ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 39


__ADS_3

Dengan nampak ragu-ragu, tapi terpaksa aku mengetik, menulis pesan ke orang yang selama ini benci.


-masih mau kencan gak-


Sambil harap-harap cemas, aku menunggu balasannya. Duduk tak nyaman, baringan tak tenang.


Kruewess...kruewess. Bunyi hapeku, lalu ku baca pesan balasannya.


-ya mau dong, kapan?-


Setelah saling berkirim dan berbalas pesan. Akhirnya, aku membuat pertemuan dengan cowok buduk yang selama ini aku hina, aku caci maki, dan aku remehkan. Siapa lagi kalau bukan Prasetyo. Bagai menjilat ludah yang sudah aku buang, bagai senjata makan tuan. Suatu perumpamaan yang cocok dan pas buat aku sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, otak ku sudah buntu. Tangisan orang tuaku mengalahkan rasa malu, permohonan orang tuaku, aku menghinakan diriku sendiri.


Semalaman aku tidak bisa tidur, memikirkan besok pagi jam 09.00 aku harus datang menemuinya, di sebuah caffe yang telah kita janjikan. Oh Tuhan, tolong Carikan hambamu ini jalan keluar.


Aku mencoba menenangkan pikiranku.


"bukankah aku sudah pernah pergi dengan Prasetyo, meski cuma sekali. Itupun juga sebentar, menemaninya pergi menemui bini mudanya. untuk ngasih jatah bulanan ke anaknya. Tapi, itukan Prasetyo yang minta, lagian gue menemaninya juga ada bayarannya. Tapi saat ini, gue yang minta untuk ketemu. Haduuuhhh!" pikiranku berkecamuk, mukaku ku tutup dengan bantal.


Pagi ini aku bangun kesiangan, jam menunjukan pukul 08.30 lebih.


"Sial, ini gara-gara gue semalaman nggak bisa tidur" gerutuku dalam hati, aku bangun dan mondar-mandir di ruang depan. Perasaanku sangat gusar tak menentu.


"Berangkat tidak ya?" gumamku termenung.


"kalau tidak menemuinya, nanti gue di bilang pecundang. Haduh gimana nih!"


"ada apa Vis? kayaknya bingung banget" suara Bapak mengagetkanku.

__ADS_1


"E- anu Pak, eh, nggak apa-apa Pak" Bapak melihat ada yang aneh pada diriku.


"Kamu mau kemana Vis?" tanya Bapak kemudian, karna melihatku sedang mengeluarkan sepeda motor ke depan rumah.


"Menemui teman sebentar pak"


"kamu nggak mandi dulu, baru juga bangun tidur. mukamu tu kucel banget"


"nggak sempat pak, sudah terlambat" aku segera berpamitan sama Bapak dan segera melaju menemui Prasetyo yang sudah menungguku.


Di tengah perjalanan, beberapa kali hapeku berbunyi dan bergetar. Aku ambil hapeku yang di kantong celana.


"Iya aku masih di jalan, tunggu gue bentar" teriaku menjawab telpon dari Prasetyo.


"Duh, nggak sabaran amat sih" aku segera menancap gas motorku cukup kencang. Tiba di depan Prasetyo mendadak aku canggung, tenggorokan ku terasa kering, rasa haus bagai mencekik leher.


"Mau minum apa?"


"jus jeruk" aku merasa grogi di hadapan si kunyuk ini. Dia menanyakan mengenai diriku, kenapa sampai mau mengajaknya kencan. Maka aku jawab semua apa adanya. Dari hasil diskusi dengan Prasetyo, akhirnya kita mencapai mufakat. Bahwa besok jam 08.00 kita akan bertemu lagi di dekat tempat pertemuan ini.


"Baiklah besok kita ketemu lagi jam delapan" aku hanya menganggukan kepala, dia menggenggam tanganku layaknya kekasih yang mau berpisah.


"Dan sebelum kita pulang, Em- aku, aku mau minta DP ke kamu"


"hah! DP? maksutnya?" aku terbengong dengan perkataan Prasetyo. Dia hanya mesam-mesem, aku tidak paham dengan maksutnya.


"maksutku, boleh nggak aku minta cium kamu, eh, kecup kening aja kok" katanya sedikit gugup. Busyet deh belum apa-apa sudah mau nyosor duluan. Dasar cowok tengik, tidak mau rugi meski sedikit. Aku mengiyakan permintaanya, mataku terpejam, kulirik dia celingak-celinguk lihat kanan kiri, terus mengecup keningku dengan cepat.

__ADS_1


wajahku bersemu merah cabai, saat bibir Prasetyo mendarat di keningku. Aku tak mengira saja, cowok yang selama ini aku benci setengah hidup, kini menempelkan bibirnya di wajahku. Udang rebus deh jadinya mukaku ini.


"Sial, sial, kenapa juga gue mau di kecupnya. Iiihh!" sepanjang jalan pulang aku menggerutu, berulang kali aku usap keningku dengan kasar.


"Cih, harus mandi junub ni nanti gue, eh, lha besok kan janjian kencan dengannya. Aaaarghhhhh!! gue nggak sanggup, Maaakk tolongin anakmu ini" aku mendengus kesal dengan diriku sendiri.


sampai depan rumah, aku langsung lari kedalam.


"ada apa Vis? gimana sudah dapat belum uangnya?"


"besok Mak" aku tak menghiraukan pertanyaan mamak yang baru keluar dari kamar, aku ngeloyor saja ke kamar mandi untuk membasuh wajahku. berulang kali ku sabuni wajahku hingga nampak berkilat kembali, sampai hilang bekas kecupan Prasetyo si hidung belang, kucing garong.


Dari pagi sampai siang, siang menjelang sore dan sorepun beranjak malam, bahkan malam berganti pagi lagi. pikiranku di selimuti rasa takut, rasa was-was. semalam suntuk aku begadang, memikirkan hal gila yang belum pernah terbersit dalam pikiranku. Terasa cepat waktu berputar, rasanya baru tadi aku ketemu Prasetyo kini harus ketemu lagi, dan akan satu kamar pula dengannya. kata kencan bukan berarti kita akan saling memadu kasih, jalan-jalan di taman, sambil gandengan tangan. Tapi, kata kencan disini mempunyai arti kata seorang dua insan dewasa yang berlainan jenis yang ingin bersatu dalam ranjang dan berkeringat bersama. jijik nggak tuh. Aku saja bayanginnya sudah sangat jijik, apalagi sampai melakukannya.


"kita berangkat sekarang?" aku menganggukan kepala kepada Prasetyo, ku tatap wajah Prasetyo, dia kelihatan senang banget bisa berkencan denganku.


"Kamu nggak apa-apa kan?" sekali lagi ku anggukan kepala. Lalu kami sudah berboncengan tidak mesra. Ada jarak antara Prasetyo dengan duduk ku, ya, kira-kira kulkas muat di tengahnya. sepanjang jalan, Prasetyo berdendang ria dengan lagu-lagu yang tidak di hapalnya. aku hanya mendengar di kayak bergumam tidak jelas, mungkin karna pikiranku sedang kacau, jadi tidak fokus terhadap apa yang di nyanyikan Prasetyo.


"Disini nggak apa-apakan?" Kulihat sekeliling, tampak aneh, seperti rumah kos-kosan, tapi tulisan di depan Hotel.


"Iya" suara parauku akhirnya keluar dari pita suaraku yang sudah mulai capek berbicara. Prasetyo turun dari motornya langsung menuju resepsionis, tak lama sudah kembali lagi kepadaku yang masih duduk di atas motornya.


"Yuk, kita dapat kamar bawah nomor 39" ajaknya, aku hanya diam. Setelah sampai di dalam kamar yang di pesan Pras, tiba-tiba tubuhku di dekap dari belakang. Badanku seketika membeku, lidahku terasa keluh, degup jantungku berdetak tak menentu. Apakah ini rasa cinta? tentu tidak, aku hanya tidak percaya, kalau aku sekarang di dalam kamar dengan orang asing, orang yang tidak aku kenal sepenuhnya. Apakah ini mimpi? juga tidak, kurasakan nafasnya memburu, menyentuh bulu romaku yang seketika membuatku merinding pilu.


"Buka dong sayang" bisikannya bagai tamparan keras buatku, bagaimana tidak, orang yang selama ini ku cibir, sebentar lagi akan melihat semua tubuhku.


Aku terdiam tak berdaya, saat dia memapahku menuju atas ranjang.

__ADS_1


tangannya bergerak menari-nari, jarinya dengan lihai membuka kancing kemejaku satu persatu, hingga terbuka sebagian tubuhku. Berulang kali bibirnya mendusal beringas, menikmati ranumnya bibirku. Aku terpekik kaget, bagai tersengat aliran listrik, tubuhku bergetar hebat. Darahku berdesir, rasa panas menyelimuti seluruh tubuhku. Saat lidahnya menyentuh lembut salah satu bagian tubuhku yang menonjol besar, bagai gundukan bukit yang indah menantang. Disisi lain aku merasakan kegelian dan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan selama ini, sungguh ini sensasi yang luar biasa buatku.


__ADS_2