
Aku dan Viska kebingungan, aku hanya pasrah sajalah pada Tuhan. Niat awal sudah buruk, akhirnya ya begini berakibat buruk pula. Bu nyai kembali lagi ke ruang tamu sembari menebarkan senyum ke arah kami.
"Maaf menunggu lama ya, kata Abah mengijinkan. Asal besok balik lagi"
triiing... bagaikan mendapat angin segar, wajah kami berbinar ria, tapi berusaha masih bersikap biasa saja.
"Iya Umi, saya besok Insyaallah kembali dengan cepat" balas Viska sumringah.
"Saya mohon pamit Mi, permisi, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam mbak Vis, hati-hati ya"
dan tak perlu waktu lama, kita sudah tertawa riang di jalan.
"Hampir saja ya beb, tadi aku takut banget kalau-kalau tak mendapat ijin" ujar Viska sambil melingkarkan tangannya di leherku.
"Apalagi aku beb, kalau ketahuan boongnya kan dosaku double. Hehehehe, kita kemana nih?"
"kemana ja, yang penting aku bisa senang dan merasa bebas. Bisa menghirup udara luar" tukas Viska sambil merentangkan tangannya kayak film Titanic di atas kapal.
"Beb, beb lihatin Simbah itu!" kataku sambil menunjuk Simbah tadi yang lagi menjemur padi, sekarang lagi santai di bangku depan rumahnya sambil mengamati padinya.
"kenapa beb?"
"tadi aku mau di gampar Simbah itu"
"hahahaha, emang kamu apain? kamu godain ya?"
"yaelah, ngapain godain nenek-nenek peot model gitu. Udah lembek kayak es dawet, hwahahahaha"
"cieee yang pernah nyobain punya nenek-nenek" ledek Viska menyubit pipiku.
"Huh, ogah... dah kisut mana enak" jawabku manyun.
"Lha itu, nyatanya tau, kalau punya nenek-nenek rasanya lembek, kayak es dawet. Hahahaha" balas Viska meledek.
"Lha kan sudah ketahuan beb, kulitnya aja udah kisut, pastilah dalemannya juga mengkerut dan lembek. hahahaha" sahutku tak mau kalah.
"Eh beb, kamu bawa baju ganti nggak?" tanyaku melirik Viska.
"Nggak, kenapa beb?"
__ADS_1
"terus kita kemana nih, masak iya kita ceck in, kamu bawanya gamis gitu. Wah nanti di kira orang ada Ustad dan Ustadzah lagi selingkuh lagi. Kayak di film XXX itu lho beb, hehehehe" gurauku
"Ada-ada ja kamu beb, tapi betul juga ya hehehe"
"Ya udah kita mantai aja yuk?"
"yah, kalau mantai aku nggak bisa nyumbuin kamu dong sayang, padahal aku kangen banget lho ma kamu" lirih Viska kecewa.
"Hehehe, aku begitu mempesona ya beb buat kamu" godaku melirik Viska yang semakin merapatkan tubuhnya. Ku lirik Viska mengerucutkan bibirnya.
Sesampai di pantai wilayah Jepara Jawa tengah, kami langsung mencari tempat yang kami rasa cocok dan nyaman. Setelah mendapat tempat duduk, kami segera memesan makanan pada penjual yang ada di sekitar pantai.
"siang-siang gini es kelamud seger ya beb?" Viska mengangguk senang dan tersenyum manis, aku memesan es kelapa muda dan beberapa cemilan untuk teman ngobrol nanti.
"Hei, kenapa bengong beb?" tanyaku setelah balik ke Viska, Viska hanya duduk di kursi santai sambil merangkul kedua kakinya.
"Seneng banget aku tuh beb, bisa menghirup udara bebas kayak gini... menikmati angin pantai di hiasi deburan ombak yang saling berkejaran"
"oehh apaan sih, sok jadi pujangga aja kamu beb" sahutku sambil mencubit pipinya gemas.
"Oya sayang, gimana kalau bapakmu tau akan hal ini? kamu keluar dari pesantren tanpa sepengetahuannya?" tanyaku melirik Viska yang masih menatap lautan dengan tatapan kosong.
"Nggak tau beb, paling di marahin kayak biasanya, dan paling banter juga kena gampar kayak biasanya juga" jawab Viska datar dan cuek.
"Bodoh amat, aku juga pinginnya gitu"
"wah, eman-eman to beb"
"kenapa emangnya beb?" Viska memiringkan kepalanya memandangku dan mengernyitkan keningnya.
"Bisa masuk pesantren itu suatu kebanggaan lho beb, aku saja yang dulu kepingin mondok nggak kesampaian kok" lirihku sedikit kecewa, karna dulu aku bercita-cita pingin jadi Ustad. Eh, malah sekarang yang ada aku jadi bangsatt.
"Mendapat predikat santri menurutku itu sangat istimewa lho beb" tambahku menyemangati Viska, agar dia tetap menimba ilmu di dalam pesantren.
"Huuu, istimewa apaan, yang ada itu jenuh dan bosen beb. Apalagi untuk santriwati, setiap hari kerjaannya ya emang gitu Mulu, nggak boleh keluar dari lingkup pesantren tanpa ijin yang jelas" sungut Viska.
"Lha itu malah bagus beb, agar para santriwatinya bisa disiplin dan dapat menimba ilmu dengan tenang tanpa ada gangguan dari luar"
"lagian ya beb, dengan penampilanmu yang sekarang kamu lebih cantik dan tambah cemlorot bersinar terang, aku tambah sayang ma kamu" memang sekarang Viska sinar wajahnya tambah cerah dan makin anggun.
"Permisi mbak, mas, ini pesannya" seorang ibu paruh baya meletakan dua kelapa muda dan beberapa cemilan yang tadi aku pesan, setelah semua pesanan tersaji di depan meja kami, aku langsung membayarnya.
__ADS_1
"Wah kelihatan seger ya beb" ujarku.
"Kamu dari tadi memujiku terus sih beb, bikin aku klepek-klepek nih" sahut Viska melirik ku gemas.
"Lha apaan? maksutku yang terlihat seger itu ini, Es degannya" balasku sambil mengangkat es kelapa muda lalu dengan cepat memasukan ke dalam mulutku. Viska cemberut manja mendengar ucapanku, dia pun ikut mengambil Es kelapanya lalu dengan cepat melahapnya.
"Yeee, pelan-pelan atuh sayang. Nanti tempurung kelapanya ikut tersedot masuk lho" godaku sambil cengengesan.
"Biarin"
"cie-ciee merajuk nih"
"he'em, kamu sih nyebelin"
"hehehe, aku tau yang kau mau"
"apa coba"
"sini" ku lingkarkan tanganku di leher Viska, kemudian kupeluk sayang dirinya. Dengan manja dia merapatkan tubuhnya dan kepalanya bersandar di pundaku.
"Tau aja sih kamu beb" lirik Viska ke arahku, aku hanya tersenyum.
Aku melepaskan pelukanku, ekor mataku menatap ada gerakan mencurigakan.
"Beb, kamu merasa dari tadi kita sedang di awasin nggak sih?" tanyaku sedikit berbisik ke Viska, Viska sedikit terkejut.
"Di awasi? maksutnya beb"
Aku mengarahkan bola mataku sebagai isyarat menuju dua orang, yang sedari tadi mondar-mandir di sekitar kami duduk. Viska mencoba meliriknya sebentar.
"Kayaknya iya deh beb, dua lelaki itu kan yang di belakang kita"
"Yap betul, yang kepala botak itu dari tadi memandangmu terus. Bikin panas juga di dadda"
"hihihihi, kamu cemburu ya beb?"
"dikit"
"cemburu kok tanggung amat"
dan benar saja, tiba-tiba kedua orang itu mendekati kami. Dua orang lelaki dengan badan yang tinggi besar, satu botak memakai kaos singklet hitam bertuliskan pacarmu bekas pacarku, memakai celana jeans lusuh sobekan.Dan yang satu lagi memakai rompi lusuh denga celana jeans sobekan juga, ada tatto naga di lengan kirinya, badannya kelihatan kekar dan berotot. Mungkin rajin jadi kuli panggul.
__ADS_1
"Ini mbak Bella ya?" aku sedikit kaget, sibotak kok tahu nama Viska yang dulu Viska pertama kali kenalan denganku. Dia menyapa dengan kata yang sopan, aku hanya bisa melihat si botak dari bawah sampai kepalanya yang licin.
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow ya kak, trims.