ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 40


__ADS_3

Aku jauh dari kewarasan, kenapa aku menikmatinya.


"Sial, sekarang lu menang Pras, gue nyerah, lakukan semaumu" batinku pasrah dalam rangsangan Prasetyo.


Aksi Prasetyo berhenti tiba-tiba, aku heran, padahal aku menikmatinya.


"Apa kamu lapar?"


"iya" lalu ia beranjak dari ranjang dan pergi keluar. Tak berapa lama sudah kembali lagi dalam kamar. Tapi kali ini tidak meneruskan aksinya, mungkin dia kecewa, karna aku hanya pasrah seperti gedebok pisang. Dia butuh perlawanan.


Aku masih kaku. Kalau soal ranjang, boleh dikatakan aku sangat polos dan lugu. Tapi soal lainnya, aku lebih bangsyat dan bajiingan dari dia. Kayaknya dia mengerti pikiranku, suasana jadi beku, kaku seperti paku. Dia mulai mengajakku ngobrol ngalor ngidul, ngetan ngulon, di selingi kata-kata konyol, yang membuatku sedikit rileks dan sudah bisa tersenyum ngakak melihat tingkah konyolnya. Di suruhnya aku mandi, katanya bau badanku kecut. Wah, berani ngledek dia padaku, tiap hari aku kesalon kecantikan demi perawatan tubuh lho, tapi itu dulu. Suasana sudah hangat dan mencair, tidak ada rasa canggung ataupun kaku pada diriku, justru aku menikmati kebersamaan ini. Benar kata pepatah, "Tak kenal maka tak sayang, kalau sudah sayang jangan di tinggalkan."


Prasetyo terus berceloteh, banyak kata nakal terlontar, aku menyahutnya dari dalam kamar mandi, sambil tersenyum geli. Keluar dari kamar mandi, sudah kulihat dua porsi nasi goreng dan minuman dingin. Mata Prasetyo membulat, menyala penuh kobaran api asmara saat melihat tubuhku hanya berbalut selembar kain tebal penyerap air. Handuk.


"Boleh aku lakukan sekarang?"


Deg... secepat ini? jantungku berdetak kencang, Prasetyo berkata meminta jatahnya sesuai kesepakatan kami. Tanpa aba-aba ataupun komando, Prasetyo membopongku ke atas ranjang, Tak ubahnya diriku, kurasakan Prasetyo juga jantungnya bergemuruh, matanya memerah panas. Aku masih tak percaya, kalau keperawanan ku akan di rampas olehnya, seorang pria yang notabennya punya keluarga. Aku masih tidak ikhlas, mahkota yang aku jaga selama ini di renggut oleh pria, yang menurutku sangat mesum ini. Aku tidak rela kehormatan yang aku pertahankan kini di runtuhkan seorang cowok brengsyek, yang selama ini aku rendahkan dan aku hina. Tapi, aku bisa apa? aku tak berdaya, ini atas kemauanku sendiri. Kini aku mempermalukan diriku sendiri, kini aku menghinakan diriku sendiri. Dan, luka hati ini, rasa malu ini, rasa hina sehina hinanya ini, aku akan membawanya seumur hidupku.


"MAMMAAAAAKKK!!" pekik ku tersentak kaget, sesuatu menerobos masuk kedalam tubuhku, seketika roboh sudah benteng pertahanan ku, runtuh sudah masa depanku. Perih yang kurasakan tak seperti perihnya hatiku. Buliran air mata meleleh panas, mengalir pelan membasahi pelupuk mata. Dunia seakan mengejekku, -mana Viska yang dulu, yang selalu sok jagoan dan sombong sundul langit- Aku menutup erat mataku, aku sangat malu, aku harap ini hanya mimpi, yang sebentar lagi hilang saat aku terbangun. Tapi sayangnya ini bukan mimpi, ini kenyataan hidup yang sedang aku jalani saat ini.


"Auuuhkk!" untuk kedua kalinya aku tersentak kaget, sesuatu meledak dengan dahsyatnya, suatu semburan kuat kedalam tubuh. Yang tak ku inginkan, tapi pasti terjadi. Semburan kencang, yang mengharuskan kan aku mencengkeram kuat sprei kasur. Demikian dengan Prasetyo, suara lenguhan mengakhiri tarian Prasetyo. Tubuh kami masih saling menempel, buliran keringat Pras menetes di tubuhku, nafas kami saling beradu memburu dengan cepat. Lelahnya sudah tergantikan dengan kenikmatan. Aku masih berharap, mudah-mudahan ini hanya mimpi, aku tidak mau menerima kenyataan ini. Hingga akhirnya aku terlelap tidur dalam dekapan Prasetyo, yang kini sudah sepenuhnya menguasai ragaku.

__ADS_1


Luka hati luka diri ku bawah dalam perjalanan pulang menuju rumah, tulangku terasa remuk.


"Dia itu manusia atau robot sih! sampe babak belur begini tubuhku" gumamku sendiri. Begitu beringas kayak orang kesambet.


"Naik turun-naik turun sampe empat kali, apa dia gak capek ya? gue aja, yang cuma rebahan, terasa linu semua tulang-tulangku" desisku tak percaya, tapi aku alami sendiri. Menyesal, pasti. Mau bagaimana lagi, toh semua sudah terjadi. Ibarat nasi sudah menjadi bubur.


"Darimana Vis? sore begini baru pulang" aku hanya melangkah gontai, tak menghiraukan pertanyaan Mamak yang sedang menyapu halaman. Air mataku sudah tak kuasa aku bendung, terasa sesak di dadda. Sampai kamar, aku menelungkup di bantal, air mataku berhamburan keluar, aku sesenggukan meratapi nasibku, ingin sekali ku berteriak sekencang mungkin, biar lega bisa melepaskan rasa sebah di dadda.


Entah sudah berapa lama aku menangis, entah sudah berapa liter air mataku tertumpah. Sampai suara ketukan pintu kamar terdengar, bukan cuma sekali, tapi berulang kali Mamak mengetuk dan memanggil namaku.


"Kamu kenapa nak? kamu habis menangis?" Setelah aku membuka pintu, mamak mengikutiku duduk di tepi ranjang kamarku. Mamak kayaknya kuatir dengan diriku, sudah malam aku belum juga keluar dari kamar.


"Ini mak! Mamak membutuhkannya kan?" Mamak bingung dan heran, aku sodorkan uang yang di kasih Prasetyo ke mamak. Mamak hanya terdiam.


"aku menjual tubuhku Mak! ini terpaksa aku lakukan, karna mamak selalu menekanku. Karna aku anak pertama, harus ikut membantu perekonomian keluarga, begitu kan Mak? karna aku keluar dari rahimmu, maka aku harus berbakti dan menuruti semua perintahmu. Iya kan Mak? kesucian yang selama ini aku jaga dengan nyawaku, kini hanya di tukar dengan lembara-lembaran kertas ini mak!" aku menaruh uang di pangkuan mamak, kututupi wajah dengan kedua telapak tanganku, Isak tangisku kian menjadi.


"Katakan Mak, besok aku harus bagaimana lagi? mangkal di perempatan, atau mencari pelanggan yang mau tidur denganku! dengan begitu, Mamak akan mudah meraup pundi-pundi rupiah. Aku sudah hancur Mak! katakan Mak! biar sekalian aku hancur. huuuu...huuu" Mamak merengkuh bahuku, lalu memelukku dengan perasaan bersalah.


"Maafin Mamak nak, mamak bersalah sama kamu" permintaan maaf, isakan tangis Mamak, tak merubah keadaanku. Aku masih mendekap dalam pelukan Mamak, perlahan kulepaskan pelukan Mamak.


"Sudahlah Mak,semua sudah terjadi, tak perlu di sesali"

__ADS_1


"sekali lagi, maafin Mamak ya Vis" Mamak menggenggam tanganku, sambil terus memohon agar aku memaafkannya. Siapa yang tega melihat orang tuanya menderita, mungkin ini hanya cobaan buat keluargaku.


"Iya Mak, sudah aku capek Mak, aku mau istirahat dulu"


"tapi kamu belum makan, mamak ambilkan ya?" aku mengiyakan perkataan mamak.


Seminggu, dua Minggu berlalu. Sejak kejadian itu, setiap aku berangkat kerja, aku lewat jalan lain tidak lewat depan rumah Prasetyo. Aku malu terhadapnya. beberapa kali dia mengirim pesan, tidak aku hiraukan. Hingga suatu hari mendadak aku tidak enak badan, kepalaku sedikit pusing, badanku sedikit demam.


"huekk,huekk"


"kamu kenapa Vis?"


"nggak tau Mak"


"kamu sakit?" Mamak melihatku muntah-muntah di kamar mandi, bergegas mendatangiku lalu tangannya di tempelkan ke dahiku. di pijitnya tengkukku perlahan.


"kamu sudah menstruasi belum Vis?"


"belum Mak, harusnya sepuluh hari yang lalu"


"kamu hamil Vis"

__ADS_1


Deg...pernyataan Mamak membuatku terbengong tak percaya, tidak mungkin, ini tidak boleh terjadi. Aku punya tunangan, aku juga belum menikah. Bagaimana mungkin aku hamil! ini pasti benih dari Prasetyo sialan itu. Aku meremas kepalaku geram, terasa semakin pusing. Aku harus cari Prasetyo secepatnya, ini tidak boleh aku biarkan lama-lama. Seenaknya saja menanam benih di rahimku. Awas saja kalau ketemu, akan ku plintir kepalanya.


__ADS_2