ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 75


__ADS_3

Kami memasuki halaman masjid yang masih dalam tahap pembangunan, melihat kami dengan pakaian seksi dan modis, banyak tukang bangunan menghentikan kerjaannya, malah pada bersorak riuh. Viska berjalan mendekati seseorang tua yang sedang duduk mengawasi pekerja.


"Permisi pak, apa saya bisa ketemu pengurus masjid ini?"


"oh bisa mbak, sebentar saya panggilkan dulu" jawab Bapak tua merogoh ponselnya dari saku bajunya, kemudian menelpon seseorang.


"Assalamualaikum, Tad ini ada orang yang mau ketemu sama anda"


"Siapa ya pak kiranya?"


"Saya tidak tau Tad, seorang cewek cantik dan semlohai dan beberapa temannya cewek juga"


"Hah, cewek? tunggu sebentar pak, saya segera kesana" jawab seorang di balik telpon. Sementara menunggu, Viska melihat-lihat keadaan bangunan. Tak ketinggalan teman-teman Viska dengan asyik mengamati para pekerja yang masih bersahut-sahutan, membicarakan cewek-cewek cantik yang ada di halaman masjid.


"Juooo, cewek cakep juooo" teriak seorang pekerja sambil membawa adukan semen.


"Wah, bukan kelasku kang. Nggak kuat beli bedaknya" sahut seorang yang lagi asyik memasang keramik.


"Kalau aku dapat istri kayak gitu, tiap hari pakai sarung terus kang, gak sempat pakai CiDi. Hahaha" sahut yang lainnya.


Viska cuma tersenyum mendengar selorohan para pekerja.


"Oya, bapak siapa ya?"


"oh saya mandor yang di percaya di sini mbak?" jawab Bapak tua, dan tak lama seseorang datang mengendarai sepeda motor karisma.


"Assalamualaikum?"

__ADS_1


"Waalaikumsalam Tad, ni ada mbak-mbak yang mencarimu" jawab Bapak tua serambi menyalami Ustad muda nan tampan.


"Maaf, ada perlu apa ya mbak mencariku" tanya Ustad tampan yang di ketahui bernama Syifa, Syifa Maulana iskandaria seorang Ustad kampung yang masih sangat muda, dan orang yang di percaya menjadi ketua pengurus masjid.


"Nggak apa-apa mas, gue dan teman-teman cuma mau nyerahin ini" jawab Viska sambil menyerahkan uang yang di dapat dari malak Adi bogel.


"Subhanallah! banyak amat mbak! kalau boleh tau, siapa nama mbaknya? biar saya catat di daftar donatur masjid" ujar ustad Syifa kagum kepada Viska, yang masih muda, cantik bersifat dermawan.


"Nggak usah di catat, masukin aja sebagai sodaqoh. Ya sudah saya dan teman-teman permisi dulu pak, mas Ustad" ucap Viska melangkah pergi dan tak lama sudah berada di jalan mengendarai sepeda meticknya. Ustad Syifa dan Bapak tua memandangi Viska, hingga tak terlihat dari pandangan. Setelah mengantar teman-temannya kembali ke habitatnya, Viska melanjutkan untuk pulang ke rumah.


"Ah, lelah sekali habis bersenang-senang dengan teman, nyampe rumah gue langsung tidur aja" gumam Viska di jalan.


"Kira-kira sampe rumah kena damprat bapak nggak ya, secara tadi pagi kan Mbak Fatimah nglabrak ke rumah dan bikin malu keluargaku"


Viska menghela nafas dalam.


"Assalamualaikum?"


"anak perempuan satu kok susah di atur, bikin malu orang tua saja"


Viska terheran melihat bapak Mujab juga ada di rumah, untuk menutupi rasa herannya Viska masuk ke dalam rumah dan menyalami semua yang ada di rumah.


"Kamu duduk sini, ada yang mau bapak omongin" seru bapak, saat melihat Viska mau masak kamar. Dengan malas Viska duduk di sebelah bapak.


"Ada apa pak?"


"ini pak Lamin mau ngomong" suara bapak terasa berat dan serak, melirik Viska denga geram. Karna sedari dulu sifatnya tidak pernah berubah. Tetap Ndablek.

__ADS_1


"Sebelumnya maafkan bapak ya nak Viska"Pak Lamin membuka suara, perasaanku sudah tidak enak melihat situasi yang seperti ini.


"Mujab tidak bisa melanjutkan pertunangan kalian, karna Bapak dan keluarga mendengar kalau nak Viska mempunyai penyakit kanker serviks. Dan kabarnya orang yang mempunyai penyakit itu, tidak bisa punya anak" kata pak Lamin, Viska hanya bisa diam memejamkan mata, menahan kesedihannya.


"Sedangkan orang berumah tangga, orang menikah itu yang di cari adalah keturunan. Sekali lagi, anak bapak Mujab tidak bisa meneruskan pertunangan ini, alias di batalkan" terang pak Lamin dengan pasti. Viska menundukan kepala, menahan sekuat tenaga, agar air mata tidak membanjiri pelupuk matanya. Terasa sesak di dada, hanya suara hembusan nafasnya yang terdengar memburu.


"Pantesan, Mujab selama ini selalu berkilah, dan selalu mengulur waktu, saat di tanya kapan untuk menikahiku. Rupanya ini yang di rencanakan oleh Mujab. Anjingg kau Mujab!! tunggu pembalasanku. Gue santet lu, gue habisin seluruh keluarga lu" amarah bergemuruh di dadaa Viska, Dengan mengatupkan gigi yang gemrutuk, Viska mencoba menahan emosinya yang kini sedang meluap nyampe ubun-ubun kepala.


"Untuk seserahan lamaran yang dulu, yang pernah kami berikan, tidak usah di kembalikan nak Viska. Dan sekali lagi kami sekeluarga mohon maaf kepada keluarga Pak Dullah, dan kamu nak Viska" lanjut Pak Lamin, setelah basa-basi sebentar pak Lamin pamit pulang. Tinggal Viska yang diam membeku, perasaannya hancur.


Orang yang selama ini di hormati, di taati, semua kebutuhannya di penuhi, bahkan di kasih modal ratusan juta, kini mencampakkannya. Setelah pak Lamin pulang, Bapak Dullah langsung beranjak dari tempat duduknya tanpa sepatah kata dan meninggalkan Viska yang diam mematung. Bisa beranjak dari duduknya, tanpa tenaga dan berjalan gontai, Viska membantingkan tubuhnya ke atas kasur. Pikirannya sangat kacau, air matanya mengalir pelan membasahi kedua sudut matanya.


"Kapan aku bisa bahagia seperti lainnya, Kenapa banyak Masalah datang silih berganti" keluh Viska di dalam Isak tangisnya.


"Anak tak tahu di untung, bisanya membuat malu keluarga saja. Baru tadi pagi di labrak istri orang, sekarang di putuskan tunangan" ujar Bapak dalam kamar, bersebelahan dengan kamar Viska. Sehingga perkataan orang tuanya masih di dengar Viska dengan jelas.


"Yang sabar pak, Viska jangan di sudutkan terus, kasihan dia. Bukan salah Viska juga punya penyakit kanker serviks, harusnya kita kasih dukungan pada Viska, biar tidak rapuh jiwa raganya" ujar mamak memberi pengertian pada Bapak.


"Alah, bisanya cuma nyusahin orang tua saja. Urus saja anakmu itu, aku mau tidur"


Semakin deras air mata yang mengalir, ingin rasanya Viska menumpahkan keluh kesahnya pada seseorang yang bisa menampung semua bebannya. Tapi pada siapa? apa mungkin Prasetyo masih mau mendengar keluh kesah ku? Sedangkan tadi pagi aku hampir saja membuat keributan di rumahnya.


"Aku butuh sandaran, aku butuh penopang yang sanggup membuatku kuat" lirih Viska dalam linangan air mata yang selalu membasahi mata indahnya.


Malam semakin larut, hati Viska sudah lebur menjadi kepingan-kepingan kecil. Dalam kerapuhan jiwa raganya saat ini, hanya TUHANlah yang mampu menolongnya.


"Ya ROBBI, Ampunilah segala dosaku, sembuhkanlah penyakitku, jadikanlah aku wanita yang sempurna yang bisa melahirkan hamba-hambah yang taat beribadah kepada MU"

__ADS_1


Viska bermunajat pada Sang Pencipta dengan Khusyu dan khidmat, sampai tak terasa sudah terbuai mimpi dengan balutan mukena putih.


terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.


__ADS_2