ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 52


__ADS_3

Kembali ke Prasetyo.


Aku masih terlelap dalam pelukan hangat seorang wanita, karna setengah tenagaku terkuras buat olahraga ranjang.


krucuk krucuk...


Perutku terasa sudah mulai berontak, minta di isi sesuatu yang bisa mengganjal.


"Duh, jam berapa nih, laper banget pula" gumamku sambil keluar dari balik selimut, kulihat Viska masih terlelap dan mendengkur halus. Aku cuma tersenyum kecil, lalu menyelimuti seluruh tubuhnya yang sebagian terbuka.


"tidur yang nyenyak ya sayang, kakak mau keluar bentar cari ganjalan perut" kataku pelan sembari membelai rambut Viska, takut membuatnya terbangun.


Maklum hotel kelas melati, kalau pingin pesan makanan atau minuman ya harus keluar dulu, cari resto terdekat atau warung pinggir jalan. Untungnya hotel yang kami tempati ada restonya, jadi perlu berjalan sebentar terus memesannya.


"Nanti di antar ke lantai dua, kamar nomor 306 ya mbak" pintaku pada pelayan resto.


"Iya mas, setelah siap kami segera mengantarnya"


setelah membayar aku segera kembali lagi ke kamar, takut Viska bangun dan nanti mencariku.


Deg!! ada seseorang yang aku kenal, memasuki sebuah kamar hotel lantai bawah. Seorang perempuan paruh baya, dengan seorang pria yang aku kenal juga.


"Kayak kenal, sepertinya itu warga dari Desaku. Dan perempuan tadi kayak nggak asing bagiku. Siapa ya!?" aku bergumam dan berpikir keras mencoba untuk mengingat-ingat. Karna hanya sekilas aku melihatnya dari belakang, Sedangkan si prianya malah melihatku dan tersenyum. Aku segera bergegas kembali ke dalam kamar, aku buru-buru membuka pintu. Tapi naas, ternyata pintu di kunci dari dalam.


"Vis, Viska!" aku memanggil Viska dan mengetuk pintu, dan tak lama pintu terbuka. Dengan senyum manis dia bertanya.


"Dari mana sayang, aku bangun tidur kamu sudah nggak ada di sampingku"


"aku cari makan beb, kamu laparkan?" Viska mengangguk cepat dan senang.


"Sayang, habis makan nanti langsung pulang ya" kataku hati-hati, takut Viska curiga.


"ada apa beb?di cariin mbak Fatimah?"

__ADS_1


"bukan, bukan beb. Aku ada tugas dadakan dari Pak Lurah" aku mencoba untuk mencari alasan,Viska hanya menatapku dan mengernyitkan keningnya heran.


"Ya sudah, nggak apa-apa sayang. Aku juga tadi di telpon adik katanya di suruh pulang cepat" tukasnya, aku lega saat Viska menjawab begitu. Akhirnya nanti aku bisa menyelidiki siapa orang tadi yang barusan masuk kamar hotel. Kalau itu beneran dari warga Desaku, urusannya nanti bisa panjang. Karna aku seorang yang di tokohkan di Desaku, selain itu Fatimah kalau tahu, bisa-bisa aku di aniaya lagi kayak tempo dulu.


"Oh ya sayang, katanya kamu ada cerita seru, cerita apaan nih?bikin penasaran aja" Viska malah tersenyum mendengar pertanyaanku.


"Masalah Mujab sayang" Viska berjalan ke kasur kemudian duduk di tepinya, aku juga mengikuti duduk di sebelahnya. Viska menceritakan kejadian yang dia lakukan kepada Mujab dengan secara rinci. Hingga sampai Mujab masuk klinik, Aku hanya mendengarkan dengan seksama. Tak mengira saja, menurutku Viska sebagai seorang cewek ternyata kejam. Aku juga harus mencari tahu semua tentang jati diri Viska, kalau hanya sekedar katanya, aku tak mempercayainya.


Setelah makan, kami segera pergi meninggalkan Hotel untuk pulang. Seperti biasa, aku hanya Mengantarkan Viska sampai parkiran motor dimana tadi kita ketemu.


"Aku balik dulu ya sayang, ilove you?"


"hati-hati ya beb, ilove you too" Viska mencium punggung tanganku kemudian berlalu dari pandanganku, aku masih tak habis pikir, seorang wanita muda dan cantik seperti Viska, ternyata seorang predator kejam.


"Kopi satu mbak"


"kopi item atau kopi susu mas?"


"beneran ini cuma kopi item? kan lebih enak di tambahin susu?" ucap mbak penjual kopi genit sambil memamerkan gunungnya yang besar.


"nggak mbak, nggak suka susu yang kadaluarsa dan bekas orang banyak hehehe" kelakarku bercanda, si mbaknya hanya melengos sambil mencibirkan bibirnya ke arahku.


"Dijamin fresh mas Pras! dan yang penting ininya" sambil menggoyangkan badannya mbak penjual kopi ini menggodaku, terlihat mentul-mentul empuk, saat Dadanya di goyang-goyangkan di depanku. Mbak penjual kopi ini adalah seorang janda beranak satu, masih muda dan sintal. Menurut rumor dia di tinggal kabur suaminya dengan janda dari kota. Kasihan, dia menjanda gara-gara janda kota. Dia cukup cantik, namun aku tak tertarik, apalagi dia adalah Warga Desaku.


"Mas Pras, denger-denger kamu punya gebetan baru ya" aku merapatkan alis heran, saat di tanya begitu sama mbak penjual kopi yang sekarang malah duduk mendekatiku.


"Denger darimana mbak?" tanyaku tersenyum, sambil menikmati kopi yang di suguhkannya.


"Wah sudah banyak kabar yang beredar lho mas, perawan cantik dan seksi katanya. Pinter amat nyarinya" dia meliriku tersenyum sambil menyenggol genit.


"Ah, itu kan cuma kabar yang belum tentu kebenarannya, lagian mana ada yang mau sama aku mbak, aku nggak kaya, tampangku juga biasa aja" selorohku santai, meski dalam hati kecilku ada perasaan bangga. Namanya juga playboy kampung.


"Alah mas, nggak usah ngeles dech. Semua orang juga tau, gimana kelakuanmu mas. Kalau sama aku gimana?aku mau lho jadi selingkuhan mu" senyumnya di manis-manisin.

__ADS_1


"Busyet dech, ujung-ujungnya nawarin diri. Ya Tuhan kuatkanlah imanku" batinku. Aku hanya meliriknya sedikit, si mbaknya malah semakin rapat duduknya.


"Cari yang lain aja mbak, aku nggak suka janda" jawabku mencari alasan, supaya dia agak menjauh dari sisiku. Soalnya aku risih kalau di lihat orang.


"Jangan salah mas Pras, justru janda semakin di depan. Dan asal tau aja ya mas, sekali mencoba denganku pasti ketagihan" ujarnya meyakinkanku. Aku hanya mencibirkan bibirku.


"Yee masih nggak percaya? mau di buktikan! hayo kapan?" tantangnya semangat. Aku terbengong heran, aku pikir ini terlalu berani kata-katanya, aku hanya bisa garuk-garuk kepala bingung.


Dari jauh terlihat seorang pria naik motor dengan kecepatan sedang, saat lewat depanku, aku segera menepuk pundak mbak penjual kopi.


"Eh eh mbak, itu, itu namanya siapa?" ku tunjuk orang yang ketemu aku di hotel tadi, ternyata tidak sia-sia aku menunggu satu jam lebih.


"Mana mas? yang pakai kemeja Hem biru itu"


"iya mbak, namanya siapa? aku lupa kok" aku terus memandangi Bapak itu sampai belokan dan tak terlihat lagi.


"memang kenapa mas, ada perlu apa tanya Bapak itu" aku jadi kesal, orang di tanya malah balik tanya.


"Nggak apa-apa mbak, cuma mau nawarin sawah garapan"jawabku mencari alasan sekenanya. Aku kembali duduk, dan menyesap nikmat kopi yang ada di depanku. Sambil terus tersenyum mbak penjual kopi itu meliriku gemas.


"Itu namanya pak Abu, dia Bapakku"


Glekk, hmmbffuuuurrrtt... muncratlah air kopi dari mulutku yang sudah aku minum. Aku tersentak kaget, dan melotot kearah mbak penjual kopi, merasa tidak percaya.


"Aiihhh!! apa-apaan sih mas, kotor tau!" dia terpekik kaget, karna kena cipratan air kopi yang aku semburkan.


"Aduh maaf mbak, aku nggak sengaja" dengan segera aku meminta maaf, dan segera mengambil tisu yang tersedia di meja, tanpa sadar aku mengelap bagian dadanya yang besar. Dia menggeliat dan sedikit mendesah, setelah tersadar ku angkat secepat mungkin tanganku dari dadanya.


"Haduh maaf lagi, aku, aku nggak bermaksut kurang ajar. Beneran, tadi aku hanya memikirkan sesuatu" mbak penjual kopi malah menatapku aneh, aku jadi takut sendiri.


"Nggak apa-apa mas Pras, tangannya di masukin juga nggak apa-apa kok" katanya tersenyum, aku hanya bisa mengusap wajahku kasar. Untuk menyembunyikan rasa malu yang aku alami, dan untuk menenangkan pikiranku, aku kembali meneguk kopiku yang tinggal separo. Saat meneguk kopi, kulihat keponakanku yang naik motor sambil Bonceng ibunya. Pasti habis jemput Bu Lik dari pasar, batinku. Waktu jalan lewat depanku, kembali aku terpekik kaget. Dan,


Hammmfbuurrrt...!! kali ini tidak hanya kecipratan kopi, mbak penjual kopi sepenuhnya kena semburan kopiku tepat di mukanya, wajahnya yang putih dan cantik berubah jadi butek. Aku gugup melihat matanya yang mendelik penuh amarah. Air kopi yang aku semburkan meleleh mengalir, ada yang ke mulutnya dan jatuh ke pangkuannya.

__ADS_1


__ADS_2