
POV Viska
"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa memberi tahumu tentang jati diriku yang sebenarnya, aku tak ingin melibatkan mu dalam permasalahan yang menimpaku. Aku tidak meragukan kemampuanmu, tapi cukup aku saja yang menghadapinya. Hanya seorang Mujab, bagiku hanya sebagai serangga kecil. Aku hanya ingin jujur padamu, karna aku sudah sangat menyayangimu. Dan, aku sangat menghargai saranmu untuk lapor polisi, karna ini adalah tindak kejahatan yang di lakukan oleh Mujab. Tetapi di sisi lain, aku adalah seorang buronan. Lapor polisi sama saja aku bunuh diri." aku hanya bisa membatin sepanjang perjalanan pulang, air mataku tak berhenti mengalir. Hatiku sangat risau denga problematika kehidupan yang aku hadapi, kenapa aku bisa sesayang ini dengan seorang pria yang notabennya sudah beranak istri, padahal sebelumnya aku tidak pernah mengalami perasaan yang begitu mendalam kepada seorang pria. Ataukah aku hanya memanfaatkan kepolosan Prasetyo dari kejaran polisi, tidak, kalau aku hanya memanfaatkannya, tidak mungkin aku sampai rela di tidurinya berulang kali. Bahkan aku juga menginginkannya. Perasaanku tidak bisa di bohongi, kalau aku memang sayang sama Prasetyo. Perduli setan dengan omongan orang, kalau cinta sudah melekat, tai kucing rasa coklat.
Hari ini akan menjadi hari bersejarah bagi Mujab, dimana hari yang tidak akan di lupakannya seumur hidup.
"Awas! kau Mujab, jangan di kira gue cewek, sehingga lu bisa seenaknya mempermainkan gue, lu bisa bebas tanpa balas" gumamku penuh emosi. Rasa dendam menyelimuti pikiranku.
"Hukum rimba akan aku terapkan, hukum dunia lu bisa senang, hukum karma tunggu aja waktunya" desisku dengan tatapan tajam ke arah jalan, menunggu Mujab datang di acara reuni sekolahan yang sudah kami rencanakan. Reuni Madrasah Tsanawiyah, atau biasa di singkat Mts.
Acara reunian memang selalu kami adakan setiap tahun, guna menyambung tali silaturahmi dengan para teman dan juga para guru. Biasanya untuk lima tahun angkatan, kebetulan sekali, aku sama Mujab cuma selisih tiga tahun jadi kami bisa reunian bareng, di tambah lagi aku juga anggota panitia pada reunian kali ini.
Musik Qosidah mengalun merdu di sound syistem, menyambut para tamu undangan. Satu persatu datang memenuhi kursi tamu yang telah kami siapkan, perasaan senang terlihat dari raut wajah para hadirin. Mereka bersendau gurau, berpelukan dan berbagi pengalaman setelah lulus. Ada juga yang mengenang kenangan saat masih duduk di bangku sekola bersama, bercerita tentang kenakalan dan kekonyolan yang telah mereka perbuat. Sungguh jelas sekali tersirat rasa bahagia di antara mereka.
Seseorang yang aku tunggu akhirnya datang juga, dengan wajah tampan dan senyuman tersungging di bibir, dia menyapa teman-temannya, kemudian datang menghampiriku. Dialah Mujab, tunanganku. Wajah tampan, putih bersih, dan tubuh yang tinggi besar. Meski sudah menyakitiku, dia tidak merasa bersalah sedikitpun. Malah pasang senyum sinis kearahku, seakan mengatakan kalau dia akan menang dan bisa memilikiku seutuhnya.
"Kok baru datang A', dari mana aja" sapaku dengan tersenyum manis, kusambut uluran tangannya, lalu kucium punggung tangannya dengan takdzim, tanda aku menghormati dia sebagai tunanganku.
"Biasa Vis, berdandan dulu, biar penampilanku modis dan nggak malu-maluin, kamu kan tau, aku harus menjaga penampilanku biar tak norak sepertimu" jawabnya penuh kesombongan. Dia meliriku sambil memicingkan matanya, seolah mau mengejek.
"Lihat penampilanmu, kenapa memakai beginian sih, nggak bermerk, cuma kemeja biasa doang" ucapnya sambil menarik-narik kemejaku.
"Ssh, ini apaan lagi, sandal dari potongan spon. Murahan banget. malu-maluin aku aja" cerocosnya, sambil menilai buruk semua yang aku kenakan. Aku cuma terdiam menghela nafas panjang. Pergelangan tanganku di tariknya kasar menuju tempat yang agak sepi.
"Apaan sih A'? lepaskan tanganku, sakit tau" aku memberontak, aku kibaskan tangannya sampai terlepas.
"Kamu itu tunanganku, jangan buat malu aku dong, lihat semua yang kamu pakai, kampungan. nggak modis!"
"tapi aku nyaman memakainya" sanggahku, dia hanya bersungut kecewa.
"Semenjak kamu kenal Prasetyo si cowok dekil itu, kamu sekarang berubah kampungan dan norak!!" cibirnya, aku hanya terdiam menunduk, meski hatiku sakit saat Prasetyo di olok-oloknya.
"Ingat Vis, kamu tunanganku yang akan menjadi istriku, apalagi aku sudah menikmati tubuhmu yang seksi dan menggairahkan itu, sudah sepantasnya kalo kamu harus menuruti semua kemauanku. Habis acara ini, aku ingin menikmati lagi keindahan tubuhmu sayang. Hahaha" di pegangnya daguku, dengan cepat aku menepis tangannya.
__ADS_1
"Jangan sok suci kamu Vis, dasar wanita ******, murahan. Di bayar berapa kamu sama Prasetyo cowok kampungan itu. Hah!!" umpatnya sambil menunjuk wajahku merendahkan. Hatiku sangat sakit di katakan demikian, tapi aku cuma terdiam masih menahan emosiku, karna banyak orang. Ingin rasanya aku merontokkan giginya.
"Maafkan aku A' acara mau di mulai, yuk kesana" ajak ku untuk duduk mengikuti acara reuni ini. Dia hanya bersungut, kemudian pergi ikut duduk bersama tamu undangan lainnya.
Acara demi acara berlangsung dengan khidmat dan lancar, hingga sampai selesai. Dan para tamu sudah pulang ke rumah masing-masing. Kini panitia kembali bekerja termasuk aku, mulai bersih-bersih dan masalah administrasi yang harus segera di selesaikan. Ku lihat Mujab masih duduk santai di teras sekolah, secara tak sengaja melihatku.
"Ayo pulang" ajaknya menghampiriku.
"Nanti A' sebentar lagi, aku masih ikut beberes ma temen-temen"
"alah tinggal aja kenapa sih, ku lihat juga sudah banyak yang pulang"
aku tak menghiraukan ucapannya, dengan santai aku terus berjalan menjauhinya.
"WOIII, kamu dengerin aku gak sih! BUDEG" teriaknya jengkel, tapi tak mengejarku.
Beberapa menit kemudian.
"Sialan, cewek sundel, pantesan tak ajakin pulang gak mau, rupanya dia pacaran dengan cowok lain" umpatnya geram. Dengan langkah lebar dan cepat, Mujab datang mencariku.
"Woi ngapain lu di situ! Viska, berani ya kamu hianatin aku" teriaknya dari kejauhan, di mendatangiku dengan tergopoh-gopoh. Aku berlari masuk dengan seorang cowok yang bersamaku kedalam ruang kelas kosong yang paling ujung, dan Mujab terus mengejarku.
Brakk...BUKK!! Heekk.
Mujab terjatuh terjerembab, saat melangkahkan kaki dan menyandung sesuatu saat memasuki pintu mengejarku kedalam kelas.
Plokk plokk plokk... Hahahaha!
suara gemuruh tepuk tangan, dan sorakan tertawa terbahak-bahak memenuhi seluruh ruangan.
"Brengsyek! apa yang kalian lakukan padaku, akan ku balas perlakuan kalian!" Mujab mencoba berdiri, saat mau melangkah,
BRAAKK, Gedebukk.
__ADS_1
Dia terjatuh lagi, dengan bibirnya mencium lantai dengan keras.
"wuasssu kalian semua!!"
kami malah makin terpingkal dengan umpatan Mujab yang kami anggap lucu.
Belum sempat bangun, kedua temanku mengapit Mujab kemudian menyeretnya kedepanku.
PLAKK!
"Wattauwww!! gila lu Vis, sakit tau!" hardiknya penuh amarah, Saat kutampar muka Mujab dengan sangat keras.
"Itu kan yang lu lakukan pada gue!" Tukasku melototi dia, dia hanya terdiam membisu. Ku anggukan kepalaku ke arah teman-temanku yang ada di ruangan ini, semuanya ada 7 orang cowok yang berbadan tegap dan kuat. Memang sengaja aku ajak pemuda sekitar kampungku, untuk ikut membantuku mengerjai Mujab. Dua orang memegangi tangannya, dan yang lainnya mencopot sepatu dan celananya.
"Eh eh, apa yang kalian lakukan, jangan! jangan!!" teriaknya, sambil kakinya menendang-nendang sekenanya. Tapi, terus terdiam tak bisa berontak lagi, saat kakinya di kunci dengan pitingan tangan yang kuat oleh teman-temanku.
"Gila kalian semua!! lepasin aku!"
"gue akan melakukan yang telah lu lakuin ke gue, so nikmati aja, gue juga pingin menikmati tubuh lu" bisik ku menyeringai seram ke arahnya. Gigiku gemrutuk, rahangku mengeras. Ingin rasanya kulumat habis tubuh Mujab, kemudian ku muntahkan di ******.
"Anjiiir, kalo pingin menikmati tubuhku, kenapa tidak di kamar kamu ja Vis?" dia tersenyum senang, di kira aku mau memberi kepuasan kepadanya. Seketika Wajahnya berubah panik, ketakutan. Aku goyang-goyang kan benda kecil di tanganku, sambil menyeringai sadis.
"Ehhh, apaan itu!? LONTOOONG, SIAL!! TOLOOOONG!!" teriaknya keras penuh ketakutan, tubuhnya memberontak hebat, keringat dingin mengucur kayak pancuran mudhu, deras banget.
"Diam!! rasakan ini!!" gertakku.
"Hehgg, MMM, emmm"
Kusumpal mulut kotornya dengan kedua kaos kakiku, yang sewindu belum tak cuci.
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.
"Mampus lu! teller, teller deh lu" celutuk temanku tersenyum sinis.
__ADS_1