ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 70


__ADS_3

Fatimah semakin mencak-mencak tidak karuan, aku hanya diam membisu tanpa kata-kata. Bukti sudah ada mau apa lagi, kalau tidak hanya diam.


"Katakan siapa selingkuhan barumu itu,


mau aku bejek-bejek perempuan itu" ucap Fatimah benci. Aku melepaskan baju kerjaku, lalu aku gantung di dinding. Fatimah terus mengekori sambil mengomel pedas, kayak mie saja pedas-pedas sedap.


"Jangan diam saja kamu! katakan siapa perempuan murahan itu" marah Fatimah, lalu dengan kasar di tariknya rambutku ke belakang.


"Aduh sakit tau dik" ucapku sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangannya.


PLAKK PLAKk...


aku di pukulnya berulang kali tanpa ampun, di wajah, di kepala, di badan, dan aku hanya diam saja mendapat pukulan bertubi-tubi. Kulihat matanya memerah dan mengeluarkan air mata.


"Mana hapemu, mana!!" teriaknya keras, sambil mulai terdengar isakan tangisnya.


"Jangan keras-keras dik suaranya, nanti Aini terbangun" ucapku menenangkannya pelan, karna dia sedang menggendong Aini putriku. Tangannya mencari-cari hape di saku celana, setelah mendapat apa yang ia cari, dia mulai melihat semua pesan dan panggilan telpon.


"Ini apa hah!! kontak nama bebyku itu siapa? terus pesan mesra-mesra kayak gini maksutnya apa?? ini pellacur mana lagi??" teriaknya marah-marah sambil terus memukuliku dan mencubitku berulang kali. Aku hanya diam saja sambil menikmati rokok filter kesukaanku, melihat aku hanya diam, dia semakin geram. Meski badan terasa nyeri oleh pukulan dan cubitannya aku hanya diam, tak mungkin juga aku membalasnya. Apalagi dia menggendong Aini sekecil yang gembul.


"Dik santai tah, kamu jangan marah gitu, ntar cepat tua lho" candaku mencoba mengajaknya ngobrol baik-baik.


Plak...


Sebuah tamparan keras mendarat di muka gantengku, hingga rokok yang aku sesap jatuh di pangkuanku, hingga aku terjingkat kepanasan.


"Aow, aow... aduh panas" pekik ku segera mengambil puntung rokokku yang terjatuh, melihat ulahku Fatimah malah tertawa, kemudian menangis lagi dan marah-marah lagi. Pusing aku melihat ulahnya yang bikin kesal.


__ADS_1


"Lho habis nangis kok ketawa terus nangis lagi, kok ya sama kayak Aini" candaku, mencoba membuat suasana agar tidak semakin memanas.


"Iiih, aku benci kamu, kamu selalu selingkuh, nggak mikirin anak istri" katanya sambil mencubitku, yang membuat aku kesakitan.


"Dik, kalau kamu marah-marah, taruh Aini di kasur dulu biar tidurnya tidak terganggu" ucapku menahan amukan Fatimah, lalu aku ambil Aini dari gendongan Fatimah. Dan meletekan di kasur bayi yang bergambar keroppi.


"Ghibran mana dik?" tanyaku pada Fatimah, tetapi tak menjawab pertanyaanku, dia hanya menatapku tajam sambil terisak.


"Okey, okey aku mengaku salah dik, aku khilaf" kataku mencoba minta maaf dan berbaikan, agar tidak di dengar tetangga kalau kami sedang cekcok.


"Khilaf kok terus, setiap hari, iiiihhh!!" jawabnya semakin beringas dan mencoba kembali memukulku, aku menghindari pukulannya dan berkelit kesamping badannya. Dan secepat kilat, aku dekap tubuhnya dengan erat.


"Kalau kamu mau bertengkar denganku dik, baik aku ladeni. Tapi di kamar" ucapku pelan di telinganya, lalu aku menjilatnya. Membuat Fatimah menggeliat geli.


"Nggak Sudi, sana sama lonttemu. Lepaskan tanganmu!!" tukasnya sambil berusaha melepaskan dekapanku, tapi sia-sia saja, dekapanku sangat kuat. Jangankan dia seorang wanita yang lemah, Orang gila saja yang kuat, aku dekap diam tak berkutik kok.


Belajar dari pengalaman yang dulu-dulu, kalau istri lag marah besar kayak gini langsung saja bawa ke kamar. Didalam kamar aku banting ke atas kasur, tapi bantingnya pelan-pelan.


"Sudah, kamu diam saja dan nikmatilah. nggak ada gunanya kamu marah-marah" ucapku sambil berusaha ******* bibirnya, karna bibir orang marah itu sangat hangat dan lembut. Kalau tidak percaya boleh di coba.


"Dasar gila, dasar gila kamu" Fatimah terus memberontak, dan mencoba menendang dengan kakinya ke arahku. Justru ini menuntungkan bagiku, dengan sigap aku tangkap kakinya hingga rok yang di pakainya melorot hingga ujung pahaanya.


"Mas, lepaskan nggak? aku teriak lho" ancamnya tajam, aku tak menghiraukan perkataannya.


"Kalau mau teriak, teriak aja dik" aku berusaha mencoba membuka **********. Fatimah berusaha menepis tanganku, tapi pegangan tanganku lebih kuat, sehingga tak berhasil. Kami saling tarik menarik Daleman.


"Uuh, apaan sih, lepasin ah" ucapnya sambil terus menarik Daleman ya ke atas, sedang aku tetep keukeuh menarik kebawah.


"Makanya jangan banyak omong, bilang aja kalau kamu iri ingin bermain denganku" jawabku seraya menyeringai.

__ADS_1


"Aku nggak mau, pokoknya nggak mau. Lepasin nggak" tukasnya galak, matanya melotot. Aku tak menggubrisnya, aku terus menghujani dengan cumbuan-cumbuan panas yang membuat Fatimah gelagapan. Fatimah kini hanya pasrah, berontak pun percuma dia kalah tenaga.


"Nah kalo gini kan lebih enak dik" gumamku tersenyum.


Fatimah hanya mendengus kesal, masih ada sisa air mata di pelupuk matanya. Aku tahu dia kini sedang berusaha mempertahankan keutuhan keluarga, dari orang ketiga.


"Oya hapeku mana dik?" tanyaku pada Fatimah, dia hanya terdiam pasrah menerima cumbuan panasku.


"Aku buang" jawabnya masih marah. Kini Fatimah sudah tidak marah, dia hanya diam saja dari tadi, tidak tahu apa yang sedang di pikirkannya.


"Baiklah, lepaskan aku dulu. Nanti tak kasih hapemu" Ujar Fatimah, terus menyingkirkan tanganku dari tubuhnya yang sedang merayap di balik Dasternya. Demi untuk mendapatkan hapeku yang di sembunyikan oleh Fatimah, aku melepaskan pelukanku dan membiarkannya pergi keluar.


"Nih" Fatimah melempar hape ke arahku, dengan sigap aku menangkapnya. Untung tidak jatuh, kalau jatuh bisa berabe. Lali aku buka hapeku, dan ada pesan masuk.


- Anjing lu, siapa lu? istri Prasetyo? punya mulut itu di jaga, jangan asal bacot lu. Anjingg!!-


Sebuah pesan dari Viska, aku heran kenapa Viska bisa semarah itu.


"Dik, kamu kirim pesan apa ke nomer ini" tanyaku pada Fatimah yang berdiri di sebelahku, ikut membaca pesan masuk dari Viska.


"Lha baca sendiri sih, di berita terkirimnya" jawab Fatimah cuek.


Aku mencari di berita terkirim, kemudian aku hanya diam sesaat membaca pesan yang di kirim Fatimah ke Viska.


- perempuan murahan, jangan ganggu keluargaku. Dasar lontee, annjing. Sudah nggak laku ya, sampai merebut suami orang. Atau sudah gatal memekkmu, kalau gatal garuk pakai parutan kelapa -


Kepalaku cenut-cenut saat membaca pesan yang di kirim Fatimah ke Viska. Lalu aku memencet lagi ke bawah, ada sebuah pesan terkirim lagi ke Viska. Lalu aku membacanya.


-Kamu Viska kan? dasar perempuan ******, nggak punya malu. Sudah tau prasetyo punya anak istri, masih saja kamu ganggu. Di ajarin sopan santun sama orang tua kamu nggak sih? Bangsatt kamu, akan aku labrak kamu-

__ADS_1


Semakin pusing aku memikirkannya, Kata-kata Fatimah sangat kasar dan tidak punya akhlak. Boleh emosi tapi otak harus dingin.


Kini perang telah di mulai antara Siti Fatimah istriku dengan Viska kekasih gelap ku.


__ADS_2