
"Sayang, jangan nangis gitu dong, kamu dimana?" tanyaku, sambil mengedarkan pandangan. Siapa tahu ada Viska di sekitarku.
"Aku di rumah beb, haduuuh, huhuhu perutku sakit banget" jawab Viska dari balik telepon, aku lega mendengar Viska ada di rumah, tapi di sisi lain aku kawatir dengan keadaannya.
"Sudah minum obat beb?"
"obatku habis beb" jawabnya, yang membuatku malah bertanya-tanya, habis? apa selama ini Viska sering sakit perut, sehingga harus stock obat di rumah.
"kenapa nggak beli aja lagi beb?" Viska cuma terdiam, tidak menjawab pertanyaanku, masih dalam tangis dan rasa sakit di tahannya
"Beb, anterin aku kerumah sakit ya? sekarang" pintanya memelas.
"Iya sayang, tungguin ya"
Ku matikan ponselku, kemudian kembali ku masukan ke kantong, aku sangat cemas dengan keadaan Viska saat ini, karna yang aku tahu, Viska selama ini baik-baik saja dan baru kali ini Viska mengadu kesakitan padaku.
"Dari siapa mas?" tanya Ningsih ingin tahu.
"Dari pacarku Ning" balasku malas, segera ku suruh Ningsih, naik ke motor kembali.
"Kelihatannya kamu panik dan cemas, ada apa mas?" tanya Ningsih penuh selidik.
"Nggak apa-apa Ning, pacarku katanya perutnya sakit" jawabku apa adanya, aku tak terlalu perduli dengan pertanyaan Ningsih. Aku hanya fokus di jalan, dan cepat sampai di rumah Viska.
"Heleh, cuma sakit perut begitu sudah mengaduh, dasar cewek cengeng" cibir Ningsih meledek, aku masih diam tak menggubrisnya.
"Cewek begitu mending putusin aja mas Pras, bikin repot aja. Aku mau kok jadi selingkuhan mu mas" ujarnya manja, kemudian merapatkan badannya ke punggungku.
"Bacot asal jeplak aja, ku jejal bakiyak baru tau rasa lu. Di bandingin Viska, ente nggak ada apa-apanya. Bahlul!!" gumamku dalam hati.
Ku tarik gas motor makin kencang, supaya aku cepat sampai di rumah Viska.
"Aduuh mas! pelan-pelan dong, aku takut" rengek Ningsih ketakutan, dia memeluku semakin erat.
"Kamu pegangan aja yang kencang Ning, aku buru-buru nih"
"pelan-pelan aja Napa mas, kita nikmati perjalanan kita ini" katanya sedikit berteriak, karna aku tidak mengurangi kecepatan ku.
"Udah kamu diam aja! kalau masih ngomong terus, tak turunin di jalan" ancamku sewot. Ningsih hanya ngedumel tidak jelas dan aku terus melajukan motorku hingga sampai di warung Ningsih.
Setelah Ningsih turun, tanpa sepatah kata, Kutarik gas motorku dengan kencang menuju rumah Viska. Masih ku dengar samar-samar suara Ningsih memanggil-mangil namaku.
"Mas...mas Pras" aku tak menghiraukannya, palingan juga mau ngasih ongkos ojekan. Aku hanya fokus pada Viska yang kini sedang kesakitan, kalau tidak benar-benar sangat sakit, tidak mungkin Viska sampai nangis sesenggukan di telpon tadi. Viska merupakan gadis yang kuat, yang tidak mungkin hanya sakit perut dia akan menangis seperti itu.
Sesampainya di depan rumah Viska,
__ADS_1
"Lha kok rumahnya sepi, pintunya juga tutupan semua, kayaknya nggak ada orang nih" batinku.
"Atau... jangan-jangan, aku cuma di bohongin Viska" desisku berprasangka pada Viska.
Tok tok tok ketok.
Aku mencoba mengetuk pintu, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Dan aku ulangi sampai beberapa kali, tapi hasilnya tetap sama. Aku keluarkan Hapeku,
"Hallo, beby dimana?" aku menelpon Viska.
"Aku di dalam rumah beb" terdengar sahutan Viska dengan suara yang lirih.
"Aku sudah di depan rumahmu beb, tapi pintunya tertutup"
"masuk aja beb, nggak di kunci kok, aku dikamar " jawabnya lemah.
GLEKKK. didalam kamar? woww!! amazing, kesempatan nih.
Kuputar tuas, lalu ku dorong pintu pelan-pelan. Tak lupa ku ucapakan,
"Assalamualaikum?"
tak ada jawaban. Aku melangkah kedalam, dan ku biarkan pintu depan terbuka. Takutnya nanti timbul fitnah, kalau pintu aku tutup kembali. Aku melangkah menuju kamar Viska, ku panggil-panggil Viska.
"Beb, beby"
"Boleh aku masuk beb?" aku meminta ijin pada Viska, karna sebelumnya aku tak pernah memasuki kamar cewek. Karna menurutku, Kamar adalah sebuah ruangan yang sangat Privasi. Apalagi kamar cewek yang masih sendiri alias masih gadis atau perawan.
"Masuk sayang, dorong aja pintunya" sahutnya dengan suara pelan, mungkin masih menahan sakitnya. Mendengar kata masuk dan dorong membuat darahku bergelora.
"Tenang aja sayang, soal masuk-memasukan, dan dorong-mendorong, itu sudah keahlianku" pikirku mesum, sambil cekikikan.
Kriyyeeettt... pintu terbuka, Kulihat Viska mendekam memeluk guling dengan memegangi perutnya, sesekali dia merintih menahan sakit. Dia memandangku dengan wajah yang sendu, air matanya meleleh di kedua pipinya.
"Beb, kamu kenapa?" tanyaku menyambut uluran tangannya, kemudian Viska bangun dan memelukku. Aku mendekap tubuhnya yang sedikit panas.
"Beb, kamu kenapa? orang tuamu dimana?" tanyaku sekali lagi, Viska melepaskan pelukannya. Dia memijit mijit perutnya sambil menahan rasa sakit.
"Antar aku ke Rumah sakit beb, orang tuaku sedang pergi dari tadi pagi" jelasnya dengan suara pelan, sesekali merintih kesakitan dan menggigit bibir bawahnya.
"Ayo lekas ke Rumah sakit beb, jangan biarkan sakit perutmu berlarut dan menyiksamu seperti itu. Aku tiada tega melihat dikau merintih kesakitan" ujarku, dan berusaha memapahnya untuk berdiri.
"Tunggu beb!" tanganku tiba-tiba saja di tarik oleh Viska, aku hanya memandangnya heran.
"Ada apa sayang?"
__ADS_1
"kamu punya uang nggak?" tanyanya ragu.
"Sudah kamu tenang saja beb, masalah duit tak usah dikau risaukan" dia hanya tersenyum sambil menahan sakit, saat mendengar jawabanku. Melihat sedikit senyum yang terkembang di bibirnya, hatiku sudah senang. Ingin rasanya aku melihatnya dia bisa tersenyum seperti itu setiap hari, tapi itu hal yang mustahil karna status kami.
Hampir satu jam perjalanan, dari rumah Viska menuju Rumah sakit kota. Setelah memarkirkan sepeda motor, Aku memapah Viska ke ruang pendaftaran.
"aku sudah agak baikan beb, tolong belikan teh tawar hangat satu bungkus, aku haus banget sayang" pintanya.
"tapi beb"
"aku sudah nggak apa-apa sayang, aku sudah terbiasa dengan ini kok, biar aku sendiri yang daftar. Kamu nggak usah terlalu kuatir dengan keadaanku" Jelasnya dengan tersenyum.
"tapi"
"tapi apalagi sih sayang, aku beneran nggak apa-apa kok. Percaya deh ma aku"
belum selesai meneruskan kalimat yang aku katakan, sudah di potong oleh Viska.
"Bukan gitu beb, uangnya mana buat beli teh hangat" tukasku santai sambil mengulurkan tangan meminta uang pada Viska. Mata Viska mendelik tajam ke arahku, aku pura-pura saja tak melihatnya. Dia hanya mendengus dan menarik nafas panjang, kemudian memberiku uang lima ribuan yang di ambil dari kantongnya. Setelah ku dapatkan uang, aku segera ngeloyor pergi keluar mencari warung terdekat.
"Mayan, bisa sekalian ngopi dan ngerokok sebentar" pikirku sambil senyum-senyum sendiri di jalan menuju warung. Entah sudah berapa lama aku di warung, menikmati kopiku dan tanpa sadar sudah menghabiskan beberapa puntung rokok, karna keasyikan maen game di hape. Saat aku kembali, Ku lihat Viska duduk di bawah pohon dengan wajah sedih dan ku lihat di tangannya da sekantong obat. Dia memandangku dengan wajah sayu, tak ada senyum meski setitik di bibirnya yang membuatku semakin ciut untuk mendekatinya.
"Lho sudah selesai to beb" tanyaku sambil duduk di sebelahnya, ku lirik Viska cuma terdiam.
"Waduh, pasti kena semprot ni aku" batinku, sambil melihat Viska yang entah apa yang di pikirkannya.
"Bebyyyy, huhuuuhuu"
Tiba-tiba saja dia memeluku dan menangis tersedu-sedu, aku sampai gelagapan karna kaget.
"Ada apa beb! kamu kenapa?" Aku penasaran dengan apa yang terjadi dengan Viska, sampai dia menangis seperti ini. Atau menangis sudah jadi hobinya sekarang. Cukup lama aku menenangkannya, hingga menjadi pusat perhatian bagi yang melewati kami. Aku menyeka air matanya, lalu ku berikan teh tawar pesanannya. Setelah meminum hampir habis, barulah dia membuka suara.
"Beb"
"iya sayang" balasku, sambil terus memandangi wajahnya.
"kata dokter tadi, bahwa sakitku makin parah" jelasnya dengan suara bergetar.
"emang kamu sakit apa beb?" tanyaku penasaran, karna setiap aku tanya dia cuma diam atau bilang nggak apa-apa.
"sakit kanker beb, kanker serviks" jawabnya sambil memejamkan mata, seolah sangat berat untuk di ucapkan.
Astaghfirullah...!!! aku juga tersentak kaget, namanya sekeren itu? kanker serviks. Aku baru mendengar penyakit yang seperti itu.
"Kanker Serviks itu penyakit yang gimana ya beb?" tanyaku ingin tahu, karna aku beneran tidak tahu mengenai penyakit kanker serviks. Mungkin kalau kanker payudara yang di serang bagian payudara, kanker otak yang di serang bagian otak. Lha kalau kanker serviks itu yang di serang di bagian mana. Di usus, atau di bagian mana? soalnya yang di rasakan Viska, sakitnya di perut.
__ADS_1
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow, dan beri hadiah ya kak, trims.