
sekali lagi author ingatkan, bocil skip dulu bacanya, karna penuh adegan syur yang bisa bikin jantungan..
Aku memasukan kembali ponselku kedalam saku celana, tanpa menggubris pesan dari istriku.
"urusan rumah urusan nanti, yang penting sekarang aku bersenang-senang dengan perempuan yang lebih menggairahkan" gumamku dalam hati. Kami terus berjalan di koridor hotel sampai menemukan kamar yang sudah aku pesan.
Klik, aku menyalakan lampu dalam kamar, kemudian aku mengambil remot AC dan menyalahkannya.
"Ah, nyaman sekali bisa rebahan di kasur ini" gumamku seraya menjatuhkan diri di atas kasur yang empuk dan nyaman.
"aku mandi dulu ya beb, tubuhku baunya sudah campur aduk nih" ucap Viska seraya menyambar handuk yang tergantung rapi di dinding kamar hotel.
"Hum" sahutku malas, ku nyalakan televisi hanya sekedar biar rame, berkali-kali aku pencet remot untuk ganti Chanel tapi tak ada yang menarik, akhirnya aku asal saja memilih salah satu Chanel tivi swasta dan membiarkannya televisi itu yang menontonku tiduran. Aku kembali teringat kalau ada pesan dari Siti Aminah, aku membuka hapeku dan membaca pesan dari istriku.
kemana saja sih mas, jam segini belum pulang. pergi kencan dengan ***** murahan ya.
Aku menghela nafas panjang, kemudian menghapus pesan tersebut dari hapeku agar Viska tidak mengetahuinya.
Suara shower mengucur deras dari balik kamar mandi,sedangkan aku masih rebahan di atas kasur malas-malasan.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, dan Viska muncul dengan tubuh yang basah berbalut handuk putih. Aroma sabun hotel yang wangi menggugah gairahku.
"Sini dong sayang, aku sudah kangen banget nih" senyumku seraya merentangkan tangan pada Viska.
"Sabar dong sayang, badanku masih basah nih, kamu gak mandi dulu?"
"mandinya nanti aja sekalian habis manjain kamu" kutarik lengan Viska, dan menjatuhkannya di atas pelukanku.
"Auw, nakal banget sih" Viska menyubit hidungku dengan gemas, kemudian mengecup bibirku lembut.
"Jangan cuma di kecup dong sayang, di ***** dong"pintaku sedikit manja.
"kayak gini ya"
di lumatnya bibirku dengan hangat, dan selanjutnya kami berpanggut ria dalam suasana malam.
__ADS_1
Kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku, aku tak henti-hentinya memainkan bibirku dan lidahku. Kami saling bergumul dalam kobaran api asmara yang mulai memanas. Buliran air bekas mandi Viska menetes di wajahku, dan ada sebagian mengalir lembut di sela-sela dadanya yang putih dan mulus.
Perlahan aku buka handuk putih yang membalut sebagian tubuhnya, lalu aku melemparkannya ke lantai. Rambut yang basah tak henti-hentinya menetes di wajahku, hingga ada yang masuk ke hidung sampai aku tak bisa bernafas.
"Wah kalau aturannya kayak gini, bisa-bisa aku tidak bisa menikmati percumbuan ini, yang ada malah kena serangan flu karna hidung tersumbat air" gumamku sambil membalikan posisi. Aku lepaskan pelukanku, kupandangi Viska sambil mengatur nafas yang memburu, aku belai-belai pipinya dengan lembut, dia hanya memejamkan mata menikmati belaian ku.
"Kenapa berhenti sayang" senyum Viska mengembang, tak rela belaianku terhenti meski sebentar.
"Slow dong beb, aku buka baju dulu ya" bisikku, lalu ku jilat daun telinganya yang membuat dia bergidik geli.
"Lha kok malah turun sayang, mau kemana?" Viska memandangiku melongo, aku hanya tersenyum sembari menunjuk kamar mandi.
"Buka celana beb, sekalian nyuci ini" tunjuk ku pada si Otong yang sudah mulai berontak dari sangkarnya.
"Hmmm!! kenapa gak dari tadi bebyyy" sahut Viska kesal lalu merengut. Aku cuek saja sambil tertawa cekikikan menuju kamar mandi.
"Huh, tau gitu tadi handuknya gak usah di lepas, udah bugil gini di biarin kedinginan" dengus Viska ngambek, lalu turun mengambil handuk yang tergeletak di lantai dan membalutkan lagi di tubuhnya yang seksi.
"Tenang dong beb, nanti tak angetin lagi. Tak mandiin dulu si otongnya biar seger" sahutku dari kamar mandi.
"Buruan dong sayang"
Aku keluar dari kamar mandi sambil membelitkan handuk di pinggang, kulihat Viska sedang sibuk dengan rambutnya yang masih basah.
"Sayang, rambutku gimana nih, kamu bawa sisir nggak"
"mana pernah aku bawa sisir beb, kalo bawa lipstik iya. Hahaha"
"huh, di tanyain serius malah gitu"
"ya kan nanti juga kering sendiri beb, atau di angin-anginkan sebentar di balkon. Aku temenin yuk"
"masak cuma pakai ginian sih" kata Viska memperhatikan penampilannya yang hanya berbalut handuk.
"Nggak apa-apa, gak bakalan ada orang yang lihat, toh kita ada di lantai tiga, lagian juga balkonnya kan menghadap kelaut dan kita matikan dulu lampunya" Terangku pada Viska.
__ADS_1
Aku raih tangan Viska dan membantunya turun dari kasur, lalu menuju balkon.
Klik.. kumatikan lampu balkon, agar suasana lebih greget.
Viska berjalan bergelayut manja merangkul tangan kiriku, pandangan laut di malam hari sungguh indah, deburan ombak yang saling berkejaran menuju pantai yang akhirnya terhempas kembali ke laut atau menabrak batu karang yang di pantai membuat percikan air seperti menyala biru keputihan.
"Beb, lihatlah" tunjuk ku ke tengah laut.
"Ada apa beb?"
"tu, lampu-lampu perahu nelayan yang kelap-kelip"
"lha kan emang cari ikan di laut"
"lho! cari ikan to? kirain pada pergi nyanyi"
"kamu itu lho beb, sudah tahu ke laut ya pasti cari ikan dong" jawab Viska sambil mengibas-ibaskan rambutnya yang panjang. tergerai mengikuti tiupan angin.
"Sini dong beb"
aku mengarahkan Viska kedepanku, kemudian aku peluk dari belakang, aroma wangi tubuhnya membuat desiran darahku mengalir hangat. Tanganku melingkar di perutnya yang ramping, wajahku aku dekatkan dengan pipinya, sesekali aku menyibak rambutnya yang tertiup angin agar tak menutupi wajahnya.
tangan kanan membelai pipiku dengan lembut, dan yang satunya memegangi tanganku yang melingkar di perutnya.
"Auh sayang, geli" desahnya pelan, bibirku mengusap pelan pipi Viska menuju telinganya. Kepalanya dimiringkan ke kiri dan bersandar pada pundaku, sehingga memberi ruang untuk menikmati lehernya. Dengan jilatan lembut serta gigitan kecil, Viska terus mendesis penuh nikmat.
Tangan kananku beranjak turun menyusup kedalam handuk yang sebatas paha, mencari lembah yang di tumbuhi semak-semak tipis, terus menyusup dan merayap naik turun berirama.
"Sshhh, oh beby" desis Viska dengan mata terpejam pasrah.
sesekali lidahku bermain di daun telinganya, kemudian beralih pada tengkuknya, sedangkan tangan kananku masih bergerilya lembut di seputaran lembah yang membuat Viska semakin bergetar.
di remas pelan rambutku,
"teruskan sayang, sshhh ah"
__ADS_1
kini tangan kanan Viska sudah merambat ke bawah, mencari sesuatu yang sudah mengeras namun lembut di pegang.
"Hmm, jangan hentikan beb, belai-belai terus" bisik ku menikmati setiap belaian tangan halus Viska. Hasrat kami menyatu dan menikmati setiap sentuhan-sentuhan lembut yang silih berganti kami berikan. Aku berharap malam ini jangan berlalu dengan cepat.