
"Oh! berarti ini yang namanya Mujab, tunangannya Viska" aku membatin, ku Salami orang tua Viska. Kemudian beralih ke Mujab yang memperlihatkan muka dingin terhadapku.
Aku duduk di hadapan Mujab.
"Mukanya kenapa mas? jatuh?" tanyaku pada Mujab pura-pura tak tahu. Di wajah Mujab masih ada bekas luka lebam hasil keganasan Viska dan teman-temannya.
"Iya nak Pras, dia habis kecelakaan dan ini tunangan Viska" sahut pak Dullah, menjawab pertanyaanku.
"Hm, kamu habis darimana dengan Viska?" pertanyaan Mujab seolah mengintimidasi ku. Aku hanya tersenyum santai.
"Habis jadi superhero buat Viska" kelakarku, aku juga menatap tajam ke arah Mujab. Melihat situasi yang sedang memanas, Pak Dullah menengahi.
"Eh nak Mujab, kamu ke belakang sebentar bantu Mamakmu buat teh" perintah Bapak, Mujab dengan malas berdiri dan pergi menyusul ibunya Viska di dapur. Tinggal aku dan Viska serta Bapak yang ada di ruang tamu.
"Kalian tadi darimana?" tanya pak Dullah ganti menginterogasi kami.
"Maaf pak, tadi aku mengantar Viska dari rumah sakit, karna mendadak sakit perut. Dan kata Viska di rumah tidak ada orang untuk di mintai tolong untuk mengantarkannya" jelasku apa adanya pada pak Dullah. Dan pak Dullah hanya manggut-manggut kecil. Kulirik Viska hanya diam menundukan kepalanya.
"Oh ya sudah kalau gitu nak Pras, kirain pergi jalan-jalan" balas Pak Dullah dengan tertawa kecil.
"Ya sudah ya pak, saya mohon pamit dulu karna waktu sudah sore" mengingat suasananya tidak mendukung, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Daripada disini nanti terjadi perang.
"Oya nak Pras, trimakasih ya, sudah mengantar Viska" ku Salami pak Dullah, dan pamitan pada Viska. Viska menatapku penuh haru, ingin rasanya memelukku tapi tak di lanjutkan karna keadaan yang tak memungkinkan.
"maaf ya beb" bisik Viska mengantarkan aku sampai depan pintu.
"Nggak apa-apa beb, jangan lupa obatnya di minum secara rutin" balasku, Viska hanya menganggukan kepalanya, dan memandangku sampai aku hilang dari pandangannya.
Sampai di rumah aku di sambut dengan suka cita oleh anakku Ghibran.
"Horee ayah pulang" serunya, berlari menjemputku di halaman rumah.
"Ghibran sudah mandi belum" sapaku sambil berjongkok, dan mencium pipinya.
"sudah yah" jawabnya gemas, ku gandeng dan ku ajak masuk rumah, Kulihat Fatimah sedang sibuk melipat baju anak-anak di atas tikar.
__ADS_1
"sore baru pulang, kemana aja mas?" tanyanya ketus.
"kerja dong dik" jawabku malas, karna aku capek banget seharian muter-muter.
"Aini mana dik?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan Fatimah.
"Sedang tidur mas" balasnya acuh, dan meneruskan kegiatannya melipat baju anak.
"Sore-sore kok di tidurin dik, sudah mandi belum?"
"sudah mas, kalau nggak tidur, aku tidak bisa megang kerjaan mas, karna akhir-akhir ini Aini agak rewel" tukasnya menjelaskan.
"Aini sakit?" tanyaku sambil memicingkan mata.
"Kayaknya sih nggak mas, cuma agak rewel. Nggak tau kenapa" ungkap Fatimah. Aku melepaskan pakaian kerjaku di kamar, Lalu duduk di kursi ruang tamu.
"Bikinin kopi dik, suntuk banget nih"
"kopinya habis. tak beli dulu, minta uangnya mas" Fatimah beranjak dari tempatnya dan menghampiriku minta uang, setelah tak kasih uang, dia berjalan keluar dengan Ghibran untuk membeli kopi di warung sebelah.
"Ahh, rasanya capek banget. Habis pergi dengan Ningsih terus nganter Viska ke Rumah sakit" aku sedikit mengeluh, badan rasanya kaku semua. Meski capek, tapi ada kepuasan tersendiri.
"Apaan itu?" tanyaku tersenyum, sambil menggoda mencoba meraih jajanan yang di pegangnya.
"jajanan yah, bukain, bukain" pintanya manja.
"Ayah minta satu, yang ini ya?" godaku lagi.
"Ahh nggak mau, nggak mau. Itu buat adik" jawabnya sambil menyembunyikan jajanan di balik punggungnya. Aku hanya tertawa gemas melihat tingkah Ghibran yang memang gemesin.
"Ni kopinya mas" Fatimah menaruh kopi di meja, lalu ikut duduk di sebelahku.
"Mas"
"ya dik" ku raih kopiku dan ku tiup-tiup bentar karna masih panas.
__ADS_1
"Aku kok belum datang bulan ya mas" aku Fatimah, sedikit panik.
"Lha biasanya gimana dik?" aku balik tanya.
"Atau jangan-jangan aku hamil lagi mas"
Glekk! sampai tersedak aku minum kopi, ku pandangi Fatimah dengan seksama.
"Apa Hamil? mana mungkin dik?" aku mencoba menepis perasaan was-was yang menghantuiku. Bagaimana tidak, kedua anak ku masih kecil, perekonomian keluarga juga tidak ada perubahan. Kalau Fatimah hamil lagi bisa-bisa, aku tak sanggup untuk memikirkannya.
"Aku juga takut kok mas, Aini saja baru berumur 4 bulan masak sudah akan punya adik, aku malu mas" kilah Fatimah.
"Coba besok kita pergi periksa ke bidan dik"
"ya besok anterin ya mas"
"iya dik" kembali ku mencoba menikmati kopi dengan santai, tapi pikiranku melayang entah kemana. Yang pasti, aku belum siap untuk mempunyai anak ketiga. Selain alasan perekonomian yang masih labil, aku takut tidak bisa menjaga semuanya. Pasti nantinya sangat merepotkan. Di tambah lagi, bagaimana hubunganku dengan Viska kalau tahu Fatimah hamil anak ketiga? wah, pasti bakal berantakan. Aku hisap rokok ku dengan tidak beraturan, karna pikiranku sedang gusar dan bingung. Baiknya tinggal tunggu esok hari sajalah, setelah periksa dari bidan dan ada kepastiannya.
"ya sudah kamu lanjutkan ngopimu mas, aku tak melanjutkan pekerjaanku" Fatimah pergi ke belakang melanjutkan melipat baju anak-anak yang masih menggunung di belakang. Ku raih ponselku dan ku ketik sesuatu, lalu kukirimkan pesan ke Viska.
- gimana reaksi tunanganmu tadi beb, setelah aku pulang?-
ku tunggu balasan dari Viska, tapi tak kunjung aku dapat balasan.
"Ah mungkin mereka masih sibuk berdua lagi bermesraan, atau barangkali sedang berantem heboh" aku hanya bisa membatin, dan ngeloyor pergi ke belakang untuk mandi.
Esoknya, pagi-pagi aku Dan Fatimah sudah berkemas mau ke bidan untuk pergi periksa. Ghibran aku naikan di depan dengan posisi berdiri, dan Aini ada di gendongan Fatimah. Perlahan menuju polindes, jarak tempuh dari rumah ke tempat klinik di Desa cuma 5 menit perjalanan. Sampai di Polindes sudah ada beberapa orang yang sedang menunggu antrian untuk periksa juga di bidan Desa. Saat nama Fatimah di sebut, kami segera memasuki ruang Bidan, dengan ramah bidan tersebut menyapaku.
"Selamat pagi pak Pras, ada yang bisa di bantu? ada keluhan apa dan siapa yang mau di periksa?" sapanya dengan tersenyum ramah, karna dia bidan Desa, jadi sama aku juga sudah akrab. Kami sering berkomunikasi mengenai kesehatan masyarakat di Desa, atau hanya saling bertukar informasi mengenai kegiatan-kegiatan yang bersifat lingkup kesehatan Masyarakat.
"Cuma mau nganter periksa istriku ini Bu, katanya sudah beberapa bulan tidak datang bulan, takutnya hamil lagi" celutuk ku sambil tersenyum malu.
"Lha bukannya sudah di suntik KB Bu? ibu ikut KB kan?" kata Bu bidan ke istriku dengan sopan.
"Iya Bu ikut KB, tapi bulan lalu lupa pergi suntik, karna sibuk ngurus si kecil" Fatimah mencari alasan, padahal dia memang malas, dan takut kalau harus di suruh suntik KB.
__ADS_1
"sebentar ya Bu, tak tensi darah ibu dulu, habis itu kita tes menggunakan tespack" sahut Bu bidan. Aku merasa pikiranku sudah tidak enak, kayak sudah merasakan sesuatu hal yang bakal terjadi dan sudah tahu hasilnya akan seperti apa.
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.