ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 18


__ADS_3

Tunanganku menariku dengan kasar, aku menghentakannya agar tangannya lepas saat menariku, karna aku gak suka dengan caranya memperlakukanku.


kulihat andreano terus pergi dengan mobil sportnya dan melambaikan tangannya padaku.


"Bye cantik, sampai ketemu lagi ya"


aku hanya membalas dengan senyuman.


"Siapa cowok tu hah!!" tanya tunanganku emosi, sesaat Andreano pergi.


"Siapa dia, kamu gak perlu tau"jawabku ketus dan memasuki rumah, tunanganku terus mengekoriku.


"apa maksutmu ngomong kayak gitu vis? kamu anggap apa aku ini??!!"


"iya kamu tunanganku sayang, puas?"


aku menarik nafas panjang untuk menahan emosiku.


"Oya sejak kapan kamu disini aa'?" tanyaku mereda, tunanganku namanya mujab aku memanggilnya aa' biar kelihatan romantis gitu kayak orang- orang sunda.


orangnya tinggi, ganteng dan berkulit putih, penampilannya pun modis selalu mengikuti trend fashion.


"Aku disini dari semalam, nungguin kamu gak pulang- pulang" jawabnya sambil duduk disampingku.


"Tapi sudah dilayanin anak- anak dengan baik dan memuaskan bukan? "kataku meledek.


"ya habisnya kamu, tak ajak selalu menolak, jangankan bercinta, tak ajak bercumbu aja kamu menolak, kamu tentu masih ingat saat aku memaksamu untuk bercumbu denganku?? saat itu pula, muka gantengku ini kena sikutmu dan kena tonjokanmu" aku hanya tersenyum kecil.


"Terus kamu kesini mau ngapain a'?"


"aku kangen kamu Vis" katanya sambil mendekat ke wajahku mau mencium.


"Eitss, berani macem- macem ku tonjok kamu" kataku mendelik sambil mengepalkan tangan.


"Cuma cium kening doang masa gak boleh sih"


"oh, cuma cium kening ya"


ku pejamkan mataku, dan kurasakan tunanganku mengecup keningku perlahan dan aku, cuma biasa saja rasanya.. gak ada getar- getar cinta atau merasa berbunga- bunga gitu saat dikecup sang kekasih.


"Emm, sayang aku butuh tambahan modal nih, untuk beli lapak baru" kata tunangnanku merajuk.


"Butuh berapa kamu a'?"


"sekitar 50 juta sayang"


"iya nanti tak kasih, tunggu bentar ya"


Aku beranjak pergi mengambil uang untuk tunanganku, ini kesekian kalinya aku memberi modal usaha untuk dia.


aku hanya berfikir toh usahanya nanti juga bakal untukku kelak, kalau kami sudah menikah.


Tetapi sudah setahun berjalan belum ada tanda- tanda dia serius sama ikatan pertunangan ini, aku mulai bosen dan jenuh dengan janji- janjinya tapi aku tetap bertahan dan sabar demi orang tua, aku hanya bisa nurut pada orang tua aku tidak ingin jadi anak durhaka.


Aku berusaha menjadi wanita terbaik buatnya, selalu nurutin semua kemauannya meski kadang kemauannya membuatku tersiksa dan tertekan.


Aku sadari, aku ini seorang wanita bangsat dan arogan tetapi aku juga ingin punya masa depan yang baik dan layak, kalau aku menjadi seorang istri, aku akan menjadi istri yang baik, dan semua pengabdianku hanya untuk suamiku kelak, itu janjiku.


Aku sangat menghormati tunanganku, tapi apakah dia juga menghormatiku sebagai tunangannya dan sebagai seorang perempuan muda, yang ingin diperlakukan istimewah oleh pasangannya.


Kalau dia menghormatiku, kenapa dia dengan terang- terangan didepan mataku bercinta dengan teman- temanku, dengan santai dan pongahnya menggandeng tangan temanku masuk kedalam kamar, dan lebih gilanya lagi aku biarkan saja, aku hanya cuek dan gak ada rasa cemburu atau semacamnya, assu dahlah nanti juga akan berubah sendiri kalau nanti kami sudah berumah tangga.

__ADS_1


"ini a' uangnya"


kuserahkan uang yang diminta kedalam amplop coklat besar, dia menerimanya dengan senyum yang mengembang dan mata berbinar bahagia.


"Makasih sayang, oya mamak bapak nyuruh kamu pulang, atau mau pulang bareng aku sekarang?"


"titip salam aja sama bapak mamak, aku pulangnya minggu depan karna beberapa hari kedepan aku ada jadwal manggung dan pemotretan"


"oya a' kalau nanti ada jadwal dadakan mungkin pulangku tak undur" tambahku.


"iya, aku pamit pulang dulu ya sayang" katanya mengulurkan tangan, kusambut tangannya, kucium punggung tangannya. tak lama dia berlalu dari pandanganku dengan menaiki sepeda motornya.


*****


Beberapa hari telah berlalu,


pagi ini aku sedikit terlambat, jadi aku jalan terburu- buru ketempat pemotretan,


setibanya di halaman depan aku melihat sekilas seorang pria tinggi dengan kemeja abu dan jas yang di sampirkan di bahunya berdiri memunggungi ku, terlihat juga setangkai Mawar di tangan kanannya.


Di tengah keasikan ku, aku mendengar salah satu asisten MUA ku berbicara dengan seorang pria.


Aku tak ambil pusing dan tetap fokus sama ponsel ku.


Tak Lama kemudian si asisten MUA itu berjalan mendekati ku.


"m


Maaf Mbk Bella, di depan ada seorang pria mencarimu" ucapnya.


"Siapa??" tanyaku dan di jawab oleh gelengan kepala oleh asisten itu.


"sepertinya tidak Mbak" jawabnya sambil sibuk membereskan alat makeup.


Aku mengernyitkan keningku dan bangkit berdiri


"apa pria itu yang kamu maksud?" tanyaku pelan di saat si asisten lewat di sampingku


asisten itu mengangguk, "iya mbak"


Kenapa perasaanku malah tidak enak ya,


aku pun berjalan menghampiri pria itu dengan membuat senyum yang ramah.


dari tampilan belakang nya aku tidak mengenali siapa pria ini.


bahkan seperti nya pria ini bukan salah satu dari temanku.


"Selamat siang, anda ada perlu dengan saya?" tanyaku ramah


pria itu berbalik dan hanya membalas dengan senyuman.


Wajah itu?? mata yang begitu terang. aku merasa tak asing saat melihatnya.


"hai Viiss" sapa pria itu membuyarkan lamunanku


"kamu tau namaku?? apa aku mengenalmu?? ada perlu sama saya??" tanyaku


"apa Lu masih mengingatku?" tanya pria itu tiba-tiba.


Mendengar itu senyumku perlahan hilang, aku merasa heran dengan pria di hadapanku ini.

__ADS_1


siapa dia? aku aku pernah bertemu atau mengenal sebelumnya? aku rasa tidak.


"Maaf jika mengecewakanmu, tapi aku sama sekali tidak mengenalmu. jika kmu perlu bantuan aku bisa memanggilkan asisten-asisten di sini atau pembuat acaranya"


ucapku dan aku berbalik untuk kembali ke dalam.


Namun langkahku terhenti saat pria itu menahan pergelangan tanganku.


aku benar-benar di buat kesal oleh pria ini.


"Aku tidak akan segan-segan memlintir kepala siapa saja yang berani macam-macam denganku" kataku keras masih dengan memunggunginya.


Pria itu malah itu tertawa gemas,


ancaman dari ku tidak di anggapnya sebagai sebuah ancaman.


"Lu memang sangat menarik viss,, dan ini alasan gw sampai datang kesini. Lu juga mengatakan hal yang sama di saat pertama kita ketemu, gue Andreano."


Mendengar itu kedua mata ku langsung terbuka lebar, seketika itu aku mengingat malam dimana dia menghampiriku di sebuah club'.


iya benar, aku mengingat dia menyebutkan nama itu.


Aku benar-benar terkejut saat tau pria ini adalah pria yang sama yang telah membawaku ke kamar hotel.


"Dunia ini begitu kecil ya, rumah gw tepat berada di samping tempat ini" ucap Andreano


aku memelototinya dan menarik tanganku dari genggaman tangannya.


"apa sekarang sudah mengingatku cantik??" godanya.


"Aku tidak mengenalmu dan entah kapan kita pernah bertemu" ucapku lantang.


Andriano tertawa pelan.


"ok baiklah, tapi ingat cantik, ini bukan pertemuan terakhir kita, sampai bertemu lagi sexy"


ucap nya seraya pergi meninggalkan ku.


selanjutnya, aku menjalani aktifitasku sebagai model hingga malam hari.


aku duduk termenung sendiri di samping pintu memandangi langit malam,


aku kembali teringat dan sangat merindukan david, jam sudah menunjukan tengah malam, tapi aku sama sekali belum ingin istirahat setelah seharian penuh beraktifitas.


pikiranku kembali di penuhi dengan kenangan ku bersama Davin, hal itu membuat air mataku kembali mengalir.


ku kepalkan tangan ku sambil menatap kesal mobil pria gila itu.


Siall, kenapa pula tempat pemotretanku sekarang tepat di samping rumahnya, dan malam ini aku harus menginap disini sebab pagi- pagi sekali dilanjutkan lagi pemotretannya.


ku pijat pelipisku, ku pejamkan mata.


"Bagaimana bisa aku bertemu dengan nya lagi. aku tak ingin lagi berurusan dengan nya. tapi ku rasa pria ini pasti kembali lagi mencari ku."


Tiba- tiba aku mempunyai sebuah rencana, ya rencana jahat untuk balas dendam buat orang yang paling aku cintai, Davin.


"Tenang sayang, darah dibalas darah.. nyawa dibalas nyawa, gw viska gak akan tinggal diam" gumamku berapi- api.


Kuambil ponselku, kuhubungi temen- temenku semua, karna sebelumnya sudah kusebar untuk mencari informasi mengenai pelaku yang sudah merenggut davin dariku, setelah selesai komunikasi dengan teman- temanku semua, aku buka ponselku dan kukeluarkan kartunya kemudian aku patahkan lalu kubuang, begitu juga dengan teman- temanku.


Semua sudah beres, besok mulai beraksi, kupejamkan mata menanti sang surya menampakan sinar kehangatannya.

__ADS_1


__ADS_2