ISTRI MUDAKU MAFIA

ISTRI MUDAKU MAFIA
BAB 41


__ADS_3

"Iya Mak, aku kadang emang telat datang bulan" aku masih berkilah dengan ucapan Mamak, karna aku tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku.


"Coba nanti kamu periksa Vis, Mamak kuatir dengan keadaanmu"


"ah, nggak perlu Mak, paling juga telat biasa" meski ada rasa takut juga dalam benakku, aku masih mencoba menenangkan Mamak.


"Ya udah ya Mak, aku berangkat kerja dulu"


"iya Vis, hati-hati, jangan sampai Bapakmu tau kejadian yang menimpamu ya!" aku perhatikan Mamak begitu panik, dia masih merasa bersalah.


"Wah! gawat!! kalo Bapak tau gue hamil, bisa di gantung nih gue" desisku membatin, kemudian aku sudah berlalu menuju tempat kerja. Di tengah perjalanan aku mampir ke apotik sebentar.


"Mas beli alat tes kehamilan"


"mau yang biasa atau yang bagus"


"emang beda ya mas?"


"iya mbak, kalau yang biasa, sekitar satu dua menit baru kelihatan hasilnya, kalau yang bagus paling juga tiga puluh detik sudah bisa terlihat hasilnya. Dan untuk tingkat ke akuratannya juga lebih baik mbak" kata masnya apoteker menjelaskan. Aku hanya manggut-manggut tanda paham.


"Ya sudah, beli yang bagus saja mas"


"beli berapa mbak? satu atau dua?"


"lho!! emang satu nggak cukup ya mas?"


"cukup mbak" jawab masnya tersenyum.


"Tapi terkadang orang beli beberapa buah mbak, untuk cadangan, siapa tau ada kesalahan dalam cara ngetesnya. Apalagi untuk pemula" lanjut masnya melirikku curiga, aku pura-pura tidak melihatnya.


"Ambil dua aja mas" tak lama masnya menyerahkan dua buah alat tespack, yang sudah terbungkus plastik kecil putih transparan.


"sudah tau cara makainya belum mbak?" Aku gugup mendengar pertanyaan masnya, aku bingung harus jawab apa. Mau jawab sudah, nanti takutnya salah. Mau jawab belum, aku malu sama Mas apotekernya.


"be-belum mas" jawabku malu, dengan muka merah padam.


"mbaknya masih sekolah?" duh malunya diriku disebut masih anak sekolahan. Berarti aku masih imut dong. Aku menggelengkan kepala, kemudian lanjutnya.


"Mbaknya sudah punya suami belum?" seketika mukaku berubah geram mendengar pertanyaan masnya ini.


"Sudah jangan bawel, terangin aja gimana cara makainya. Ribet amat ngurusin orang" gerutu ku kesal.


"Hehehe, sabar mbak, cara makainya yaitu, pipisnya mbak di taruh dalam wadah kemudian tespack ini di celupin kedalamnya"

__ADS_1


"cuma gitu doang, Weh, gampang" ujarku sombong.


"Betul mbak, untuk mengetahui positif atau nggaknya, nanti bisa di lihat garis merah yang muncul di alat tersebut" terangnya lebi lanjut.


"Bentar-bentar, maksutnya positif atau nggaknya gimana mas?"


"gini mbak, kalau muncul garis merah di tespack, berarti mbaknya positif hamil, kalau cuma satu garis merah yang muncul, berarti negatif. Mbaknya nggak hamil" aku hanya patuh dan manggut-manggut mendengarkannya.


"hmm, itu alatnya di celupin semuanya mas, maksutku di cemplungin ke pipisku semua mas? lha kalau pipisku dikit gimana?" Masnya malah tersenyum ngekek, mendengar pertanyaanku.


"Ya nggak di cemplungin semua mbak, oh mbaknya jorok, cukup ujungnya saja sampai batas garis yang ada di tespacknya mbak, dan waktu ngetes yang paling baik yaitu setelah bangun tidur, artinya pipis pertama yang mbak lakukan di hari itu" aku garuk-garuk kepala dan tersenyum. Agak rumit juga ya, pikirku.


"gimana sudah paham mbak?"


"paham mas" Lalu aku membayar tespack tersebut, ingin rasanya cepat berlalu dari apotik itu.


"besok-besok, kalau bermain lagi, pasangannya di suruh pakai pengaman aja mbak" ujar mas apoteker lagi. Aku malah tambah bingung.


"Apaan lagi tu mas, bermain apaan? terus pengaman apa? Polisi gitu, atau hansip?" terpaksa aku balik lagi mendengar kata masnya.


"bermain bercinta mbak, pengaman disini itu, alat kontrasepsi mbak, bukan hansip seksi. Masak bercinta pakai pengaman polisi!" celutuknya ngakak, aku malah tambah bingung. Dengan iseng aku bertanya.


"alat kontrasepsi itu apaan ya mas? seperti pentungan gitu" si masnya malah tambah ngakak mendengar pertanyaanku.


"Alat kontrasepsi itu alat untuk mencegah kehamilan mbak, kalau untuk wanita bisa berbentuk pil, pasang susuk atau implanon, pasang IUD atau spiral, dan yang terakhir sterillisasi. Kalau untuk pria kontrasepsinya juga ada empat. Yang pertama bentuk pil, yang kedua bentuk ******, ketiga vasektomi dan yang terakhir senggama terputus. Sampai sini paham!" terangnya panjang lebar, aku menggelengkan kepala, menurutku bahasanya aneh-aneh.


"Dan yang paling gampang di gunakan oleh kebanyakan pria itu pakai ****** dan senggama terputus mbak, lebih simpel dan praktis."


"****** itu yang gimana mas, sini jual nggak?" tanyaku spontan, sontak saja seorang pembeli di sampingku menoleh ke arahku dan tersenyum geli mendengar pertanyaan konyolku. Aku cuek saja, toh tidak kenal juga.


"****** itu seperti ini mbak" katanya sambil menunjukan sebuah bungkusan merah, bergambar orang sedang uhuyy.


menurutku kayak balon kecil lonjong yang sangat tipis, ada minyaknya juga. Tapi aku tidak paham apa kegunaannya dan cara memakainya.


"****** ini terbuat dari bahan kusus, seperti karet tipis mengikuti bentuk tuannya, dan ada minyak pelumasnya, alat ini hanya sekali pakai"


"Oh gitu ya mas, kalo masnya yang pakai, nanti ****** itu akan membentuk seperti wajahmu ya mas?"


Gubraaakkk...masnya terpingkal-pingkal, di tepuk jidatnya beberapa kali.


"Sudah gila nih orang, di tanya baik-baik malah ketawa ngakak kayak gitu, cowok sutriss" pikirku.


"bukan- bukan gitu mbak, lihat ini ya! contohnya, jariku ini ibarat rudal pasanganmu mbak, masukan dari ujung, lewat lubang ini. Terus tarik sampai pangkal, kalo rudalnya membesar dan memanjang, maka ****** ini juga ikut melar mbak"

__ADS_1


"ohh gitu to, itu yang di namakan mengikuti bentuk tuannya ya mas?" ucapku manggut-manggut, sambil memperhatikan contoh tadi. Unik juga ****** ini.


"Dan ****** itu bermacam-macam bentuk, serta bermacam varian rasa mbak"


"Hah!? barang begitu ada varian rasanya?" Mataku membulat besar karna heran.


"Betul mbak, yang mbak lihat tadi buat contoh itu yang bentuk original atau biasa"


"hwahahaha, kayak nasi goreng dan kue Bandung aja. Ada rasa original" selah ku. Masnya meliriku sebal, dengan cepat aku hentikan celotehku. Aku malah keasyikan mendengarkan soal ******. Menurutku itu suatu pengetahuan yang baru bagiku.


"Ada ****** yang bergelombang dan ada pula ****** yang bergerigi" lanjutnya menerangkan.


"HAH!! bergerigi?? yang mulus aja sakit dan perihnya minta ampun, apalagi bergerigi" sontaku kaget, sadar akan perkataanku yang cukup keras, segera aku membungkam mulutku sendiri. Duh, untungnya sepi, kalau ada orang lain, aku bisa malu banget. Masnya cuma tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Dan cara yang paling gampang selanjutnya bagi pria itu, senggama terputus, artinya, mengeluarkan cairan spermua di luar liang kewanitaan. Tapi kebanyakan pria, saat mau keluar itu, malah di tekan sedalam-dalamnya saat mencapai klimakss"


"Wah, bener tu mas, gue aja sampai men-" aku tidak melanjutkan omonganku yang hampir keceplosan.


"udah ah, gue balik aja. Lama-lama disini malah tambah runyam nanti, bisa-bisa gue- ah, sudahlah" aku berlalu dari hadapan mas apoteker dengan cepat, ku lirik dia masih melihatku terbengong.


Akhirnya aku tidak jadi berangkat kerja, karna kelamaan di apotik. Terpaksa aku langsung pulang menuju rumah.


"Tumben sudah pulang Vis?" sapa Bapak yang sedang asyik duduk ngobrol sama tetangga.


"Telat pak, eh maksutku terlambat pak karna macet" jawabku sekenanya, hampir saja keceplosan lagi. Lalu aku menuju kamar mandi untuk melakukan tes, menggunakan tespack yang baru aku beli tadi.


"Mati gue! gue beneran hamil!"


masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat, garis di tespack menunjukan dua garis merah. Aku panik dan gugup tidak karuan.


"Sial!! bisa mati di gantung Bapak nih gue. Settan, ini gara-gara Prasetyo brengsyek" umpatku dalam hati. Kemudian aku berlari kamar, dalam kebingunganku, aku mengirim pesan ke Prasetyo.


-Gue hamil, gimana nih?-


kugigit bibirku, menunggu balasan dari Prasetyo.


Cuitt... cuiiittt. hapeku berdering, segera ku buka dan kubaca pesan yang masuk.


-Woi kemana aja kamu, kok gak da kabar, aku kangen tauuu-


Anying! bukannya ikut mikir gimana caranya, malah kesenengan tak kirimi pesan.


"Orang ini waras atau tidak sih?" desisku.

__ADS_1


Akhirnya dia mau membantu, asal aku harus jadi ceweknya, dan mau melakukan apapun yang ia inginkan.


"Bangsyat, aku terjebak olehnya, sungguh licik otak Pras. Sial!! siaaall!" aku hentakan kakiku ke kasur karna kesal sama Pras. Tidak ada orang yang bisa aku toleh lagi, apalagi, aku dan keluarga lagi kesulitan ekonomi. Dengan terpaksa aku terima tawaran Prasetyo. Dan besok kami janjian, akan bertemu pergi kencan jam 08.00 di tempat yang sama. Masih ada satu tespack lagi, besok aku mau tes lagi, dengan air urine pertama saat bangun tidur. Mudah-mudahan tes yang tadi salah, harapku penuh cemas.


__ADS_2