
"Bang minta satu ya!!" teriak Elvi, lalu Lena tancap gas melarikan diri setelah Elvi berhasil menyahut satu tumpuk kaos kalau tidak salah, isinya satu kodi(20 lembar kaos). Kami tertawa terbahak-bahak sepanjang jalan. Kaos di oper Katrine yang ada di depan. Kemudian mendudukinya.
"Eh berhenti dulu Len" suara Elvi menghentikan Lena dengan segera.
"Ada apa lagi Vi?" tanya Lena heran.
"Kayaknya Abang penjual kaosnya nggak ngejar kita deh"
"trus Napa emangnya" sela Lena menoleh ke arah Elvi yang duduk di belakang.
"Lu liat nggak, di sebelahnya ada tumpukan hotpant keren lho" balas Elvi sambil tersenyum jahat, dan kami juga membalas senyuman Elvi dengan anggukan setuju.
"Yuk samperin lagi" tukas Katrine cepat.
"Yuk ah, nggak usah kelamaan" sahut Lena, sambil melajukan motornya balik lagi ke tempat yang jualan pakaian tadi.
Setelah hampir sampai, Lena melajukan motornya pelan. Dengan sangat hati-hati Elvi mengambil setumpuk bungkusan Hotpants Levis yang cukup bagus. Tapi sial, si Abang penjualnya terbangun. Seketika berteriak.
"Woi ngapain!! hoi maling...maling!!" teriaknya keras, tak ayal semua penjual yang di pinggir jalan yang enak-enak tidur terbangun semua. Merasa sudah mendapatkan setumpuk celana Hotpants, Elvi segera mengajak Lena untuk cepat-cepat menancap gas motornya.
"Anjiing! kita ketahuan Genk, hahahaha! buruan kabur" seru Elvi sedikit berteriak.
"Ayo cepat Len, ketangkap mampus kita" seruku saat melihat para penjual berlari mengejar kami.
"Maling, maling!! cepat tangkap" teriak mereka sambil berlari mengejar kami.
"Oih orangnya banyak banget" seru Serly saat memperhatikan ke belakang, Bukan Lena namanya kalau tidak ahli dalam membawa kendaraan. Dengan gesit dan lincah Lena melajukan motornya, kami meliuk-liuk di jalanan. Gang-gang sempit kami lalu dengan mudah, karna kami sudah hapal betul dengan setiap jalan dan tikungan di kota ini. Apalagi waktu malam kayak gini jadi jalanan sepi. Lena mengebut sesuka hatinya dalam melajukan motorku. Saat menoleh kebelakang kami rasa sudah aman, Lena dengan santainya mengarahkan sepeda motorku ke arah Villa tempat kami menginap. Hembusan angin pantai menyapu wajah kami semua, ada kepuasan tersendiri. Meski tadi kami panik karna di kejar masa, tapi bagi kami itu suatu keasyikan dan hiburan tersendiri.
" Awas nabrak bego!!" teriak Katrine saat melihat motor kami menabrak sesuatu.
BRAAKK, NGEEENGG...
"Lu ngeremnya gimana sih Len?"
"udah gue tarik remnya, emang dasar motornya aja yang Soak" gerutu Lena menyalahkan motornya. Tapi sesaat kami malah tertawa terkekeh, saat tahu apa yang di tabrak Lena.
"Anjiir kirain apaan, tak taunya tempat sampah"
"ish! sapa sih yang naruh tempat sampah disini" sahut Lena dongkol.
"tempat sampah di salahin, mata lu tu yang di taruh dimana" sahutku bersungut-sungut sambil mengamati motorku, takut ada yang rusak.
__ADS_1
"Ada apa mbak" seorang security menghampiri kami, karna mendengar suara gaduh di halaman.
"Nggak ada apa-apa pak, kami habis cari brondong tapi nggak dapat, hihihihi" jawab Serly cengengesan, pak security hanya diam keheranan dengan ulah kami.
"Yuk ah masuk, udah dapat hasil nih" seru katrine, sambil menenteng dua tumpuk pakaian dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Gue mau coba ah, Mayan dapat baju ganti gratis" celutuk ku mengambil sebuah pakaian dan sebuah celana hotpants, karna bajuku bau minuman yang tertumpah tadi waktu joget-joget di room keluarga. Dan yang lainnya ikut mencoba. Aku memasuki kamar Villa bagian bawah,di susul Lena dan Serly.
Villa yang kami sewa terdiri dari dua kamar, satu kamar di bawah dan satunya lagi di atas hanya saja kamar mandinya jadi satu.
"Hooi Genk! kalian pada ikut nyanyi lagi nggak nih!" teriak Katrine dari luar kamar kami.
"gue ikut! belum puas tadi gue goyangnya" balas Serly berlari kecil sambil membuka pintu kamar.
"Gue mau istirahat ja, capek gue" balasku singkat sambil merebahkan tubuh ke ranjang yang empuk, di susul Lena yang ikut ambruk di sebelahku.
"Gue juga nggak ikut, capek badan gue seharian nyetir" seloroh Lena meraih bantal yang ada di sampingku.
"okey, kita geboy dulu ya"
"hmm" sahutku males. Kami masih dalam pengaruh minuman keras dan serbuk laknat yang di bawah Lena. Rasanya berat membuka mata, di tambah kepala ku sedikit pusing.
"Len"
"hmm"
"dari temen gue di Jakarta, elu sudah jenguk Andreano belum Vis?" tanya Lena kemudian, aku baru tersadar kalau selama ini aku melupakannya.
"belum, gue malah lupa ma dia" balasku asal.
"Gila lu!" sahut Lena spontan, dia kaget sampai terbangun dan menatapku tajam.
"Udah berapa lama lu tak menjenguknya?" sambung Lena kemudian.
"Ya semenjak lu balik ke Padang, emang siapa yang nganter gue jenguk Andreano kalo nggak ada lu dodol" jawabku mencari alasan, ku Toyor jidat Lena.
"Gue heran, kenapa lu sampai ngotot ingin Andreano di dalam penjara sih Vis, bukannya soal mudah kalau dia menginginkan kebebasan" ujar Lena kembali merebahkan tubuhnya di sampingku.
"gue ingin lepas darinya Len" jawabku santai, lagi-lagi Lena terkejut dan bangun dari tidurnya serta melototiku penuh tanya.
"Maksut lu apaan Vis, bingung gue ma lu"
__ADS_1
"okey, gue jelasin semua ke lu" aku bangun dan duduk menghadap Lena yang bengong menatapku. Dan Lena mengambil air mineral yang ada di atas meja di samping ranjang, langsung meneguknya hingga separo.
"Yang pertama gue pingin lepas dan pergi dari kehidupan Andreano" sambungku.
"Kok bisa Vis? bukannya kamu nyaman dan hidup enak sama Andreano" sahut Lena tak percaya.
"Kalau yang ini gue nggak bisa ngasih tau ke elu, biarlah ini menjadi privasi gue dan Andreano aja" balasku menanggapi pertanyaan Lena.
"Dan yang kedua" sambungku meneruskan.
"Duit para bandar yang di Andreano jumlahnya tidak sedikit, dengan tertangkapnya Andreano secara otomatis para bandar tidak meminta uangnya kembali. Kalau ada yang berani meminta ke Andreano, maka tak segan Andreano juga akan menyeret mereka ke dalam penjara" Lena hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasanku.
"Ada lagi nggak?" sahutnya penuh ketertarikan mengenai hal ini.
"Ada, dan yang ketiga" sambungku lagi.
"Saat itu perusahaanya dalam masa pailit dan di tagih dari dinas perpajakan, yang jumlahnya sangat banyak, aku sendiri tidak tahu berapa nominalnya. Di tambah perumahan real estate yang di bangun oleh perusahaannya tertunda karena para pekerja yang mogok, sebab pembayaran gaji yang belum di bayarkan beberapa bulan"
"hmm, masuk akal juga. Dan ide kamu sangat brilian" sanjung Lena kepadaku.
"cuma yang nggak gue habis pikir, mengenai perampokan yang di lakukan Andreano itu gimana ceritanya Vis?"
"itu hanya alibi, dan akal-akalan Andreano bersamaku, Sebenarnya Bank yang di rampok Andreano bersama komplotannya adalah Bank milik keluarga sendiri yang ada di Jakarta" jawabku menerangkan.
"Kalau berhasil kita akan banyak duit, kalau gagal juga nggak terlalu pengaruh dengan kehidupan Andreano, dan tidak menambah masa tahanan Andreano" sambungku lagi, sambil menghela nafas panjang.
"Kenapa lu pingin banget lepas dari Andreano Vis?" kembali Lena mengulang pertanyaan yang sudah aku jawab.
"Sekarang gue sudah ada gantinya Len" aku menatap mata Lena yang membulat lebar.
"Bersama Andreano gue tercukupi, termasuk biaya rumah sakit dan pengobatan gue, tapi dalam hidup gue sangat terbebani" Aku mencoba menjelaskan sedikit tentang kehidupanku bersama Andreano ke Lena.
"Trus, cowok yang sekarang ma lu gimana orangnya? sampai lu bisa untuk melupakan Andreano" Tanya Lena penasaran.
"Dia sangat spesial bagiku, bersamanya aku nyaman dan mengerti akan kehidupan. Dia seorang ayah dari dua anak"
"maksutmu duda?" tanya Lena tak percaya, aku hanya menggelengkan kepala.
"Cowokmu masih punya keluarga utuh?" Lena terus mengejarku dengan pertanyaan, dan aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
"Gila lu! lu jadi simpanan om-om?"
__ADS_1
aku hanya menarik nafas panjang, haruskah aku menceritakan semuanya pada Lena? apa konsekuensinya bila aku menceritakan perihal Prasetyo pada Lena. Aku berpikir sejenak, bahaya tidak, bila aku ceritakan pada Lena. Secara temperamen teman-temanku sangat tinggi. Mereka akan berbuat hal gila bila di rasa tidak cocok.
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.