
Pelan-pelat kulihat kembali celah yang ada di pintu,
"Ah, selamet, selamet!" aku mengelus dadda senang, syukur deh aku tidak ketahuan. untungnya suara Musik yang di putar cukup keras, jadi suara pekikanku tadi tidak kedengeran oleh mereka. Apalagi Mereke sedang in the hoy, mana tahu meletusnya gunung. Hentakan Prasetyo makin lama makin cepat, etalase yang buat pegangan Ida sampai ikut terguncang. Sayangnya, aku hanya mampu melihat punggung dan buokkong item mulus milik Prasetyo.
"Lho kok!! Aku malah jadi penasaran sama bentuk rudalnya Pras, wah nggak bener nih, ini sudah nggak bener" otakku sudah mulai oleng. Gerakan maju mundur di mainkan pelan oleh Pras, setiap kali ada tekanan maju dari Prasetyo, Ida mendesah. Ida yang mendesah, aku yang merinding, "ih apaan ini?? ada rasa geli dan berdenyut di Ms, V-ku, tapi nikmat!! bukannya gue jijik dengan sexx ya? kenapa sekarang gue malah menikmatinya!!" beneran sudah sinting ini aku.
Tempo beralih lebih cepat, Ida pegangangan kuat sama meja etalase, sedangkan Prasetyo menghentak- hentakan gerakannya dengan kuat sambil mencengkeram pinggang Ida.
Nafasku memburu cepat, degup jantungku bergemuruh, serasa lemas kakiku bertumpu. bersama dengan itu ku dengar Prasetyo melenguh panjang. Dan Ida tersentak kaget tatkala tersembur sesuatu dari Pras. Ya, sesuatu yang bikin nikmat dan nagih. Aku lihat sesuatu itu mengalir jatuh ke lantai dan tercecer di situ.
Aku kaget, pelan-pelan aku mundur dan melangkah menuju motor matic ku yang terparkir didepan konter milik Prasetyo. Aku atur nafasku yang tidak beraturan, aku usap keringat yang ada di kening. Aku berusaha semaksimal mungkin mengendalikan diriku, agar tidak terlihat sedang terjadi sesuatu.
"Brengggsek!! mereka yang enak, gue yang ngos-ngosan kayak gini" dengusku kesal. Ternyata seru juga ya ngintip orang begituan. Beberapa kali aku menarik nafas panjang, biar kondisiku normal kembali.
Ida keluar dari konter sambil senyum-senyum, sudah memakai jilbab dan bajunya agak sedikit kusut serta asal-asalan. Yang paling parah, dandanan menor Ida kini sudah hilang, tinggal alisnya doang yang masih kelihatan tebal.
"maaf ya Vis, menunggu lama" ucapnya lirih sambil mengatur nafas, kelihatan kalau dia lemas. Tapi dilihat dari raut wajahnya, nampak kepuasan dan bahagia.
"Iya nggak apa-apa!" jawabku sedikit terbata, lho kok malah aku yang grogi merasa bersalah. Harusnya kan aku mengomeli Ida, memarahinya. Hampir satu jam aku menunggunya. Eh, maksutku hampir satu jam aku mengintipnya.
"Lu ngapain aja sih? kok lama amat, jadi telat nih berangkat kerjanya!" aku pura-pura memarahinya. Dia hanya tersenyum lemas.
"Anu, tadi aku minta kak Pras isiin lagu" jawab Ida berbohong.
"Isiin lagu, atau isiin nunukmu!!" batinku.
"Ya udah, ayo berangkat!" kataku ketus, Ida naik kemotor dengan malas. Kulihat Prasetyo sudah berdiri bersandar di samping konternya, melempar senyum padaku. Aku pura-pura tidak melihatnya. Sengaja ku lirik ke bawah, kearah mr.P yang masih kelihatan menggembung milik Prasetyo.
Motor kulajukan dengan kencang, biar otakku tidak teringat dengan kejadian tadi.
__ADS_1
"Kenapa juga aku tadi melirik itunya Prasetyo!! penasarankah?" pikirku.
"AAAHHH!!" tak sengaja aku berteriak di jalan, aku lupa kalau aku sedang membonceng Ida.
"Ada apa Vis??" tanya Ida kaget dan heran, mendengarkan aku berteriak.
"Ngg, biar nggak ngantuk Da" jawabku sekenanya.
"Oh, kirain ada apa Vis" Kata Ida. dia kembali bersandar di punggungku, dan melingkarkan tangannya di perutku. mungkin masih lemas habis perang dengan Prasetyo.
Setelah sampai pabrik, aku langsung menuju toilet. Ida yang bertanya kepadaku tak ku hiraukan. Aku terpekik kaget untuk kedua kalinya di pagi ini. bagaimana tidak, setelah aku tau, ternyata celana dalamku sudah basah. semprul!! berarti tadi aku beneran terangsang. assudahlah, toh itu hal yang wajar.
Sehari ini aku lewati cukup membuatku bingung sendiri, mulai dari ulah dua kunyuk tadi pagi, di tambah kerjaanku bermasalah, banyak hasil jahitanku yang menurutku kurang bagus, dan harus aku ulangi lagi. Entah karna aku kurang konsentrasi atau memang aku tidak enak badan. Waktu perjalanan pulang, tanpa sebab dan akibat, Ida tak omelin sepanjang jalan. Untung dia cuma diam tak menyahuti omelanku.
"Kamu kenapa tah Vis?" sewaktu Ida tanya aku.
"Vis!! pelan-pelan!!" Ida ketakutan, saat motor ku pacu dengan kecepatan tinggi, Dengan begini aku merasa sedikit lebih baik.
"Bawel amat lu!! duduk yang baik, pegangan yang kencang" ujarku pada Ida, dia menurut saja, dari pada tak turunin dijalan. Motor masih kulajukan dengan kecepatan tinggi, aku melenggak lenggok di jalanan. Ida menangis terisak karna ketakutan, banyak pengendara lain baik dari belakang atau dari arah yang berlawanan, menyembunyikan klakson kepadaku. Aku hanya mengumpat kesal pada mereka.
"Jangan cengeng lu Da, lu tau gak?? semakin kencang naik motor, maka akan semakin dekat dengan TUHAN. hwahahaha" tanpa sadar aku mengucapkan itu. Ida semakin menggigil ketakutan
"Aku belum mau mati Viss!!" teriaknya padaku. Aku menanggapi dengan suara keras juga,
"Gue tau, lu maunya *****' Mulu."
Sampai di depan gang Ida, Aku berhenti secara mendadak karna hampir nabrak orang yang mau lewat.
"WOIII, punya mata gak sih lu!!" umpatku kesal, orangnya cuma diam tanpa menoleh kepadaku. Ida turun lalu berlari menuju rumahnya.
__ADS_1
"Cemen lu Da!!" gini giliran Ida yang aku omelin. Dia tak menggubris omelanku. Brenngsek.
Aku langsung tancap Gas dengan kencang menuju rumah. Sampai depan rumah, tak sengaja aku menyenggol tempat sampah hingga tumpah.
"Siapa sih naruh ginian disini!!" ku tendang sampah tersebut, makin berserakan sampahnya dimana-mana. Aku puas. beberapa orang tetanggaku melihat ulahku, tanpa ada yang berani menegurku.
Aku berjalan menuju kamar, kulihat adiku Ubay sedang belajar di kamarku.
"Ngapain lu disini? pergi!!" ku bentak juga adikku, dia melihatku penuh keheranan.
"Ada apa sih mbak? aku lagi ngerjain tugas kok" tanyanya lugu.
"Udah lu pergi dari kamar gue, cepetan!!" Aku dorong tubuh adiku keluar. lalu,
Duarrr, pintu aku banting, kemudian aku kunci dari dalam.
Tiba-tiba badanku terasa dingin, badanku menggigil. Aku ambil selimut dan duduk meringkuk di pojokan kamar. bibir terasa kering, tenggorokan terasa sangat haus. Aku SAKAW. berkali-kali kuusap wajahku.
"Gue butuh obat, sudah seminggu gue nggak mengkonsumsinya" aku dilanda kebingungan. Aku raih hapeku, dengan cepat ku ketik pesan ke Lena.
-gue butuh obat secepatnya, gue udah gak tahan! sabu, heroin, atau apa terserah!! buruan!!-
Aku lemparkan hapeku ke sembarang tempat, rasanya lama banget kalau harus menunggu Lena datang mengantar pesananku. Mataku bergerak liar mencari sesuatu.
"Dimana aku menaruhnya!" Aku mencoba mengingat-ngingat pisau Carter, yang biasa aku gunakan untuk meraut pensil alis.
Aku berdiri ke arah almari, aku bolak-balikan semua pakaianku, tapi tidak menemukannya. Di kotak rias juga tidak ada. Aku telusuri semua sudut kamarku satu-persatu, sudut mataku melihat sesuatu yang terselip di antara ranjang dan tembok.
"Ah itu apa!" aku meraih benda kecil berwarna merah, aku menggesek keluar mata pisaunya. Aku arahkan mata pisau ke lengan kananku. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa ragu sedikitpun dalam benak pikirku. Aku goreskan pisau Carter pelan, membentuk garis merah. Garis yang aku buat berwarna merah, karna itu darahku yang keluar. Mengalir pelan menuju ujung tanganku.
__ADS_1