
MASIH ADEGAN PANAS, BOCIL SKIP AJA...!!
"Pelan-pelan sayang!" rengek Ningsih, aku tak mengindahkan rengekannya. Sepertinya tenagaku telah pulih, saat istirahat sebentar tadi. Aku benamkan seluruh tongkolku hingga pangkal, dan aku mendiamkannya sesaat, menikmati pijatan lembut dari Nunuk Ningsih yang sudah basah berlendir. Dari gerakan pelan berangsur menjadi gerakan mematikan, aku terus menyodok Ningsih dari belakang.
"Heg, uhh, heegk" racau Ningsih, aku terus melaju dengan tempo yang masih sama. Hingga Ningsih tersentak-sentak maju, oleh sodokanku yang kencang.
"Pelanin mass, aak ku su dah-" dia semakin erat mencengkeram sprei, aku masih tak menggubrisnya, malah semakin kencang burungku berkicau di dalam sangkar barunya.
Tetesan keringat membasahi selimut dan sprei, terlihat seksi diriku. Hehehe... Aku memegangi pundak Ningsih dengan erat, biar sodokanku semakin kedalam menuju dasar.
"Ouhh mas Pras, kamu perkasa banget" senyumnya dalam hentakanku yang nikmat.
"Rasakan sodokanku ******, hwahahaha... nih!" sekali lagi kuhentakan gerakanku dengan sedikit kasar, ku hujami secara brutal dan bertubi-tubi lubang surgawinya Ningsih hingga terlihat sedikit membengkak.
"Ayo terus sa-sayang, sekarang aa- ku budak seksmuuu ooohh" desahnya membuatku semakin liar.
Tubuh Ningsih mengikuti irama gerakanku yang semakin membuat diriku blingsatan tak karuan.
"Ooohh pecuun, t terus begitu, sundel jalaang yess!" pekikku menahan nikmat, CETTARRR...CETTARRR, ku tepuk bokkong semok Ningsih dengan cukup keras hingga memerah.
"Ssshhh! yeaah beg begitu sayang, aku menyu-kainya" desahnya terbata-bata, menikmati perlakuanku yang kasar yang selama ini tak pernah aku lakukan sama cewek manapun.
"****** murahan, ayo puaskan aku!" hardikku masih dalam sodokan yang semakin panas.
"Uuhh iya sayang, aku murahaaann, laku-lakukan, ooohh, ssshhhah... sesu suka kamu, puaskan aku yang murah-an ini sayangkuuhh ouuhhh" racaunya tak henti, matanya merem melek saat ku berikan kenikmatan yang selama ini dia tunggu. Aku remas-remas semua yang ada di tubuh Ningsih, hingga akhirnya dia menggelepar-gelepar tak berdaya seperti ikan mujahir yang kepanasan di tanah.
"Ssshhhhaa!! ouuhhhh, aku dappaat" lenguhannya panjang di iringi nafas yang memburu cepat, aku semakin kesetannan menghentakan gerakanku dengan cepat, ingin mendapatkan kepuasan juga seperti dirinya. Dan akhirnya,
"wooo hohohoho, aahhh,ahhh" aku melenguh panjang, dan Ningsih terpekik kaget saat mendapat semburan yang kencang dan banyak. Aku ambruk di punggung Ningsih yang licin oleh peluh keringat yang membanjiri tubuhnya. hingga kami terdiam beberapa saat, hanya suara nafas kami yang memburu.
Aku dan Ningsih berpandangan, saling melempar senyum kepuasan. Dia membelai wajahku dengan sayang seolah ingin mengucapkan terima kasih telah memberikan kepuasan padanya. Tapi mulutnya tak dapat berucap, karna masih mengatur deru nafas yang memburu.
"Gimana Ning? sudah puas?" tanyaku kepada Ningish yang masih mengatur nafasnya yang belum stabil.
"Kamu luar biasa mas, aku sampai lemas gini" ujarnya memuji keperkasaan ku, aku hanya tersenyum di sudut bibirku.
__ADS_1
"Ya sudah, aku tak langsung mandi, habis ini pulang ya? aku masih ada pekerjaan lain" ujarku seraya menyambar handuk yang tergantung di gantungan baju.
"Nggak istirahat dulu mas, aku masih lemas nih" sungutnya protes, aku pura-pura tak mendengarnya.
Byurr...Byurrr... uh segernya, air dingin membasahi sekujur tubuhku. Membuat rasa lelahku hilang. Setelah selesai mandi, kusuruh Ningsih juga mandi dan segera siap-siap untuk pulang, meski awalnya dia protes, tapi akhirnya menurut saja apa yang aku perintahkan.
"aku masih ingin lama-lama denganmu mas Pras" ocehnya ngedumel, sambil melangkah ke arah kamar mandi.
Singkat cerita, kami sudah dalam perjalanan pulang. Ku lirik Ningsih masih cemberut, karna tak ajak pulang cepat.
Saat memasuki jalan raya, tiba-tiba motorku di Pepet enam orang tak di kenal dengan tiga motor. Perawakannya semuanya tinggi besar dengan memakai jaket dan bercelana formal rapi. Salah satu dari arah kanan mencoba menghentikan motorku dengan lambaian tangannya.
"Pak bisa minggir sebentar, kami mau konfirmasi" katanya keras. Aku tak memperdulikannya, Karna aku tahu ini pasti Debt Collector. Dengan cepat ku tarik gas lebih kencang. Dalam perjalanan aku hanya menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari mini market atau kantor Polisi terdekat. Mereka terus mengejarku dengan melaju cepat pula, Ningsih yang tahu di kejar orang tak di kenal, merasa takut dan panik.
"Mereka siapa mas, kamu kenal nggak? aku takut" kata Ningsih sembari memeluk erat pinggangku.
"Pak minggir sebentar kami mau konfirmasi, tolong berhenti!" mereka masih meneriaki kami, tapi aku tak menggubrisnya.
Setelah melihat ada minimarket, aku baru menepikan motorku tepat di halaman yang terlihat oleh CCtv. Dengan tujuan, kalau ada tindakan kekerasan atau perampasan barang, kita punya bukti berupa rekaman CCTV tersebut yang ada di toko atau minimarket.
Enam orang mendekatiku, aku mencoba bersikap santai dan tidak panik. Ini termasuk hal yang penting.
"Menurut data, anda telah menunggak pembayaran motor ini sebanyak tujuh bulan" sambungnya berbicara sesuai data.
"Maaf anda siapa ya? dan data darimana" tanyaku memancing, masih bersikap santai. Meski tampang mereka sangat, dan perawakannya tinggi besar, buatku itu tidak masalah.
"Kami petugas dari Markedut finance, dan data yang kami dapat berdasarkan aplikasi smartphone kami ini" jawabnya sambil memperlihatkan ponselnya kepadaku, di situ tertera namaku dan lama tunggakan motorku.
"Oh, ada ID card? bahwa anda petugas dari Markedut finance? ada surat tugas dari kantor anda? ada surat sertifikasi dari lembaga resmi SPPI? bahwa anda resmi di tunjuk sebagai Debt Collector? ada surat foto kopi jaminan fidusia dari perusahaan anda?" semua pertanyaan ini aku lontarkan kepada mereka, mereka terdiam dan hanya berbisik satu sama lainnya.
"kalau semua pertanyaan saya, anda tidak bisa menunjukan kepada saya, anda berarti sekelompok orang yang mempunyai maksut lain. Rampok atau begal misalnya" sambungku ketus.
"Tapi kredit anda macet, dan kami berhak menarik kendaraan anda" jawab seorang yang berjaket hitam dan berkumis tebal.
"Kredit macet bukan urusan anda, anda berhak sebagai apa?" balasku semakin berani. Dan salah seorang menunjukan surat kuasa dari Markedut finance kepadaku, sebentar ku baca dan ku cermati kata-kata dalam surat tersebut.
__ADS_1
karna surat tugas yang di berikan kepada Debt Collector berlaku hanya satu bulan, kalau masa berlakunya habis, mereka akan memperbaruinya lagi.
"Bagaimana pak? saya punya surat kuasa ini" jawabnya senang, sambil mengangkat tinggi surat kuasanya.
"Jangan senang dulu pak, anda di beri surat kuasa untuk menarik kendaraan yang mana dan punya siapa?" tanyaku dengan nada sedikit mengejek.
"Kendaraan Bapak lah, kan kamu sudah nungggak tujuh bulan" jawabnya mulai sewot.
"Atas dasar apa kalian menarik kendaraan ku di jalan?" tanyaku lagi masih dengan santai, lalu ku Sulut rokok biar tambah keren.
"Alah banyak bacot, ambil aja kendaraannya bang" sela seorang yang dari tadi ikut petentang-petenteng sok jagoan.
"Hei, aku tidak ada urusan ma kamu ya, atau dengan yang lainnya. Hanya yang punya surat kuasa dan di tunjuk oleh perusahaan yang berhak bicara sama aku, jadi jangan banyak berulah di hadapanku" ku tunjuk muka yang berbicara tadi, dengan ekspresi kesal dia cuma bersungut dan duduk kembali di atas motor.
"Dan kamu ya pak, dasar data dari aplikasi ponsel itu tidak berlaku, jangan membodohi diri sendiri, karna aku juga punya aplikasinya. Paham!!" hardikku dengan suara semakin tinggi.
"Kalau mau menarik kendaraan ku, datang kerumah, bawa syarat yang saya tanyakan tadi, dan jangan lupa surat keterangan penarikan dari Pengadilan Negeri, karna cuma pengadilan yang berhak menyita barang. Kalian semua salah menghentikan orang" sambungku sambil tersenyum. Karna kehabisan kata-kata, mereka akhirnya satu persatu meninggalkanku dengan kecewa.
"kami akan menuntut Anda" kata seorang tak terima, kemudian pergi bersama temannya.
"Lho silahkan, kalau bisa" jawabku enteng, aku juga kembali menaiki motorku. Hampir saja aku lupa kalau tadi aku boncengin cewek. Aku lihat tidak ada di sampingku, tidak tahu kemana perginya.
"Ning, Ningsih!" panggilku, tak lama dia muncul dari belakangku.
"Darimana Ning?"
"aku takut mas, orangnya serem-serem" jawabnya panik, kulihat wajahnya sedikit memucat.
"Tadi aku ngumpet di samping gerobak es itu" sambungnya dan menunjuk gerobak es yang ada di samping minimarket. Dengan mimik muka yang lucu.
"Owalah, ya sudah, ayo naik, kita pulang" tukasku sambil terkekeh. Dan kami pun melanjutkan perjalanan pulang. Baru sebentar kami berjalan, ponselku berdering. Lali aku menepikan motorku di pinggir jalan, ku lihat telpon dari Viska.
"Hallo beb"
"sayang, kamu dimana?" tanya Viska dari balik telepon.
__ADS_1
"Aku, aku di jalan beb" jawabku gusar. "Waduh gawat! jangan-jangan Viska melihatku membonceng Ningsih" pikirku was-was sambil melihat sekeliling, ku dengar di telpon Viska nangis sesenggukan.
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, beri hadiah dan vote juga ya kak. trims.