ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 78


__ADS_3

Selepas ikut kumpulan RT, malam ini aku mengantar Fatimah ke bidan Desa.


"Janin dalam kandungan sehat ya mbak, ini obat penambah darah dan Vitaminnya harus rutin di minum ya?" kata Bidan Delima.


"iya Bu"


"ini anak ke berapa Bu?dua ya?"


"anak ketiga Bu"


"wow! anak ketiga? masih mudah sudah punya anak tiga. Hebat!" ujar bidan heran.


"terus anak kedua umur berapa mbak?"


"baru Lima bulan Bu" jawab Fatimah malu-malu, aku yang melihat sambil menggendong Aini hanya senyum-senyum.


"Waduh bahaya sekali Bu" tukas Bu bidan memberi tahu.


"jarak kelahiran yang terlalu dekat bisa membahayakan kondisi ibu dan anaknya lho mbak. Kenapa tidak program KB?"


"sudah Bu, tapi lupa" ujar Fatimah hanya tersenyum.


"KB kok bisa lupa, itu si Bapaknya harus memperhatikan. Jangan mikir hanya enaknya saja, kalau bikin anak saja rajin banget" sungut Bu bidan sambil melirik ku. Aku pura-pura tidak mendengarkannya, karna asyik menggoda Aini.


"Huh, tadi di puji sekarang di nasehati" batinku.


"Ingat ya mbak, Kehamilan dengan jarak yang terlalu dekat akan meningkatkan risiko pendarahan, keguguran, hingga kematian pasca persalinan. Wanita yang sebelumnya mengalami kehamilan normal bahkan tidak luput dari risiko ini. Ibu hamil juga berisiko mengalami placenta previa dan atau placenta accreta" terang Bu bidan, Fatimah yang mendengarkannya malah jadi takut.


"Apa itu placenta Previa atau placenta accreta Bu?" tanya Fatimah penasaran.


"Itu bahasa medis atau bahasa kesehatan.


Plasenta previa adalah kondisi ketika ari-ari atau plasenta berada di bagian bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Selain menutupi jalan lahir, plasenta previa juga dapat menyebabkan pendarahan hebat, baik sebelum maupun saat persalinan.


Plasenta akreta adalah kondisi ketika plasenta (ari-ari) tumbuh terlalu dalam pada dinding rahim. Kondisi ini merupakan salah satu masalah kehamilan yang serius karena dapat mengakibatkan perdarahan hebat dan kerusakan pada rahim. Plasenta adalah organ yang terbentuk di dalam rahim pada masa kehamilan. Plasenta akreta merupakan komplikasi kehamilan yang berbahaya karena berpotensi mengancam nyawa. Kondisi ini bisa menyebabkan seorang wanita mengalami pendarahan hebat hingga membuatnya kehilangan 3 sampai 5 liter darah saat melahirkan" kata Bu bidan menjelaskan bahayanya melahirkan jarak terlalu dekat. Di jelaskan begitu juga percuma bagi Fatimah, karna dia cuma terbengong mendengarkan. Tandanya tidak paham apa yang di katakan oleh Bu bidan.


"Jarak ideal antara kelahiran dan kehamilan berikutnya adalah sekitar dua sampai 4 tahun. Hal ini dikarenakan jarak kelahiran yang terlalu dekat sangat berisiko bagi kesehatan ibu dan janin dalam kandungan. Perlu Anda ketahui, tubuh wanita membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dan siap mengandung lagi" pungkas Bu bidan mengakhiri keterangannya, setelah membayar kami pun pamit untuk pulang.

__ADS_1


Di perjalanan.


"Mas, aku kok menjadi takut dengan kata-kata Bu bidan tadi" ujar Fatimah.


"Kenapa mesti takut, kan ada aku yang di depan"


"ish, bukan itu"


"lha terus takut kenapa?"


"lha tadi kata Bu bidan bikin ngeri, kalau melahirkan anak jaraknya terlalu dekat, bisa berakibat fatal gitu kok"


"sudah tenang aja, kalau ada apa-apa sama kamu, biar aku cari ibu yang baru buat anak-anak. Hehehe"


"ih, gemes aku, di ajak ngomong serius, selalu aja bikin kesal" sengak Fatimah seraya mencubit pinggangku.


"Aw!! sakit dik, ini di jalan. kalau jatuh bisa bahaya"


"lha kamu kok, sukanya bikin masalah terus. Viska gimana? masih ketemuan sama kamu?" tanya Fatimah.


"Hm, masih dik. Nggak cuma ketemu, tapi kelon juga" kelakarku sambil tertawa, Fatimah cuma merengut dan mencubit pinggangku sampai aku meringis kesakitan.


"Habisnya kamu reseh, sudah tau di jalan malah di cubitin terus" dengusku kesal, lali aku memperlambat laju motorku.


Pagi ini aku kerja seperti biasa, dan siangnya seperti biasa juga, aku pulang duluan alias bolos dengan berbagai alasan. Setelah berhasil keluar, aku pergi meluncur mencari alamat yang tadi malam di kasih tahu Viska lewat pesan hape.


"Permisi Mbah? pesantren Jannatul Firdusy dimana ya Mbah?" aku berhenti sebentar dan bertanya pada Simbah yang lagi menjemur gabah.


"Hah? apa gus?" Simbah menoleh ke arahku.


"wuih aku di panggil Gus, kelihatan banget ya? kalo aku mirip anak kyai" gumamku tersenyum.


"Pesantren Jannatul Firdusy Mbah, dimana?" kembali ku ulangi pertanyaanku.


"Hah? bakul wedus?( penjual kambing)" Kupikir Simbah ini sudah tua dan agak budeg.


"pesantren Jannatul Firdusy Mbah?dimana?" aku kerasin sedikit suaraku, agar simbahnya ini mendengar.

__ADS_1


"Kurang ajar! ngomong sama orang tua nggak ada sopan-sopannya. Aku belum budeg, kalau ngomong Ndak usah keras-keras" bentaknya galak, sambil bertolak pinggang.


"Mau tanya apa kamu, cah kurang ajar" bentaknya masih sewot.


"Nggak Mbah, permisi numpang lewat" kataku terus pergi meninggalkan simbahnya yang masih marah.


"Ooohh cah Edan, di Desa Ndak ada pesawat" teriak simbahnya sambil mengacungkan sapu lidinya ke arahku.


Aku hanya melajukan motorku dengan pelan, lalu aku lihat sebuah papan nama bercat hijau dengan tulisan Pondok pesantren putra-putri Jannatul Firdusy.


"Asem, ternyata disini. Ngapain juga aku tadi tanya Simbah gokil yang bikin tensi darahku naik" gumamku memperhatikan papan nama ponpes yang di kasih tahu oleh Viska.


Setelah memasuki jalan seperti lorong atau gang kecil, ku pandang sebuah bangunan besar bertingkat dengan cat warn hijau muda, di tengah gedung itu ada sebuah masjid besar pula, dengan dua menara kecil yang menjulang tinggi.


"Assalamualaikum mas" sapaku pada penjaga ponpes. Seorang lelaki separuh baya dengan pakaian ala santri.


"Waalaikumsalam, ada perlu apa ya kang?" tanya penjaga ponpes.


"Anu mas, mau jenguk santriwati yang bernama Viska Aulia" kataku sopan.


"Oya, akang ini apanya ya?"


"saya calon suaminya mas" jawabku sambil senyum-senyum.


"Oh, calon suaminya. Tunggu sebentar ya kang" aku hanya menganggukan kepala dan tersenyum, dan penjaga ponpes pergi ke asrama putri untuk memanggilkan Viska.


Di pesantren adem banget, terasa sejuk di hati dan pikiran. Apalagi melihat para santri dan santriwati melakukan kegiatan rutinan. Ada yang mengaji, ada yang belajar kitab dan lain-lain. Untuk Asrama putra di pisahkan dengan asrama putri, tapi tetap dalam satu lingkungan.


"Hm, jadi kepingin mondok. Cita-cita yang kandas" gumamku melihat suasana di pesantren, karna dulu aku kepingin mondok, tapi tidak tahu harus mondok kemana. Malah di suruh orang tua kesawah melulu untuk membantu pekerjaan orang tua yang notabennya adalah petani tulen.


Saat sedang asyik melihat-lihat pondok pesantren, dari belakang aku di kejutkan dengan suara yang sudah sangat aku kenal. Viska.


"Assalamualaikum beb" aku membalikan badanku dan melihat sesosok perempuan memakai pakaian gamis syar'i dengan sangat anggun dan cantiknya.


"Wa- waalaikumsalam" mataku melebar melihat Viska yang sekarang berubah cantik banget, dia tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya sambil tersenyum dan menundukan pandangannya.


"Eleh eleh, geulis pisan si Eneng"

__ADS_1


terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.


__ADS_2