
Aku mengajak Viska pindah tempat yang lebih nyaman, ketimbang di bawah pohon di tempat parkiran.
"Kesana yuk sayang" ku tunjuk rumah makan siap saji, Viska melihat sesuai arah yang aku tunjuk dan dia hanya mengangguk pelan. kami berjalan menyeberangi jalan raya, dan setelah sampai aku langsung memesan dua porsi.
"Nah, disini lebih enak beb ngobrolnya" ujarku pada Viska, selain tempatnya nyaman juga lebih sedikit adem dan tidak menjadi perhatian orang lagi. Tak berapa lama, makanan yang kami pesan sudah tersaji di depan kami.
"Kamu suka ayam goreng kremes kan beb, nih" ku suapin secuil ayam ke mulut Viska, dia hanya menatapku penuh sayang, kemudian mengunyahnya pelan "Oya beb, kamu belum jelasin tadi mengenai kanker serviks. Aku beneran nggak tahu kok" ujarku sambil memasukan potongan ayam kedalam mulutku. Viska mengambil minuman yang ada di depannya, setelah meminum beberapa sesapan, dia mengambil nafas panjang.
"Maaf ya beb, selama ini aku nggak pernah cerita masalah penyakitku ini ke kamu" aku hanya mengangguk pelan mendengar pengakuannya, sambil melahap pelan ayam kremes ku.
"Dan sebenarnya aku sudah lama di vonis oleh dokter tentang penyakit ini, namun tak kurasa" Lanjutnya, Viska sudah bisa menikmati suasana hatinya. Dia mengambil sepotong ayam, kemudian menggigitnya santai.
"kanker leher rahim atau di sebut kanker serviks ini adalah kanker yang tumbuh pada sel-sel di leher rahim. Kanker ini umumnya berkembang perlahan dan baru menunjukkan gejala ketika sudah memasuki stadium lanjut." Jelasnya lebih lanjut sambil mengunyah makanannya.
"Terus penyebabnya apa beb? maksutku kamu kok bisa sampai terkena kanker ini gimana ceritanya" tanyaku penasaran, karna mikirku, penyakit di bagian alat Kelamin seperti ini pasti berbahaya untuk kelanjutannya.
"Hampir 95% kanker serviks pada wanita disebabkan oleh virus HPV, yaitu virus papiloma (human papilloma virus). Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) biasa terjadi pada perempuan di usia reproduksi" Jelasnya lagi secara detail, yang membuatku malah tambah tak mengerti dan bingung.
"Bukan Karna sering hubungan badan dengan bergonta-ganti pasangan beb?" sanggahku.
"Bisa juga begitu beb, tapi aku belum pernah hubungan badan dengan pria manapun kecuali kamu sayang" jawabnya jujur.
"Bisa juga dari Riwayat infeksi di daerah kelamin atau radang panggul (IMS), beb. Masalahnya dari kecil aku sudah beberapa kali di rawat di rumah sakit. Bahkan waktu kelas 4 SD, aku harus menjalani operasi usus buntu" terangnya lebih lanjut, sambil terus melahap makanan yang ada di depannya.
"Kami tahu banyak mengenai kanker serviks beb, tahu darimana?" tanyaku, dan melahap suapan yang terakhir kedalam mulut.
__ADS_1
"Aku tau juga di kasih tau oleh dokter yang merawatku beb, aku juga punya dokter spesialis yang menangani penyakitku ini. Namanya Bu Indri, beliau baik banget. Aku sudah di anggapnya anak sendiri, dan tadi kata beliau, kini kanker serviks ku sudah Stadium 2 lanjut" ujar Viska, ku lihat wajahnya menunduk, kembali sedih mengingat sakit yang menimpanya.
"Lho, sakit kanker ada tingkatannya to beb" tanyaku heran.
"ada beb, untuk stadium 2 lanjut, banyak hal yang harus di perhatikan, agar kankernya tidak berlanjut, harus minum obat secara teratur, menjalani kemoterapi dan lain-lain" jelasnya lagi, aku hanya mendengarkan karna tidak begitu tahu soal penyakit kanker.
"semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit beb, aku kasihan pada orang tuaku sejak aku kecil, hingga dewasa selalu saja menyusahkan beliau. Makanya beb, aku tidak ingin menjadi beban hidupnya terus menerus. Semua jenis pekerjaan aku jalani, mulai dari menyanyi, foto model atau menjadi MC untuk ultah anak-anak. Asal itu menghasilkan uang pasti aku terima" Viska memejamkan matanya,dan menelungkupkan tangannya ke wajah.
"Tenang aja beb, kamu pasti sembuh" tukasku menghiburnya, dia hanya tersenyum kecut mendengar perkataanku.
"Kesempatannya sangat kecil beb, kamu tahu artis Julipe?"
"iya tahu beb, yang susunya gede montok, yang terkenal dengan goyang cacingnya kan? bintang Hot itu kan?" jawabku bersemangat. Viska tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Dia juga mengidap penyakit yang sama denganku, dia kaya, banyak duit, berobat juga rutin. Terakhir sampai kepalanya di botakin, hingga akhirnya dia tak kuat dan meninggal dunia. Terus aku! hanya seorang anak orang biasa beb, berobat juga kalau ada duit doang" Aku terhenyak, ternyata Julipe seorang artis saja bisa tak tertolong. Padahal kalau dari segi materi untuk berobat, aku kira pasti mampulah. Tapi realitanya, nyawanya tak tertolong.
"Pulang yuk sayang, nanti kalo di cariin orang tua kamu gimana? kalau di laporkan aku nyulik kamu gimana? wah!bisa kacau" candaku pada Viska, agar lupa dengan apa yang ia derita. Dia menatapku dan tersenyum, kemudian berdiri kesampingku lalu mengecup pipiku. Weleh-weleh, di ciumi terus.
"Makasih ya sayang, jagain aku terus ya" bisiknya merdu di telingaku, aku cuma meringis kegelian.
Sepanjang jalan pulang menuju rumah Viska, dia memeluk ku dengan erat dan kepalanya di senderkan di punggungku. Mungkin lagi ketiduran, atau karna rasa sayangnya ke aku yang terlalu mendalam. Pegangan tangannya sangat erat, seolah tak mau melepaskan ku.
"Beb, mau sampai nih"
"Hmmm, kok cepet amat sih beb, padahal baru pewe lho" jawabnya manyun. Aku hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Cepet gimana sih, tadi aku tu pelan banget lho sayang, supaya tidurmu nyaman di belakangku" jawabku sambil melirik Viska yang sedang manyun dan cemberut, karna sebentar lagi pasti sampai rumahnya dan aku langsung pulang, berarti harus berpisah denganku.
"Aduh beby, aku masih pingin lama-lama mendekapmu" ketusnya masih dengan manyun, yang membuatnya tambah imut.
"Iya sayang, besok-besok di lanjut lagi. Okey?"
"hmm" jawabanya kayak tidak terima.
"Kok cuma hmmm? nggak mau ya?" godaku.
"Mau bebyyyy, cuma sebal aja, kenapa setiap ma kamu, waktu berjalan dengan cepat sih!" serunya kesal, tapi aku suka. Seolah itu adalah pujian buatku.
"Ya karna kita naik motor sayang, coba kita tadi jalan kaki, mungkin lusa baru sampai" jawabku terkekeh.
"Uhh, nyebelin" di cubitnya pelan punggungku. Sampai di depan gang kecil, aku belokan motorku ke arah rumah Viska. Saat memasuki gang rumahnya, Viska menjaga jarak di motor dengan menggeser duduknya. Aku maklum saja, karna Viska sudah menjadi tunangan orang.
sampai depan rumah Viska.
"kayaknya orang tuamu sudah pulang beb" Kulihat pintu rumahnya terbuka, dan banyak sandal di depan rumah.
"Iya kali beb" Viska langsung turun dan aku mengikutinya dari belakang. Setelah mengucapkan salam, Viska masuk rumah. Dia terhenyak sebentar, saat melihat seorang pemuda yang duduk di sofa bersama orang tuanya.
"Siapa dia beb?" tanyaku berbisik.
"tunanganku" jawabnya pelan, lalu Viska menghampiri orang tuanya dan mencium tangannya. Kemudian ganti mencium tangan tunangannya dengan takdzim.
__ADS_1
JLEBB... tatapan tajam dari tunangan Viska mengarah padaku.
terus dukung karyaku dan jangan lupa follow dan beri hadiah ya kak, trims.