ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 35


__ADS_3

"Tolong? tolong apa Mak?" tanyaku heran sambil garuk-garuk kepala.


"Cariin duit Vis, buat bayar koperasi. Tadi pagi Bapak sama Mamak sudah muter cari pinjaman, tapi tidak dapat" ujar Mamak sedih.


"Aku nggak punya duit sama sekali Mak" jawabku bingung.


"Kamu anak pertama, kamu harus ikut tanggung jawab bantu keluarga Vis, Bapak sudah pusing." sela Bapak menekanku.


"Cariin pinjaman sih nak, ke temenmu atau siapa saja yang bisa kamu pinjamin" Mamak terus mendesaku dengan uraian air mata.


Aku lama-lama tidak tega juga dengan orang tuaku, yang setiap hari harus keliling cari pinjaman. Tapi kemana aku harus cari uang, sedangkan aku masih lama terima gaji dari pabrik.


Mau pinjam Lena, tidak enak juga. Aku sudah banyak berhutang sama Lena.


Aku ambil switer dari kamar, kemudian mengeluarkan sepeda motor dari rumah.


Orang tuaku hanya memandangiku tanpa sepatah kata. Setelah berpamitan, aku memacu motorku dengan kencang menuju arah BaseCamp.


Belum ada sepuluh menit aku memasuki basecamp, aku di kejutkan dengan dua orang yang tak ku kenal.


"Selamat pagi, betul anda Bella Octavi" tanya salah seorang dari mereka. Dengan sedikit ragu, aku menganggukan kepala.


"Siapa anda, kenapa bisa tau namaku?" tanyaku sedikit curiga.


"Kami dari Polres, silahkan ikut kami kekantor" katanya menjelaskan.


Deg!! jantungku berdetak kencang, masalah keluarga belum selesai kini ketangkap polisi juga. Sial banget nasibku.


"Apa salah saya pak?" tanyaku mencoba membela diri, meskipun aku sudah tau, pasti suatu saat akan terjadi hal ini.


"Nanti bisa di jelaskan di kantor, silahkan ikut dengan kami" katanya lebih lanjut. Terpaksa aku mengikuti perkataan polisi dengan pakaian preman ini. Dengan santai aku menaiki mobil Polisi yang baru saja datang.


"Bu titip sepeda motorku ya? aku pergi sebentar" kataku pada ibu Salamah, yang dari tadi menemaniku masuk ke dalam basecamp serta membantu mencari barang-barangku. Rencananya mau tak jual barang-barangku yang sudah tidak terpakai.


"Iya nak Bella, hati-hati ya!!" aku hanya tersenyum, kulihat Bu salamah sedih dan menitikan air mata.


Sesampainya di kantor Polres, aku di bawa masuk ke ruang interogasi.


Di sisi lain.


"Selamat siang, betul ini dengan keluarga Viska Aulia alias Bella Octavia?" tanya seorang polisi pada Bapak.


"Iya betul Pak, ada apa ya pak?" tanya Bapak bingung.


"Kami dari kepolisian, mengabarkan kalau putri Bapak yang bernama Viska Aulia alias Bella Oktavia telah tertangkap, dan sekarang ada di Polres Kota"terangnya seorang polisi lengkap dengan memakai seragam.


"Alkhamdulliah!! terima kasih pak, terima kasih banyak, Bapak polisi sudah menangkap anak kami. Masukan saja ke penjara pak biar tau rasa" jawab Bapak santai.

__ADS_1


"Lho Bapak ini gimana sih" kata Mamak menyikut lengan Bapak.


"Emang kenapa dik?" tanya Bapak menoleh ke arah Mamak.


"Anak perempuan kita satu-satunya lho pak, Viska."ucap Mamak gemas.


"Sudah tenang saja, nanti kita bisa bikin lagi anak perempuan hehehe" seloroh Bapak cengengesan.


"Bapak ini beneran kan, Bapaknya Viska?" tanya polisi heran plus bingung.


"Lha iya bener to pak! cuma bedanya, Bapak ini kumisnya tebal, sedangkan Viska tidak punya kumis" jawab Bapak enteng, sambil memonyongkan bibir memperlihatkan kumis tebalnya. Polisi muda itu dan beberapa anggota polisi lainnya cuma bengong menggelengkan kepala.


"Keluarga sinting" pikir para polisi itu.


"Bapak tidak kwatir dengan keadaan putri Bapak?" tanya polisi lagi.


"Lho ngapain musti khawatir pak! justru kalau anak saya sudah di kantor polisi, apalagi sampai di penjara. Saya merasa lebih aman. Karna di kantor polisi atau di penjara yang jaga para polisi" terang Bapak tanpa ekspresi apa-apa.


"Tapi pak, kalau terbukti putri Bapak bersalah, dia bisa di penjara" ujar polisi.


"Ya kebetulan sekali pak, saya malah senang hehehe. Dari pada tiap hari keluyuran, di nasehati orang tua nggak mau dengerin. Mending di penjara, lebih terjaga. Dan yang terpenting di kasih makan gratis, jadi makanan dirumah kami utuh. hehehe" tukas Bapak masih dengan sikap santai.


"Ya sudah pak, kami hanya sekedar mengasih kabar pihak keluarga saja. Dan kami mohon pamit undur diri" sela seorang polisi yang dari tadi hanya diam.


mungkin merasa kesal dan jengkel dengan omongan Bapak, akhirnya mereka langsung kembali ke kantor.


"Lho kok buru-buru pak! nggak masuk rumah dulu, sambil ngopi-ngopi gitu" celutuk Bapak tersenyum.


"Saya yang berterima kasih pak, karna sudah nangkap anak saya. Langsung penjara saja pak jangan kelamaan" kata Bapak sedikit berteriak. para Polisi hanya tercengang dengan ucapan Bapak, lalu pergi meninggalkan rumahku.


"Bapak ini gimana sih, mau balik baru ditawarin masuk, dan disuruh ngopi. Lha tadi malah di ajak ngobrol di depan pintu" ujar Mamak heran dengan kelakuan Bapak.


"Heleh, biarin saja dik, toh mereka kemari juga ada maunya" kata Bapak menerangkan. Mamak menarik nafas panjang lalu duduk di kursi ruang tamu.


"Terus gimana dengan Viska pak?aku kuatir banget" tanya Mamak panik. Tanpa sadar melantunkan sebait lagu.


-Ketar-ketir, ati tansah ketar-ketir.


Yen tak pikir, aku koyo lampu senthir.


Kelap-kelip, mobat-mabit.


Yen lagi keterak angin sing semribit.


Nduk, aku gelo...


Sliramu tak tresnani jebul mentolo.

__ADS_1


Nduk, sliramu pamit arep lungo


Jroning ati rasane keloro-loro.-


Mamak terdiam, mungkin lupa sama liriknya. Bapak datang dari belakang, sambil mendorong sepeda motor tuanya, dan mengeluarkannya ke halaman rumah. Lalu meneruskan lagu Mamak yang terpotong


-Najan tak penggak, tetep ra biso...


Yen tak gagas lungamu njur golek opo.


Tak enteni, nduk, kapan tekamu,


Mbok nganti mbesok putih rambutku.-


"Mau kemana pak?" tanya Mamak yang sudah berdiri dan bersandar di pintu depan.


"Mau kemana lagi dik, kalau tidak mau jemput anakmu yang paling ayu, kayak Denok deblong moblong-moblong" Jawab Bapak enteng.


"Oh syukurlah, kok pakai sarung pak?" kata Mamak tersenyum kecil.


"Astaghfirullah!! Bapak lupa dik" jawab Bapak kaget.


****


"Nama Viska Aulia alias Bella Oktavia" kata seorang polisi didepanku.


"Hem" jawabku malas, tanganku bersedak di dadda.


"Tolong jawab yang jelas, anda harus kooperatif, serta memberikan keterangan sejelas mungkin, biar mempermudah penyidikan kami." terangnya sedikit emosi. Setelah menanyakan tentang identitas, kemudian berlanjut ke pertanyaan inti.


"Anda menjadi sindikat penjualan narkoba sudah berapa lama?"


"Lupa" jawabku cuek.


"Mbak Viska, tolong kasih keterangan sejelas-jelasnya, dan jangan berbelit-belit. Kalau anda tidak memberikan keterangan secara Jelas, maka nantinya akan memberatkan diri anda sendiri. Tau kamu!!" katanya mulai jengkel kepadaku.


"Tau" jawabku ketus.


"Kami sudah lama mengawasi anda dan memata-matai semua kegiatan anda. Jadi anda tidak usah bersangkal atau memberikan keterangan palsu kepada kami." ujar polisi mulai jengkel kepadaku.


"Kalau sudah tau, kenapa di tanyakan lagi pak?" kataku seolah meledek.


"Mbak tolong ja..."


"Pak bisa minta tolong nggak?" kataku memotong ucapannya.


"Apa!!" jawabnya sambil melotot memandangiku marah.

__ADS_1


"Gue laper, bisa beliin makanan nggak?" jawabku tersenyum kecil.


BRAAKK... di gedornya meja kerjanya dengan keras, lalu berdiri berjalan ke arahku.


__ADS_2