ada beberapa ronde lagi lho"
"tenang aja, gue pasti sanggup ngimbangin permainan lu" jawab Viska tenang, merasa yakin.
"Ya udah, kita istirahat ja dulu, nanti kita lanjutkan" ku raih minuman kemasan rasa teh kesukaannya, yang aku beli dengan beberapa cemilan kemasan sebelum ceck ini hotel. Lalu aku berikan ke Viska. Setelah selesai minum, dia bersandar di ranjang menikmati cemilan sambil nonton film Doraemon.
"Oya Pras, gimana ini kehamilanku?" tanyanya padaku, aku hentikan permainan game yang aku mainkan di ponselku.
"Ya biarin ja"
"Gila lu! bisa di bunuh Bapak gue nanti"
"nanti aku yang tanggung jawab, dan akan bilang ke Bapak kamu, kalau itu anak ku" ujarku santai, padahal aku sendiri juga panik.
"Wah, cari perkara lu!"
"lho kok bisa?"
"lu punya anak bini, gue punya tunangan. Mikir lu" ujarnya sewot.
"nggak tau gue, kalao lu nggak mau tanggung jawab juga nggak apa-apa. Karna ini bukan salah lu" aku hanya mendengarkan perkataannya. Kemudian dia melanjutkan perkataannya.
"Sebenarnya ini salah gue juga, Lu kan bayar gue, jadi biar ini gue yang tanggung sendiri" ucapnya lirih.
"tenang saja, aku akan membantumu kok, dan aku tidak akan lari dari tanggung jawab" kataku menenangkannya, ku peluk Viska dengan erat. Dia menangis sesenggukan di dekapanku.
"kenapa kamu menangis?"
"nggak apa-apa, cuma gue terharu dengan ucapan lu"
"jangan nangis dulu dong, nanti pertempuran babak selanjutnya tertunda dong"
"ish, dasar mesum, buaya rawa lu" katanya tersenyum, seraya mencubit daddaku gemas. Kutarik selimut untuk menutupi tubuh kami, selanjutnya kami sudah sundul-sundulan dalam selimut.
Kini Viska sudah meliuk-liuk diatas tubuhku, tak ubahnya seorang joky kuda yang memegang pelana. Dia memainkan pecutnya, aku yang meringkik. Dia memacu, menikmati tubuhku sebagai tunggangnnya. Keringat mengalir deras, membasahi seluruh kasur. Hingga usai beberapa ronde terakhir, Kami terkulai lemas penuh kepuasan.
Setelah selesai, kami pulang menuju kandang masing-masing. Tapi sebelum pulang sampai rumah, aku mampir ke tukang jamu untuk membelikan Viska jamu. Biar cepat datang bulan.
Tiga hari berlalu, sebuah notifikasi pesan masuk di ponselku.
-Bapak mau ketemu lu besok pagi-
Deg!! mati aku! pasti mau ngomong soal kehamilan Viska.
-Mau ketemu! Ada apa Vis?-
ku balas pesan tersebut sedikit panik.
__ADS_1
-nggak tau, katanya penting-
Waduh! bener dugaanku, pasti masalah Viska.
"Aku harus bagaimana? masak harus Kabur, wah, itu bukan sifatku. Baiklah, apapun yang terjadi, aku harus hadapi" gumamku dalam hati. Sok keren.
-okey, ketemu dimana?-
-terserah lu, mau ketemu dimana. Kata Bapak begitu-
-jam 09.00 di terminal, kamu ikut kan?-
-ya gue ikut-
Setelah menerima balasan dari Viska, aku agak gelisah.
"Ada apa mas?" aku menoleh ke arah istriku, Siti Fatimah. Kayaknya dia melihat gelagat ku yang kurang asyik.
"nggak apa-apa dik" jawabku cuek tak bergairah.
"Mikirin cewek mana lagi? sudah tua petingkah" aku hanya bersungut sebal mendengar celotehnya.
"Huuuu, meski tua begini masih laku tau" seruku dalam hati saja.
"Cewek apaan to dik, kamu tu jangan mengada-ada kenapa sih!" kemudian aku beranjak pergi ke kamar tidur. Tak lama istriku menyusulku. Aku terus kepikiran buat besok pagi, seumpama Bapaknya Viska meminta untuk tanggung jawab, aku harus jawab apa ya. Aku bingung, baru saja kasusku soal cewek selesai, kini harus menghadapi hal yang sama lagi. Ampuuun dech.
"Mau kemana mas?" istriku bertanya saat melihatku tidak jadi tidur. Dia juga ikut bangun.
"Cari angin bentar, siapa tau dapat mangsa" Aku ambil jaket, kemudian pergi ke taman untuk mencari solusi dan mencari mangsa. Mangsa dalam arti, mencari orang pacaran di taman yang melakukan tindak asusila, kemudian aku palak duitnya. Gaya-gayaan, aku sendiri juga sering melakukan tindakan asusila. Kadang Sok-sok an menasehati orang yang kepergok berbuat tak senonoh di taman. Alah bodoh amat, penting dapat duit. Pikirku kala itu.
Pagi ini, kupakai seragam dinasku dengan rapi, kelihatan tampan rupawan diriku saat bercermin. Kalau tidak diri sendiri yang memuji, siapa lagi. Apalagi rambutku yang indah memukau saat kusisir ala Jackie Chan.
"Berangkat ngantor bentar, bis tu ketemu calon mertua" aku tersenyum girang saat bercermin. Meski ada rasa sedikit was-was.
"Baru di goyang sehari kok hamil, emang topcer nih si otongku" desisku.
"Kenapa mas senyum-senyum sendiri" celutuk istriku yang tahu-tahu ada di belakangku. Dengan gugup campur kaget aku menjawab sekenanya.
"Keinget tadi malam, ada orang pacaran tak samperin malah lari tunggang langgang kayak lihat settan" bohongku pada istriku. Istriku berlalu kembali pada tugas rutinannya.
Menunggu pesan dari Viska, aku tidak tenang saat di kantor, tugas yang di berikan padaku, aku acuhkan di meja kerjaku.
-ini kami dalam perjalanan-
Senang campur takut plus panik jadi satu. Setelah aku baca pesan dari Viska.
-iya, aku juga jalan-
balasku cepat.
"Bos, aku foto copy sebentar" alasanku pergi pada atasan.
"Ya, cepat balik. Soalnya kamu sudah kebiasaan, kalau pamit fotocopy pasti baliknya pas kita mau pulang" aku hanya tersenyum kecil.
"Beres bos, siap laksanakan" aku segera berangkat menuju terminal, tempat janjian ketemu dengan Bapak Viska. Dalam pikiranku,
"gimana ya, kalau tiba-tiba Bapaknya Viska marah besar, lalu menghajarku di terminal. Wah malu dong sama seragamku." gumamku.
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.
__ADS_1