ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 82


__ADS_3

Aku yang melihat kejadian itu tak percaya, kalau Viska berani memukul kepala si botak Marko yang tampangnya serem.


aku bersembunyi di balik pohon besar cukup jauh dari mereka, tapi masih terdengar apa yang mereka bicarakan.


Karna kaget Marko dan Josep menoleh kebelakang.


"Waduh ada apa mbak, kenapa memukulku" ucap Marko sambil mengelus-elus pelontosnya yang licin akibat keplakan Viska yang cukup keras.


"lu tu ya, kalo ngebacot asal jeplak aja, lu tau gak, kalo gue lagi bersama pacar gue" sengal Viska garang yang membuat Marko dan Josep menciut.


"Dan gue juga sudah berhenti dari kehidupan gue yang dulu lagi, jadi gue ingatkan lu lagi, kalo ketemu gue, lu semua pura-pura gak kenal gue, paham!!" sambung Viska


"Iya mbak, maafkan kami"


"okey, sekarang gue tanya, sekarang lu dapat barang darimana?" tanya Viska ketus.


"Dari Imanuel mbak, sekarang Genk mereka yang menguasai wilayah ini. Semenjak Bella and the Genk tiba-tiba tak ada kabar mbak" Jelas Marko jujur, karna masih menghormati Viska sebagai ketua Genk dulu yang menguasai Wilayah ini.


Viska menarik nafas panjang.


"Sudahlah, toh sekarang gue sudah gak ada urusan yang ma beginian" tukas Viska.


"Tapi mbak, barang dari Imanuel nggak berkualitas, beda banget barangnya dari pemberian mbak dulu. Selain itu harganya juga mahal banget" jelas Marko, si Jarko dari tadi hanya bisa mengiyakan perkataan temannya untuk memperkuat Marko.


"Kami harap mbak kembali lagi seperti dulu, bukan hanya kami mbak, genk-genk yang lain juga banyak yang bertanya tentang Bella and the Genk dan kami semua siap menjadi pengikut setiamu mbak" sambung Marko panjang lebar.


Viska hanya tersenyum kecil, ku lihat matanya juga berbinar. Aku semakin bingung dan tak mengerti yang di maksud dalam pembicaraan mereka.


Siapa Viska sebenarnya, kenapa kedua preman itu tunduk sama Viska yang hanya seorang perempuan yang menurutku sangat lemah.


"Wah ada yang salah nih" pikirku.


aku terus memperhatikan mereka, tak lama Marko memberikan uang beberapa lembar ratusan ribu ke Viska, setelah itu mereka pergi dan Viska berjalan kembali ke arahku.


Aku masih bersembunyi di balik pohon besar, untungnya Viska tak mengetahui keberadaanku. Aku berjalan mengendap-endap secara sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan, dan aku melompati pagar pembatas masuk kedalam wilayah pantai agar cepat sampai di tempat duduk kami lagi dan agar Viska tidak curiga kepadaku.


"lama amat beb pergi ke WCnya, ngapain aja di WC?" aku pura-pura bertanya dengan mengatur nafasku yang sedikit terengah-engah karena habis berlari.

__ADS_1


"Haduh WC nya ngantri beb, makanya aku agak lama" jawab Viska berbohong.


Aku menghela nafas panjang, untuk menyembunyikan sesak di dada karna aku tahu Viska berbohong padaku. Meski begitu dia tersenyum manis dan kembali bergelayut manja memeluk serta mencium pipiku.


Luluh juga dong aku, mana bisa marah kalau sudah begini. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang harus aku tanyakan pada Viska mengenai hal ini, tapi aku tahan. Biarlah nanti Viska sendiri yang memberi tahunya sendiri, toh untuk saat ini yang penting aku bahagia bisa senang-senang dan bisa menikmati tubuhnya yang seksi itu. Untuk masalah lainnya mengenai Viska, persetan ah.


"Sudah sore nih beb, gimana?"


"gimana apanya cayang?" Viska balik tanya padaku.


"Hmm, maksutku kita mau kemana lagi"


"Aku mau disini dulu beby, menikmati sunset, habis itu kita cari yang anget-anget, aku sudah kangen kamu manjain" jawab Viska penuh gairah, sambil menggigit bibir bawahnya, duh seksi banget mana bisa tahan ini aku.


"Hmm, baiklah kita lihat sunset dulu sambil menikmati romantika kehidupan yang tidak jelas ini hehehehe"balasku sambil ******* bibir sensualnya.


"Aduh jangan seru-seru beb, sabar atuh, masih banyak orang. Masak iya pakaian gamis syar'i gini kamu sosor di tempat umum" kata Viska sambil menahan daguku tepat di depan bibirnya, spontan aku jilat bibirnya, dia cuma tersenyum. Kembali di sandarkannya tubuh Viska ke dadaku. Aku merengkuhnya dengan penuh sayang, dan juga nafsu hehehe.


Pemandangan di tepi pantai memang sangat menakjubkan, perlahan sang Surya mulai malu-malu bersembunyi di balik mega-mega yang sudah mulai memerah, deburan ombak kecil gemericik saling berkejaran lalu terhempas kembali ke laut. Angin sepoi membelai wajah kami, meneduhkan jiwa-jiwa yang kepanasan terbakar api asmara. Lantunan ayat-ayat suci bergema sangat merdu, tanda hari akan berganti dengan malam, perlahan namun pasti, separuh bumi terselimuti gelap. Satu dua tiga bintang sudah menampakan wujud aslinya, menari-nari dengan sinar mungilnya yang cantik nan jelita. Potongan bulan nampak separoh, sebagai penghias langit di malam yang merangkak semakin gelap.


"Hm"


"aku ibarat rembulan, yang tidak bisa memancarkan sinar sendiri, begitu suram dan gelap gulita. Aku membutuhkan pancaran sinar dari sang matahari, dan aku menganggap dirimu adalah matahariku"


"Beb?" panggilku.


"Hmm"balas Viska.


"Jangan mengumpamakan diri kita dengan sesuatu yang terlalu muluk gitu ah, yang sederhana kan banyak"


"misalnya beb?" tanya Viska menatapku sambil membelai lembut rambutku.


"ya misalnya, seperti..... hm, apa ya? hm anu, misalnya kamu sebagai senternya aku sebagai batrenya. Jadi bisa bersinar terang juga, bisa menerangi jalan yang gelap, atau sebagai lilin dan aku sebagai koreknya meski kecil bisa memberi sedikit sinarnya untuk menerangi tempat sekitar" terangku memberi pengertian sama Viska, dan Viska hanya tersenyum kecil.


"Terus kalau senter batrenya habis gimana? dan kalau lilin koreknya habis gimana? gak bisa nyala dong" sahut Viska tak mau kalah.


"Ah gitu aja kok repot, ya beli lagi atuh. Hehehe" balasku tak mau kalah.

__ADS_1


"ihhh, kamu memang gak bisa romantis ya" kini Viska beranjak dari pelukanku dan menyesap kelapa muda yang tinggal sedikit.


"Ya tergantung sikon dong"


"Maksudnya tergantung sikon gimana tuh" sahut Viska sambil melirik ku.


"Ya masak iya, perlu aku jelaskan di sini, kayak anak SMP ja"


"Yuk, kita cari sekarang. Aku pingin lihat dan pingin tau seberapakah romantis dirimu" ajak Viska bersemangat, dia berdiri lalu meraih tanganku.


"Anjay, langsung konek nih bocah" batinku tersenyum geli.


"Wokey, cari yang dekat-dekat sini atau pergi ke tempat langganan kita nih"jawabku bersemangat juga.


"terserah kamu ajalah sayang" balas Viska dengan mimik muka yang menggemaskan.


Ini dia yang aku tunggu-tunggu, dari tadi kek perginya, ngapain juga harus nunggu matahari nyebur ke laut. Setelah membayar makanan yang kami makan tadi, kami segera meluncur Hotel langganan kami, selain kamarnya bersih harganya juga muiring banget hehehe.


"Ada yang kosong?"


"oh ada mas, tumben baru kelihatan mas, ini kuncinya mas" kata resepsionis yang sudah mengenalku.


"Lagi sibuk soalnya, makanya baru bisa mampir sekarang" jawabku sekenanya. Setelah menerima kunci dengan label nomor 104, aku membayar biaya untuk kamar satu malam. Lalu aku memanggil Viska yang masih duduk di atas motor menungguku di parkiran.


"beby sini" ku melambai memanggil Viska, dia segera menyusulku dan berjalan seiring berdua menyusuri lorong hotel yang sudah biasa buat bergerilya kami berdua.


kluthuk kluthuk.


Tiba-tiba hapeku berbunyi, tanda ada pesan yang masuk.


"Wasyuu, pesan dari siapa nih" batinku ngedumel, aku melirik ponselku kulihat sebuah nama Siti Aminah istriku.


"Anjiiir, aku lupa kalau aku sudah punya anak istri. Sialan" gerutuku dalam hati.


**untuk bab selanjutnya, di mohon yang belum sunat, minggir dulu...!! karna ini bacaan orang gede.


jangan lupa dukungannya ya**???

__ADS_1


__ADS_2